
Tinggallah Fatir yang menemani Viona dan baby Vivian yang anteng. Habis minum susu langsung tidur lagi. Fatir duduk yang tidak jauh dari Viona dan menyuapi buah-buahan.
"Em, dari rumah sakit, kita tinggal di rumah aja ya sama Mama, nanti setelah satu dua bulan pindah lagi ke apartemen," ungkap Viona.
"Boleh, gimana baiknya saja. Aku ngikut saja kalau soal itu."Balas Fatir sambil menyuapi Viona buah.
"Oya, biaya rumah sakit berapa?" tanya Viona menatap ke arah Fatir.
Fatir terdiam sejenak dan membalas tatapan sang istri dengan lekat. "Sudah aku lunasi sampai besok dua hari ke depan."
"Terus uang nya dari mana?" selidik Viona. Sementara uang belanja tiap bulan pun mengalir ke tangan Viona.
"Ada tabungan sayang? kok ragu gitu, apa mungkin aku dapat pinjaman dari BANK. Ha ha ha ... gak mungkin." Fatir malah tertawa.
Viona menghela napas dalam-dalam. "Bukan gitu, setiap bulan kamu ngasih aku uang belanja, jadikan seharusnya tabungannya di aku. Belum buat keperluan ibu dan adik-adik, usaha juga. Gaji karyawan juga uangnya dari mana? kan pasti dari situ-situ juga." Lirih Viona menatap lembut suaminya.
Tangan Fatir mengusap pipi Viona. Dengan tatapan yang sangat hangat. "Hei ... bukankah itu sudah tanggung jawab ku. Kewajiban sebagai seorang suami, Jangan khawatir aku masih bisa atasi. Kecuali aku benar-benar kepepet baru aku akan meminta bantuan mu."
Hati Viona mencelos sedih. Sebegitu besarnya tanggung jawab pria yang ada di depannya ini. Viona mencondongkan tubuhnya ke depan dan memeluk tubuh sang suami. "Makasih sayang, jangan segan-segan minta bantuan pada ku ya?"
"Iya sayang," sahut Fatir membalas pelukan sang istri sangat erat dan diakhiri dengan kecupan hangat di pipi dan kening sang istri.
"Aku sayang kamu." Gumamnya Viona tepat di depan kuping Fatir. membuat bibir Fatir menunjukkan senyuman senangnya.
"Aku juga sangat sayang sama kamu." Bisik balik Fatir dan membaringkan tubuh Viona. "Istirahat sayang. Aku temenin." Fatir membaringkan tubuhnya di samping sang istri.
Viona meletakkan kepalnya di dada Fatir. Tempat yang paling nyaman untuknya. "Jangan tinggalkan aku ya?" suara Viona sangat pelan.
"Insya Allah. Bila Allah mentakdirkan kita bersama, sampai maut memisahkan." Balas Fatir pelan sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Viona mendongak melihat Fatir yang terpejam. "Malah bobo! orang mau ngajak ngobrol juga." mengusap rahangnya yang ditumbuhi bulu halus itu.
...****...
Ini hari ke tiga setelah Viona lahiran. Dan hari ini akan pulang ke rumahnya dan tinggal bersama Omanya untuk sementara waktu sampai satu atau dua bulan saja. Setelah itu tentunya akan segera pindah lagi ke apartemen.
Viona sudah duduk di kursi roda, sementara baby Vivian dalam gendongan Bu Afiah, Bu Asri dan Oma menyiapkan segala sesuatunya di rumah. Fatir bersiap untuk mendorong Viona.
"Hi ... Vi?" suara Alisa dari jauh sambil melambaikan tangan.
"Al, kamu gak kerja?" tanya Viona menatap ke arah Alisa.
"Libur, Non. Tanggal merah."
"Emang Iya? kok aku gak ingat ya akibat gak ngantor he he he ..." Viona terkekeh sendiri.
"Mana ponakan ku? yang cantik, yang lucu hu hu hu ... si gemes-gemes." Alisa mengambil baby Vivian dari tangan Bu Afiah.
"Barang-barang nya mana bro?" selidik Darma seraya mengedarkan pandangannya ke lain tempat mencari koper atau apa.
"Sudah dibawakan supir ke mobil. Yu jalan?" sahut Fatir sambil mendorong kursi roda sang istri.
"Mereka berjalan menelusuri koridor Rumah sakit.
Fatir, Viona dan Alisa yang membawa baby di mobil Viona. Sementara Darma dan Bu Afiah dan Sya di mobilnya Darma.
"Kakek nya sudah jenguk belum,Vi?" tanya Alisa menoleh ke arah Viona di sampingnya.
Viona yang melihat keluar jendela hanya menggeleng pelan.
__ADS_1
"Mbak Sita?" tanya Alisa lagi sambil mencium baunya si baby Vivian yang baunya sangat bau khas.
"Belum, nanyain juga nggak kali, entahlah. Aku gak bawa ponsel sih." Pada akhirnya Viona membuka suaranya. Melirik pada Alisa. "Mungkin masih sibuk."
"Ooh. Iya kali, nanti sudah di rumah baru dijenguk kakek ya, sayang ya?" Alisa seakan mengajak ngobrol baby Vivian.
"Iya, mungkin." balas Viona. Setelah berpisah dengan sang bunda, Viona jarang bertemu dengan sang ayah, tapi masih kerja di bawah naungan Yani grup namun dia minta di deportasi ke luar kota.
"Mas, siap-siap puasa nih!" goda Alisa pada Fatir.
Fatir menoleh dan tersenyum. "Iya nih, harus puasa kalau sebulan sih kuat kali. Entah kalau lebih lama, ha ha ha ...."
"Vi, siap-siap aja. Suami mu lebih rewel dan manja dari baby kamu." Alisa melirik ke arah Viona.
Viona mengernyitkan keningnya. "Maksudnya?"
"Iya, kalau sudah satu bulan lewat. Kamu harus siap-siap aja menghadapi bapaknya yang akan lebih rewel dibandingkan si baby," sambung Alisa dengan senyuman manisnya.
Viona dan Fatir bersitatap dengan senyuman yang sulit diartikan. "Mungkin sih. Aku tinggalkan aja kerja. Ha ha ha." Viona tertawa kecil.
Setibanya di rumah, disambut hangat oleh orang-orang di sana. Viona dan Fatir merasa lengkap sudah kebahagiaan mereka.
"Sayang, aku pengen duduk di sofa." Viona berdiri dan dibantu sang suami berpindah duduk ke sofa.
"Nggak langsung ke kamar saja?" tanya Fatir menatap Viona ....
****
Jangan lupa like komen dan vote nya.
__ADS_1