Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Gerimis


__ADS_3

Fatir menghentikan mobil Viona di depan warung makan. "Kita makan nasi rames, dijamin enak loh Mbak." Lalu ia turun duluan, kemudian membukakan pintu agar Viona keluar.


Dengan ragu, Viona turun juga. Meraih tas nya. Karena di luar sedikit gerimis, Fatir pun memayungi kepala Viona dengan jaketnya sampai berada di dalam warung.


"Pak, pesan nasi rames ya dua porsi," pesan Fatir.


"Emang sering makan di sini bukan?" selidik Viona pada Fatir.


"Nggak juga. Cuma beberapa kali, waktu sama Darma," sahut Fatir.


"Kenapa mengajak ku ke sini? emang ada uang tuk bayar?"


"InsyaAllah," ucap Fatir.


Kemudian, nasi rames pun datang, "Silakan makan?"


"Makasih Pak!" ucap Fatir sambil menarik piringnya.


Viona menatap piringnya. Yang berisi beberapa macam lauk pauknya. Perlahan mengambil dan mengaduknya, lalu mencicipinya sedikit demi sedikit. "Lumayan enak." Batin Viona.


Fatir, makan dengan sangat lahap. Menikmati makan nasi rames yang ia pesan.


"Sudah kenyang." Viona meneguk minuman teh. Menyisakan setengah porsi makannya.


"Kenapa gak di habiskan gak enak ya?" menatap ke arah Viona yang menggeleng.


"Enak, cuma aku sudah kenyang." Jawab Viona.


Akhirnya Fatir menghabiskan makan Viona, sayang kalau sampai mubazir. Setelah habis, Fatir langsung membayar. Kemudian keduanya beranjak, di luar masih hujan. Bahkan semakin deras.


Lagi-lagi Fatir memayungi Viona dengan jaket yang tadi. Saat ini sudah berada di dalam mobil kembali.


"Haduh ... hujan gini. Bisa-bisa jualan gak habis." Gumamnya Fatir sambil menghela napas panjang.


Viona yang sedang melihat ke samping jendela menoleh. Namun tak sedikitpun bersuara.


"Ke tempat kamu aja dulu, sebab barang-barangnya." Pinta Viona.


"Tadinya saya mau antar kamu pulang duluan--"


"Nggak, kamu aja duluan," ucapan Viona menyela perkataan Fatir.


Selang beberapa lama. Akhirnya sampai juga. Di tempat mangkal. Tampak Adam dan Sidar masih di sana.


Keduanya turun, setelah memarkirkan mobil di tempat yang aman.


"Gimana habis belum?" tanya Fatir pada kedua adiknya.


Adam tampak kesal melihat Mas nya baru pulang, sementara dirinya dan sang adik harus jualan di tengah hujan gerimis. Sampai malam gini masih banyak lagi, Namun Adam sadar diri. Kini ia merasakan yang mungkin dirasakan oleh Fatir dari bertahun-tahun dulu. "Belum, Mas."


Viona duduk di bangku, dengan jaket masih di kepala. Mendengar jualan masih belum habis, hatinya terenyuh, menoleh ke arah Sidar. Namun belum Viona bersuara, Fatir dah duluan bertanya pada sang adik.


"Singkong dan pisang gimana?"

__ADS_1


"Sama, Mas belum habis," balas Sidar lesu.


"Maaf, Mas baru pulang, ada urusan dulu, namun setidaknya kalian merasakan betapa susahnya mencari uang. Itu yang Mas rasakan dari sejak ayah tiada." Lirih Fatir sambil mendudukkan dirinya di bangku panjang yang ada Viona di sana.


Kedua adiknya menunduk dan bergumam berbarengan. "Maafkan kami Mas, yang tahu nya meminta uang. Sama Mas Fatir."


"Sudahlah," Fatir bangkit. mendekati gerobaknya.


Viona menatap punggung Fatir. Pria yang berperan sebagai ganti sang ayah tuk adik-adiknya. Kemudian netra mata Viona melihat tukang ojek melintas. "Mas sini?"


Tukang ojek pun berhenti di bawah hujan yang gerimis itu. "Ojek Mbak?"


"Em. Mas mau mie ayam atau singkong, pisang krispi nya? saya akan bagikan. Ajak yang lain biar ada ke sini!"


"Beneran Mbak?" seolah tak percaya.


"Beneran Mas. Silakan ajak kawannya ke sini," ungkap Viona kembali.


Tukang ojek terlihat senang lalu pergi mau mengajak teman-temannya.


Ke tiga pemuda itu menatap ke arah Viona dangan tatapan yang aneh.


Viona membalas tatapan itu dengan tersenyum tipis. "Dari pada gak habis. Mendingan dibagi-bagikan ajalah, tenang. Nanti saya ganti kerugiannya. Saya transfer ke rekening kamu." Menoleh ke arah Fatir yang bengong.


Adam dan Sidar tersenyum senang pada Viona. "Bagus tuh Mbak," kata Sidar menatap Viona.


Fatir masih aja bengong. Sampai orang tadi membawa kawan-kawannya. Kemudian Fatir, Adam dan Sidar melayani mereka.


Viona tersenyum melihatnya. terlihat bibirnya tak berhenti mengembang. Dalam waktu yang singkat, dua dagangan Fatir ludes. Orang-orang itu pergi setelah berterima kasih, dan merasa senang hati mendapat rejeki yang tak terduga. Langsung Fatir pun menyuruh adik-adiknya beberes.


"Makasih Mbak? eh Vi." Fatir tersenyum.


"Hem," Viona mengembalikan jaket Fatir. "Barangnya diambil dulu."


"Oh, iya. Sidar sini? Fatir memanggil Sidar.


"Apa Mas?" setelah berdiri dekat Fatir. Fatir pun mengeluarkan semua barang dari bagasi.


"Apa ini, Mas? kaya baju nih bagus-bagus sepertinya," Sidar ngintip sedikit.


"Di pakai ya? semoga bermanfaat," ucap Viona.


"Ini semua, dari Mbak cantik? aduh. Mbak cantik baik sekali. Makasih Mbak cantik?"


"Iya, sama-sama. Oya besok sore, kalian bertiga siap-siap ya? saya akan jemput kalian untuk ke salon rambut." Viona melirik ke arah Fatir.


Fatir terdiam, ia berpikir akan usahanya bisa-bisa besok libur libur saja dulu. Tapi sayang kalau harus libur.


Seakan tahu dengan yang sedang Fatir pikirkan. Viona berkata. "Jualannya gak usah libur, ke salonnya sebentar kok."


"Wah ... asyik lah, besok ke salon." Sidar tampak senang.


"Bawa pulang sana. Mas mau antar Mbak Vi dulu," ucap Fatir pada Sidar. "Adam? Mas nganterin Mbak dulu."

__ADS_1


"Ya, Mas. Oya Mbak! ada buat aku gak belanjaannya?" tanya Adam mengalihkan pandangan pada Viona.


"Oh, tentu ada. Buat ibu dan Hesya juga ada," jawab Viona.


"Makasih banyak Mbak!"


"Iya, sama-sama. Mas. biar aku pulang sendiri saja, jangan merepotkan," ungkap Viona.


"Nggak pa-pa, saya antar saja." Balas Fatir.


"Iya, Mas. Diantar saja Mbak cantik nya, sudah baik juga sama kita." Timpal Sidar.


Fatir menarik pintu, menyuruh Viona masuk dan yang akan pegang setir Fatir kembali. Viona masuk. Fatir pun berjalan mengitari mobil Viona. Langsung melaju dengan cepat.


Kebetulan Viona tidak membawa jaket. Tubuhnya agak kedinginan. Baru beberapa meter, mobil berhenti. Menoleh ke arah Viona yang terdiam menatap jendela di sampingnya. Dengan tangan melipat di dada, tampak kedinginan.


"Saya mau beli bandrek dulu sebentar, tunggu sebentar ya?" Fatir bergegas turun menghampiri sebuah warung kopi.


Viona hanya menoleh sekilas, lalu kembali menatap kosong ke arah jendela. Selang beberapa menit Fatir kembali membawa satu gelas bandrek.


"Ini, Mbak. Biar menghangatkan badan."


Viona menegakkan duduknya. mengambil gelas itu. "Makasih? punya kamu mana?"


"Saya gak perlu," ucap Fatir sambil bersiap berkemudi.


Tak ada pembicaraan lagi selama perjalanan. Tidak selang lama, mobil pun memasuki pekarangan. Scurity mengangguk dan tersenyum hormat pada Viona dan Fatir.


Fatir turun duluan berjalan mengitari mobil tuk menjangkau pintu untuk Viona keluar.


"Mbak?" gumam Fatir ketika Viona mau turun.


"Ada apa?" Viona menatap pria yang sebentar lagi jadi suaminya itu.


"Terima kasih yang tadi, semuanya."


"Iya," balas Viona mengangguk.


Fatir mengantar sampai pintu, menjinjing beberapa paper bag.


Pintu terbuka, bu Asri berdiri menyambut kedatangan Viona. "Baru pulang Vi?"


"Tante," Fatir mengangguk hormat. Dan langsung berpamitan pada keduanya.


"Hati-hati, Nak Fatir." Sang ibu menoleh ke arah Viona. "Sayang, kenapa Nak Fatir gak diantar supir aja, kasian dia mengantar kamu ke sini, sementara dia harus ngojek. Apa ndak kasian sama calon suami mu Nak?"


"Oh, gak pa-pa Tante! yang penting Vi selamat sampai rumah." Jawab Fatir. Kemudian berlalu.


Viona sebentar memandangi punggung Fatir. Kemudian masuk menjinjing paper bag langsung ke kamarnya.


"Pulang sama siapa?" tanya sosok laki-laki paruh baya yang berdiri di ruang tengah itu, tatapannya begitu tajam ....


****

__ADS_1


Semoga kabar pagi ini, semua baik dan sehat. Yu dukung aku di novel ini, makasih yang sudah like dan komennya.


__ADS_2