Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Kontraksi


__ADS_3

"Ooh, kok perut aku mules ya?" gumam Viona sambil memegangi perutnya, sebentar ia merasakan itu dengan tetap berdiri di tempat sehingga menimbulkan rasa heran pada supirnya.


"Kenapa Non?" mendekati Viona. takut majikannya ke napa-napa?


Viona membuang napas nya melalui mulut seraya memejamkan mata lalu melirik ke arah supirnya. "Tidak, Pak. Antar aku ke rumah Mas Fatir ya?" pintanya lalu masuk dengan perlahan mendudukkan bokongnya di jok yang sudah dibuat senyaman mungkin buat wanita hamil.


"Tapi, apa yakin tidak ingin ke rumah sakit, Non?" selidik pak supir masih belum yakin dengan permintaannya Viona.


"Yakin, Pak ... jalan!" pintanya lagi.


Pada akhirnya supir mengangguk dan secepatnya memasuki mobil duduk di belakang setir. Mobil Viona melaju dengan kecepatan rendah menuju rumah Bu Afiah sesuai permintaan sang majikan.


Setibanya di rumah Fatir. Viona langsung duduk di sofa panjang, bersama Bu Afiah dan Sya yang duduk di bawah dekat perut Viona. Sesekali Viona meringis sebab merasakan kontraksi yang masih timbul tenggelam.


"Sudah makan belum Nduk?" tanya Bu Afiah pada Viona yang tampak sedikit pucat wajahnya.


Viona menggeleng. "Belum, Bu. di kantor belum sempat makan."


"Yo wes, Ibu siapkan. Ada sayur asem dan tempe mendoan, mau?" tanya lagi bu Afiah.


"Boleh, Bu." Viona mengangguk kebetulan perutnya lapar sekali namun malas bergerak, kaki pun rasanya keram.


"Kaki Mbak keram Sya, bisa pijit gak?" ucap Viona pada Sya yang duduk di depannya sambil nonton televisi.


"Bisa." Sya merubah posisi duduknya lalu perlahan memijit kedua kaki Viona bergantian.


"Sakit ya Mbak?" tanya Sya ketika melihat Viona sesekali meringis.


"Hem."


Bu Afiah kembali membawa piring berisi nasi dan sayur. Juga ada ayam gorengnya. "Ini makan dulu, iya Sya ... dipijit Mbak nya. Kasian pasti kecapean." Melihat keduanya bergantian.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu. Maaf sudah merepotkan?" Viona menyambut piringnya sambil membenarkan posisi duduknya.


"Kelihatannya perut mu sudah buncit sekali Nduk!" ucap bu Afiah memperhatikan perut Viona yang katanya gak lama lagi juga melahirkan.


"Kalau menurut dokter sih sekitar tiga Minggu lagi, Bu." Balas Viona di sela makannya.


"Ooh, semoga aja lancar persalinannya. Ibu dan baby-nya selamat dan sehat," ucap Bu Afiah penuh harap.


"Aamiin ..." suara Sya dan Viona serempak.


"Tapi hari ini dah beberapa kali kontraksi, Bu. sakit," keluh Viona menghentikan makannya karena perutnya terasa mules merambat ke pinggang terasa sakit. Matanya terpejam dan mendongak merasakan nikmatnya yang tidak terkira.


"Apa mau melahirkan? Fatir telepon Fatir." Bu Afiah sedikit panik.


"Sudah, Bu ... Mas Fatir sedang perjalanan pulang," sahut Viona dan kembali melanjutkan makannya sampai habis. Diakhiri dengan meminum air putih hangat yang bu Afiah sediakan.


"Ya Allah ... semoga lahiran mantuku dilancarkan dan diselamatkan." Doa bu Afiah lalu mengusapkan dua telapak tangannya ke wajah. Tampak jelas kecemasan dari wajah wanita paruh baya itu.


Fatir yang baru tiba langsung melebarkan langkahnya agar segera sampai di dalam. "Sayang kenapa?" Mendekati sang istri yang duduk bersandar di sofa panjang.


Fatir merangkul dan mengelus perut sang istri dengan lembut. Dan bibirnya mencium mesra pucuk kepala Viona. "Mau ke Rumah sakit sekarang gak hem?" tanya Fatir dengan lembut.


Kepala Viona menggeleng. "Nanti saja, jangan pergi lagi ya?" pinta Viona sedikit mendongakkan wajahnya, kedua tangannya memegangi tangan Fatir yang berada di atas perutnya.


Cuph! kecupan hangat kembali mendarat di puncak kepala Viona. "Iya sayang, aku temani terus kok jangan khawatir."


"Makasih!" Viona bersandar kembali kepalanya di dada Fatir dan mengarahkan tangan Fatir agar terus mengusap perutnya.


"Pindah ke kamar yu?" Fatir langsung menjauhkan punggung Viona dan beranjak dari duduknya tanpa menunggu jawaban, Fatir langsung membawa Viona ke kamarnya.


Viona langsung mengalungkan kedua tangannya di pundak Fatir saat merasa tubuhnya melayang, walau sakit kalau bersama suami dan penuh perhatiannya lebih berasa nyaman dan tenang.

__ADS_1


Kini kamar Fatir lebih luas dibandingkan yang dulu sempit. Viona di dudukan di atas tempat tidur dan Bu Afiah memasang bantal yang menumpuk buat bersandar.


Namun Viona malah memilih bersandar di dada sang suami yang menurutnya lebih nyaman. Fatir terus menemani sang istri di kamar di elus dan dipijit pelan.


"Au! sakit ..." keluh Viona kembali meringis menahan sakit.


Fatir berusaha menenangkan sambil terus mengelus seperti yang Viona minta. "Kalau sudah gak tahan ke Rumah sakit aja ya? biar di kasih obat pereda nyeri," ucap Fatir sangat lirih dan menempelkan bibirnya di pipi Viona.


Viona menggeleng. "Nggak! masih jarang-jarang kok. Nanti saja kalau sudah lebih padat kontraksinya. Aku kuat kok."


"Rasanya aku gak tega sayang." Fatir kembali berkata dengan lembutnya, tangannya mengusap keringat yang keluar di pelipis dan leher sang istri.


Tangan Viona mencengkram lengan Fatir sambil menggigit bibir bawahnya. Dengan mata terpejam.


"Yang kuat ya sayang," bisik Fatir tepat di depan telinga Viona. "Aku sangat mencintaimu." Hatinya mencelos, sedih tak kuasa melihat sang istri tersiksa padahal ini baru kontraksi awal.


Telapak tangan Fatir kembali mengusap perut Viona dengan sangat lembut dan kali ini ia ajak berkomunikasi. "Sayang ... baby nya Ayah dan Ibu, yang tenang ya di sana! kasian Ibu nya tersiksa. Ayah gak tega melihat Ibu seperti ini. Anak pinter Sholeha nya Ayah, yang tenang ya biarkan Ibu merasa nyaman," ucap Fatir sambil memberikan kecupan pada perut Viona. Lalu mendongak melihat wajah Viona yang menatapnya dengan sangat lekat dan bibirnya sedikit mengulas senyuman.


Fatir kembali duduk seperti semula dan membawa Viona ke dalam pelukannya lagi. Sampai Lama kontraksi itu hilang dan Viona bisa tertidur.


"Alhamdulillah. Istriku sekarang lebih tenang dan bisa istirahat. Ia memindahkan kepalanya Viona ke bantal dan menyelimutinya. Fatir bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Mau menunaikan salat ashar yang hampir pukul 17 .00 itu.


Selepas salat Fatir tak lupa memanjatkan doa untuk kebaikan ibu dan baby nya. Walaupun kata dokter masih tiga Minggu lagi kalau Allah berkehendak hari ini, ya pasti hari ini. Yang penting selamat dan lancarkan saja.


"Gimana Istri mu, Nak?" suara bu Afiah yang berdiri depan pintu melihat ke arah Fatir dan Viona yang sedang tidur bergantian.


"Alhamdulillah, Bu agak tenang sampai Viona nya juga tertidur." Balas Fatir menoleh lalu membereskan bekas salatnya.


"Syukurlah kalau begitu." Bu Afiah membalikan badannya dan menutup pintu kamar Fatir.


Fatir mendekati sang istri ditatapnya lekat penuh kasih sayang, lantas dicium keningnya dengan sangat lembut seraya berbisik. "Yang kuat ya sayang, i love you." Membuat Viona bergerak dan membuka matanya sedikit ....

__ADS_1


****


Maaf bagi pembaca setia BSH up nya lebih malam karena kesibukan lain๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2