Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Anak onta


__ADS_3

"Kenapa takut lihat aku? ada juga takut sama kamu tuh yang mukanya jerawatan. Wajah aku sih mulus." Adam mengusap pipinya sendiri.


"Itu apa bekasnya? lebih menyeramkan tahu!" ucap Sidar gak mau kalah.


Semuanya hanya bengong melihat adik dan kakak itu beradu argumen. Sedangkan Viona terkekeh dan menutup mulutnya.


"Ck! kalian debat apa sih berisik, tau gak sih?" sela Fatir berdecak kesal.


"Adam, Sidar ... Mbak belum lahiran karena belum waktunya keluar." Viona membuka suara dan menatap lekat keduanya.


"Kami tahu Mbak, ini aja nih anak onta pengen buli orang saja--"


"Eatt! yang duluan siapa?" protes Adam memotong perkataan Sidar, mendelik pada sang adik.


"Sudah, sudah ... kami mau pulang ke apartemen. Mau ikut gak? Oya, Bu ...mau ikut?" Fatir mengedarkan penglihatannya pada kedua adik dan ibunya bergantian.


"Ibu, pulang saja. Kasian Sya di rumah sendirian." Bu Afiah menolak dengan alasan Sya tak ada yang nemenin.


"Ya ... tadinya Sidar mau ikut, kalau Ibu gak ikut! gak jadi deh." Sidar lesu.


"Kamu ajak Ibu pulang, Mas mau ikut Mas Fatir ke apartemen." Adam berjalan mendekati Fatir.


Namun baju bagian belakangnya Sidar tarik. "Eat! gak bisa, kalau aku pulang, Mas Adam juga harus pulang."


Adam menepuk tangan Sidar yang menarik bajunya. "Apaan sih? rusak bajunya, Mas!"


"Iya, makanya pulang," Sidar kekeh.


"Mas, adek mu tuh." Viona mendongak pada Fatir.


"Ck! debat Mulu ah bikin puyeng," gumam Fatir.

__ADS_1


"Adam, Sidar. Kalian besok sore aja ke sana, ajak Ibu dan Sya. tentunya sehabis kerjaan atau belajar kelar. Sebab kalau melanggar bisa jadi kalian gak dapat bayaran dari Mas kalian," ujar Viona seraya membujuk.


"Nah ... saran yang bagus juga. Oke lah. Kami akan ke sana besok saja, Bu ... yu kita pulang?" Adam menoleh sang bunda.


Kemudian mereka bertiga berpamitan pulang. Begitupun dengan Fatir dan Viona bersiap pulang ke apartemennya. Bu Asri dan Oma Yani juga mau ikut pulang ke apartemen dengan alasan kasihan Viona kalau kontraksi lagi.


Setibanya di unit apartemen, Viona langsung beristirahat di kamar tentunya ditemani sang suami yang dengan lembut melayaninya.


"Bobo ya? masih nyeri gak?" ucapnya Fatir sembari mengusap pipi Viona dengan jemari tangan kanannya.


"Iya, tapi lapar ..." suara Viona dengan nada manjanya.


Fatir menepuk jidatnya. "Ooh iya, kita belum makan ya?"


"Mau makan apa? aku bikinkan!" tanya Fatir menatap sang istri.


"Em, makan kamu." Menatap sayu.


"Ha ha ha ... gak bisa sayang! aku gak tega melakukannya disaat kamu seperti ini." Tangan Fatir merengkuh tubuh Viona ke dalam pelukannya.


Fatir memudarkan pelukannya dan membingkai wajah sang istri. "Sayang ... kamu itu sedang hamil besar dan sebentar lagi akan lahiran. Malahan sudah kontraksi, nanti bahaya sayang."


Kepala Viona menggeleng. "Nggak, pelan aja! aku pengen, Mas. Untuk terakhir kalinya di masa kehamilan ini." Viona terus merajuk dan tangannya menyentuh dada Fatir mengusap dadanya yang berbulu halus tersebut.


"Sayang, sayang dengar aku!"


Entah kenapa rasa pengen berhubungan begitu mekombinasi rasa nyeri di perutnya. Rasa sakit itu mendorong dia tuk melakukannya. Sehingga Viona tak mau mendengarkan kata-kata Fatir lagi.


Bibirnya membungkam mulut Fatir, kedua tangannya membuka setiap yang menutupi tubuhnya dan juga sang suami sehingga dalam sekejap keduanya sudah polos.


Viona terus menaikan hasrat sang suami yang mulanya begitu dingin, dengan gemas tangan Viona m****** si anak ular yang tengah tertidur nyenyak sehingga mendadak bangun dan mencari tempatnya. Hati Viona berbunga-bunga usahanya tak sia-sia dan bibirnya menunjukan senyuman pada Fatir yang terus menatap penuh damba.

__ADS_1


"Ayolah, aku sudah siap dan lakukanlah kewajiban mu untuk terakhir kalinya sebelum berpuasa." Bisik Viona dengan napas yang memburu.


Fatir mengembangkan senyumnya melihat sang istri yang tak biasanya meminta sesuatu yang sesungguhnya sangat berarti untuk Fatir.


Kini berganti, Fatir yang memulai permainannya dengan sangat lembut membaringkan tubuh sang istri, walau di hati adanya rasa was-was yang mendera takut sang istri ke napa-napa.


Tatapan Fatir begitu lembut menyapu ke seluruh pahatan indah yang terpampang nyata di depannya. Kedua tangannya jalan-jalan ke semua tempat yang dia suka. Lalu mulutnya menyantap dengan sangat lahap sajian nikmat yang penuh dengan rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Viona memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya. Ada rasa sakit dari perutnya namun terkalahkan dengan rasa keinginan untuk bersentuhan yang sangat intim dengan Fatir.


Tangan Viona meremas rambut Fatir dan menenggelamkan di dadanya. Fatir mengikuti yang Viona mau menuruti setiap yang Viona inginkan termasuk sesuatu yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.


Fatir segera bereaksi setelah sang istri benar-benar siap dan menyambut kedatangan nya dengan senang hati. Ia menjenguk si baby yang masih berada di dalam sana, Mengundang agar segera lahir ke dunia ini. Tangan Viona merangkul pundak Fatir dengan sangat erat seakan tak ingin terlepaskan.


Begitupun Fatir terus menyatukan tubuh keduanya yang sudah mulai dipenuhi keringat. Dengan pelan tapi pasti, Fatir semakin melancarkan aksinya itu.


Sekitar satu jam kemudian dan setelah beberapa kali pelepasan, tubuh mereka berdua bergetar hebat, Tubuh Fatir kelelahan sehingga tumbang di atas tubuh Viona. Lalu keduanya mengakhiri ritual yang sangat Viona inginkan tersebut.


Fatir berbaring di bantalnya. Viona menempelkan kepalanya di dada sang suami, selimut pun tak pernah lepas dari mereka menjadi penutup keduanya.


"Sayang?"


"Hem!"


"Kalau seandainya aku sakit, apa kamu akan merawat ku dan juga anak kita?" tanya Viona lirih. dengan jarinya mengusap dada Fatir yang sedikit berbulu itu.


"Tentu, tapi ... lebih baik aku yang sakit, takutnya aku gak sekuat dirimu--"


Kepala Viona mendongak. "Maksudnya?"


"Iya, sebab kamu lebih kuat dan sementara aku belum tentu bisa sekuat kamu," ulang Fatir ....

__ADS_1


****


Apa kabar reader ku semua mohon maaf keterlambatan up nya BSH ini.


__ADS_2