
Muncullah seorang wanita berambut panjang, langsung menyambut hangat kedatangan kekasihnya.
"Aku merindukanmu," langsung saja Soraya berhambur ke dalam pelukan Fatir.
Fatir terdiam sesaat. Kemudian melepas pelukan Soraya. "Kita mau ngobrol di mana?" netra matanya mengarah ke du kursi yang berada di kursi.
"Em ... di taman belakang yu?" tangan Soraya menarik tangan Fatir tuk ke belakang.
"Eh, bilang dulu sama orang rumah. Nanti nyari." Titah Fatir dan menolak tangannya di tarik.
"Ih, cuma di belakang kok." Gerutu Soraya sambil berjalan mendekati pintu. "Bu ... Raya di belakang ya? bawakan minuman dan cemilannya jangan lupa, untuk berdua." Soraya memekik dari depan pintu.
Fatir menggeleng. Melihat tingkah laku sang kekasih yang memang manja, apa-apa pun harus di layani sang ibu. Mungkin karena anak bungsu menjadikan sikapnya yang manja. Tapi Viona juga anak tunggal dan lahir dari keluarga kaya gak semanja Soraya, di mata Fatir.
Kini keduanya sudah dudu di teras belakang, tangan Soraya bergelayut mesra di tangan Fatir. Kepalanya menempel di bahu pria yang sudah bertahun-tahun menjadi kekasih itu.
Hening!
Bu Siti datang membawa nampan di tangannya, dua gelas teh hangat yang tampak masih berasap dan sepiring kue. Dia menyimpan di meja dekat mereka berdua.
"Nak Fatir, silakan diminum!" ucap bu Siti pada Fatir.
"Aku kangen banget ih," ucap Soraya sambil mengeratkan tangannya yang memeluk tangan Fatir.
Fatir berpikir keras, bagaimana cara supaya Soraya mengerti dan dapat mengurangi pertemuannya. Kalau saja langsung itu tidak mungkin dan Soraya jelas gak akan terima, apalagi tanpa sebab.
Fatir menghela napas dalam-dalam kemudian ia lepaskan dengan panjang. "Seperti mulai sekarang, jangan sering menghubungi ku, dan kita jangan sering-sering bertemu dulu--"
Soraya sungguh tercengang mendengar ucapan dari bibi Fatir. "Kenapa?" ia menjauhkan dirinya, merubah posisi duduk menjadi menghadap ke arah Fatir.
Sebelum menjawab, Fatir kembali menghela napas panjang. "Kamu ingat? seperti yang pernah aku bilang, adik ku masih harus menjalani perawatan. Adam dan Sidar harus melanjutkan pendidikannya. Jadi ... aku harus lebih fokus lagi untuk mencari uang yang banyak."
Soraya menggeleng. "Kalau kangen gimana?"
"Aku akan datang apabila ada waktu senggang--"
"Kamu sudah gak sayang aku lagi Mas, kamu dah gak cinta lagi kan sama aku?" terlihat jelas kedua mata Soraya berkaca-kaca sebab wajah Soraya terkena sinar lampu.
"Bukan, bukan gitu. Aku masih sayang sama kamu Raya. perasaan ku masih sama, cuma keadaan yang menuntut kita harus bersabar dan butuh waktu." Fatir lesu.
"Sampai kapan aku harus nunggu ha? sampai rambut ku beruban, iya?" suara Soraya bergetar menahan kesal, dada nya terlalu sesak tuk dirasakan.
__ADS_1
"Raya, kita butuh waktu. Aku gak bisa egois memikirkan diri sendiri! aku ini tulang punggung keluarga." Jelas Fatir. Ia berdiri berjalan beberapa langkah. Berdiri memunggungi Soraya yang mengusap air mata.
"Iya, kamu tulang punggung. Tapi kamu gak bisa memberi keputusan yang baik padaku, hik hik hik."
"Kalau saja ada pria yang menyayangi mu, lebih baik dari ku. Aku ikhlas melepas mu," ucap Fatir lirih.
Sesaat Soraya membatu, lalu menggeleng. "Tidak, aku tidak mau menikah dengan yang lain."
"Mas ini cuma orang miskin. Carilah pria yang akan menjamin hidup mu nanti." Fatir membalikkan badannya sebentar lalu ke kembali ke posisi semula.
Soraya lagi-lagi menggeleng. "Kita berdua bisa mencari untuk hidup kita berdua kok, Pokonya aku tidak mau menikah dengan siapapun selain kamu Mas."
"Kamu tidak boleh begitu, kamu harus bahagia dengan siapa pun. Jangan terlalu berharap padaku." Lirihnya Fatir kembali.
Soraya berhambur lagi ke pelukan Fatir sambil menangis. "Aku tak ingin menikah dengan orang lain. Aku cuma mau sama kamu Mas."
Fatir mematung sejenak. Lalu membalas pelukan Soraya, mengusap punggung nya dengan lembut. Seraya berkata. "Jangan menangis. Aku ingin kamu bahagia walau bukan dengan ku."
Lagi-lagi Soraya menggeleng dengan tangisnya yang tumpah ruah membasahi pipinya. "Tidak mau, sampai kapanpun aku hanya ingin menikah dengan mu Mas," pelukannya semakin erat.
Keputusan ini cukup menyakitkan. Namun itu harus ia tempuh demi kebaikan ke depannya, Fatir berada dalam dilema. Bila membatalkan pernikahan dengan Viona, itu sangat tidak mungkin dan memtuskan Soraya juga tidak semudah membalikan telapak tangan.
Apalagi berkaitan dengan perasaan yang sudah cukup lama terpupuk dengan baik. Sungguh harapan dan kenyataan yang tak sejalan. Sekarang berhiaskan air mata. Apalagi nanti akan bercampur dengan hancurnya hati, makanya dari sekarang ia harus menjaga jarak dari Soraya.
"Cukup Mas, aku mohon. Mas Jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu. Kamu juga kan, Mas?" wajah Soraya mendongak, matanya terlihat digenangi buliran air mata.
Fatir bingung harus menjawab apa? pada akhirnya ia mengangguk dan jari-jarinya mengusap pipi Soraya yang basah.
Soraya kembali membenamkan wajahnya di dada Fatir. Meski bau parfum Fatir yang sekarang tidak tidak ia sukai. Mungkin selera Fatir sekarang sudah berubah.
"Nanti aku belikan parfum seperti dulu lagi ya?" Soraya mendongak menatap wajah Fatir yang remang-remang.
"Nggak perlu, uangnya kamu simpan saja. Jangan memikirkan aku."
"Kok gitu? wajar dong, kalau aku memikirkan mu. Aku itu kekasih ku, calon suami ku."
"Tidak perlu lagi. Aku masih punya stok," ucap Fatir.
"Aku gak suka baunya," ucap Soraya dengan nada manja.
"Sudah malam, aku harus pulang. Kalau ada hal yang penting, barulah hubungi aku. Semoga kita baik-baik saja."
__ADS_1
Soraya kembali memeluk tubuh Fatir, seakan tak ingin terpisah. "Jangan suruh aku menikah dengan yang lain lagi, aku cuma cinta sama kamu Mas."
Fatir kembali menghela napas dalam-dalam untuk membuang semua beban yang ada dalam dadanya yang terasa sesak. "Sudah ya. Aku pulang dulu!"
"Tapi, Mas ... aku masih kangen. Apalagi kita belum tentu akan lebih cepat lagi bertemu, biarkan aku lebih lama memeluk mu." Pelukan Soraya tambah erat.
"Sudah, malu. Gak enak dilihat orang." Tangan Fatir mencoba melepas pelukan Soraya yang begitu nempel.
Dengan kecewa yang menyelimuti hatinya. Perlahan Soraya melepaskan pelukannya. "Janji ya? kunjungi aku, sempatkan waktunya ya?" penuh harap.
Kedua tangan Fatir mengusap lembut kepala, lalu turun ke bahu Soraya penuh kasih sayang. "Aku pulang dulu."
Langkah Fatir tertuju pada motornya. Sebelumnya ia pamit lebih dahulu pada orang tua Soraya yang berada di dalam.
Kemudian Fatir mengendari motornya. Melaju dengan cepat menuju pulang, waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 malam lewat.
Sekitar 30 menit kemudian tibalah ia di rumah yang sederhana ini. Adik-adiknya sudah pada lelap tidur dan ia sendiri bawa kunci pribadi sehingga bisa masuk tanpa menggangu orang lain.
Fatir merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang keras itu. Padangan mata jauh ke langit-langit. Waktu berputar begitu cepat dan mata Fatir enggan terpejam hingga akhirnya ia duduk dan mengambil sebungkus rokok dari laci. Pikiran melayang mengingat hari esok. Sepanjang malam Fatir terjaga sampai pagi, tidak terpejam sebentar pun.
Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang. Fatir pun beranjak dari duduknya mengambil handuk lalu masuk kamar mandi.
Sebelum masuk kamar, melihat dulu adik-adiknya apa mereka sudah pada bangun? rupanya kedua adik laki-lakinya itu sudah bangun dan menggeliat. "Cepat bangun, mandi dan salat."
Kemudian Fatir melanjutkan langkahnya menuju kamar yang melewati kamar sang bunda yang kosong itu. Setelah rapi ia menunaikan salat subuh dengan hussu meminta kelancaran dalam acara nanti.
Akad akan di laksanakan pukul sepuluh pagi di mesjid sekitar rumah Viona.
Adam menghampiri Fatir yang kini sedang membuat teh hangat. "Mas, Adam jemput ibu dulu ya? sekalian pake motor baru ya!" ucap Adam sambil meminta ijin. Ingin memakai motor Fatir yang baru.
"Boleh, nanti Mas dan ibu. Berangkat dengan mobil Mas Darma. Dan kalian berdua nyusul pake motor," ucap Fatir menatap sang adik.
"Mas, apa gak ada saudara yang akan menghadiri pernikahan Mas Fatir?" pertanyaan Sidar membuat Fatir menatap sang adik.
"Mas Fatir, sudah memberi tahu paman Edi. Namun Mas tidak tahu apa dia akan mengantar kita atau tidak?" sahut Fatir sambil nyeruput teh nya perlahan.
"Assalamu'alaikum?" suara seseorang dari luar.
Membuat kakak beradik itu saling pandang. Dan merasa penasaran siapa yang datang pagi-pagi begini ....
****
__ADS_1
Hi ... reader ku yang baik hati. Dukung aku ya🙏 jangan lua like dan komentarnya.