
Setelah sampai, Soraya berlari ke dalam rumah lantas memeluk ibunya sambil menangis histeris. Membuat bingung sang ibu dan ayahnya.
Sambil celingukan bu Siti bertanya. "Kamu kenapa Nduk? datang-datang kok nangis!"
Soraya bukannya menjawab melainkan semakin histeris dan sesegukan. Bu Siti dan suami semakin heran dibuatnya.
"Hik hik hik. Mas Fatir jahat Bu, dia mengkhianati ku malah gak tanggung-tanggung sudah menikah hik hik hik."
Bu Siti dan suami saling pandang dan seakan tak percaya. Mereka terdiam rasanya gak mungkin Fatir seperti itu.
"Ada apa nih! apa tadi? Fatir menikah, sama siapa?" selidik Kakaknya Soraya kaget dan keluar dari kandang begitu mendengar nama Fatir menikah.
"Hik hik hik, Mas. Fatir khianati aku, tega dia sama aku. Dia menikah dengan wanita itu." Jawab Soraya dengan masih dalam pelukan ibunya dan tak berhenti menangis.-
"Kamu serius Dek?" tanya sang kakak ragu.
"Ini semua gara-gara wanita ****** itu. Si wanita penggoda, merebut calon suami ku. Ibu ... aku mau menikah cuma dengan mas Fatir gak mau sama yang lain, Bu." Menatap sang bunda.
Bu Siti turut menangis tak tega melihat putrinya menangis seperti ini. Tangisnya begitu memilukan dan air mata begitu tumpah ruah membasahi wajahnya, sederas air hujan yang turun di luar membasahi bumi.
"Kamu tahu dari mana Nduk? mungkin itu berita yang tidak benar--"
Soraya mendudukkan dirinya di sofa. "Tidak benar gimana Bu? jelas-jelas di depan mata dia begitu mesra Bu, dan Fatir pun mengakui kalau wanita itu istrinya. Pantas dia dari lama mengenakan cincin ternyata sama dengan yang di pakai wanita ****** itu." tangis Soraya terhenti. Pikirannya berputar pada cincin yang melingkar di jari Fatir dan wanita itu.
"Kurang ajar si Fatir, tega-teganya nyakitin kamu Dek!" kakak Soraya tampak marah mendengar Fatir mengecewakan sang adik.
"Dasar laki-laki tidak tahu diri. Untungnya Bapak tidak mengijinkan kalian menikah dulu. Masih mending kalian itu belum menikah." Syukur bapaknya Soraya.
"Justru ini gara-gara Bapak. Bapak yang tidak mau menikahkan kami, jadinya mas Fatir mengkhianati ku." Soraya malah menyalahkan bapaknya.
"Nduk, ini bukan salah Bapak mu Nduk." Lirih nya bu Siti.
"Kalau saja Bapak menerima pinangan mas Fatir waktu itu dan mau di bawakan uang sedikit, mas Fatir gak mungkin ninggalin aku Pak." Sesal Soraya terus nyalahin bapaknya.
Brak!
Kakak nya Soraya menggebrak meja. "Sudah, jangan nyalahin Bapak yang kurang ajar itu si Fatir. Awas, saya akan membuat perhitungan sama dia." Teriaknya sambil pergi entah kemana.
"Raya gak mau tahu, harus nikah sama Fatir." Seraya berlari dan Brugh! pintu kamar dibantingnya.
Menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan melanjutkan nangisnya.
"Pak, gimana ini? apa iya dia menikah dengan wanita lain!" ucap bu Siti dengan wajah tampak cemas.
Wajah suaminya tampak marah dan giginya mengerat, tangan mengepal. Pria tua itu tak bisa mengungkapkan rasa marahnya terhadap Fatir, kalau saja berita itu benar adanya.
"Saya tidak akan bisa memaafkan bila itu benar adanya, Bu. Saya akan menanyakan itu besok, enak saja bikin anak kita kecewa!" ucap suaminya dengan nada marah.
Bu Siti menghela napas kasar. Kemudian mengikuti Soraya ke kamar yang masih terdengar isak tangisnya walau sesekali saja. Mungkin dia sudah mulai lelah.
__ADS_1
Reett ....
Suara pintu yang bu Siti buka. Tampak Soraya kelelahan dari tangisnya dan tinggallah sisa-sisa sesegukan. "Nduk. Sudah jangan ditangisi terus. Masih banyak pria yang sayang sama kamu tinggal kamu membuka hati saja Nduk."
Soraya bangun, wajahnya basah. Kelopak matanya begitu sembab. "Tidak semudah itu Bu, aku sangat cinta sama dia dan ibu pun tahu itu. Hubungan kami pun bukan satu dua tahun, Bu. Sudah lama."
Bu Siti menatap sendu. Hatinya terenyuh melihat kondisi anaknya ini. "Ibu tahu Nduk. Tapi gimana kalau memang tidak jodoh--"
"Jodoh Bu, kami pasti berjodoh Ibu jangan mematahkan hati aku dong, Bu." Soraya memotong perkataan sang ibu.
"Eh, maksud Ibu ... kalau belum jodoh gimana? Jangan buang-buang waktu untuk menunggu sesuatu yang belum tentu jadi milik kita."
"Raya mendingan mati, daripada tidak bisa menikah dengan mas Fatir--"
"Huus ... jangan gitu Nduk pamali," sela bu Siti mendengar kalimat yang Soraya ucapkan.
"Bu. Aku tidak akan menikah sama siapapun kecuali sama dia. Titik!" ucap Soraya keras kepala.
Bu Siti menghela napas dalam. Kepalanya menggeleng pelan melihat anaknya, sambil mengusap pucuk kepala Soraya bu Siti berdiri. "Yo wes ... sudah malam tidur ya! jangan menangis lagi. Jangan buang air mata percuma lagi ya Nduk," tutur bu Siti dengan sangat lembut.
Soraya memeluk bantal di pangkuannya. Melirik sang ibunda keluar dari kamar lalu Soraya melepas tatapan kosong nya dan pikirannya pun melayang dan sesekali juga sesegukan.
****
Suara burung mulai berkicau dan beterbangan menyambut pagi yang cerah ini, mentari bersinar menyinari alam semesta ini dan cahayanya begitu menghangatkan jiwa.
Viona sudah segar habis mandi. Dengan di temani secangkir teh manis. Ia duduk di kursi yang ada di teras, tangannya mengaktifkan ponsel yang dari semalam ia matikan.
Viona membawa cangkir kotor ke wastafel sekalian ia mencucinya sambil menunggu Fatir pulang, pikirannya terus berputar dan sepertinya harus segera mengadakan kompresi pers. Untuk menjelaskan kejadian sesungguhnya.
Terdengar suara mesin motor Fatir datang dan berhenti di depan pintu belakang. Disambut bu Afiah yang membukakan pintu.
"Batu pulang Nak!" bu Afiah membantu menurunkan belanjaan Fatir dari motor.
Sementara Viona mematung di dekat wastafel sambil melamun pandangannya entah kemana? tampak kosong.
Cuph! kecupan hangat Fatir mendarat di kening Viona yang tampak melamun sedari tadi ia datang.
Viona terkesiap mendapatkan kecupan dari Fatir mana di hadapan bu Afiah lagi. "Kamu apa-apaan sih." Pekik Viona tertahan.
Fatir malah membalas dengan senyuman. "Melamun aja. Di panggil gak nyaut, di kecup barulah sadar."
"Aku tuh Malu, dilihat Ibu." Bisik Viona sambil mendekat.
"Kenapa? biar saja Ibu juga mengerti. Bukan anak kecil kok." Fatir tetap santai menghadapinya.
"Ck," kepala Viona menggeleng. "Mau nganterin gak? kalau ndak, aku jalan sendiri tapi kalau aku bilang datang ke kantor yang si jalan xx harus segera datang. Mau ngadain kompresi pers, malah kita harus menemui keluarga ku untuk menjelaskan semua." Viona meraih tas nya dari meja.
Fatir terdiam setelah nyeruput minumannya. Jadi bingung harus bicara apa? terutama pada keluarga Viona.
__ADS_1
"Ini, gara-gara kamu. Jadi ribet gini." Viona berjalan dan berpamitan pada bu Afiah.
"Mbak cantik mau kemana? pagi begini!" tanya Sya yang muncul dari pintu kamarnya.
"Mau kerja, Sya ... Mbak pergi dulu ya? nanti jalan-jalan sama mas Adam dan mas Sidar, kan uang jalannya sudah Mbak kasih semalam. Kalau kurang suruh mas Sidar bilang sama Mbak ya." Viona memeluk Sya sebentar kemudian bergegas pergi. Kebetulan semalam ia membeli pakaian formal buat kerja jadi sekarang langsung meluncur ke kantor.
"Tunggu, Vi?" suara Fatir dari belakang.
"Kamu belum sarapan Nak, kamu itu punya riwayat lambung. Jangan telat makan Nak," lirihnya bu Afiah pada putranya, Fatir. Membuat Viona menghentikan langkahnya. Seharusnya sebagai seorang istri ia tadi menyiapkan sarapan buat Fatir.
"Nanti saja di jalan, Bu. Jangan khawatir." Terdengar suara Fatir sambil berjalan mendekati Viona yang masih berdiri di teras menunggunya.
"Kalau kamu mau sarapan? sarapan aja dulu. Aku tunggu." Viona menatap ke arah Fatir yang hampir berada di sampingnya.
"Tapi, Non gak makan?" tanya Fatir yang langsung di balas Viona dengan gelengan.
"Kalau Kamu ndak, aku juga ndak. Sebab kalau suami makan istri pun harus makan--"
"Tapi kita bukan suami istri yang sesungguhnya." Menatap datar.
Degh!
"Emang ada, pernikahan bohongan? ada ya janji suci yang cuma jadi permainan? Saya mengucapkan janji suci itu dengan segenap keseriusan saya. Sekalipun saya bukan suami yang anda harapkan." Jelas Fatir lantas berlalu mendahului Viona. Hatinya sakit, kesal dengan perkataan Viona yang masih menganggap pernikahan ini cuma kepuraan.
Viona terdiam mencerna omongan Fatir, netra matanya menatap punggung pria itu dari jauh. Ada rasa yang membatu di dadanya, akhirnya Viona menyeret langkahnya menyusul Fatir yang sudah lebih dulu menuju mobilnya.
Tanpa bicara, Fatir membukakan pintu buat Viona. Kemudian barulah ia berjalan mengitari mobil menuju pintu sebelah lantas duduk belakang setir tidak lupa memasang sabuk pengaman.
Sekilas kedua netra matanya menoleh ke arah Viona. "Seharusnya anda menyadari, kalau saya sudah berusaha untuk menjadi suami yang bertanggung jawab dan perhatian--"
"Aku ndak meminta itu sama kamu," timpal Viona.
"Iya, oke bibir kamu mengatakan tidak. Tapi coba tanya pada hatimu apa iya mengatakan tidak juga?" ungkap Fatir dengan nada kesal.
Viona terdiam. Matanya lepas keluar jendela yang ada disebelahnya.
"Saya tahu dan sadar diri. Kalau kamu belum bisa membuka hati buat pria lain terutama pria seperti saya. Oke, tapi setidaknya kamu juga bisa menghargai sedikit perasaan saya dan bukan segalanya dengan harta!" ujar Fatir kemudian melajukan mobil melesat ke tempat Viona ngantor.
Viona melepas napasnya yang terasa berat. Sesak di dadanya membuat matanya berembun dan menetes juga.
Hening!
Kecuali suara mesin mobil yang terdengar halus seakan tak ingin mengganggu orang di dalamnya.
Selang berapa puluh menit, mobil Tiba di parkiran. Fatir bergegas turun dan membukakan pintu. Viona menatapnya namun Fatir sama sekali tak menoleh dan melihat ke sembarang tempat.
Fatir menyerahkan kunci pada tangan Viona. Kemudian ia segera membawa langkahnya yang lebar mencari ojeg.
Viona tertegun di tempat dan menelan saliva nya, ingin menyuruh Fatir tuk bawa mobil kembali. Sebab nanti juga Fatir akan mengikuti pertemuan dengan para media. Tapi bibir Viona terasa kelu dan yang ada air mata kembali berjatuhan ....
__ADS_1
****
Hai ... reader ku yang aku sayangi. Jangan lupa tinggalkan jejak ya? komen dan like nya🙏