Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Begitu saja


__ADS_3

Bu Siti menghela nafas panjang. "Bagaimana kalau dia ndak datang untukmu, Nduk ... percuma kamu seperti ini!" ungkap Bu Siti sambil menggelengkan kepalanya.


Suami Bu Siti yang berdiri di depan pintu, hanya terdiam dan mendengarkan perbincangan istri dan putrinya itu. Hatinya sungguh kacau tidak terbayangkan kalau putrinya akan seperti ini, begitu terpukul hanya gara-gara ditinggal nikah oleh sang kekasih.


Bu Siti menoleh pada suaminya yang berdiri dan berpangku tangan. "Pak, gimana ini, masa harus dibiarkan seperti ini terus? berapa hari ini Soraya ndak mau makan, nanti lama-lama dia kan sakit pak?"


"Saya bingung Bu." Jawab suaminya dengan singkat.


"Tapi kita ndak bisa membiarkannya seperti ini terus Pak!" sambung Bu Siti lagi.


Suaminya tidak menjawab lagi melainkan pergi meninggalkan kamar tersebut. lagi lagi lagi lagi Bu Siti menggelengkan kepala seraya menghela nafas berat dan panjang.


Kemudian beranjak dari duduknya hendak meninggalkan Soraya sendiri. "Baiklah, Ibu keluar dulu ya? jangan lupa makan Ibu sudah siapkan di meja," kata Bu Siti sambil menunjuk makanan yang tadi dia bawa dan ia simpan di meja yang tidak jauh dari tempat tidur Soraya.


Sementara Soraya tidak membalas perkataan ibunya lagi, ia hanya melamun dan bergumam dan menyebut-nyebut nama Fatir.


****


Hari sudah beranjak sore, Viona bersiap untuk pulang dan kali ini ia memutuskan untuk pulang ke tempat Fatir terlebih dahulu dengan niat akan mengajaknya untuk ke rumah lama. Viona mendapat telepon dari omanya yang ingin bertemu dengan mereka berdua.


Viona beranjak dari duduknya dan menggeser kan kursi kebesarannya. Tangan menyambar tas dan merogohnya mengambil sebuah kunci mobil.


Berjalan menuju mobil yang terparkir cantik di tempatnya. Setelah duduk di belakang setir dengan tidak membuang waktu Viona melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Agar segera sampai di tempat tujuan, sudah tidak sabar ingin bertemu sosok pria yang statusnya sebagai suami.


Sambil nyetir Viona terus mengulum senyumnya merasa lucu dengan kejadian tadi pagi. Dia terlalu berharap sedangkan yang terjadi tidak seperti yang diinginkan, ia yang sudah pasrah malah ditinggalkan begitu saja.


Aneh juga tuh laki-laki, Hendra malah tidak seperti itu, malah nggak bisa menahan diri. Kalau saja Viona gampangan, mungkin sudah terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


Viona menggeleng pelan dan tetap fokus melihat ke depan. Jalanan begitu ramai dan orang-orang mungkin dengan tujuan jalan-jalan sore.


Setibanya di depan gang yang biasa Fatir tempati berjualan. Tampak Fatir sedang sibuk melayani pembeli. Di temani adiknya, Sidar.


Viona bergegas turun. Dari jauh pun Viona sudah menunjukan senyumnya pada Fatir dan Sidar yang melihat kedatangannya. Ia berjalan mendekati sebuah bangku dan Viona duduk di sana.


Fatir pun membalas senyuman istrinya dan menghampiri. "Baru pulang kerja?" terlihat dari pakaiannya.


"Hem!" sembari mengangguk.


"Mau mie ayam? saya buatkan," sambung Fatir.


"Em ... boleh."


"Pedas atau biasa?" lanjut Fatir


"Pedas, tapi jangan sepedas omongan tetangga!" Viona mesem.


"Nggak, di sini gak ada sepedas tetangga, yang ada sepedas omongan mertua he he he." Fatir berlalu.


Viona mencabikkan bibirnya ke depan. Tidak lama Fatir datang lagi dengan membawa semangkuk mie ayam lengkap dengan minumnya.


"Makan dulu." Fatir menyodorkan nya untuk Viona.


"Makasih?" Viona mengaduk dan perlahan melahapnya selagi hangat. "Em ... enak juga."


Fatir duduk memperhatikan Viona makan dengan senyuman di bibirnya. "Sebentar." Fatir mengangkat tangannya, jari telunjuk mengarah pada bibir Viona yang belepotan. Dengan tidak merasa jijik Fatir ******* jarinya.


Viona tersipu malu dan melap kembali bibirnya. "Kenapa tadi meninggalkan ku begitu saja?"


"Hem, kan sudah kesiangan ke pasarnya. Makanya aku pergi," sahut Fatir.

__ADS_1


Fatir tak berhenti tersenyum dan memandangi ke arah Viona yang tersenyum malu-malu.


"Berharap ya? kan masih banyak waktu," bisik Fatir sambil menyeringai.


Viona semakin tersipu malu di buatnya. "Apaan sih?" sambil mengunyah.


"Cepat makannya, habiskan!" Fatir terus memandangi Istrinya makan.


Viona melanjutkan makannya Sesekali meneguk minuman. "Eh ... ikut aku ya?"


Kening Fatir mengernyit. "Kemana?"


"Tadi Oma, nyuruh kita ke sana!" balas Viona sambil menghabiskan makannya.


"Oh, ku kira mau melanjutkan yang tadi pagi, he he he ..." gumamnya Fatir.


Viona membelalakkan netra matanya sambil memekik. "Apaan sih? malu," semakin dibikin menciut dan malu.


"Ndak apa-apa, mereka gak ngerti juga yang aku maksud." Suara Fatir pelan dan manik matanya bergerak melihat sekitar.


Viona menunduk dalam, sangat malu pada Fatir. Wajahnya tampak gugup dan salah tingkah.


"Lain kali lanjut lagi ya?" bisik lagi Fatir sambil mengelus punggung tangan Viona.


Jantung Viona terus berdebar, lalu ia mendongak berdiri membawa mangkuk ke ember cucian.


"Eh, biar saja aku yang cuci." Fatir melonjak ketika Viona mau mencuci bekas makannya.


Viona berdiri dan membiarkannya. Seperti yang Fatir pinta, terus Fatir mencuci sekalian bekas yang lain.


Lalu berdiri berjalan mendekati gerobaknya dan melayani lagi pembeli bersama Sidar. Kemudian mendekati Viona yang berdiri melihat ke arahnya.


Netra mata Fatir menatapnya lekat dan memegangi kedua tangan Viona yang melingkar di pundaknya. "Aku masih jualan."


"Akh ... kan ada Sidar, biar Sidar aja yang nungguin. Lagian tinggal sedikit lagi. Sidar, ya? lanjutkan jualannya," Lirih Viona melihat adik dan kakak itu.


"Boleh, Mbak cantik siap aku," sahut Sidar sambil tersenyum.


"Tuh ... kata Sidar juga. Ya, pergi ya?" rajuk Viona dengan nada sangat lembut seraya membalas tatapan Fatir.


"Pengen banget aku ikut, kangen apa?" goda Fatir.


"Iih ..." Viona cemberut dan menurunkan tangannya dari pundak Fatir.


Senyum Fatir menyeringai rasanya gemas sekali kalau melihat Viona cemberut. "Iya kita pergi, mau sekarang atau nanti malam hem?"


"Sekarang, tapi ke rumah Ibu dulu ya? pengen ketemu ibu sama Sya, boleh ya?" kembali mengalungkan tangan di leher Fatir.


Manik mata Fatir bergerak melihat sekitar yang agak sepi, lagian yang makan Mie memunggungi mereka. Menoleh ke arah Sidar yang menghadap namun menunduk memainkan ponselnya. "Sidar, ngadep sana sebentar."


"Kenapa sih Mas?" Sidar malah bertanya.


"Pokonya gitu aja." Pinta Fatir pada sang adik.


Viona heran melihat kedua pria yang ada dihadapannya itu.


Pandangan Fatir kembali menatap ke arah Viona yang menatap heran. Tangan Fatir membelai lembut pipi Viona dan tanpa ragu-ragu cuph! mengecupnya lembut.


Viona terkesiap menerima kecupan itu. Masalahnya di tempat terbuka dan ada orang pula. Untungnya tak ada yang melihat, wajah Viona merah seperti tomat.

__ADS_1


"Ya udah, aku mau rumah dulu. Menemui ibu dan Sya." Viona berjalan namun jarinya di pegang Fatir dan sulit di lepaskan. Netra mata Viona bergerak melihat ke arah tangan dan wajah Fatir bergantian, akhirnya Fatir melepaskan dan membiarkan Viona pergi.


Viona terus berjalan menyusuri jalan gang menuju rumah Fatir. sebelum pulang ingin ketemu dulu dengan ibu mertua dan adiknya Sya, dan berapa menit kemudian Viona pun tiba di depan rumah Fatir dan sangat kebetulan ada Sya berada di teras.


Sehingga dia langsung menyambut kedatangan Viona dengan ramah dan bahagia, lalu Sya memanggil ibunya. "Bu Mbak cantik datang nih, Bu ... Mbak cantik datang."


"Iya sebentar ... Ibu lagi tanggung nih tunggu ya?" suara Bu Afiah dari belakang.


"Apa kabar Sya?" Viona memeluk Sya erat.


"Baik Mbak cantik, kok Mbak cantik jarang ke sini sih? Sya kange ... n banget sama Mbak cantik," balas Sya sambil memeluk tubuh Viona erat.


"Mbak sibuk dan baru bisa sekarang main ke sini, gimana masih rajin check up kan?" Selidik Viona sambil melepaskan pelukan dan mengajak Sya masuk.


"Masih, Mbak."


"Syukurlah, jangan berhenti berobat ya? agar Sya cepat sembuh. Mbak senang kalau Sya sembuh bisa sekolah lagi. Oke?"


"Oke, mbak!" Sya tampak bahagia bertemu dengan Viona.


"Eh ... ada Nak Viona." Sapa Bu Afiah ramah.


"Iya, Bu. Sehat?" tanya Viona sambil meraih tangan Bu Afiah ia cium dengan sopan nya. Kemudian berpelukan.


"Sehat Nduk ... Fatir di--"


"Iya, sudah ketemu tadi." Balas Viona sambil mendudukkan diri di Sofa.


"Ibu ambilkan minum dulu," ucap Bu Afiah sambil berdiri.


"Jangan, Bu. Jangan repot-repot aku bisa ambil sendiri." Viona memegang tangan Bu Afiah. "Maaf. Aku ke sini gak bawa apa-apa."


"Ya, ampun Nduk ... tiap hari juga ada saja yang kau kirimkan buat kami, ngapain minta maaf? justru kami yang malu terus saja merepotkan mu Nduk." Lirih Bu Afia.


"Nggak kok, Bu. Aku gak merasa direpotkan malah aku senang bisa membantu kalian," sambung Viona lagi.


"Iya, Mbak cantik selalu mengirim kami makanan enak. Makasih ya Mbak cantik?" kata Sya pada Viona.


"Ooh ... sama-sama Sya." Viona memeluk kembali tubuh Sya.


Setelah beberapa saat berbincang, Viona berdiri menuju kamar Fatir yang tampak berantakan, sarung. Baju, tergeletak di atas tempat tidur. Viona langsung merapikannya.


Di tengah asik beberes, Viona dikejutkan dengan tangan seseorang yang memeluknya dari belakang. Hampir saja Viona menjerit sambil menoleh. Namun dengan gesit bibir Viona dibungkam dengan bibir Fatir.


Viona tak bisa berkutik, matanya melotot terkesiap dengan perlakuan Fatir yang mengejutkannya. Kepala Viona terkunci oleh tangan Fatir yang satu lagi. Tubuhnya berubah posisi menjadi saling berhadapan.


Bibir Fatir bergerak menyapu setiap permukaan benda kenyal milik Viona itu. Tangannya pun bergerak turun ke leher belakang Viona yang jenjang. Dan tangan Viona naik memeluk punggung Fatir. Sejenak keduanya menikmati penuh gairah dan memperdalam ci****nya sehingga Viona kesusahan untuk bernapas. Lalu berapa saat kemudian Fatir menjauhi wajah Viona membiarkan mencari oksigen, menghirup udara sebentar.


Napas keduanya tersengal-sengal seperti orang yang habis lari maraton, dadanya naik turun. Tangan Viona tak lepas dari pundak Fatir dan menatap sendu serta jantungnya yang lagi-lagi berdegup kencang. Sebuah keinginan yang menyeruak dari dalam dirinya menghiasi seiring derasnya darah yang mengalir naik.


Tubuh pria itu bergetar terlihat dari bibirnya. Jiwa lelakinya meronta dan hampir saja tak bisa menahan lagi hasratnya yang kian menuntut, pandangan pria yang sama sekali belum berpengalaman ini semakin berkabut napsu. Ia mulai menyatukan lagi bibirnya dan bergerak menyusuri pipi, kening. Kembali ke pipi dan berakhir di ***** lagi. Lama bermain di sana dibarengi sentuhan tangan nya mulai nakal bergerilya ke mana-mana dan berakhir di salah satu keindahan yang Viona miliki.


Membuat pemiliknya semakin memejamkan mata dan dibuat melayang serta tak jelas yang di rasakan. Geli, nikmat. Tubuh bagai tersengat listrik kalau saja sudah mengalaminya. Pokoknya apa yang Viona rasakan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Begitupun author tak bisa menggambarkan nya dengan tulisan he he he.


Napas Fatir kian memburu, wajahnya terus bergerak mencumbu wajah Viona yang tak berdaya lagi. Terdengar sayup-sayup suara adzan membuat Fatir menghentikan aksinya, perlahan melepas pelukannya pada tubuh Viona ....


****


Selamat menunaikan puasa bagi yang menjalankannya. Jangan lupa like dan komennya🙏

__ADS_1


__ADS_2