
Akhirnya Viona masuk ke dalam kantor dan hanya untuk mengisi laporan saja, tidak lama kemudian Viona pergi dengan mobil menuju perusahaannya.
Selang sepersekian waktu, Viona sampai di tempat yang di tuju. Suasana kantor riuh mencekam dengan obrolan kalau CEO perusahan itu merebut suami orang atau kalau tidak. Suaminya selingkuh atau pula suaminya yang tidak bersyukur sudah istri cantik, kaya masih mencari wanita lain. Lah kok CEO kita mau ya sama pria seperti itu.
Cibiran atau gunjingan dari mulai di kantor yang tadi sampai sekarang semakin pedas membuat panas telinga. Alisa saja tadi mengelus dada dan ikut prihatin.
"Nona, ada wartawan di luar ingin bertemu anda." Seru asistennya sebelumnya mengangguk hormat.
Viona yang duduk di kursi kebesarannya. Menatap datar sudut matanya basah, sebelum bicara helaan napas yang panjang mewarnai geraknya. "Siapkan aja buta jumpa pers." Jelas Viona.
"Baik, Nona." Asisten Su mengangguk lalu memutar badan berjalan keluar dari ruangan Viona.
Viona menghubungi Fatir agar datang ke tempat ini untuk bertemu pers dan menjelaskan kalau dirinya bukanlah perebut suami orang seperti masyarakat pikirkan.
Sebelum bertemu dengan media, Viona berkutat dulu dengan kesibukannya sembari menunggu datangnya Fatir.
"Aduh Vi ... gimana ini? kuping Oma bisa-bisa putus nih akibat panasnya. Dari media bolak-balik telepon Oma menanyakan kebenarannya. Apa sih yang sebenarnya terjadi hem ...!" suara Oma Yani yang tiba-tiba muncul di ruangan Viona.
"Oma, Oma sama siapa ke sini lagian buat apa ke sini? Vi akan menyelesaikan masalah Viona sendiri. Oma santai aja di rumah." Viona berdiri menghampiri dan mengajak duduk Omanya.
"Gimana Oma bisa santai ataupun tenang? ini masalah besar yang akan berdampak pada semua perusaan kita Vi," ujar oma Yani yang tampak cemas dan khawatir.
"Om, percaya deh sama Vi, kalau Vi akan berusaha menyelesaikan masalah ini termasuk perusahaan. Oke? jadi Oma tenang. Yakin, semua akan baik-baik saja." Viona terus meyakinkan omanya.
Oma Yani menghela napas panjang dan berusaha rileks. Kemudian masuk toilet.
Selang beberapa waktu, Fatir pun datang menemui Viona di ruangannya. Dengan wajah yang masih tampak kesal. Ia duduk di hadapan Viona.
Netra mata Viona bergerak melihat penampilan Fatir yang oke lah tidak terlalu biasa apalagi pakaian yang mahal lebih menunjang penampilan nya yang sekarang.
"Dari rumah atau dari tempat dagang?" tanya Viona sambil merapikan penampilannya sendiri.
"Dari rumah dulu." Singkat.
Manik Mata Viona bergerak melihat ke arah toilet. Kemudian mendekati Fatir, tangan Viona mengulur merapikan kerah kemeja Fatir. "Ada Oma. Wajahnya jangan di tekuk begitu dong gak enak sama oma. Apalagi di depan media nanti." Dengan suara yang pelan.
Kepala Fatir menoleh ke arah toilet yang terdengar suara air keran dari dalam. Kemudian menatap ke arah Viona sebentar. "Mau anda apa? sebagai suami bayaran. Aku siap melakukan apa pun."
Degh!
Bagai ada sesuatu yang menonjok hatinya. Terasa sakit dan membuat mata Viona berkaca-kaca, wajah Viona mendongak menatap langit-langit tak ingin setetes pun air jatuh dari sudut matanya. Ia harus kuat membendung agar tak membludak memaksanya keluar.
Fatir berdiri menghampiri Oma Yani yang keluar dari toilet. "Apa kabar Oma?" meraih dan mencium punggung tangan Oma Yani.
"Kamu apa-apaan? Fatir. Istri cantik, baik masih aja selingkuh. Atau benar kalau kamu punya istri sebelumnya dan menjadikan Viona cadangan dan juga meraup hartanya saja?" oma Yani memukul bahu Fatir yang menuntunnya agar duduk di kursi.
Fatir menunjukkan senyumnya pada oma Yani, dengan tenang ia menjawab. "Itu tidak benar Oma ... aku tidak punya istri sebelumnya Tidak juga selingkuh. Itu cuma salah faham saja."
__ADS_1
"Awas ya? kalau sampai ketahuan kamu punya istri. Saya pecat kamu jadi menantu." Tegas oma Yani dengan wajah yang serius.
Fatir terdiam lalu melihat ke arah Viona yang sontak menundukkan kepalanya. "Tidak Oma, aku tidak punya sebelumnya. Tapi kalau kekasih sebelumnya, ya wajar lah Oma semua punya masa lalu, kan Oma. Bahkan mungkin sering bertemu mantan juga sudah tidak aneh dan menjadi hal yang biasa."
Viona mengangkat kepalanya. "Apa maksud bicara begitu? nyindir apa? Tapi iya sih lagian dia sendiri juga sering ketemuan sama kekasih nya itu. Sok nyindir." Batin Viona menatap datar ke arah pria itu.
"Nona, jumpa pers sudah siap, silakan ke tempat. Media sudah menunggu," ucap Su berdiri di depan pintu.
"Iya, makasih." Viona mengangguk dan beranjak dari duduknya.
Fatir dan Oma Yani pun bersiap melangkah keluar ruangan menuju ruang pertemuan dengan media.
Ketiganya berjalan beriringan. Kemudian duduk berdampingan, Viona sebelumnya mengangguk hormat.
"Sebelumnya saya ucapkan makasih atas kehadiran media semua. Saya mau meluruskan tanggapan masyarakat tentang saya dengan beredarnya video yang sudah terlanjur menyebar di media." Viona menjeda seraya menghela napas panjang.
"Bagaimana tanggapan anda tentang beredarnya video tersebut?" pertanyaan dari salah satu media.
"Di luar sana pasti beranggapan yang macam-macam tentang saya, Sesungguhnya ... em, biar suami saya yang menjelaskan." Viona melirik ke arah Fatir.
Fatir memberikan senyuman pada semua orang. Walau hati tak karuan dan bingung harus bicara apa namun ia berusaha tenang. "Di luar sana mungkin menganggap Viona ini telah merebut suami orang, itu salah besar. Sebab saya tidak pernah mempunyai istri sebelum menikahi Viona, kalau kekasih? semua orang pasti punya masa lalu."
"Terus gimana dengan photo yang memperlihatkan anda berpelukan dengan wanita itu?"
Fatir bertatapan dengan Viona. Kemudian menatap ke depan. "Itu tidak disengaja. Saya sudah putuskan dia dan menyuruhnya mencari pengganti saya."
"Oh, gimana menurut anda Tuan, bila istri anda ketemuan dengan mantannya di luar. Tanpa sepengetahuan anda apa anda tidak cemburu?"
Degh!
Menerima pertanyaan tersebut keduanya seolah berhenti bernapas. Terutama Viona kok bisa media tahu?
Oma Yani pun menatap tajam pada sang cucu. Apa benar masih ketemuan dengan Hendra yang notabene nya sudah beristri dan punya anak. Bahkan sudah jelas mereka tidak bisa menikah.
Mulut Viona menganga. Sesungguhnya terkejut dengan pertanyaan itu seolah media tahu semua, masalah pertemuannya dengan Hendra. Ia bersiap memberi keterangan.
"Saya tahu itu. Dan saya tahu kalau pertemuan itu tidak disengaja dan anggaplah sekedar silaturahmi biasa dan ... saya percaya kalau istri saya tak pernah macam-macam serta dia pandai menjaga kehormatannya." Jelas Fatir seraya melirik ke arah sang istri.
"Apa anda pernah punya niat menduakan?"
"Ha ha h ... aduh Mbak, jangankan mendua satu aja gak habis, seperti yang kalian tahu saya mengucap janji di hari pernikahan. Menjadikan seseorang bagian dari hidup saya. Saya yang asalnya merasa bebas kemanapun pergi, bisa pulang kapan saja. Sekarang, tidak. Saya harus tanamkan kalau saya punya tanggung jawab penuh bukan cuma terhadap keluarga saya tapi lebih lagi terhadap seorang wanita yang saya ambil dari keluarganya. Ya itu istri saya," ujar Fatir panjang lebar.
"Jadi intinya tak ada niatan untuk mendua? sekalipun cinta lama bersemi kembali!"
"Tidak!" tegas Fatir.
"Oh, jadi ... intinya anda tidak pernah menduakan dan tidak akan menduakan? berarti itu cuma salah faham dan yang sesungguhnya Nona Viona bukan perebut suami orang."
__ADS_1
"Itu benar. Istri saya cuma satu dan akan tetap satu." Netra mata Fatir bergerak melihat Viona yang sedang melihatnya.
"Manis banget omongannya, sok satu gak tahu yang satu itu siapa!" batin Viona sambil tersenyum tipis.
Akhirnya kompresi pers selesai. Viona, Fatir dan Oma kembali ke ruangan Viona.
Setelah Duduk di sofa. Oma Yani menatap intens ke arah Viona. "Jadi benar kamu sering bertemu Hendra? Sayang bagaimana kalau nanti istri nya ngamuk-ngamuk sama kamu!" Menatap cemas.
Viona sudah menduga pasti Omanya akan bertanya hal itu. "Em, Oma ... seperti yang mas Fatir bilang, ndak sengaja. Ngapain Vi sengaja ketemu dia? Ndak lah." Elak Viona.
"Em, Oma, Vi. Aku pergi dulu." pamit Fatir sambil beranjak lagi.
"Fatir. Jagain istri mu ini, pertama harus jaga nama baiknya. Sebagai istri dan pewaris Yani grup juga, jangan sampai istrinya ngamuk sama dia." Pinta Oma Yani.
Helaan napas Fatir nampak berat, manik matanya bergerak melihat ke arah Viona. detik kemudian beralih pada Oma. "Insya Allah Oma." Kemudian meraih tangan Oma mencium punggung tangan dengan sopan.
Viona mengantar sampai pintu. "Kamu sudah sarapan?"
"Sudah lewat," sahut Fatir, pandangannya mengarah pada Oma yang menatap ke arah mereka, lalu cuph! kecupan mesra di pipi Viona, Seraya berbisik. "Oma memperhatikan kita."
Netra mata Viona bergerak pada sang Oma yang kini tersenyum melihat kemesraan cucunya itu. Tatapan Viona kembali ke pria yang masih berdiri di hadapannya. "Nanti malam pulang nya ke apartemen ya?"
"Syukurlah aku masih dianggap suami. Sekalipun suami yang tidak diharapkan?" suaranya pelan. Sesaat membawa langkahnya dan berlalu.
Hati Viona yang sempat menghangat barusan, Senyuman yang merekah kembali memudar seiring kepergian Fatir dari sisinya. Namun Viona berusaha tersenyum manis dihadapan sang Oma.
Viona berjalan maju menghampiri kursinya. "Oma ke sini sama supir ya?"
"Iya, kamu harus jadi istri yang baik. Bagaimana pun Fatir sosok yang bertanggung jawab. Biarpun dalam ekonomi nya kurang," tutur Oma yang jatuh hati pada sosok Fatir.
Mendengar perkataan Omanya, Viona jadi ingat amplop yang semalam dari Fatir. Masih ada di dalam tasnya, ia ambil dan ia hitung.
Oma Yani jadi penasaran dengan isi amplop yang Viona intip isinya. "Apa itu Vi?"
"Oh, ini uang bulanan dari mas Fatir," balas Viona sambil tersenyum.
"Berapa itu?" Oma Yani penasaran.
"Em, 3 juta Oma." Lanjut Viona sambil menyimpan kembali.
"Vi, uang segitu juga sebenarnya cukup lho, kalau dengan gaya hidup yang sederhana. Apalagi hidup berdua seperti kalian, Vi memang cucu Oma dan jadi hak waris dari Oma tapi untuk menghargai suami. Vi bisa menggunakan uang itu sebaik mungkin."
"Maksud Oma?" Viona menatap heran dengan maksud Oma nya ....
****
Sudah membaca kan reader ku? jangan lupa dukung aku ya. Oya kunjungi juga karya ku yang berjudul "Mencintai Ibu Angkatku"
__ADS_1