
Suasana di rumah Fatir menjadi riuh, ramai setelah datang dua pemuda, Adam dan Sidar. Apalagi setelah mendengar kabar Viona hamil.
"Mas, sebentar lagi kita akan dapat ponakan lho?" Sya menyambut kedatangan kedua kakaknya dengan berita yang membuatnya merasa senang.
"Jadi benar berita itu?" tanya Adam yang kurang percaya dengan berita itu, tadi Fatir bilang begitu tapi tidak meyakinkan.
"Benarlah, Nak ... masa bohong toh Mbak mu. Mas mu, buat apa bohongi kita!" sambung Bu Afiah sambil menata makanan di meja.
"Mbak cantik akan segera melahirkan ya bu?" selidik Sidar sangat antusias menatap sang bunda.
"Ndak segera juga Sidar. Kan harus menunggu hamil sembilan bulan dulu baru lahiran." Jawab bu Afiah.
"Mas gimana sih? kan baru ngidam juga." Sambar Sya memprotes omongan Masnya, Sidar.
"Iya, gitu maksud ku. Itu."
"Berarti kita berdua akan di panggil paman, paman Adam dan paman Sidar." Kedua pemuda itu saling timpal dan saling menunjuk satu sama lain.
"Ye ye ye kita akan menjadi paman. Ye ye ye." Keduanya jingkrak-jingkrak, joget dan mengadu pinggul. "Sebentar lagi kita akan di panggil paman."
Di tambah Sya ikutan menjadi lingkaran bertiga saling pegangan tangan satu sama lain berjingkrak setengah loncat, berjoget-joget berapa bahagianya mereka kan segera mendapat keponakan.
"Tapi, Bu. keponakan kita laki apa perempuan ya?" Sidar menatap ke arah sang ibunda.
"Tak tahu lah Nak ... kan belum waktunya periksa. Beru satu bulan masih gumpalan darah kata orang tua dulu," lirihnya Bu Afiah sambil menggeleng melihat kelakuan anak-anaknya.
"Aku mau, anak laki ah. Biar aku bawa kelapangan bermain bola," ungkap Sidar sambil mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.
"Bener tuh, aku bawa main batminton!" Adam mengacungkan jempolnya.
"Eh, gak bisa. keponakanku harus perempuan agar aku bisa sisir rambutnya aku kepang. Bajunya juga lucu-lucu kalau perempuan, tak seperti anak laki-laki kaos mulu." Sambar Sya.
"Nggak bisa, gak bisa! kamu nyambar terus deh. Keponakan ku harus laki-laki." Sidar kekeh.
"Ibu, Mas Sidar nih." Sya merajuk pada ibunya.
"Kalian apa-apaan sih? anak ku mau perempuan atau laki-laki sama aja, emangnya kalau laki-laki Sya gak mau sayang sama dia ha?" suara Fatir yang mendadak berada di sini.
"Sya, akan sayang kok, Mas Sidar aja yang lebai, wew." Sya menjulurkan lidahnya pada Sidar.
__ADS_1
"Terus kalian berdua hei! Upin ipin? kalau Anak ku perempuan kalian berdua tak akan sayang gitu?" menatap lekat Adam dan Sidar.
"Sayang lah Mas, kalau sudah lahir pasti sayang," balas Adam sambil mencibirkan bibirnya pada Sya.
"Nah, ya sudah! jangan debat berisik tahu." Lantas Fatir menoleh ke arah Viona yang berdiri di dekat pintu kamar dengan senyuman mengembang sedari tadi melihat reaksi adik iparnya yang kocak juga.
"Sudah mandi sayang?" tanya Fatir pada Viona yang menghampirinya.
"Sudah. Aku bikinkan teh hangat ya?" tanpa menunggu jawaban, Viona langsung mendekati tempat air minum dan membuatkan teh hangat buat Fatir.
"Mas kalo dah lahiran di sini ya tinggalnya biar rame?" Adam menatap sang kakak.
"Nggak kayanya," sahut Fatir cuma mengeluarkan dua kata. Mengingat di sini tempatnya sempit.
"Kalian aja yang ke apartemen atau ke rumah," kata Viona sambil menyuguhkan minuman buat sang suami, Fatir.
"Makasih sayang." Fatir langsung menyesapnya, kemudian beranjak dari duduknya. "Mau mandi dulu lah, Maghrib.
Viona hanya melihat pergerakan Fatir yang berjalan menuju kamarnya mau ngambil handuk.
"Nanti kalian nginep ya ke tempat Mbak!" ucap Viona sambil mengulas senyum manisnya pada adik-adik iparnya itu.
"Tentu, itu pasti kalau sudah ada si baby, ponakan ku harus dekat dengan ku dong." Timpal Adam.
"Nggak boleh, cuma dengan Sya dekatnya tuh baby. Sebab Sya akan lebih sayang dan perhatian ketimbang kalian berdua. Wew." Sambar Sya dengan lagi-lagi menjulurkan lidahnya.
Viona menatap mereka bergantian dengan menunjukan senyumnya, begitupun Bu Afiah yang terus menggeleng pelan namun tak berhenti mengulas senyumnya.
"Mulai-mulai, debat lagi, salat-salat. Jangan debat mulu berisik." Suara Fatir sambil lewat ke kamar mandi.
"Siapa yang debat? kami cuma menyambut bahagia ponakan ku kok." Akunya Sidar.
"Oya bener, aku masuk kamar dulu ah ..." timpal Adam sambil ngeloyor ke dalam kamarnya.
"Salat." Pekik Sidar.
"Tidur!" sahut Adam sambil menutup pintu kamar.
Kemudian mereka yang masih berada di dekat meja makan pun bubar mau menunaikan salat Maghrib terlebih dahulu setelah itu mereka akan makan malam bersama.
__ADS_1
Fatir dan Viona berdua di kamar setelah menunaikan salatnya. Viona melipat mukena dan sajadah bekas dia dan Fatir. Ia simpan di tempatnya.
"Pulang yu, Mas? ke rumah Mama aku kok gak enak hati gini." Ajak Viona melirik Fatir.
"Iya, setelah makan. Kasihan ibu sudah menyiapkan makanan buat kita," balas Fatir sambil mengusap pucuk kepala Viona. Viona pun mengangguk pelan.
Memang benar hatinya gusar, wajah sang bunda terus membayang di ruang mata. Entah apa yang terjadi pada orang tua nya itu saat ini, mungkin sang bunda sudah tahu perselingkuhan sang ayah atau gimana? yang jelas hanya hatinya saat ini dipenuhi rasa yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata.
Selesai makan, Fatir pamitan untuk mengantar pulang Viona ke rumah ibunya. Viona memeluk bu Afiah dan Sya bergantian.
"Lah, kita gak pernak kena peluk Mbak cantik. Kapan kita akan merasakan pelukan dari Mbak ku?" desah Sidar yang diakhiri dengan meneguk minumnya di tangan.
Mata Fatir melotot dengan sempurna pada Sidar. "Mau di peluk nih ... aku peluk." Fatir mendekat dan memeluk Sidar, sang adik.
"Ooh, bukan Mas, tapi Mbak cantik." Sidar meronta keluar dari pelukan Fatir yang kuat.
"Enak saja pengen dipeluk istri ku, dia hanya boleh peluk aku, suaminya. Siapa kamu?" sambung Fatir.
Bu Afiah dan Viona menatap sembari tertawa. Lalu Viona mendekat pada Sidar dan merangkul bahu Sidar.
"Sudah, jangan lama-lama." Fatir menarik pinggang sang istri. Nggak rela istrinya memeluk Sidar.
Adam merengek. "Aku nggak di peluk?"
Viona dan Fatir saling tatap dengan senyuman. Kemudian Fatir memberi kode memberi ijin.
Viona mengalihkan pandangan pada Adam dan merentangkan kedua tangannya.
"Hore ... aku juga dapat," Adam bergegas mendekati Viona.
"Jangan lam-lama, satu detik aja." Fatir ketus.
Setelah melewati drama yang tidak pernah terjadi dan baru kali ini saja. Fatir segera mengantar Viona pulang dan nanti balik lagi sebab dagangannya belum habis.
"Tak apa Mas, dagangannya aku yang bereskan dagangannya. Dikit lagi kok," Adam menawarkan diri.
"Oh, bagus banget tuh idenya. Makasih Dam." Fatir memeluk dan mencium kepala Adam singkat.
Viona tiba-tiba membatu tak bergeming sedikitpun ....
__ADS_1
****
Hi ... apa kabar reader ku yang baik hati. Makasih kalian masih menunggu novel ini up🙏 mana dong like nya? jangan lupa ya!