Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Alhamdulillah


__ADS_3

Dibalik itu Fatir dan Viona cemas kalau hubungan intim semalam berakibat fatal. Viona langsung pengen ngedden, lalu di arahkan oleh dokter ahli di sana.


Tarik napas ... keluarkan.


Tarik napas ... keluarkan.


Tangan Viona terus menggenggam tangan Fatir sekalian sebagai pegangan. Lengan Fatir yang satu lagi mengusap kepala sang istri dan mengecupnya memberi semangat yang penuh. "Ayo sayang ... yang semangat dan kuat."


Viona mengangguk sambil membuang napasnya dengan sangat teratur lalu ngedden agar baby-nya keluar dan lahiran tanpa cesar.


Dalam hitungan menit saja. "Oe! oe! oe!" suara baby terdengar begitu nyaring.


"Masya Allah tabarakallah." Gumamnya Fatir. "Alhamdulillah ...."


Viona lemas setelah mengeluarkan baby nya dengan sepenuh tenaga.


"Ayo Nyonya. Satu kali lagi, semangat?" Suara dokter mengkombinasi suara baby.


Viona berusaha menuruti instruksi dari dokter untuk satu kali lagi ngedden. Akhirnya selesai juga dan Viona lemas namun hatinya berbahagia. Rencana lahiran normal terlaksana juga tanpa ada hambatan apapun.


Fatir dan Viona saling melempar senyuman meskipun Viona tampak lelah, lemah. Bibirnya mengukirkan senyum bahagia apalagi ketika baby nya diletakkan di atas dadanya.


Fatir memeluk kepala Viona sembari berucap. "Makasih sayang? lihat baby kita cantik dan lucu."


Viona hanya tersenyum. Dengan sisa-sisa tenaganya lantas Viona mencium pipi Fatir. "Terima kasih juga sudah memberikan sesuatu yang indah dalam hidup ku!"


"Sama-sama sayang." Lalu Fatir memperdengarkan adzan pada baby yang berjenis kelamin perempuan itu dan mereka akan memberikan nama, Vivian Faturahman.


Selesai itu Bu Asri dan Oma Yani masuk menyambut hangat cucu dan cicit mereka yang masih merah itu.


"Masya Allah ... cantiknya cucu ku, Bu." Bu Asri menoleh pada sang bunda dengan senyuman. yang amat bahagia.

__ADS_1


"Iya, seperti Vi, sewaktu baby ya Asri." Oma Yani tersenyum haru. Akhirnya di usianya sekarang. Tuhan masih memberi kesempatan untuk menimang cicit.


"Benar, Bu." Bu Asri mengangguk lalu menggendong baby Vivian bergantian.


Setelah beberapa saat, Viona langsung dipindahkan ke ruangan inap dengan kelas VIP yang serba mewah dan lengkap. Si baby pun pindah bersama sang bunda.


Fatir sangat bahagia, rasa was-was yang hebat. Ketakutan tentang semalam hilang sudah, bahkan mungkin membawa hikmah nya yang baik, kalau saja tidak melakukannya semalam, mungkin saja Viona tidak lahiran sekarang dengan mudahnya dan lancar


Fatir duduk di tepi ranjang pasien, sambil membelai pucuk kepala Viona dengan bibir terus mengembang. Menatap wajah sang istri yang masih tampak lemah.


"Vi. Sayang. Aku sangat bahagia! kamu sudah memberikan ku putri yang cantik, secantik dirimu." Tangan Fatir turun mengelus pipi Viona lembut.


"Aku juga, kan benihnya dari kamu sayang." Balas Viona pelan sambil menggerakkan manik matanya pada sang bunda dan Oma nya yang berada dekat bok baby.


"Yakin, bukan benih orang?" goda Fatir sambil menyeringai. Yang sontak mendapat cubitan kecil dari sang istri.


"Au! sakit sayang. Aku cuma bercanda," sambung Fatir sambil mengusap bekas cubitan dari Viona.


"Sayang?" panggil Fatir.


"Hem?"


"Sebenarnya aku sudah was-was takut, kamu ke napa-napa. Habis semalam itu. Takut, sumpah. Sebab kan semalam dokter bilang lahirannya masih lama, jadi ketika kamu kontraksi lagi aku cemas bukan main, takut." Suara Fatir pelan.


Tangan Viona yang terpasang selang infusan memegang tangan Fatir. "Itu benar, Mas. Sama aku juga ketakutan banget. Yang tadinya berkurang namun secara tiba-tiba mengalami kontraksi yang lebih hebat. Aku juga khawatir sangat-sangat."


"Tapi, Alhamdulillah ya? mungkin. baby Vivian ingin dijemput sama ayahnya dulu, buktinya setelah itu lahir dengan cepat ke dunia ini." Timpal Fatir sembari mencium tangan Viona sangat mesra.


"Mungkin juga," lirih Viona seraya melirik sang bunda yang tampak bahagia dengan sang Oma memandangi baby Vivian. "Entah kenapa semalam aku pengen banget." Setengah berbisik.


"Mas, tahu. Apa sekarang pengen juga?" tanya Fatir dengan nakal dan memainkan mata genitnya.

__ADS_1


Dugh!


"Sembarangan." Viona memeluk tangan Fatir. "Puasa kurang lebih tiga bulan."


"Sayang, lama banget? kalau gak tahan gimana? masa tega siksa aku gitu?" keluh Fatir.


"Bukan tega, apa kamu gak lihat? aku kesusahan dan tersiksanya sewaktu melahirkan?" sambung Viona.


"Aku tahu, wanita yang melahirkan itu ... sakitnya seumpama ribuan tulang yang patah--"


"Itu tahu." Viona memotong kalimat dari Fatir.


"Tapi sayang ... itukan kebutuhan. Emangnya wanita juga bisa nahan, kalau pengen? buktinya semalam yang duluan pengen siapa? yang minta siapa? setidaknya satu atau dua bulan lah, Masa nifas kan 40 hari lah. jangan lebih dari itu, kasian!" Fatir seakan bernegosiasi dengan sang istri.


"Aish ... Mas pikir ini arena bernegosiasi apa? ada-ada saja." Viona menggeleng.


Cuph! ciuman hangat kembali mendarat di kening sang istri. "Mas takut saja."


"Takut apa lagi sih?" tanya Viona heran.


"Takut kelamaan."


"Iih ... dasar laki-laki, mau enaknya saja. Makanya jangan mau punya anak kalau tidak sanggup libur! udah ah, ngantuk." Viona memejamkan matanya yang terasa mengantuk berat.


Fatir membelai rambut Viona sampai Viona benar-benar tertidur. Kendati demikian Fatir terus menemani Viona dan berada di dekatnya.


"Aduh ... jadi betah lihatin baby Vivian ya, Bu? lucu. Mungil, kulitnya putih, matanya bening. rambutnya, Bu ... tebal dan hitam," ujar bu Asri pada sang bunda.


"He'em. Saya gemes pengen nyubit atau saya cium-cium gitu, tapi dia baru lahir, jadi gak bisa dengan sesuka hati kita," balas Oma Yani dengan mata begitu intens pada baby Vivian ....


****

__ADS_1


Hanya dukungan dari kalian yang bikin aku semangat berkarya. Jangan lupa like komen dan vote.


__ADS_2