Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Allah yang atur


__ADS_3

Pak Rusadi berdiri mematung dekat mobilnya. Pria tua itu shock dengan berita yang ia dapat dari putrinya, Sita. Sita memberi kabar kalau mobil Rumi masuk jurang sang yang paling bikin miris lagi. Rumi meregang nyawa di tempat tak sempat tertolong.


Hati pak Rusadi kian hancur. Istri dicerai karena egonya hanya untuk mendapatkan cinta selingkuhan yang ternyata cuma menginginkan hartanya saja. Tabungan tersisa 5 juta dan kini Malini justru meninggalkan.


Kini berita duka pun menghampiri hidupnya. Putri keduanya meninggal dengan mengenaskan. Seperti nasib anak tirinya Hendra, tangan Rusadi mengusap kasar wajahnya, Kemudian pergi membawa mobil beserta luka hati yang ditambah lagi dengan duka yang menerpa tanpa rasa iba.


Mobilnya meluncur dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di tempat tujuan. Yaitu kejadian perkara, karena Sita pun masih di sana. Namun setibanya di sana hanya ada kerumunan orang-orang saja yang melihat bekas kejadian.


Langkah pak Rusadi begitu lunglai melipir diantara warga yang berkerumunan tersebut lantas melihat mobil Rumi yang hancur di kedalaman 25 meter dari permukaan jalan.


"Ini sih ada beberapa kemungkinan, murni kecelakaan atau ada unsur yang disengaja."


"Iya, bisa jadi bunuh diri tau di bunuh." Perbincangan orang-orang yang ada di sana.


Membuat lutut pak Rusadi bergetar lemas, matanya berkaca-kaca. Terbayang-bayang wajah Rumi yang menari di kelopak mata.


Beberapa kali dia mengusap wajahnya kasar. Dengan hati yang pedih dan pilu, kembali mengayunkan kakinya yang terasa berat mendekati mobilnya lalu menarik pintu dan bergegas masuk.


Sebelum melajukan mobilnya bertanya terlebih dahulu pada Sita di mana lokasi dia berada dan katanya berada di Rumah Sakit untuk menjalani visum. Pak Rusadi langsung meluncur ke lokasi.


Keesokan harinya, jasad Rumi baru dikebumikan. Beberapa tangis pecah mengiringi penurunan tanah merah menutup tubuh Rumi.


Bu Asri duduk tidak jauh dari Sita terus menguatkan Sita yang sangat terpuruk kehilangan adik tercinta. Tangan Bu asri terus mengusap punggung Sita menenangkan supaya tidak terlalu ditangisi.


"Ikhlaskan, Sita. Gak baik ditangisi terus biarkan dia tenang, mungkin ini sudah takdirnya. Doakan saja yang terbaik untuk adik mu," ujar Bu Asri.


Oma Yani yang berdiri dekat Viona dan Fatir. Di sana juga ada Alisa dan Darma. Selepas pemakaman selesai tabur bunga dan memanjatkan doa.


Berangsur satu persatu pelayat pergi meninggalkan tempat tersebut, Oma Yani mengajak asri untuk segera pulang.


"Yu, pulang yu?" ajak bu Asri pada Sita yang masih larut dalam tangisnya. Kemudian berdiri menyeret langkahnya menjauhi tempat peristirahatan Rumi yang terakhir.


Semua sudah menjauhi makam Rumi kecuali Rusadi yang masih betah berjongkok dekat pusara Rumi. "Kenapa meninggalkan Papa begitu capat begini?" sangat lirih butiran demi butiran air bening membasahi pusara Rumi.

__ADS_1


Fatir yang berjalan menggandeng pinggang Viona menoleh ke belakang dimana pak Rusadi masih betah di atas pemakaman Rumi.


Langkah Viona terhenti mendapati langkah Fatir yang berdiam diri. "Kenapa?"


"Vi, lihat Papa. Meratap di atas makam mbak Rumi, ajak pulang. Kasihan." Fatir menunjuk ke arah pak Rusadi yang masih di sana.


Viona menatap pilu tapi hatinya tetap terbakar kecewa yang mendalam. Ia hanya terus pandangi sang ayah dengan pergolakan hati yang campur aduk.


"Sayang ... yu?" Fatir menuntun istrinya kembali mendekati sang ayah mertua.


Fatir berjongkok dan merangkul bahu pak Rusadi. "Pah, pulang yu, gak baik ditangisi terus, ikhlaskan saja. Jodoh, rejeki. Maut sudah Allah atur, tinggal kita yang menjalaninya bertawakal."


Pak Rusadi tetap menunduk, ia merasa malu lebih-lebih pada Viona. Menyadari kalau dirinya bukan sosok ayah yang baik untuk anak-anaknya.


"Yu, Pah. Pulang?" pada akhirnya Viona mengeluarkan suaranya yang terasa berat itu. Dia malas untuk banyak percakapan dengan papanya.


Perlahan pak Rusadi beranjak dari dari tempatnya lalu menyeret langkahnya yang terasa begitu berat meninggalkan peristirahatan Rumi yang terakhir.


Sementara Viona dan suami juga Alisa dan Darma, ke rumah duka sebentar dan setelah itu melanjutkan aktifitasnya masing-masing.


...****...


Beberapa bulan kemudian Fatir sudah memiliki beberapa kedai mie ayam, dan kedai-kedai lainya sup buah dan pisang krispi+singkong keju. Semuanya Alhamdulillah berkembang pesat, sampai-sampai Fatir bisa merenovasi rumah keluarganya dan itu tentunya dengan ijin sang istri.


Dari dulu juga Viona mau merenovasi rumah tersebut namun Fatir tolak. Dengan alasan nanti saja kalau ia ada rejeki dari hasil usahanya sendiri. Gak enak kalau apa-apa pakai uang Viona. Hingga akhirnya Fatir berangsur sukses dan usahanya berkembang dengan usaha dan doanya berbuah hasil yang cukup memuaskan.


Perceraian bu Asri pun berjalan lancar dan pak Rusadi jelas tidak mendapat apa-apa kecuali mobil itu satu-satunya yang ia dapatkan. Uang pun cuma dapat sepuluh juta rupiah itupun tanda kasih sayang dari Oma Yani, kerjaan juga terputus dari perusahan yang selama ini ia bekerja. Apalagi mengingat usia yang tidak produktif lagi menjadikannya di pecat, mau tidak mau.


Kehamilan Viona sudah membesar dan sudah menginjak usia 6 bulan. Bi Ijah pun sekarang direkrut ke apartemen untuk beres-beres dan untuk sekedar menemani Viona dikala Fatir belum pulang.


Viona tengah duduk santai di sofa panjang yang ada di dalam kamar, sambil berkutat dengan laptopnya di atas paha. mulutnya terus mengunyah, ngemil.


Fatir yang baru pulang berjalan gontai mendekati Viona. "Assalamu'alaikum. Sayang belum tidur?"

__ADS_1


Viona menyimpan laptop di meja. "Sudah, ini di alam mimpi. Wa'alaikum salam." Meraih tangan sang suami lantas di diciumnya.


Tangan Fatir mengusap lembut perut Viona yang buncit. "Sedang apa baby Ayah? di dalam sana!" dielus dan dikecup nya.


"Sudah makan belum?" tanya Viona membelai mesra rambut Fatir.


Kepala Fatir mendongak. "Belum! emang kamu sudah makan juga ?" balik nanya.


"Aku belum, kan nunggu kamu. Yu makan dulu. Eh apa mau mandi dulu? aku siapkan air hangatnya dulu." Tawar Viona.


"Ndak, usah. Aku bisa sendiri dan istriku tak perlu repot-repot melayaniku," ucap Fatir sambil berdiri dan menyeringai.


Viona mesem, mendengar ucapan Fatir barusan. "Ya sudah, ku siapkan buku aja. Boleh kan?"


"Kalau itu boleh, yo wes ... aku mandi dulu ya! lengket nih badan bau keringat." Seraya melangkah menuju kamar mandi.


Viona beranjak membawa langkahnya ada lemari untuk menyiapkan baju ganti Fatir. Ia letakkan di atas tempat tidur, lalu Viona menyeret langkahnya ke dapur. Kebetulan bi Ijah sedang ke rumah Bu Asri dan Oma. Jadi di apartemen cuma berdua saja.


Setelah selesai makan malam. Fatir mengajak Viona masuk kamarnya tuk istirahat. Keduanya berdiri di dekat tempat tidur king size tersebut.


Mata Fatir menatap intens pada sang istri yang saat ini mengenakan lingerie yang ukuran orang hamil, tampak cantik dan seksi.


Viona mengulum senyumnya. "Kenapa sih? gitu amat lihatnya. Jelek ya bulat perut buncit seperti badut."


"Nggak, kata siapa? tetap cantik dan seksi kok," ungkap Fatir seraya mendekat dan menghujani sang istri dengan kecupan kecil di pundak dan ceruk leher sang istri. Bergerak naik ke atas pipi, hidung. Bibir tak luput dari kecupannya yang lembut dan menaikan gairah. Tangan terus meraba kemanapun yang ia mau.


Manik mata Viona terpejam terhanyut dengan perasaan yang ingin ia tumpahkan. Fatir semakin leluasa menjalankan aksinya yang kian liar. Membaringkan tubuh sang istri dia atas tempat tidur dengan tak sedikitpun melepaskan bibirnya dari sang istri yang tampak pasrah.


Malam beranjak semakin dingin. Dibawah selimut tebar dan berwarna putih ada dua insan tengah mencurahkan rasa rindu satu sama lain. Hanya ada suara!suara nikmat yang lolos dari bibir Viona dan Fatir, Suara napas yang bergemuruh dan peluh yang bercampur ....


****


Hanya dukungan yang aku pinta dari kalian semua.🙏

__ADS_1


__ADS_2