Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Potong rambut


__ADS_3

Langkah Viona terhenti. Lalu menoleh. "Sama Fatir, Pa!"


"Dari mana?"


"Habis ngambil cincin," jawab Viona dengan malas, kemudian melanjutkan langkahnya.


"Bagus, dia yang ngantar, Pa ... untuk memastikan Viona selamat sampai rumah." Timpal sang istri menghampiri.


Viona menjatuhkan tubuhnya di sofa. Melirik ke papar bag yang barusan ia bawa. "Eh, ini apa?" menarik paper bag yang berisi pakaian dalam wanita.


Kening Viona mengernyit. "Punya siapa? perasaan gak beli." Kemudian terlintas diingatan ketika tadi Fatir menunjukan itu padanya.


"Apa Fatir beli buat aku? ih malu." mengamati satu-satu. Dengan berenda berukat tampak cantik. "Tapi, mungkin aja siapa gitu?"


Viona membereskan belanjaan itu ke dalam lemari. Terus menuntun langkahnya ke kamar mandi, mencuci mukanya yang tampak capek.


Setelah itu, ia bersiap untuk istirahat, besok pagi harus beraktifitas seperti biasa, dan kebetulan di kantor lagi banyak kerjaan juga.


****


Malam semakin beranjak, suasana semakin hening dan cuaca yang dingin menyelimuti tubuh Fatir yang baru turun dari ojek. Memasuki rumah yang sangat sederhana itu.


Adam dan Sidar baru selesai makan, dan lanjut membuka belanjaan dari Viona. Masing-masing membuka paper bag, melihat isinya.


"Mas, sini Mas?" panggil Adam dan Sidar.


Fatir duduk bersila dihadapan Kedua adiknya. "Empat kantong ini punya Mas. Dan yang ini dua kantong ini, milik ibu dan Hesya. Itu buat kalian berdua. Sendal dan sepatunya juga."


"Wah ... bagus-bagus nih bajunya, celananya." Gumam Sidar, langsung mencobanya.


"Ada kaosnya juga. Sendal dan sepatunya juga bagus-bagus dan pas ukurannya. Mas banyak uang ya?" Adam menatap sang kakak.


"Di berikan mbak cantik tadi ya, Mas?" Sidar menduga-duga.


"Iya," Fatir mengangguk. "Itu baju sapari buat kondangan," ucap Fatir. "Oya kalian suka?"


"Suka, suka sekali Mas." Kedua adik Fatir menjawab dengan antusias sekali. wajahnya tampak bahagia


"Bagus lah."


"Tapi, Mas. Buat kondangan ke mana?" Adam menatap penasaran.


"Beberapa hari lagi, kalian harus mendampingi Mas menikah--"


"Apa? menikah! sama siapa?" tanya keduanya sangat kaget. Tiba-tiba mendengar Fatir mau menikah. Membuat shock kedua adiknya.


"Aku tahu, pasti sama mbak cantik tadi ya?" Sidar menduga-duga.


"Masa sih? Mas kan punya kekasih, mbak Soraya?" Adam tak percaya.


"Dugaan Sidar benar, Mas mau menikah sama mbak yang tadi." Fatir menunduk. Tangannya menggeser paper bag.


"Mbak Soraya gimana Mas? apa kalian dah putus! kok tiba-tiba Mas mau menikahi mbak yang tadi." Adam tak habis pikir.


"Mbak cantik itu, sangat baik. Mas Adam." Timpal Sidar. Adam pun menoleh padanya.

__ADS_1


"Ya, sudah kalian bawa dan simpan barang-barang kalian. Istirahatlah," ucap Fatir.


"Mas belum jawab. Kenapa menikah dengan mbak tadi, sementara Mas masih pacaran dengan mbak Soraya?" tanya Adam, dia kekeh pengen tahu jawaban dari Mas nya.


Fatir menghela napas panjang. "Mas banyak dan akan lebih banyak berhutang padanya Dam, kamu tahu. Berapa admistrasi Hesya di rawat sekarang? apa kamu tega Hesya sakit di rumah tanpa pengobatan?" suara Fatir Lirih. Adam pun menggeleng.


"Baiklah, Mas capek." Fatir pun beranjak dari duduknya. Membawa paper bag ke dalam kamar yang kecil itu.


Keesokan harinya. Pagi-pagi Fatir di bantu kedua adiknya yang kebetulan belum sibuk belajar membantu beberes buat jualan. Walaupun buka nya mulai jam 10 siang nanti. Tapi di siapkan dari sekarang, biar santai nantinya.


Selesai membuat bumbu, Fatir bergegas mandi, memakai satu pakaian yang yang dibelikan Viona kemarin.


"Wah ... Mas kelihatan ganteng, memakai baju itu." Puji Sidar. Menatap penampilan Fatir.


"Oya, maaf. Gak punya receh," ucap Fatir sambil mengulum senyumnya.


"Nggak perlu receh Mas, lembaran saja," balas Adam nyambung.


"Ha ha ha ..." Fatir tertawa terbahak-bahak. Sekitar pukul 10 mereka mulai ke tempat berjualan.


Alhamdulillah, dari mulai buka. pembeli sudah banyak. Mengantri. Sidar sendiri membantu Fatir di mie ayam, Adam berjualan singkong sendiri di sebelah.


Sampai waktu yang sudah di janjikan. Viona pun datang menjemput mereka bertiga, dagangan pun di tutup sementara.


"Sudah siap?" tanya Viona pada Fatir yang berdiri di hadapannya.


"Sudah, mau berangkat sekarang?"


Viona mengangguk dan menggeser duduknya. Agar Fatir menggantikan dirinya menyetir. "Ke Mall yang kemarin ya?"


"Mas, bisa nyetir?" tanya Sidar.


"Bisa!" sahut Fatir tanpa menoleh.


"Wah ... hebat dong, Aku juga pengen ah belajar nyetir," ungkap Adam.


"Hem, belajar aja." Fatir tetap fokus ke depan.


"Kalian sudah makan belum?" tanya Viona menoleh ke belakang.


"Sudah, Mbak cantik. Mas Fatir yang belum makan." Sidar menoleh ke arah Fatir yang menyetir.


"Mas, itu kalau sibuk suka lupa makan. Padahal apa susahnya makan yang ada, kalau gak sempat pulang." Timpal Adam.


Viona menatap Fatir sebentar. "Ya udah, sebelum ke salon kalian makan dulu ya?"


"Kami berdua sudah makan di rumah Mbak." Adam dan Sidar saling pandang.


"Nggak pa-pa, makan aja lagi." Viona menarik napas dalam kemudian ia hembuskan dengan lembut.


Tidak lama di jalan, mereka masuk ke Mall yang kemarin dan Viona mengajak ketiga pria itu makan di restoran.


"Em, Adam dan Sidar masuk duluan." titah Viona menatap kedua calon adik iparnya.


Keduanya pun menurut, masuk duluan mencari tempat yang nyaman.

__ADS_1


Fatir berdiri di dekat Viona yang entah mencari apa di dalam tas nya.


Viona mencari minyak wangi. Kemudian menyemprotkan ke tangannya. Lalu ia semprotkan ke tubuh Fatir depan belakang.


Fatir tidak menyangka dengan yang Viona lakukan saat ini. Menautkan alisnya. "Bau ya?"


"Em, bukan Mas. Biar lebih wangi aja." Viona memasukan ke dalam tas kembali. Viona berjalan, duluan masuk mengikuti Adam dan Sidar. Keduanya duduk berhadapan dengan mereka.


"Silakan kalian pesan makan," ucap Viona. Setelah datang pegawai resto menyodorkan daftar menu.


Fatir cuma bengong menatap kedua adiknya yang memilih menu.


"Aku sate kambing aja, sama sup buntut." Pinta Sidar yang lebih dulu memesan.


"Aku gurame goreng ndak pake lalapan dan sup iga." Pinta Adam.


"Mbak mau pesan apa?" Fatir melirik Viona yang sibuk dengan ponselnya.


"Aku, gak makan. Masih kenyang." Jawabnya.


Fatir mendongak. "Saya ... sup iga aja."


"Itu saja, Mas? gak di tambah yang lain gitu!" tanya pegawai resto.


"Tidak, itu saja."


Hening!


"Mas sama Mbak ini mau menikah, tapi kok kaya orang asing saja. Ngobrol kek, nggak ada mesra-mesranya." Celetuk Sidar.


"Hus, emang gak boleh mesra-mesra. Belum halal." Balas Adam yang tidak setuju dengan ucapan sang adik.


Viona menoleh pada Fatir yang datar-datar saja.


"Iya sih, he he he ..." Sidar senyum simpul.


"Tuh, makannya sudah datang. Kalian makan aja dulu." Viona menunjuk makanan yang sudah datang.


Ketiga pemuda itu makan dengan lahapnya, sambil bercanda, tertawa. Terutama Adam dan Sidar. Sang kakak paling mesem doang.


Selesai makan, langsung ke salon, untuk potong rambut ketiga pria itu.


"Wah, keren nih tempatnya. Mas Adam, Sidar mau rambut kaya itu tu, yang ada di gambar." Sidar langsung rekuis.


Adam mengamati setiap model rambut yang terpampang di gambar. "Kalau, Mas mau yang ini saja." Menunjuk gambar.


Pekerjanya mengangguk. Dan langsung eksekusi keduanya, tentunya dengan gaya rambut yang mereka mau.


"Mbak, tolong rambut Mas ini di papas sedikit dan rapikan." Pinta Viona. Habis Fatir hanya diam, tak seperti adik-adiknya yang punya inisiatif sendiri.


Fatir hanya mengikuti yang Viona mau, lagian ia bingung mau gaya rambut kaya gimana. Takut juga kalau maunya A, tapi Viona maunya B. Jadi terserah maunya Viona saja ....


****


Mana nih yang suka dengan novel ini? jangan lupa like dan komennya, sebab dukungan kalian semua penyemangat ku.

__ADS_1


__ADS_2