Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Kerja sama


__ADS_3

Kebetulan hari ini Fatir mengadakan kerja sama dengan investor dan akan menandatangani surat kerja sama. Fatir bergegas mempercepat perjalanannya mengingat waktunya mulai mepet.


Dan ini kesempatan yang baik di saat keuangannya menipis akibat di pakai bayar biaya Rumah sakit.


Setibanya di lokasi Fatir langsung mengajak adik-adiknya Adam dan Sidar untuk ikut menandatangani kerjasama tersebut.


"Mas, kenapa kami harus ikut menandatangani nya? kan itu biasanya Mas saja. Kami tidak tahu apa-apa." Protes Adam dan di mendapat anggukan dari Sidar.


"Kalian harus menjadi saksi biar bila mana Mas tidak ada atau gimana lah. Kalian mampu menggantikan posisi Mas. Kalian harus belajar bertanggung jawab," ungkap Fatir dan membawa sebuah berkas ke ruangan dimana tamunya berada.


Ketiganya berjalan menuju ruangan yang akan mereka gunakan untuk transaksi.


"Selamat siang? maaf saya telat dan maklumlah habis pulang dari Rumah sakit. Silakan duduk kembali." Fatir menunjuk tempat duduk yang tadi ditempati oleh tamunya.


"Terima kasih. Ooh tidak apa-apa kok," ucap tamunya Fatir.


"Oh iya, kenalkan ini Adam dan Sidar, keduanya adik saya dan ... tentunya mereka akan terlibat dengan bisnis ini.


"Senang bisa kenal dengan kalian." Ketiganya saling berjabat tangan.


Setelah mereka terlibat dengan perbincangan yang cukup serius tentang usaha yang sedang dijalankan dan mendekati kesepakatan.


"Gimana dengan rencana kerja sama kita? semoga anda berminat?" ucap Fatir menatap penuh harap.


"Tentu saya sangat berminat dan menurut saya semua hidangan yang anda suguhkan sangat enak, saya yakin akan berkembang dengan cepat," balas pria yang berperawakan tinggi besar itu.


Akhirnya kesepakatan kerjasama pun terjadi. Seperti semula Adam dan Sidar pun turut mendatangani surat kerja sama tersebut dengan harapan keduanya dapat menggantikan posisi Fatir dikala tidak ada di tempat.


"Senang dapat kerja sama dengan anda?" ucap Fatir sambil mengulas senyumnya.

__ADS_1


"Iya, sama-sama, semoga lancar." balasnya investor tersebut.


Pertemuan berakhir. Tamu pun pulang, tinggal Fatir, Adam dan Sidar di tempat tersebut. "Mas harap kalian berdua dapat bekerja sama dengan baik, terutama bertanggung jawab atas berlangsung nya usaha kita ini. Berusaha untuk berkembang sehingga mendapat keuntungan yang banyak," ujar Fatir. Menatap kedua adiknya.


"Mungkin Mas tidak bisa di sini terus menerus, jadi kalianlah yang menggantikan, Mas. Kelola dengan baik, dengan ikhlas jadilah pedagang yang jujur dan amanah.''


"Ah malas ah, Mas ini kaya mau kemana saja? ngeri dengernya." Sidar merasa jengah. "Mendingan aku kerja saja lah."


Sementara Adam masih di sana berdiri mendengarkan perkataan sang kakak.


"Satu lagi. Mas titip mbak dan baby Vivian," akhir kalimat Fatir.


"Mas ini mau kemana sih? mau mengembara apa? benar kata Sidar. Ngeri, Mas aku dengar nya. gak ada obrolan lain apa? yang lebih menarik gitu." Adam pun tidak jauh beda dengan Sidar yang malas mendengar omongan Fatir yang mereka anggap kurang enak di dengar.


Di sela kesibukannya Fatir ke mushola yang tidak jauh dari kedai untuk melaksanakan salat yang lima waktu itu. Setelah itu Fatir kembali ke kedai dan menyuruh semua pegawainya termasuk Sidar dan Adam untuk salat bergantian.


"Sesibuk apapun kita, jangan pernah tinggalkan salat mu sebelum kamu disalatkan. Dan aku sebagai atasan di sini perintahkan pada kalian untuk tidak meninggalkan salat, ibadah mu." Jelas Fatir pada pekerjanya.


Mobil yang dikendarai Fatir begitu cepat berlari menembus hujan yang begitu deras membasahi bumi. Jalan juga begitu licin dan mengerikan bila tergelincir. Membuat Fatir sangat hati-hati.


Akhirnya Fatir tiba juga di rumah Viona dan segera turun setelah memasukan mobil ke dalam garasi. "Oya, pak. Besok pagi tolong ambilkan motor saya di apartemen ya?"


"Ooh, iya siap Den." Supir mengangguk.


"Assalamu'alaikum ..." Fatir memasuki pintu belakang. Di sana ada bi Ijah sedang beberes bekas makan malam.


Di ruang tengah berkumpul, Bu Asri, Oma. Bu Afiah dan Sya.


"Sudah pulang, Nak?" sambut bu Afiah pada putranya.

__ADS_1


Fatir segera menyalami ketiga wanita itu dengan penuh hormat. "Kalian sedang nonton?"


"Iya, kamu pasti belum makan? makan dulu mumpung masih hangat," ucapnya Oma Yani.


"Nanti saja, Oma. Di luar hujan deras." Balas Fatir.


"Sya bikinkan, Masnya minuman. hangat ya Nduk." Bu Afiah menatap ke arah Sya yang begitu anteng dengan acara televisi.


"Baik, Bu." Sya beranjak berjalan ke belakang.


"Fatir ke atas dulu ya?" pamit Fatir sembari melangkah dengan cepat menaiki tangga yang harus dilalui untuk menuju tempat sang istri berada.


Semua kembali mengarahkan pandangan ke televisi, setelah Fatir naik ke atas.


Fatir perlahan mendorong handle pintu takut mengganggu yang ada di dalam. "Assalamu'alaikum?"


Tampak baby Vivian tengah tertidur di tempatnya dan Viona sedang berdiri sepertinya baru selesai berganti pakaian tidur.


Fatir mengunci pintu lalu berjalan mendekati sang istri yang berdiri depan cermin rias. Ia peluk dari belakang. "Em, kangen." Bisik nya di telinga Viona.


Viona melihat Fatir dari cermin yang berada di depannya. Tangannya mengusap rahang Fatir. "Kangen? beberapa jam saja berpisah sudah bilang kangen." Bibirnya mesem.


"Ndak boleh ya kangen sama istri hem?" lirih Fatir seraya memberi kecupan kecil di leher samping Viona.


"Em ... gak boleh." Viona pura-pura ketus dan memajukan bibirnya ke depan.


Fatir memudarkan pelukannya dan tangan Fatir memutar tubuh sang istri agar menghadap padanya. Jemarinya menjepit dagu sang istri yang bikin dia tambah gemas. "Kenapa sih tiap hari bikin aku tambah gemas saja hem?" Cuph! kecupan singkat mendarat di bibir Viona.


"Kamu kena hujan bukan?" tanya Viona menatap lekat tanahnya mengusap kepala Fatir.

__ADS_1


Fatir menggeleng. Namun ia merasa sangat kedinginan sekali .


"Ndak lah, kan aku bawa mobil. Tapi tubuhku dingin banget nih." Sambil memeluk tubuh Viona sehingga ada sedikit rasa hangat yang dia dapat dari tubuh sang istri ....


__ADS_2