Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Pertama


__ADS_3

"Sesuatu yang berulang, itu tidak di sengaja ya?" Ketus Fatir sambil menyalakan mesin.


"Kenapa sih harus ngurusin aku? ingat ya? kamu itu suami bayaran. Bukan suami harapan! jadi jangan ikut campur deh." Viona kesal.


"Terima kasih sudah mengingatkan saya? oke bagi kamu pernikahan ini cuma mainan. Tapi buat saya pernikahan yang sakral dan saya akan selalu mengingat janji suci saya sebagai suami waktu itu, jadi jangan salahkan saya kalau suatu saat memaksa anda untuk menunaikan kewajiban anda sebagai seorang istri yang seutuhnya. Karena itu hak saya."


Jiuuusss ....


Mobil melaju dengan sangat cepat. Meninggalkan area bandara.


Viona terbengong-bengong mencerna omongan Fatir yang membuat ia pusing bahkan kesal. "Sudah lama gak melihat apartemen. Antarkan aku ke sana!"


Fatir tak merespon. Kebetulan tempat yang Viona maksud Fatir sudah pernah ke sana sekali bersama Viona untuk bersih-bersih waktu itu.


Tak berapa lama. Mereka pun sampai di area apartemen dan setelah memarkirkan mobil dengan baik, keduanya memasuki apartemen. Viona jalan duluan sementara Fatir berjalan menarik koper Viona. Hatinya masih saja dihantui perasaan kesal. Kenapa Viona masih saja bertemu dengan mantannya.


Viona mengarahkan kartu akses apartemen. Sebelum masuk menoleh ke arah Fatir yang berjalan tapi seperti melamun. "Aku mau nginep di sini aja."


"Hem." Gumam Fatir. Keduanya masuk. Setelah menyimpan koper di pojokan Fatir duduk di sofa menghadap jendela.


Viona masuk kamar mandi. Badan berasa lengket banget, Viona sengaja mempercepat mandinya agar tak lama-lama di kamar mandi. Viona membuka pintu dan mendapati Fatir duduk melamun sambil merokok wajahnya di tekuk gitu.


"Kenapa sih nih orang di tekuk amat wajahnya? gak enak di pandang tahu ... tapi, kalau diperhatikan manis juga wajahnya." Batin Viona sambil berjalan maju.


Netra mata Fatir bergerak melihat ke arah Viona yang tampak segar mengenakan bathrobe pendek. Mengekspos kakinya sampai hampir setengah paha, Fatir menelan saliva nya.


Viona memperhatikan penampilannya setelah sudut matanya melihat Fatir yang intens melihat ke arah dirinya. "Em ... hari ini jualan gak?" mengalihkan.


"Nggak."


"Tuh kan ... lupa, saya tuh mau beli makanan tadi. Kamu sih ngomel mulu, jadi lupa ah mana lapar nih." Gerutu Viona sambil mendudukkan bokongnya di tepi tempat tidur.


"Aku belikan." Fatir berdiri dan mematikan rokoknya


"Nggak usah. Aku pesan aja," Viona meraih ponselnya. Viona langsung pesan makanan delivery.


Viona menepuk-nepuk lutut nya yang terasa pegal. "Aduh, kaki ku pegal-pegal gini."


Fatir yang tadinya mau duduk lagi di sofa ia urung, menghampiri Viona dan tanpa berkata apapun tangannya mengangkat tubuh Viona, Viona kaget namun dengan refleks mengalungkan tangan di pundak Fatir dan menghirup wangi maskulin tubuhnya. Fatir mendudukkan Viona di tengah tempat tidur menyandar.


Tanpa bicara apapun Fatir naik berlutut ke tas tempat tidur. Tangannya mulai menyentuh kaki Viona di pijitnya dengan sangat lembut. Viona cuma tersenyum melihatnya dan menikmati setiap sentuhan tangan Fatir memijat kakinya itu.


"Bisa gak memakai sesuatu yang agak panjang! jangan menggoda ku." Gumam Fatir tanpa mengganggu konsentrasinya dalam memijat yang terasa enak buat Viona.

__ADS_1


"Ha? siapa yang menggoda? kau tahu kan keseharian ku memang seperti ini. Enak aja dibilang menggoda."


"Makanya, kalau aku khilaf gimana?" sebentar melirik.


"Ya ... jangan khilaf dong." Lanjut Viona.


Lagi-lagi Fatir menelan saliva nya ketika tangannya naik sedikit ke atas lutut seperti yang Viona minta memijat bagian paha atas lutut.


Melihat tangan Fatir berhenti dan bengong, Viona berkata. "Jangan mesum ya?"


Fatur menarik tangannya dari lutut Viona kemudian menggerakkan netra matanya ke arah wajah Viona yang juga melihatnya. "Apakah perlakuan suami terhadap istrinya termasuk mesum dan haram? Apa aku salah bila seandainya aku ingin menunaikan kewajiban ku sebagai suami dan meminta di layani dengan baik!"


Rentetan pertanyaan Fatir tak mampu Viona menjawabnya. Mereka bersitatap sangat dalam, tatapan Fatir seakan ingin menghunus jantung. Viona menunduk sebentar kemudian kembali melihat wajah Fatir yang masih intens menatap dirinya.


Pernikahan mereka yang walaupun tanpa cinta itu sudah berlangsung beberapa bulan, tidur selalu di tempat yang sama, selimut juga yang sama, hanya bila Viona ke luar kota saja mereka tidur terpisah sehingga terkadang ada rasa rindu yang tersimpan di hati keduanya.


Namun keduanya entah belum menyadari atau tidak mau mengakui. Sehingga masih saja bersikap dingin. Jari Fatir menyelipkan rambut ke belakang kuping Viona, Kedua pasang mata mereka tetap saling bertukar pandangan. Netra mata Fatir bergerak mengarah pada bibir ranum Viona, walau sudah tanpa lipstik namun tampak merona segar.


Perlahan wajah Fatir mendekat dan terus mendekat, ingin melahap benda kenyal milik Viona yang tampak ranum itu. Fatir pun berkeinginan mereguk manisnya.


Dada Viona mendadak berdebar, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya melihat wajah Fatir yang terus mendekat. Ingin menghindar atau menamparnya pipinya, namun anggota tubuhnya berkata lain seakan menunggu dan berharap, mata Viona terpejam ketika napas Fatir sudah terasa menyapu kulit wajahnya.


Manik mata Fatir menangkap Viona terpejam seolah menunggu dirinya sampai. Pada akhirnya perjalanan pun tiba di tempat yang membuat Fatir tergoda itu. Ia kecup sebentar.


Tangan kanan Fatir mengarah ke leher bagian belakang Viona seiring dengan gerakan wajahnya yang kembali mendekat dan mengecup benda kenyal milik Viona tersebut. Kali ini lebih lama dan bergerak menyapu semuanya, atas dan bawah tak luput dari sentuhannya.


Kedua tangan Viona meremas seprai, bibirnya terbuka seakan menyilakan tamunya masuk dengan leluasa. Benar saja, Fatir dengan bebas masuk ke dalamnya. Kemudian kembali m****** bibir Viona dengan sangat lembut dibarengi tangan yang memegang tengkuk Viona agar ciumannya semakin dalam.


Ini ciuman pertama bagi Fatir, walaupun lama pacaran dengan Soraya tapi tidak pernah sekalipun melakukannya dengan alasan takut dosa.


Walaupun ini yang pertama dan tak pernah belajar, namun dengan refleks Fatir melakukannya dengan lihai dan lembut seperti sudah terbiasa.


Begitupun dengan Viona sendiri, ini pengalaman pertama bagi dirinya, sebagai wanita dewasa dan pacaran pun lama. Tapi baru kali ini ia merasakan sentuhan bibir yang menggairahkan seperti ini.


Tangan Fatir bergerak mengusap leher jenjang Viona yang halus mulus. Fatir memberi jeda ia melepas dan menjauh. Napas keduanya memburu, terengah-engah.


Mata Viona terbuka dan hatinya merasa sedikit kecewa. Menatap sayu ke arah Fatir yang dengan dalam menatap ke arahnya.


Tatapan Fatir kian dalam. Tangannya mengusap pipi Viona, dengan jari mengusap bibirnya yang lembab bekas jejak dirinya yang nakal dan beraninya menyentuh anggota tubuh wanita itu. "Maaf. Kalau aku dah lancang." Fatir bergegas turun, tak ingin sentuhannya menuntut lebih. Lantas ia melampiaskannya di kamar mandi.


Terdengar suara air keran menyala, Viona bengong menatap ke arah pintu kamar mandi. Jarinya mengusap bibir bekas sentuhan Fatir yang masih berasa, kemudian mesem-mesem sendiri.


"Kenapa aku pasrah sih? kenapa gak nolak coba, mau-mau aja dia mengambil ciuman pertama ku." Viona merutuki dirinya sendiri. Tapi sayang antara hati dan anggota tubuhnya bertolak belakang. Viona menggigit bibir bawahnya, merasakan ada gejolak yang rasa ingin mengulangnya lagi.

__ADS_1


Akhirnya Fatir keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang. Ia lupa kalau di apartemen ini gak ada baju untuknya.


Viona tertegun memandangi tubuh Fatir yang sixpack. Matanya terus memandangi seakan tak mau berkedip.


Fatir pun tersenyum. "Kenapa Non? baru lihat ya?"


"Ha? nggak." Viona memalingkan wajahnya dan menyembunyikan rasa malu.


"Aku lupa bawa baju, sementara baju ku sudah di cuci." Kata Fatir dengan masih berdiri di tepi tempat tidur.


Viona mengerutkan keningnya. "Semuanya di cuci?"


"Iya, semua. Habis kotor." Balasnya.


"Kotor? kan kamu gak main kotor-kotoran! aku lihat barusan bersih kok." Viona menatap heran.


"I-iya mungkin luarnya bersih tapi dalamnya kotor." Fatir menggaruk tengkuknya yang gak gatal, ia bingung cara menjelaskannya pada Viona.


Viona turun mendekati kopernya. "Kita kan belum pernah tinggal di sini jadinya gak ada persiapan bawa baju kamu." Membuka kopernya yang ada cuma beberapa baju wanita.


"Sudah, gitu aja deh gak pa-pa kan?" goda Viona.


"Aku sih, ndak pa-pa kaya gini juga sampai bajuku kering, tidur juga di rumah ku tanpa baju." balas Fatir sambil mendudukkan tubuhnya di sofa dengan santai.


"Yo wes ... tak aku pesankan." Viona berdiri hendak mengambil ponselnya, namun ketika berjalan kaki Viona tersandung kaki meja sehingga tubuhnya oleng dan geph! di tangkap Fatir. Menjadikan tubuh Viona langsung duduk di atas paha Fatir.


Kedua netra mata mereka bersitatap. Tangan Fatir melingkar di pinggang Viona yang ramping itu. Sementara tangan Viona memegang pundak Fatir. Entah dari mana asalnya, ada sebuah dorongan yang hebat, sebuah keinginan yang menyeruak dalam dirinya masing-masing.


Keduanya saling mendekatkan wajahnya satu sama lain dan saling m****** benda kenyal yang tadi sudah saling merasakan manisnya, sehingga kini menjadi candu untuk mereka mengulang kembali.


Tangan Fatir menarik tengkuk Viona dan kedua tangan Viona melingkar di pundak Fatir. Kini gerakannya semakin agresif. Saling melahap namun tetap dengan gerakan lembut.


Tok!


Tok!


Tok!


Ketukan pintu dari luar mengagetkan keduanya. Viona melonjak berdiri wajahnya bersemu merah, malu ....


****


Apa kabar reader ku semua. Makasih kalian sudah meninggalkan jejak di sini, like & komentarnya🙏

__ADS_1


__ADS_2