
Keduanya terkadang berlarian dan bercanda. Saling kejar mengejar begitu nampak romantis dan bahagia. Di tempat yang tidak begitu jauh dari motor Fatir, ada mobil yang lebih dulu terparkir di sana. Ya, Viona sudah lebih dulu berada di sana.
Di bibir pantai, Viona duduk termenung. Dengan santai tangannya berada di atas lutut. Menikmati suasana senja, langit yang mulai memerah. Angin yang sepoi-sepoi menyapa kulit Viona yang mengenakan atasan pendek berwarna biru tuan dan celana pendek selutut warna senada, favoritnya.
Manik matanya menatap indahnya deru ombak yang kecil menyapu bibir pantai yang terkadang sampai menyapu kakinya. Di langit burung-burung menari sangat bahagia menikmati langit senja.
Mulanya Fatir pun tak melihat keberadaan Viona. Viona pun sama sekali tak memperhatikan orang-orang sekitar, dia fokus menikmati kesendirian yang mungkin akan segera berakhir dengan sebuah ikatan pernikahan, meskipun setelah menikah tak akan saling mencampuri urusan masing-masing. Tapi tetap saja status ia seorang istri yang setidaknya mempunyai batasan.
Bagaimanapun Viona bisa menilai, kalau Fatir itu sosok yang bertanggung jawab terhadap keluarga. Mungkin juga terhadap istri, Viona menarik napas dalam dan kemudian ia lepaskan dengan pelan.
Sekilas, Fatir menoleh ke arah wanita yang berambut panjang bergelombang, dialah Viona yang sedang duduk melamun begitu anteng. Walaupun dari jauh dan sekilas, Fatir hafal betul kalau wanita itu Viona. Sosok wanita yang dengan hitungan hari akan menjadi istrinya.
Deg!
"Sama siapa dia di sini?" batin Fatir. Diam-diam ia terus memperhatikan ke arah Viona.
"Ada apa Mas?" tanya Soraya heran. Menatap sang kekasih.
"Oh, nggak. Itu ombak indah sekali." Elaknya sambil memberikan sebuah senyuman. "Pulang yu? sudah sore."
"Loh ... Mas, baru saja datang? belum lama nih." Soraya dibuat kecewa.
"Sudah sore, bentar lagi juga maghrib kan? aku juga gak minta ijin dulu sama keluarga mu, nanti aku di marahin, sudah menculik putrinya." Fatir beralasan. Manik matanya sesekali melihat ke arah Viona yang begitu anteng dan sesekali juga merapikan rambutnya yang terbawa angin.
"Iih ... aku masih kangen. Kita sekarang jarang bertemu loh Mas," Soraya mendongak. Menatap sang kekasih hati.
"Kita sama-sama sibuk, oya kaki kamu gimana?" netra mata Fatir bergerak melihat kaki Soraya yang waktu itu terkilir.
"Sudah sembuh kok." Soraya melihat kakinya.
"Ya udah, kita pulang sekarang nanti keburu maghrib." Ajak Fatir menarik tangan Soraya. Lagi-lagi matanya melirik ke arah Viona yang masih dengan posisi yang sama.
Soraya pun gak bisa menolak sang kekasih yang mengajaknya pulang. "Huuh. Masih betah juga, Lain kali ke sini lagi ya?"
"Iya, insya Allah." Gumam Fatir sambil terus berjalan.
Fatir mengenakan helm nya. Dengan mata tertuju pada mobil Viona yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
Dengan tidak membuang waktu, Fatir langsung membawa Soraya pulang dan langsung diantar ke rumahnya.
"Dari mana Nduk? jam segini baru pulang," tanya sang ibu langsung menyambut kedatangan putrinya.
__ADS_1
"Habis jalan-jalan sama Mas Fatir Bu," sahut Soraya menghampiri.
"Maaf, Bu. saya gak bilang dulu, sebab gak ada rencana sebelumnya. Cuma Soraya yang datang menemui ke tempat jualan." Fatir merasa gak enak pada ibunya Soraya.
"Yo wes, ndak apa-apa yang penting kalian sudah kembali, Nak Fatir sudah mengantar anak ibu dengan selamat."
"Nak Fatir, sini? kita main catur bareng bapak." Ayahnya Soraya melambaikan tangan dari dalam.
Fatir mengangguk hormat. Dan langsung pamit kembali, dengan alasan. Takut kemalaman.
"Masuk dulu ya Mas?" Soraya menggenggam tangan Fatir erat. Matanya menatap lekat wajah sang kekasih. "Eh kok ada yang aneh ya? kamu ganti minyak wangi ya, baunya lebih wangi. Segar, baunya awet lagi." Soraya jadi mendengus mencium bau badan Fatir yang berubah.
"Em, iya. Ganti," sahut Fatir. agak was-was khawatir jadi pertanyaan lagi, maklum Soraya itu orang kemal ( kepo maksimal.
"Ini sih, seperti parfum mahal, tumben?" mengerutkan keningnya.
"Sudah ya aku pulang dulu." Fatir langsung pergi yang sebelumnya bersalaman pada bu Siti dan suami.
Soraya menatap punggung Fatir dengan hati bertanya-tanya kok wangi parfumnya ganti dan seperti parfum mahal. Ia menggeleng pelan.
Fatir yang sengaja menghindar, tak ingin di interogasi cuma gara-gara parfum doang. Motor Fatir terus melaju hingga tak terasa tiba di teras rumah yang sepi.
"Anak-anak sepertinya belum pulang dari rumah sakit atau baru pergi." Gumam Fatir sambil membuka pintu, ia langsung ke kamar mandi tuk bersih-bersih dan salat maghrib.
"Wah ... Mas duduk di singgasana, mana permaisurinya Mas?" Sidar antusias melihat Mas nya yang tengah duduk santai.
"Kalian sudah pulang lagi?"
"Sudah Mas, maunya sih nginep di sana. Enak tempat tidurnya empuk-empuk--"
"Sofanya nya juga Mas empuk banget. Bikin adem dan nyenyak tidurnya, tapi sekarang di sini juga sudah ada sofa empuk. Ah ... enak tiduran." Sidar memotong perkataan Adam. Kemudian selonjoran di sofa panjang di depan Fatir.
"Sofanya, sudah empuk. Tapi tempat tidurnya masih keras." Keluh Adam.
"Syukuri yang ada," ucap Fatir datar.
Terlintas diingatan Fatir, akan Viona yang yang tadi ia lihat di pantai duduk melamun dalam kesendirian. Mungkin Viona sama sekali tak melihat keberadaan Fatir waktu itu. "Sudah pulang belum ya dia?" gumamnya dalam hati.
Kedua adiknya saling pandang melihat sang kakak yamg anteng melamun. "Mikirin apa, Mas melamun?" tanya Sidar.
"Paling mikirin mbak Soraya yang barusan di ajak jalan-jalan boncengan." Timpal Adam.
__ADS_1
"Nggak, Mas Adam. Sidar tahu yang sedang Mas Fatir lamun kan, yang sedang Mas Fatir pikirkan saat ini, pasti mbak cantik lah. Secara hari ini tak ada ketemuan." Sidar sok tahu.
Fatir hanya Mesem. "Kalian itu sok tahu. Mas cuma pikirkan Hesya dan ibu di Rumah sakit." Elak Fatir ngeles. Padahal yang di katakan Sidar itu benar. Hati Fatir sedikit gusar dibuatnya.
Sidar iseng menelpon Viona yang langsung diangkat. "Mbak di mana?"
Viona: " Di rumah. Kenapa?"
"Ah nggak sih, Mbak cantik Ini Mas Fatir kangen--"
"Dar, apaan sih?" Fatir membungkam Mulut Sidar agar tak keterusan bicara.
"Em, em ...Mas Fatir kangen sama m ... bak cantik!" Sidar berontak melepas tangan yang menutup mulutnya.
Telepon pun terputus. "Mas jujur aja kalau kangen sama mbak cantik." Goda sidar.
"Kamu jangan macam-macam ya?" ancam Fatir pada Sidar.
"Mas, mbak Soraya gimana? dia masih pacari, apa tak pilih salah satunya Mas!" tanya Adam sambil membaringkan diri di sofa.
"Entahlah, Mas juga bingung." Fatir menghela napas panjang.
****
Pagi-pagi Viona sudah siap untuk pergi ke kantor, dengan setumpuk kartu undangan yang siap di sebarkan. Sebelum berangkat terlebih dulu sarapan yang sudah di siapkan oleh bi Ijah.
"Sayang, hari ini kamu mau ke mana setelah pulang kerja?" tanya bu Asri pada Viona.
"Sepertinya gak ada Mah. Tapi gak tahu juga, emang kenapa?" Viona menoleh sang ibunda.
"Kita harus belanja, sayang ... banyak yang harus Mama beli."
"Oma juga, belum beli kado buat kamu sayang. Ngomong-ngomong mau hadiah apa dari Oma?"
"Nggak perlu Oma, Vi gak butuh apa-apa." Viona menggeleng.
"Oma, jadi kepikiran sayang, gimana kalau Oma membeli kado pernikahan mu itu sebuah motor dan itu bisa suami mu pakai. Kasian kalau dia ngantar kamu aja kemarin harus ngojek." Tambah oma Yani.
"Buat apa Ibu beli motor, buat si Fatir segala, nggak-gak. Saya gak setuju," protes pak Rusadi di sela makannya ....
****
__ADS_1
Terima kasih ya sudah mampir di novel ini, semoga suka dan jangan lupa like dan komentarnya.