Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Tamparan


__ADS_3

"Maksud Oma. Apa salahnya Vi mengelola uang dari suami! dengan hidup berdua saja cukup kok. Nanti, Vi ajak dia kerja di kantor. Atau buatkan dia tempat yang layak untuk berjualan," saran Oma nya.


"Vi ngerti Oma. Vi juga mulai berpikir kalau Vi akan lebih banyak tinggal di apartemen Oma. Hidup berdua sama suami dan Vi akan belajar mengelola uang dari suami untuk hidup berdua." Viona sangat antusias dengan niatnya.


"Soal Vi mau tinggal di mana sih, terserah Vi aja. Mau di rumah. Itu rumah Vi juga, mau di apartemen juga boleh. Cuma ... sebenarnya orang yang berumah tangga itu seharusnya gak bareng orang tua melulu, untuk menghindari masalah antara mantu dan mertua atau mungkin saudara."


Viona menganggukkan kepala dan memperhatikan wejangan Omanya.


"Misalnya saja. Papa mu tidak suka dengan Fatir dan dia salah satu orang yang bersorak gembira akan kericuhan dalam rumah tangga mu," lanjut Oma Yani yang mengerti akan kondisi keluarga nya. "Suami atau istri akan lebih merasa nyaman kalau cuma hidup berdua saja kecuali benar-benar saling menyayangi dengan keluarga satu sama lain."


Viona kembali menghela napas panjang sambil mengangguk mengerti dan setuju dengan pandangan Omanya.


****


"Assalamu'alaikum?" suara seorang pria tua dan seorang pemuda berdiri di teras rumah Fatir.


Dari dalam terlihat bu Afiah bergegas mendekati pintu, cklek. Suara handle dan pintu pun terbuka. "Wa'alaikum salam. silakan masuk?"


Keduanya masuk, dengan wajah yang tidak bersahabat itu. Bu Afiah merasa mulai gusar dengan kedatangan keduanya, mana di rumah tidak ada anak-anak. Adam dan Sidar mengajak Sya jalan-jalan ke Mall.


"Sebentar ya tak ambilkan dulu minum," ucap bu Afiah sambil berniat pergi ke belakang tuk mengambil minum.


"Ndak usah. Mana Fatir? saya mau bicara." Ketus bapaknya Soraya.


Bu Afiah memutar badan dan duduk di sebrang tamunya. "Fatir, dia jualan Pak."


"Di pangkalan ndak ada. Makanya kami datang, Bu. Kalau saja ada di depan. Kami ndak bakalan ke sini?" Tegas Rian, kakaknya Soraya.


"Ibu ndak tahu. Mungkin sedang keluar jualannya." Tambah bu Afiah.


"Telepon dong. suruh pulang, kami ada hal penting yang harus di bicarakan," lanjut Rian.


"Saya ingin bicara dengan Fatir," sambung bapaknya Rian.


"Tentang apa ya Pak, jadi tak enak hati nih. Atau Bapak bicarakan saja dengan saya, Nanti saya sampaikan sama dia. Fatir." Menatap penasaran.


"Sebentar. Kok saya merasa banyak yang berubah ya di rumah ini. Dulu rumah ini tak serapi ini Pak. Furniture nya juga gak sebagus sekarang." Gumam Rian menoleh ke arah sang ayah.


"Bapak gak tahu. Emang kenapa?" Menatap penasaran.


"Dulu gak sebagus ini isinya rumahnya, motor baru." sahut Rian pada ayahnya.


Bu Afiah merasa gelisah. Harus gimana matanya celingukan melihat ke arah luar, kali saja Fatir pulang. Dan akhirnya sangat kebetulan Fatir muncul mengenakan motornya.


"Nah ini orangnya datang." Rian menunjuk ke arah Fatir yang kaget dengan kedatangannya keluarga dari Soraya.


"Assalamu'alaikum?" Fatir langsung menghampiri keduanya.


"Wa'alaikum salam. Kebetulan sekali kamu datang, ada yang saya ingin bicarakan," ucap bapaknya Soraya.


"Ada apa ya Pak?" Fatir menatap sambil mendudukkan dirinya dekat sang bunda.


"Kamu harus jujur Fatir. Kamu jangan mentang-mentang hidup mu sudah mapan. Menyakiti hati adik saya."


Fatir mulai mengerti, pasti mereka mendengar berita dari Soraya. Dia pasti cerita dan ngadu pada orang tua nya.

__ADS_1


"Apa benar kamu sudah menikah? mengkhianati anak saya!" mata elang nya menatap ke arah Fatir.


Sebelum berbicara, Fatir menghela napas panjang. Namun Rian menimpali omongan sang ayah.


"Kau sudah bikin adik saya menangis tiada henti. Bertahun-tahun kau pacari tapi akhirnya kau bikin sakit hati. Mana tanggung jawab mu sebagai laki-laki?"


"Sebenernya ada apa ini?" selidik bu Afiah menatap orang-orang di sana. Pikirannya langsung traveling mendengar Rian mengingatkan rasa tanggung jawab.


Fatir menoleh pada sang ibu. Lalu ke arah kedua tamunya. "Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Sebab ... berita yang kalian dengar itu ...."


Kedua tamunya itu tampak penasaran. Melihat Fatir memberi jeda ucapannya. "Benar atau tidak?" tanya bapaknya Soraya. Matanya melotot pada Fatir.


"Sebenarnya yang kalian dengar itu benar," balas Fatir dengan jujur dan tenang.


"Apa? kau sudah menikah!" bentak bapaknya Soraya. "Kurang ajar kau, sesudah puas dengan anak saya kau tinggalkan begitu saja." Mendekat dan plak! plak. Menampar pipi Fatir kanan dan kiri.


"Au." Pekik Fatir, menangkupkan kedua tangannya pada pipi yang terasa panas bekas tamparan barusan.


"Pak, apa-apaan! anak saya jangan ditampar." Mulut Bu Afiah menganga tak menyangka kalau putranya akan dapat tamparan.


"Kurang ajar, kau sudah menyakiti adik ku. Mengkhianati Soraya yang sudah lama kau pacari," sergah Rian sambil ngasih bogem mentah ke dada Fatir.


Hek!


Tubuh Fatir turun ke lantai membungkuk kesakitan. Sudah pipi, dada pula kena bogem Rian.


"Cukup-cukup, Fatir menikah itu ada alasannya. Bukan semata-mata karena napsu." Bu Afiah melerai dan menghalangi tubuh Fatir agar tak lagi kena amukan keluarga Soraya.


Saya tak butuh alasan. Saya kecewa, kamu yang saya percaya ternyata mendua. Kau meninggalkan anak saya setelah kau puas--"


Brak!


Rian menggebrak meja. "Akhh ... brengsek kamu, sudah bikin adik ku kecewa. Kalau Soraya sampai ke napa-napa lihat saja!" ancaman Rian pada Fatir.


"Saya benar-benar kecewa sama kamu Fatir." Mata ayahnya Soraya menatap tajam ke arah Fatir dan ibunya.


Kemudian beranjak mengajak putranya pulang tanpa pamitan ataupun mengucap salam. Rian membanting pintu depan dan melempar helm miliknya Fatir.


Guprak!


"Astagfirullah ..." gumam Fatir dan Ibunya.


"Nak, ayo bangun." Bu Afiah membantu Fatir duduk di sofa.


Fatir berdiri hendak berjalan ke kamarnya. Bu Afiah pun memapahnya sampai berada di dalam Kamar.


"Sudah, kamu istirahat saja di sini. Ibu sudah menduga akan seperti ini, mereka pasti kecewa kamu membuat putrinya terluka dengan pernikahan mu Nak," tutur bu Afiah yang duduk di tepi tempat tidur.


"Tapi aku tidak pernah macam-macam sama dia Bu, Selama apapun hubungan kalau memang tidak ada jodoh gimana? sebelum bertemu dengan Viona pun Fatir sudah mau menikahinya. Tapi pihak keluarga aku harus bawa uang yang banyak, akhirnya aku pikir mungkin Raya bukan jodoh aku Bu," ujar Fatir sambil mengoleskan salep ke semua tempat yang luka. Kebetulan salep punya Viona gak di bawa.


Helaan napas bu Afiah begitu panjang. Tangannya mengusap punggung putranya lembut. "Kalau bisa pertahankan rumah tangga mu yang sekarang ini."


"Iya, Bu. Makanya aku berusaha menjadi suami yang baik dan aku akan berusaha tuk pertahannya. Sekalipun aku masih mencintai Soraya."


"Cinta akan tumbuh dengan seiringnya waktu dan kebersamaan." Timpal bu Afiah sambil mengulas senyumnya.

__ADS_1


"Iya, Bu." Fatir menunjukkan senyumnya walau terasa sakit di bibir.


****


Sekitar pukul tujuh malam Viona baru pulang dari kantor dan langsung ke apartemen. Langkahnya gontai melintasi pintu setelah mengarahkan kartu card, terbukalah pintunya. Viona melepas sepatu kerja dan menyimpan tas nya di atas meja duduk sebentar di sofa setelah menghidupkan lampu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Siapa sih?" kepala Viona menoleh kearah pintu sampai akhirnya berdiri dengan malasnya maju mendekati pintu.


Blak!


Cklek, pintu pun terbuka. Tampak berdiri seorang wanita dengan penampilan menarik wajah nya pun cantik. Matanya menatap tajam ke arah Viona.


Sejenak Viona terdiam memandangi wanita itu, menatap heran dengan hati yang bercampur aduk. "Mbak?" pada Akhirnya Viona bersuara.


"Baguslah kamu ada. Saya sudah gatal untuk menemui mu." Wanita itu masuk tanpa di suruh dan berlenggok menyapukan pandangan ke semua sudut ruangan tersebut.


Viona menutup pintu dan masuk mendudukkan bokongnya di sofa.


"Bagus juga apartemen nya. Jadi di sini kalian sering ketemuan?" menatap datar ke arah Viona.


"Sering, tapi itu dulu. Jauh sebelum dia menikah dengan mu." Viona santai.


"Setelah itu?" kali ini tatapannya tajam dan penuh curiga.


"Tidak."


"Hem, bohong! jelas-jelas kalian itu sering ketemuan." Wanita itu mesem kecut.


"Ya, kalah ketemu sih sekedar kebetulan saja, saya sudah bersuami. Mbak gak usah curiga, gak mungkin saya kembali apalagi kalian sudah mempunyai anak. Hidup bahagia, saya. Dia cuma masa lalu Mbak," ucap Viona dengan santai dan tenang.


"Hem, saya tahu kamu masih menggoda suami saya! sehingga dia sering mencuri waktu dari keluarga dan dalam tidur pun sering memanggil nama mu. Wanita tak tahu diri, sudah jelas punya suami masih saja menggoda suami orang. Kau itu cantik, apa tak bisa menggoda suami sendiri ha?" suara wanita itu meninggi dan menuduh sesuatu yang tidak pernah Viona lakukan.


Degh!


Kini tatapan Viona begitu kesal pada wanita ini. "Mulutnya di jaga ya Mbak, saya tidak pernah menggoda suami orang, suami sendiri pun ada. Ngapain menggoda suami mu? lagi pula aku sudah puas sama dia dulu."


"Dasar wanita j*****, murahan. gak punya kehormatan." Tangan nya melayang berniat menampar pipi Viona yang mulus tersebut.


Geph!


Tangan Viona menangkap dan menahan tangan wanita itu di udara. "Jangan mengotori tangan mu Mbak. Hanya untuk laki-laki yang tidak mencintai Mbak. Sekarang pulanglah dan pintu keluarnya masih yang sama dengan ketika kau masuk. Urus suami mu buat dia mencintai mu bukan kau sibuk mencari ku. Sebab bisa saja dia semakin menjauh nantinya." Jelas Viona menatap lekat netra wanita itu yang melotot sempurna.


Istri Hendra mengeratkan giginya. Dengan mata melotot sempurna pada Viona berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Viona.


Viona menghempaskan lengan itu. "Pulang lah. Jangan pernah kembali bila cuma untuk menghina ku. Jaga suami mu baik-baik." Viona menunjuk pintu utama.


Tanpa bicara, wanita itu menyeret langkahnya dan sempat-sempatnya membanting pintu ....


****

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Makasih sudah membaca dan jangan lupa like dan Komen nya🙏


__ADS_2