
Viona Fatir turunkan di dekat pintu mobil kemudian keduanya memasuki mobil tersebut.
Fatir segera menyalakan mesin yang sebelumnya memasang sabuk pengaman terlebih dahulu. Kemudian mobil meluncur keluar dari area apartemen tempat tinggal Viona dan Fatir.
Viona tak hentinya memandangi ke arah Fatir yang Fokus nyetir. Begitupun Fatir sesekali melihat kaca spion melihat sang istri yang tampak gusar.
Tak selang lama perjalanan, akhirnya tiba juga di area parkiran khusus staf. Fatir menoleh ke arah sang istri. "Sudah sampai sayang."
Namun tangan Viona malah merangkul dan seakan tak mau beranjak dari lehernya Fatir. "Em ... kangen!" dengan tatapan manja nya.
Fatir mencolek hidung Viona. "Tadi katanya masih disini sudah bilang kangen aja, sekarang sendirinya bilang gitu juga, gimana sih Non?"
"Emm ..." wajahnya berekspresi sedih dan memeluk tubuh Fatir sejenak.
Fatir pun membalas pelukan sang istri dan membelai mengelus kepalanya. "Aku akan merindukan mu." Bisik nya.
Setelah itu Viona melepas pelukannya. Tersadar sudah siang dan waktunya masuk, gak enak kalau sampai kesiangan.
"Ya udah. Aku masuk dulu , Mas. Ndak enak sama staf." Viona turun. "Mobilnya bawa saja."
Fatir turun mendekati Viona dan membingkai wajah Viona dengan tangannya. Di tatap dengan lekat. "Jadilah pemimpin yang baik," lalu cuph! kecupan mesra mendarat di kening sang istri.
Viona mengangguk. Lalu membawa langkahnya memasuki kantor, Fatir berdiri sementara waktu menatap punggung Viona. Kemudian mengitari mobil dan membawanya pulang. Mobil yang dikendarai Fatir melaju cepat berpacu dengan roda-roda besi lainnya.
Setibanya di perempatan. Tempatnya berjualan ia berjalan menuju rumah menyiapkan semua bahan buat jualan. Sebelumnya memarkirkan dulu mobil nya Viona di tempat yang tepat.
Fatir mulai beraktifitas di dapur memasak ayam yang bumbunya kebetulan sudah di siapkan oleh sang bunda. Sementara Deni si kaki tangan Fatir yang belum lama ini memegang jualan pisang dan singkong krispi. Sebelum Adam pulang kuliah, sementara Sidar sekarang juan es buah yang sengaja Fatir buka buat mengisi waktunya Sidar sepulang sekolah.
Jadi sekarang Fatir mempunyai tiga macam jualan. Yaitu mie ayam, singkong+pisang keju dan yang baru es buah, baru luncing beberapa hari yang lalu. Harapan Fatir ia bisa sukses tanpa bayang-bayang sang istri yang di pandang orang, seorang CEO perempuan dan mempunyai banyak uang. Ia pengen berdiri sendiri sebab sebelum bertemu Viona pun Fatir sudah berdiri sendiri dengan usahanya.
"Assalamu'alaikum ..." di teras bapak Soraya berdiri dengan lutut kaki yang gemetaran.
"Wa'alaikum salam ..." suara nya bu Afiah dari dalam dan muncul dari balik pintu.
"Maaf, sa-saya mengganggu! apa Fatir ada di sini? saya-saya ingin meminta maaf." Bapak Soraya menunduk.
"Fa-Fatir. Ada-ada di dalam, silakan masuk?" ucap Bu Afiah dengan perasaan gak enak.
Bapak Soraya mengikuti langkah bu Afiah ke dalam dan duduk di sofa.
"Sebentar, saya panggilkan dulu Fatir nya." Bu Afiah mengangguk kecil lalu ngeloyor ke belakang.
Langkah bu Afiah berhenti di dekat putranya yang sedang memasak. "Nak, ada bapak nya Soraya."
Fatir menoleh dan terdiam sejenak. "Ada apa lagi katanya?"
"Sepertinya mau minta maaf, Nak!" sambung Bu Afiah.
Tanpa berkata lagi. Fatir mematikan kompor dan melepas celemek nya. Membawa langkahnya ke ruang tengah menemui bapaknya Soraya.
"Nak Fatir?" sapa tamunya lalu menunduk.
__ADS_1
"Oya, ada apa ya?" tanya Fatir sambil mendudukkan dirinya.
"Saya," tamunya menghela napas panjang sebelum bicara. "Em ... begini Nan Fatir, dengan kedatangan saya ke sini ... tiada lain dan tiada bukan ya itu untuk meminta maaf--"
"Maaf? maaf buat apa?" merasa heran dan tak habis pikir melihat bapaknya nya Soraya yang tampak menunduk malu.
"Sa-saya. Meminta maaf yang sebesar-besarnya atas pengakuan putri saya. Soraya yang salah telah mengakui hamil karena kamu--"
"Ooo. Jadi yang sebenarnya Soraya tidak hamil? Alhamdulillah ..." bu Afiah mengusap wajahnya.
Bapaknya Soraya menatap sejenak ke arah Bu Afiah lalu menunduk kembali. "Dia ... dia ... hamil--"
"Astagfirullah ..." bu Afiah kembali tercengang dan mengusap dada.
Fatir hanya diam mendengarkan penjelasan bapaknya Soraya. Dalam hati ia pun penasaran siapa yang sudah menanam benih di rahim Soraya?
"Tapi ... bu-bukan karena Fatir. Melainkan pria lain. Maka dari kami sekeluarga memohon maaf yang besar-besarnya atas kebodohan kami," ucap bapaknya Soraya penuh permohonan.
Rahang Fatir mengeras dan akhirnya dia mengeluarkan suara. "Kalau harus Bapak tahu. Istri saya hampir saja menggugat cerai saya, gara-gara kedatangan Bapak yang menusuk sayalah yang menghamili Soraya. Kalian tidak percaya kalau saya tidak pernah melakukan itu sama Soraya, dengan santainya kalian menuduh bahkan meminta saya untuk mempertanggung jawabkan sesuatu yang bukan kesalahan saya! sama sekali tidak membayangkan gimana hancurnya perasaan istri saya," ujar Fatir panjang lebar.
"Saya minta maaf, maafkan kami Nak Fatir. Maafkan kami." Bapak Soraya kian menunduk. Tak terbayang gimana malunya ia di depan Fatir dan keluarga.
Masih mending Adam dan Sidar tidak ada. Kalau saja ada, bapak Soraya bisa-bisa menjadi bulan-bulanan mereka berdua.
Bu Afiah menatap kedua pria yang ada di hadapannya itu. Berharap sang putra mau berlapang hati dan memaafkan keluarga Soraya.
"Anda seharusnya meminta maaf sama istri saya. Yang sudah kalian buat kecewa, tapi sayang. Dia tak ada di sini," ungkap Fatir.
"Sekali lagi saya minta maaf. Pada istri Nak Fatir juga." Timpal bapak nya Fatir.
Bu Afiah merasa tenang dan bernapas lega mendengar y
sang putra yang mau memaafkan tamu nya.
"Makasih, Nak. Makasih banyak?" ucap bapak nya Soraya merasa senang dan bahagia. Akhirnya mendapatkan maaf dari Fatir yang sudah terpitnah oleh kelakuan anak gadisnya itu. Kemudian ia pamitan pada Fatir dan sang bunda.
Kemudian Fatir melanjutkan tugasnya di dapur yang sempat tertunda. Lanjut jualan dan langsung di sambut penikmatnya.
"Deni, tolong ya nanti tungguin jualanku. Aku mau mengantar Sya cek up sebentar!"
"Baiklah. Oh masih cek up jalan ya?" selidik Deni menatap ke arah Fatir.
"Iya, masih." Jawab Fatir sambil mengangguk.
"Mas. Mie ayam nya 10 porsi dan pisang keju nya 10 cap, singkong juga sama 10 cap. Di tunggu ya?" pesan sekarang pelanggan.
"Oo. Siap Mbak. Di tunggu sebentar ya!" lalu Fatir menoleh pada Deni yang menyalakan api. "Siapkan 10+10 Den."
"Oke." Balas Deni sambil mengangguk.
Keduanya menyiapkan pesanan dengan segera. Dalam sebentar mie ayam dah siap, sementara Deni yang belum mahir belum selesai juga. Sehingga Fatir turun tangan untuk tuk membantu agar segera siap semua.
__ADS_1
"Makasih, Mbak?" ungkap Fatir sambil memberikan pesanan pada pelanggannya.
"Iya, sama-sama, Mas!" sambil memberikan uang bayarannya.
Lalu kemudian Fatir bersiap untuk mengantar Sya ke rumah sakit. Jadi Fatir menaiki motornya ke rumah menjemput Sya.
...****...
Di sore hari cuaca begitu indah. Senja yang merah menghiasi langit di cakrawala nan jauh. Alisa dan suami sedang membawa Azam berjalan-jalan.
Semenjak Viona pindah kerja ke perusahaannya sendiri. Alisa dan Viona jarang kumpul sebab dia lebih sibuk kadang hari Minggu pun Viona ada meeting. Paling ketemu sebentar kalau ke tempat Fatir, pokonya setelah menikah kehidupan Viona banyak berubah, terkadang juga Viona menghabiskan waktu libur nya di apartemen.
"Aku kangen sama Viona, main yu ke apartemennya?" ajak Alisa menoleh sang suami.
"Boleh, tapi tanya dulu sekarang ada di mana dia? takutnya kita ke apartemen. Dia di rumah atau dimana!"
"Iya ya? baiklah aku telepon dia dulu. Bentar sayang Mama pinjem ponselnya oke?" mengambil ponsel yang sedang dimainkan oleh Azam.
Setelah menekan kontak Viona dan kebetulan tersambung pula.
^^^Alisa: "Vi. Kamu di mana? dekarang?"^^^
^^^Viona: "Aku sedang di luar kota Al, mau meeting nih."^^^
^^^Alisa: "Oo. Aku kira ada, tadinya aku sama Mas Darma mau main ke tempat mu. Kangen nih lama ndak ketemu, sekarang kamu bak artis yang super sibuk. Sudah dihubungi."^^^
^^^Viona: "Oh, sayang banget akunya baru berangkat hari ini. Kemungkinan beberapa hari lagi pulang, nanti kalau aku balik tak kasih kabar deh."^^^
^^^Alisa: "Em ... sayang banget."^^^
^^^Viona: "Iya, nanti tak kasih tau lah kalau aku balik. Atau aku yang ke sana oke? sekarang aku bersiap meeting. Sorry ya?"^^^
Tut ... Tut ... Tut ....
"Lagi di luar kota dia!" Alisa Kembali menoleh sang suami.
"Yo wes. Kita jalan-jalan di taman depan saja." Timpal Darma sambil memutar kemudi mobil yang mereka tumpangi.
Ketika tiba di taman Alisa menggendong Azam yang berceloteh sendiri. Namun apa yang Alisa temukan di taman? melihat sosok pria sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita muda yang mungkin seumuran dengan putrinya.
"Mas, coba lihat! di sana." Alisa menunjuk ke arah yang ada pria itu.
Darma menoleh ke arah yang Alisa tunjuk. Sejenak keningnya mengkerut dan berpikir om Rusadi dengan siapa? perasaan semau anaknya termasuk Viona mereka kenal. Lagian mereka tampak mesra, tangan si wanitanya bergelayut mesra di tangan Rusadi.
"Mas, perasaan. Aku kenal deh semua anaknya, siapa dia? bukan pula Tante asri." Alisa menatap heran.
"Entah, aku ndak kenal sayang." Darma menggeleng namun sesekali memerhatikan ke arah mereka.
"Jangan-jangan? itu perempuan simpanan om Rusadi, Mas." Alisa berpikiran jelek.
Rusadi tampak sangat mesra dengan wanitanya yang jauh lebih muda dari Asri, istrinya ....
__ADS_1
****
Semoga malam ini kabar reader ku semua pada sehat ya? dan berlimpah rejekinya. Aamiin.