Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Motor baru


__ADS_3

"Helleh ... saya yang mau bayarin kok, bukan kamu Rus. Kok kamu yang protes?" bu Yani mendelik.


Viona menatap sang oma dan papanya yang bersitegang itu. Sementara bu Asri tetap santai dan menikmati makannya.


"Memang bukan uang saya, tapi biar saja dia berusaha sendiri. Jangan kita beli-beli gitu, keenakan nantinya." Kata pak Rusadi.


"Tapi saya yakin kalau calon mantu saya tidak seburuk yang kamu pikirkan tuh. Dia sepertinya sangat bertanggung jawab, buktinya dia selalu mengantar Vi pulang meskipun ia rela hujan-hujanan naik ojek pula," sambung oma Yani kembali.


Viona menyembunyikan senyumnya. Hatinya senang mendengar oma nya membela Fatir dengan pandangannya sendiri.


"Fatir, ada kok motor, oma. Paling gantian pakai dengan adiknya sekolah." Timpal Viona.


"Tuh, kan. Gantian gitu?" oma Yani menatap cucu kesayangannya itu.


"Iya, kadang buat antar pesanan juga," tambah Viona menjelaskan.


"Ah, kalau gitu. Oma yakin seyakin-yakinnya. Oma mau beri kado pernikahan mu motor, buat mantu Oma. Titik." Jelas oma yani.


Asri cuma tersenyum mendengarkan obrolan mereka. Sementara pak Rusadi cemberut, kesal. Tak setuju.


"Vi, berangkat dulu ya Oma, Mah. Pah." Viona mencium tangan ketiganya bergantian.


"Baiklah sayang, hati-hati." Pesan sang bunda.


"Ingat sayang, nanti kita belanja. Sekalian ke dealer ya?" pekik oma Yani menatap punggung sang cucu kesayangan.


Viona menoleh sebentar dan mengangguk, Kemudian meneruskan langkahnya. Menuju mobil, untuk berangkat kerja.


Setengah dari perjalanan. Viona memarkirkan mobilnya, Naiklah Alisa yang sudah menunggu. Alisa sebenarnya bisa aja pergi sendiri toh ada mobil yang dibawa suaminya kerja namun berlainan arah.


"Wah ... makin berseri aja nih wajah calon pengantin?" ucap Alisa sambil memasang sabuk pengaman.


"Apaan? biasa aja, nih tolong di sebarkan." Viona menunjuk kartu undangan di dalam paper bag.


Netra mata Alisa bergerak ke arah yang di tunjuk Viona. "Gampang. Tinggal buang, sebarkan, kan?"


"Terserahlah, mau kamu bakar juga silahkan." Tambah Viona sambil membelokkan setirnya.


"Uh ... ngambek, tambah cantik deh." mencolek dagu Viona.


"Apaan sih? colak-colek gak lucu deh." Ketus Viona.


"Cieh ... cieh, senangnya hatiku. Menjelang pengantinku, betapa riang dan indahnya." Alisa bersenandung sambil memandangi suasana jalanan yang ramai.


Viona melirik sekilas dengan bibir menyunggingkan senyuman. "Oya, nanti sepulang kerja. Harus nemenin belanja mama dan oma."


"Oya, aku diajak gak?" tanya Alisa menoleh ke arah sahabatnya itu.


"Kalau mau ikut, ya ikut saja. Oya. Percaya gak? kalau oma akan memberikan kado pernikahan, motor baru. Buat siapa coba?"


"Buat siapa? Fatir, masa sih? sumpah aku gak percaya." Alisa menggeleng.


"Beneran, malahan mau belinya juga nanti. Minta diantar ke dealer." sahut Viona meyakinkan.

__ADS_1


"Kok, semudah itu oma jatuh cinta sama Fatir?"


"Mana ku tahu." Viona menaikan kedua bahunya.


"Begitu mudahnya, Fatir mengambil hati oma. Tapi ... hati calon pengantinnya sudah tercuri belum ya?" ucap Alisa sambil mengetuk-ngetuk jari ke keningnya.


Namun Viona tak memberi ekspresi apapun. Dia anteng menyetir sampai lah di tempat tujuan. Alisa langsung menyebarkan undangan Viona.


Mereka, terutama rekan pria. Setengah tak percaya Viona akan menikah, sementara Viona itu terkenal dengan sikap cueknya pada pria yang mendekati.


"Wah ... sangat beruntung, pria yang mendapatkan Viona, sudah cantik, kaya. Cucu konglomerat, ah sempurna lah." Gunjingan rekan kerja Viona di kantor.


Alisa memberikan senyuman, mendengar perkataan mereka tentang Viona.


Viona sudah berada di kursi kebesarannya. Dan langsung memulai aktifitas yang sudah menunggu uluran tangannya itu.


Setelah jam makan siang. Viona cuma sebentar kembali ke kantor. Kemudian langsung pulang.


"Kalau mau ikut, nyusul aja lah." Kata Viona pada Alisa.


"Oke, Non. Nanti aku nyusul ya! dah ..." tangan Alisa melambai.


Viona bergegas memasuki mobilnya. Oma Yani sudah bawel ingin segera ke dealer sekarang juga.


Sesampainya di rumah. Viona segera bersih-bersih, badan ini di terasa lengket sekali. 15 menit kemudian keluar dari kamar mandi dan mengenakan stelan panjang. Kemeja dan jeans.


"Ayo dong sayang ... Oma dah rapi dari tadi." Bu Yani sudah tidak sabar sehingga menemui Viona di kamarnya.


"Iya, segera. Vi di gimanapun rambutnya tetap cantik kok, Nak Fatir pasti tambah tergila-gila sama kamu." Bu Yani bangga akan kecantikan cucunya.


"Nggak usah, memuji. Uang banyak di Oma," sahut Viona sambil tersenyum.


"Dasar kamu ini, sebentar lagi semuanya akan menjadi milik mu. Jadi siapa pun yang butuh sesuatu harus ada tanda tangan mu, tanpa itu nol."


Viona terdiam, lalu menoleh pada sang oma. "Maksudnya Om?"


"Iya, semua akan menjadi atas nama mu. Yang lain gak ada hak sedikitpun, selain perusahaan. Deposito, tabungan pribadi Oma pun kamu yang akan pegang. Oma harap kamu dapat menyimpannya dengan baik, supaya tidak jatuh ke tangan yang salah. Dan Oma percaya sama kamu. Makanya Oma ingin cucu oma ini segera menikah dengan orang yang tepat agar dapat menjaga cucu oma ini," ujar oma Yani panjang lebar, tangannya mengusap punggung Viona.


"Oma, kan ada saudara Oma yang punya hak akan harta Oma?" Viona menatap lekat.


"Mereka sudah Oma hibahkan. Jadi mereka tak ada hak meminta lagi, tinggal yang akan menjadi milikmu semuanya," ungkap oma Yani kembali.


Viona mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


Kemudian mereka berdua turun. Menemui bu Asri yang menunggu di bawah.


"Papa mau ikut gak?" tanya bu Asri ketika bersiap pergi.


"Ke dealer? ogah. Oya Mah ... nanti belikan Papa kemeja yang bagus ya juga dasinya. Sepatu juga."


"Ikut aja sekalian Pah?" timpal Viona melirik sang ayah.


"Malas!" jelas pa Rusadi.

__ADS_1


"Ya sudah. Yu, Asri, Vi kita capcus."


"Duh ... Oma, seperti anak muda saja, bahasanya gaul." Viona menggeleng.


"Iyalah, Oma juga gak mau kalah sama orang muda," sahut oma Yani sambil masuk. "Vi, supir ada. Tapi kamu masih aja setir sendiri."


"Kalau lagi malas aja Oma."


"Iya, Vi ... supir ada. ngapain capek-capek nyetir sendiri?"


"Mamah, kan Vi sudah bilang buat nanti saja kalau Vi malas nyetir sendiri. Lagian supir gak nganggur juga, nganter papa ke kantor. Atau ngantar Oma, Mama, belanja atau ke mana gitu," ungkap Viona dangan mata fokus ke depan.


Selang beberapa waktu, tibalah di sebuah dealer motor ternama di Kota itu. Viona melirik omanya. "Oma yakin, mau belikan Vi motor?"


"Yakinlah, bukan buat Vi. Tapi buat Fatir." Jelas oma Viona.


"Iya ... tapi sebagai kado pernikahan Vi, kan?" ulang Viona.


"Benar, dan Oma pengen langsung di kirim ke tempat Fatir. Oma ingin ke sana mengantarnya sendiri--"


"Mana bisa, Bu ... nanti barangnya diantar pihak dealernya langsung." Pada akhirnya bu Asri nimbrung pembicaraan cucu dan oma ini.


"Aku tahu, kita tunggu di sana." Kata oma Yani.


"Loh, bukannya mau belanja setelah ini?" Viona heran.


"Ke tempat Fatir dulu, setelah itu baru belanja." Tambah oma Yani.


Viona menghela napas panjang. Mereka pun masuk dan memilih Motor yang pas buat pria.


Dengan rekomendasi dari pegawai pria di sana. Akhirnya tidak butuh waktu lama untuk menemukan barang yang di cari, sebuah motor beat warna hitam mengkilat jadi pilihan dan barang keluaran terbaru. Langsung saja transaksi.


Dan minta diantar langsung ke alamat yang sudah diberikan. Viona dan Oma juga sang bunda langsung meluncur ke tempat jualan Fatir.


"Kamu telepon dulu Nak Fatir nya Vi, bilang kalau kita mau ke sana," tutur bu Asri.


"Buat apa? Biar aja. Toh orang nya ndak akan kemana-mana Mah." Jawab Viona sambil nyetir.


"Yo wes, kalau begitu. Sekalian Oma ingin menyicip mie ayam buatannya. Enak tidak!" ungkap oma Yani.


Viona tak menjawab lagi. Ia terus saja melajukan mobilnya, bu Asri dan oma Viona mengobrol kan sesuatu yang Viona tak perhatikan apa itu.


Viona menepikan mobil kesayangannya tidak jauh dari tempat Fatir jualan.


"Di sini tempatnya?" tanya oma Yani. Matanya mengitari tempat sekitar.


"Iya, Oma ... itu orangnya." Viona menunjuk seorang pria yang tengah melayani pembeli.


Fatir terkejut, sekilas melihat mobil Viona bersama Ibu dan omanya di sana. Ia gugup, dadanya berdegup lebih kencang ....


****


Apa kabar reader ke semua? semoga baik aja ya. Jangan lupa like dan komennya.🙏

__ADS_1


__ADS_2