Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Berbohong


__ADS_3

Deghh!


Elva semakin tercengang dengan ucapan ayahnya. Antara percaya dan tidak jika kekasihnya berselingkuh dibelakangnya. Rasanya ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Tapi tidak mungkin ayahnya berkata bohong.


“Maksud ayah Richard berselingkuh?”. Elva meyakinkan ucapan ayahnya .


“Iya”. Tegas Hermawan.


“Apa yang ayah ketahui tentang Richard hingga ayah menduga ia berselingkuh?”.


“Richard bersama wanita lain ketika kamu memintanya untuk datang ke rumahsakit”.


Jlebb!


Elva semakin bergetar dan sesak mendengar penuturan ayahnya. Rasanya ia masih tak percaya dengan tuduhan itu untuk Richard. Richard tidak mungkin berselingkuh, mungkin batinnya masih berfikir demikian. Tapi untuk apa juga ayahnya berkata bohong kalau Richard tidak berselingkuh. Karena selama satu tahun sebelum operasi, ayah bersikap hangat terhadap Richard.


“Dimana ayah melihatnya?. Apa ayah mengenal wanita yang sedang bersama Richard?”.


“Pada saat kamu menelpon Richard ayah tengah bersiap untuk makan siang bersama Gino di restauran hotel X. Dan ayah tidak sengaja mendengar percakapan kalian”.


“Terus?”. Ucap Elva penuh dengan rasa penasaran.


“Saat kami tengah makan, Gino melihat Richard sedang berjalan keluar restauran dengan menggandeng mesra seorang wanita. Gino langsung memberitahu ayah menunjukkan keberadaan Richard saat itu. Niat ayah langsung ingin mengejar Richard, namun Gino melarang karena memang kondisinya tempat sedang ramai pengunjung dan khawatir nama ayah akan jelek jika terjadi keributan”.


“Apa ayah mengenal wanita itu?. Dan setelah itu apa ayah melihat mereka jalan bersama lagi?”.


“Ya. Dia Maria Sahabat kalian”.


Deghh!


Kembali Elva terkejut mendengar nama yang tak asing baginya itu.


“Ayah menyuruh orang selama seminggu untuk mengikuti kemana saja Richard pergi. Dan selain denganmu ia sering pergi bersama Maria”. Tutur Hermawan.


“Tidak mungkin. Kalau pun Richard berselingkuh itu pasti tidak dengan Maria. Mungkin mereka ada urusan yang mengharuskannya bertemu pada saat itu. Kenapa ayah berfikir jauh kalau Richard berselingkuh?”.


“Silakan kamu selidiki sendiri kebenarannya jika kamu tidak percaya dengan yang ayah katakan. Ayah sudah bicara diawal kalau kamu pasti tidak akan percaya”.


“Baiklah, Elva akan mencari tahu kebenarannya. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membicarakan masalah ini. Elva pamit dan selamat istirahat jaga terus kesehatan ayah jangan tidur terlalu larut”. Elva langsung pergi meninggalkan ayahnya menuju pintu.


“Tunggu Elv!”. Ayah memanggil Elva kembali dan seketika ia menghentikan langkah kakinya.


“Iya yah? Ada apa lagi?”. Elva hanya membalikkan sedikit badannya.


“Jangan terlalu lambat dalam menilai. Dan jangan terlalu percaya jika kamu tidak yakin. Belajarlah untuk mengenali orang terutama pasangan jika kamu tidak ingin dihianati”.


“Baik yah, Elva akan mengingat saran ayah. Permisi”. Elva langsung membalikkan badannya kembali dan meraih handle pintu untuk keluar dan langsung menuju kamarnya.


Didalam kamar Elva merebahkan badannya sambil memeluk guling. Ucapan ayahnya masih terngiang-ngiang di kepalanya. Buliran air mata sudah tak sanggup ia bendung. Ia tak terima dengan keadaan yang menyakitkan jika terbukti mereka memiliki hubungan khusus.


“Kalau yang ayah katakan benar, Tega sekali Richard dan Maria terhadapku. Bukankah mereka saling mengenal sebelum mereka mengenalku. Mengapa mereka tidak berpacaran saja sejak dulu jika mereka memiliki perasaan yang sama. Mengapa harus berhianat seperti ini di belakangku”. Gumam Elva di balik gulingnya.


Elva semakin sesak jika ia mengingat perkataan ayahnya. Air matanya terus mengalir di kedua pipinya. Pasalnya ia sangat mencintai Richard dan ia rasa Richard pun demikian. Elva berusaha untuk memejamkan matanya namun gagal ketika ucapan ayah tadi teringiang lagi. Ia terus berusaha membuang fikiran negatifnya saat ini dan akhirnya ia pun tertidur dengan sendirinya.


Pagi harinya Elva duduk di balkon sambil menikmati secangkir teh hijau dan biskuit. Ia melihat sekelompok burung Pipit yang terbang hinggap di pepohonan dan di atas genteng-genteng rumah sebagai hiburan di pagi hari. Sepertinya ia sedang menenangkan fikirannya. Tak lama setelahnya ponsel miliknya berbunyi. Dilihatnya notif pesan dari Richard.


Richard


Pagi sayang, lagi apa?


Elva


Lagi duduk santai di balkon nih


Richard


Videocall ya ..


Elva


Ga mau


Dering ponsel dengan panggilan Videocall dari Richard pun berbunyi. Elva sengaja tidak mengangkatnya. Matanya masih sembab dan ia pun belum menggunakan make-up untuk menutupinya.


Richard


Kenapa?


Elva


Mau mandi yang

__ADS_1


Richard


Tumben, biasanya mandi subuh.


Berangkat kuliah jam berapa? Nanti aku antar


Elva


Lagi males mandi subuh


Jam 9


Chatt berakhir, Elva meletakkan ponselnya di meja. Ia kembali menyeruput teh hijau diselingi dengan memakan biskuit. Entah rencana apa yang akan ia buat untuk menjebak kekasih dan sahabatnya itu.


Jam menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Elva mulai bersiap supaya Richard tidak terlalu lama menunggunya nanti. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi meja rias miliknya. Diambilnya foundation dan concealer serta alat makeup lainnya untuk menutupi mata sembabnya yang semalaman ia pakai untuk menangisi kekasih dan sahabatnya.


“Awas saja kalian jika terbukti benar selingkuh!”. Tangannya mengepal ingin rasanya bogem ini dihantamkannya ke wajah Richard jika ia benar selingkuh.


Ia melanjutkan memoles wajahnya. Dipakainya bedak padat secara tipis di seluruh permukaan wajahnya. Dan dilanjut dengan memakai liptin berwarna peach senada dengan pakaian yang ia kenakan saat ini. Rambutnya ia biarkan tergerai memakai bandana berwarna hitam.


Di lain tempat Hermawan sedang melakukan perjalanan bisnis ke kota X. Ada beberapa urusan pekerjaan yang harus segera ia selesaikan disana.


“Gino, bagaimana menurutmu tentang Tuan Heksa?”. Hermawan membuka percakapan dengan Gino.


“Tuan Heksa orang yang cerdas. Aku dengar dulu ayahnya memiliki beberapa perusahaan. Namun bangkrut hanya sisa satu perusahaan retail yang belum lama di bangun. Hanya saja ayah Tuan Heksa meninggal dan Tuan Heksa yang bekerja keras membangun perusahaan tersebut hingga berkembang pesat sampai memiliki cabang di luar negeri”.


“Hmm... “. Hermawan terdiam dan kembali melihat sisi kiri jalan.


“Maaf Tuan, apa tuan meragui kerjasama dengan Tuan Heksa?”. Tanya Gino


“Tidak. Hanya saja wajahnya tidak asing. Seperti saya pernah bertemu dengannya”.


Gino hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan kembali fokus menyetir.


Sampai di tempat tujuan Gino langsung turun dan membukakan pintu mobil atasannya. Mereka berjalan menuju gedung perusahaan XX bertemu dengan kliennya.


.


.


.


Di rumah Elva masih setia menunggu kedatangan Richard yang akan mengantarnya ke kampus. Ia mengambil ponselnya yang tadi ia masukkan ke dalam tas. Di carinya dalam kontak nama Richard kemudian ia menekan tombol hijau untuk menyambungkan teleponnya.


Nada telepon tersambung dan tak lama langsung diangkat oleh Richard.


Elva


Dimana Rich?


Richard


Sebentar lagi aku sampai. Aku baru mau masuk komplek rumahmu yang


Elva


Oke!


Klik. Sambungan telepon terputus.


Selang waktu dua menit suara mesin mobil terdengar diluar rumahnya. Seketika Elva keluar menghampiri mobil tersebut yang ia yakini adalah kekasihnya.


Richard keluar dari mobilnya menghampiri dan langsung membukakan pintu untuk Elva. Ia kembali duduk dibelakang kemudi sambil memasang seat belt untuk siap berkendara.


“Yang, hari ini pulang jam berapa?”. Tanya Richard membuka percakapan.


“Kemungkinan pulang jam empat sore deh. Kenapa?”.


“Hmm... Jam segitu aku tidak bisa jemput. Sedang ada urusan”.


“urusan apa?”. Tanya Elva kembali.


“Papa minta tolong menemaninya bertemu dengan kliennya”. Jawab Richard.


“Dimana?”. Timpal Elva.


“Kurang tahu yang. hanya tadi papa bilang aku


minta untuk ikut dia bertemu kliennya.


“Hmm”. Gumam Elva.

__ADS_1


“Kok hmm?”. Tanya Richard.


“Nothing, kamu hati-hati ya”.


“Iya, lagian aku juga harus terus belajar bisnis supaya aku bisa minimal seperti papa. Kalau bisa ya aku harus lebih dari papa”.


“Hehehe.... Iya. Kamu benar yang”. Ucap Elva.


Mereka terus berbincang selama perjalanan menuju kampus. Elva nampak biasa saja seperti ia tidak mengetahui apa-apa tentang Richard. Ia harus terlihat profesional jika ingin berhasil menjebak kekasihnya tersebut.


“Sudah sampai yang”. Ucap Richard.


“Oh iya”. Timpal Elva.


“Belajar yang benar ya jangan banyak jajan. Tuh liat pipi udah kayak balon”. Ledek Richard sambil mencubit pipi kanan Elva.


“Ih, kamu ngeselin deh, masa pipi aku di samain sama balon”. Elva mencubit pinggang Richard kemudian mereka tertawa bersama.


Elva bersiap memakai tas dan merapikan pakaian serta rambutnya terlebih dahulu ketika hendak keluar mobil.


“Yang...”. Panggil Richard dengan manjanya.


Seketika Elva menoleh ketika hendak membuka pintu mobil.


“Ada apa lagi?”. Tanya Elva


Richard memanyunkan bibirnya berharap Elva mau mencium nya.


“Ogah! Nih cium!”. Elva menjepit bibir Richard dengan jari tangannya.


“Isshhh. Ngeselin!”. Richard menggerutu.


“Biarin. We.... “. Elva menjulurkan lidahnya meledek Richard dan langsung keluar dari mobil.


“Awas ya nanti!”. Ucap Richard sambil menunjukkan telunjuknya pada Elva. Kemudian ia bergegas keluar dari parkiran kampus.


Elva berjalan memasuki gedung kampus tempatnya belajar. Banyak mahasiswa yang bercengkrama bersama temannya di pinggir jalan. Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya hingga Elva terkejut.


“Hey!”. Suara wanita yang tak asing baginya mengagetkannya ketika berjalan.


“Maria!. kau bikin aku shock tau!. Untung aku tidak punya riwayat lemah jantung”. Ucap Elva dengan nada setengah marah.


“Sorry beb. Lagian kamu jalan sambil melamun, tidak melihat kanan kiri".


“Ya, habisnya aku mau liatin siapa? Ga ada yang menarik juga disini. Jawab Elva.


“Huu.... Sombong bener sohibku yang satu ini. Heheheh....”. timpal Maria.


“Ah, berisik. Yuk masuk kelas!”. Ajak Elva.


.


.


.


Mata kuliah pertama sudah selesai Elva dan Maria menuju kantin untuk makan siang bersama. Mereka duduk di pojok sambil menikmati pemandangan taman disamping kantin.


“Elv, mata kuliah selanjutnya aku ga ikut”. Ucap Maria.


“Why?”. Tanya Elva.


“Aku mau antar mama jenguk sahabatnya yang kecelakaan kemarin”.


“Oohh... Di rumah sakit mana?”. Tanya Elva kembali.


“Mama tidak memberitahu. hanya mengatakan minta antar besuk teman mama yang kecelakaan”.


*Kenapa jadi samaan gini dengan Richard. Ditanya dimana pun jawabnya sama-sama tidak ta*hu. Batin Elva.


Elva hanya mengangguk saja sambil melanjutkan makannya.


“Mar, aku ke toilet dulu mau buang air kecil. Kamu lanjut aja makannya”. Ucap Elva sambil terburu-buru beranjak dari kantin.


“Oke deh”. Jawab Maria.


Langkah Elva sudah tak terlihat. Nampak Maria mengambil ponsel miliknya di tas. Sepertinya ia menelpon seseorang entah itu siapa. Yang pasti ia sangat senang berbicara dengan seorang di seberang sana.


Sepuluh menit kemudian Elva kembali setelah dari toilet. Ia berjalan pelan menuju mejanya dan berdiri tepat dibelakang Maria dimana Maria masih asyik mengobrol di ponselnya.


Elva langsung memukul pundak sahabatnya itu. Maria sangat terkejut menoleh kebelakang.

__ADS_1


“El...El... Elva!”. Maria gelagapan menyebut nama sahabatnya.


Bersambung


__ADS_2