Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Cerai


__ADS_3

Sebuah gelas yang di tangan Bu Asri pecah menjadi kepingan kecil. Seiring dengan hancurnya perasaan yang sedari tahu sang suami selingkuh, remuknya bagian tubuh Bu Asri yang terlihat menyisakan luka yang sangat mendalam.


Suaminya bukannya sadar dengan kesalahan, melainkan semakin memperlihatkan taringnya yang tajam seakan ingin memangsa korbannya.


"Jadi kamu yang menguras habis isi rekening ku?" bentak pak Rusadi.


Bu Asri tersentak. Mendongak dan menatap penuh kemarahan. "Iya, kenapa? lagian tidak habis kok. Masih tersisa 5,5 juta cukuplah buat makan sebulan. Kamu itu seharusnya sadar Mas, dia istri bukan, anak bukan. saudara pun bukan. Tapi kamu bela-belain sampai kamu menyelundupkan uang perusahaan segala! dan ini baru awal mula, Mas. Belum ke depannya. Sadar ... seharusnya kamu ini menjadi panutan anak cucu mu, Mas." Bu Asri mengungkapkan isi hatinya.


"Hallah ... yang aku butuhkan bukan ceramah dari mu wanita tua, kau tahu! aku dah bosan sama kamu lembek. Servis mu tidak memuaskan."


Degh!


Kedua manik mata bu Asri berembun, menatap dengan berkaca-kaca. "Kau sudah keterlaluan, Mas. Kau lupa semua jasa ku, kau lupa siapa yang menemani mu selama ini? sekarang kau menghinaku hanya karena wanita yang jelas-jelas bukan wanita baik-baik.''


Rusadi yang terbakar kemarahan. "Ooh, minta balik jasa. Makanya kau kuras tabungan ku dan kau, saya cerai saat ini juga," ucap pak Rusadi dengan ringannya mengucap kata cerai.


"Mas?" bentak Bu Asri. "Kamu sadar dengan ucapan itu? secara tidak langsung kau sudah talak saya, Mas."


"Iya, saya sudah bilang. Kalau saya sudah bosan, kamu sudah tak menggairahkan di ranjang. Saya minta kembalikan uang saya sekarang juga." Pinta pak Rusadi sambil bertolak pinggang dan menatap begitu tajam. Rahangnya mengeras, matanya memerah.


"Ooh ... saya tidak peduli, Mas. Kamu cerai dan saya tak rugi sedikitpun. Tapi soal uang itu gak akan pernah saya kembalikan! enak benar selingkuhan mu itu. Oke. Berarti kamu bukan suami ku lagi, kan? silakan pergi tinggalkan rumah ini dan bawa semua barang mu!" ucap bu Asri, pada akhirnya mengusir Rusadi yang detik ini bukan suaminya lagi.


Pak Rusadi memandangi Bu Asri yang membuang muka darinya, sepertinya dia sudah jijik tuk melihat dirinya. "Kurang ajar sekali kau ini. Itu uang ku!"


"Saya tak peduli, uang yang saya tarik tak akan bisa keluar lagi," sergah bu Asri.


"Hem, baiklah. Saya akan pergi saat ini juga membawa semua barang saya. Jangan pernah sesali kepergian saya."


"Ha? saya sesali? no ... saya tidak akan menyesal kamu ceraikan. Tidak peduli kamu pergi, jadi gelandangan sekalipun. Saya tak peduli ... sekarang pergi ... dari hadapanku!" Bu Asri berbalik berdiri dan bertolak pinggang.


Pak Rusadi mengayunkan tangan dengan berniat menampar Bu Asri yang malah menantang.


"Ayo, tampar biar kamu puas! sudah punya yang baru bukan ha?" Bu Asri menyodorkan wajahnya ke depan.


"Hentikan!" suara lantang Oma Yani dari dalam. Rupanya sedari tadi berada di balik gorden mendengarkan percakapan anak dan mantunya. Asri dan Rusadi yang begitu sengit, ingin sedari tadi keluar namun ia sengaja tahan agar bisa tahu semuanya.

__ADS_1


Keduanya menoleh. Bu Asri terkesiap mendengar dan melihat sang bunda keluar dari dari pintu kaca yang tebal tersebut.


"Ibu?" gumamnya Bu Asri seraya menoleh ke arah sang bunda.


Rusadi menarik tangannya yang tadi bersiap memukul sang mantan istrinya. Ya, mantan istri sebab ia sudah mengucap talak.


"Hebat, hebat sekali kamu Rusadi ... saya tidak menyangka kalau kamu tega menyakiti hati putriku dan sekarang kamu ingin menyakiti raganya. Hebat kamu Rusadi. Padahal kamu gak perlulah selingkuh segala, kalau sudah bosan tak bilang saja jangan dulu nyakitin perasaan. Toh kamu tuh ... sudah tua. Lah bicarakan baik-baik toh," ujar Oma Yani panjang lebar.


"Ini urusan saya dan Asri, Bu jangan ikut campur!" kata Rusadi.


"Lho, siapa yang ikut campur? saya tak ikut campur kok, lagian kalau saya ikut campur itu wajar, toh saya ibunya. Apa kau lupa? kalau Asri itu punya masih punya Ibu toh? saya ibunya. Asri, hubungi pengacara kita. Urus perceraian mu. Dan buat laki-laki ini tak mendapat apapun termasuk uang sepeserpun, yang dia bawa cuma ... mobil yang dia sering pakai saja. Berikan sama dia! kasihan kalau sampai tak dapat apa-apa sedikit pun." Oma Yani mengalihkan pandangan pada bu Asri, ia sudah tak Sudi melihat mantunya yang tak tahu diri itu.


Rusadi tak lagi berkutik, hanya dalam hati yang terus bergemuruh beradu argumen. Menggerutu dan juga mengumpat. Sampai saat ini dia masih juga belum menyadari kalau semua yang terjadi karena ulahnya sendiri. Rusadi bergegas ke kamarnya untuk membereskan semua barangnya.


Bu asri terduduk lemas di kursi, air matanya berjatuhan yang lama-lama semakin deras membasahi wajahnya.


Oma Yani mendekat lalu duduk merangkul bahunya Bu Asri. "Bisa-bisa nya Ibu ndak tau apa-apa! seharusnya kamu cerita, bukannya di pendam sendiri."


Bu Asri memeluk sang ibunda menyembunyikan wajahnya yang tumpah ruah, basah dengan air mata. Tangisnya terdengar pilu, membuat terenyuh yang mendengarnya. Oma Yani memeluk dan mendongak ke langit-langit agar air matanya tak jatuh pula.


****


"Kenapa kok murung sayang?" tanya Fatir sekilas mengusap pucuk kepalanya sang istri yang tampak murung dan tak bergairah.


"Ndak, biasa aja." Balas Viona lalu melihat keluar jendela kembali. Bukan hanya bawaan yang kurang semangat. Namun juga disebabkan masalah orang tuanya.


"Apa ... ada masalah? coba cerita, kali aja aku bisa pecahkan!" sambung Fatir.


Kepala Viona menoleh. "Pecahkan apa?"


"Banyak, piring. Gelas, cermin! tapi ... jangan ah nanti kena kulit terluka, Ngeri ah." Senyum tipis dengan tetap fokus pandangan ke depan.


Viona menggeleng. "Ada-ada saja. Bukan pecahkan masalah itu ... tapi bikin masalah namanya."


"Oya, baru tahu aku. Kalau pecah memecah itu masalah. Berarti pecah perawan juga masalah dong? tapi kok yang punya gak gebukin aku ya? yang ada malah keenakan. Ha ha ha ...."

__ADS_1


"Apaan sih ... malu-maluin ih!" ucap Viona sambil mencubit pinggang Fatir sekuatnya.


"Aduh-aduh. Ampun sayang, sakit. Aku lagi nyetir nih." Pekik Fatir sambil menggoyang tubuhnya namun tangan dan mata tetap fokus setir dan jalanan.


Viona menjauhkan jemarinya dari tubuh Fatir. "Habis seenak jidat saja ngomong."


Fatir tertawa terdengar begitu renyah. "Ha ha ha ...."


"Ketawa lagi, gak lucu tau ..." Viona mengurutkan bibirnya.


"Coba pikir saja sendiri, aku pecahan. Piring kan buat masalah? tapi kenapa pecah yang itu malah ketagihan ya?" melirik sekilas dari kaca spion.


"Ndak tahu ah," Viona mengulum senyumnya. Kembali melihat keluar. "Awas ya? ngomong gitu lagi tidak aku kasih!"


"Kasih apa sayang?" tanya Fatir dengan senyum genitnya.


"Apa aja boleh," sahut Viona kembali.


Tidak lama di jalan, akhirnya Mobil Viona sudah sampai di tempat biasa. Kemudian mereka berjalan memasuki gang menuju rumah Fatir dan di jalan bertemu dengan Adam dan Sidar.


"Aduh ... Mbak cantik kemana saja? lupa sudah sama kita, Mas Adam." Sapa Sidar lalu melirik ke arah Adam.


"Iya. Sudah bahagia ya ... lupa Dar. Sudah dapat cinta." Timpal Adam sambil menunjukan senyumnya.


"Kalian apaan, sih? kalian yang gak mau main ke tempat Mas mu tinggal, gimana?" Viona pun mengulas senyuman.


"Kami, sih takut ganggu! maklumlah. Siapa tahu aja kalian terganggu gitu," balas Adam dan Sidar mengangguk membenarkan omongan Adam.


Tiba-tiba Viona merasa pusing. Perutnya mual naik ke atas. "Oo ... oo ... oo"


Tubuh Viona membungkuk tepat di atas saluran air pembuangan ....


****


Sebentar lagi BSH akan tamat, mohon doa nya dari reader ku semua. Semoga karya ku ke depannya lebih diminati oleh masyarakat banyak, dan kalian semua senantiasa ngasih saran dan memberi tahu bila tulisan ku ada tipo nya kurang atau lebihnya. Sebab karena kalian juga lah aku di kenal sebagai penulis dalam masa tahap belajar.🙏

__ADS_1


__ADS_2