
Dengan ragu. Tangan Fatir menyentuh permukaan punggung Viona dan menarik handuk ke bagian atas. Viona yang sadar akan gerakan tangan Fatir, ia segera melepas pelukannya. Handuk yang tadi tertahan dengan tubuh Fatir seketika merosot sampai perut dan untungnya yang belakang di pegang oleh tangan Fatir membuat handuk tak sampai lebih bawah dan tangan Viona secepatnya membetulkan ke atas.
Wajah Viona bersemu merah menahan malu lantas membelakangi Fatir. Walau sesaat tapi jelas pemandangan itu mewarnai pandangan mata Fatir. Sebagai lelaki dewasa bahkan yang ada di hadapan itu halal untuknya. Jiwanya meronta dan terus berbisik "Ayo jangan sia-siakan kesempatan ini."
"Keluar!" pekik Viona ia merasa sangat malu telah menontonkan tubuh moleknya di hadapan Fatir.
Fatir menggaruk tengkuknya. Jadi serba salah lalu keluar kamar dengan perasaan yang aneh, sebuah perasaan yang sulit ia jabarkan. "Huuh ..." menghembuskan napas panjangnya.
Viona berlari ke kamar mandi sebentar, detik kemudian dia kembali membawa pakaian dalamnya. "Sudah pergi saja ke tempat jualan. Aku gak pa-pa kok. Nanti aku pulang."
Fatir pergi dengan perasaan yang masih tak karuan. Sebuah rasa yang tidak pernah di rasakan sebelumnya.
Viona pun. Merutuki dirinya sendiri. "Kenap sih harus terjadi kejadian tadi, bodoh-bodoh, bodoh ... kebayang tuh mata menatap tubuh polos ku, Iiy ...."
Kemudian Viona memakai pakaian yang dia ambil dari lemari Fatir. Kemeja dan celana panjang miliknya Fatir. Selesai berganti pakaian balik ke kamar mandi mengambil pakaian dan mencucinya.
Sore hari Fatir tidak pulang, di rumah. Viona tiduran di kamar Fatir dan Sidar di ruang tengah sedang menyetrika pakaian sekolah dan milik Adam.
Di pikiran Viona, terus terbayang kejadian tadi dimana sesuatu yang memalukan terjadi. "Malu-malu. Aku malu." Menepuk keningnya.
"Pulang ah," bangun dan menyambar tas nya. Tampak Sidar sedang nyetrika,
"Rajin? Sidar ya?"
"Bukan rajin Mbak. Tugas," sahut Sidar.
"Mbak pulang dulu ya!" langsung berlalu meninggalkan Sidar. Ketika melintasi pintu, Viona menerima pesan kalau sang ayah minta uang buat anak-anaknya.
"CK, gak minta sendiri melalu Papa. Aneh dasar yang ada dalam otaknya cuma duit dan duit." Gerutu Viona sambil masuk kembali. Malas tuk pulang, mana di luar hujan.
Sidar menatap pada Viona yang yang malah balik lagi lantas duduk di sofa. "Hujan ya Mbak cantik?"
"Iya, di luar. Di sini kan tidak," sahut Viona dengan senyum yang di paksakan.
Sidar terdiam. Lalu ke dapur untuk memasak nasi, Viona masuk kembali ke kamar. Duduk di tempat tidur yang baru, setelah sebelumnya menutup jendela.
Sekitar jam sembilan malam Fatir pulang, badan basah kuyup kehujanan. Pas masuk ke kamar langsung mendapati seseorang meringkuk di bawah selimut tipis miliknya, Viona tengah tertidur.
Bibir Fatir tersenyum mengingat mobil Viona memang masih ada di depan dan pemiliknya ternyata tertidur nyenyak. "Hem, katanya mau oulang!"
Fatir membawa langkahnya keluar memubawa handuk di bahunya. "Mbak sudah makan malam belum?" selidik Fatir pada Sidar yang sedang menonton televisi.
"Oh, belum Mas."
"Emang masak apa kamu?"
__ADS_1
"Lihat aja di meja. Di lemari pendingin banyak sayuran, ikan dan daging. Mbak cantik yang penuhi," sahut Sidar sambil menunjuk ke arah dapur dengan dagunya.
Fatir ngeloyor ke kamar mandi yang melewati dapur dan melihat isi meja makan. Setelah itu masuk kamar mandi.
Kini Fatir sudah berada di dalam kamar. Setelah berganti pakaian Fatir memandangi Viona yang sedang tidur.
Tiba-tiba Viona terbangun. "Jam berapa nih?" menggosok matanya. Tangan bergerak-gerak mencari ponsel yang entah menyimpan di mana.
"Fatir melihat jam yang di tangannya. "Setengah sepuluh."
"Ha? aku harus pulang!" buru-buru mengibaskan selimutnya.
Fatir mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. "Suami mu ada di sini. Ngapain pulang?" suaranya sedikit bergetar.
Entah kenapa hati Viona jadi dag Dig dug tak karuan. Apalagi Fatir semakin mendekatkan wajahnya. Viona sedikit memundurkan punggungnya ke belakang. "Mau apa kau? jangan macam-macam ya!" wajah Viona cemas.
Wajah Fatir semakin mendekat. "Emangnya kenapa?" Suaranya tepat di telinga Viona.
Viona semakin meremang. ketakutan dengan sikap Fatir kali ini.
Tangan Fatir mengarah ke dada Viona yang semakin mundur ke belakang. "Jangan biarkan bajumu terbuka sementara kau mau keluar kamar. Gak enak kalau di lihat sama Adam dan Sidar." Bisik nya dan mengancingkan kemeja yang melekat di tubuh Viona.
Viona merasa lega, ia kira Fatir akan berbuat apa! sekaligus malu, hari ini dirinya dibuat malu semalu-malunya di depan Fatir. "Hari ini aku dibuat malu terus, menyesal aku ke sini!" batin Viona.
"Sudah makan belum?" tanya Fatir melihat ke arah Viona.
"Besok aja pulang ya? besok aku antar sepulang dari pasar hem? di luar hujan. Aku capek habis kehujanan, pulang sendiri gak baik juga. Apa kata Papa nanti, ya besok aja? biar kamu tidur di kamar dan aku bisa tidur di sofa ruang tengah."
Viona melihat ke arah jendela. Dan memang terdengar suara hujan yang begitu deras. "Tadi kamu hujanan?" menatap ke arah Fatir yang berdiri.
"Iya, kedinginan nih. Pengen teh hangat." Fatir keluar kamar.
Adam dan Sidar mungkin sudah tidur, sebab mereka tidak ada di ruang tengah. Suasana sepi.
Viona menyusul Fatir ke dapur. Tampak Fatir sedang membuat teh hangat dua cangkir. Ia duduk di kursi dan melihat di bawah tudung saji. Ada sayur dan ikan goreng.
"Makan yu? kamu pasti belum makan." Ajak Fatir sambil menyodorkan secangkir teh hangat.
Viona menanggapi dengan gelengan kepala. Lihatnya saja tak berselera apa lagi makan. Namun Fatir memakannya dengan lahap.
Viona berjalan mendekati lemari pendingin melihat-lihat yang kali saja ada sesuatu yang akan menggugah selera makannya. Namun gak ada yang membuat selera makannya naik. Padahal perutnya lapar, mau pesan juga bingung mau pesan apa?
Cuma bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ada mi goreng, namun ingin sama sayuran dan telor tapi kurang tahu cara masaknya gimana.
"Em ... kalau masak mie goreng. Pake telor dan sayuran, cara masaknya gimana ya?" menoleh ke belakang, matanya mengarah ke arah Fatir.
__ADS_1
Fatir yang mau menyuapkan nasi ke mulutnya ia urung setelah mendengar pertanyaan dari Viona. Lalu tertawa kecil. "Emang gak bisa masak mie ya, Non?"
"Eh ... mie sih bisa, cuma telor ceplok dan sayurnya gak bisa." Viona nyengir. Maklum dia cuma tahu makan saja.
Fatir yang mengenakan kaos dan sarung pun mendekati Viona yang berdiri dekat lemari pendingin. Fatir menuntun wanita itu memasak mie, dari mulai merebus sampai membuat ceplok telor.
"Telor nya satu atau mau dua?" tanya Fatir.
"Dua aja." Jawab Viona sambil menyiapkan mangkuknya.
Fatir berdiri di belakang Viona. Dengan ragu memegang tangan Viona mengajarkan bikin telor ceplok. Wangi parfum dan shampo dari kepala Viona menyeruak ke rongga hidung Fatir dan ia terus menghisap wanginya dari belakang.
Sementara Viona fokus ke masakannya, kini ia tahu kalau membuat telor mata sapi itu kaya gimana. Bibirnya tersenyum bahagia akhirnya bisa juga.
Tak sadar kalau punggungnya menempel ke dada Fatir. Dan tangan Fatir memegang tangan Viona, menuntun setiap geraknya.
Fatir terpejam dan menghela napasnya. Entah apa yang terjadi pada dirinya saat ini, yang jelas ia rasakan ada getaran di dalam tubuhnya bagai tersengat listrik. Berdesir hebat. Setelah matang sempurna, Fatir barulah melepas tangan Viona dan menjauh untuk melanjutkan makannya yang tadi ia tinggalkan.
Viona bawa ke dekat Fatir dan memakannya di sana. "Em ... nyam-nyam, nyam."
Fatir tersenyum. Melihat Viona yang begitu lahap makan mie goreng, Kemudian mengangkat wajahnya. Meneguk minuman air putih yang dia bawa dari lemari pendingin.
Setelah makan dan mencuci bekasnya makan. Viona langsung masuk kamar tuk melanjutkan mimpinya yang tertunda. Namun setelah beberapa saat memejamkan matanya, seketika ia terbangun mendengar suara kurosak-kurosak dari atas, segera ia turun dari tempat tidur dan membawa selimut keluar.
Menghampiri Fatir yang berbaring di sofa. Duduk di sisi tempat Fatir berbaring.
Sontak Fatir bangun. "Ada apa?"
"I-itu ada suara kerosak-kerosak, di atas. Takut." Viona memeluk selimutnya dengan wajah cemas.
"Paling tikus Non." Gumam Fatir dengan suara parahnya sebab dia sudah tertidur.
"Aku takut, aku tidur di sofa aja ya?" pinta Viona memohon. Lalu berpindah ke sofa lainnya.
"Ha? tidak. Kau di kamar saja, paling itu suara tikus gak usah takut.
"Tapi!" Viona menatap Fatir yang cuma di balut sarung tidurnya.
Fatir yang sudah baringan lagi terbangun kembali. Beranjak menghampiri Viona dan pergelangan tangan Viona diajaknya berdiri. "Kamu gak boleh tidur di sini gak enak di lihat anak-anak."
"Kenapa? cuma tidur kok. Lagian memakai selimut." Viona heran.
"Pokoknya gak boleh." Fatir menuntun Viona masuk ke dalam kamar ....
****
__ADS_1
Apa kabar semua reader ku? jangan lupa dukung novel ini ya dan tinggalkan jejaknya 🙏