Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan
Sok tau


__ADS_3

"Mas, ini sehat kok. Tapi ... apa anda perokok?" tanya dokter menatap lekat ke arah Fatir.


Fatir mengangkat kepalanya. "Iya dok, tapi gak perokok berat sih. Cuma kadang-kadang aja he he he ..." Jawab Fatir.


"Oh, sama aja itu namanya perokok. Semoga lebih dikurangi lagi. Demi kesehatan," ucap dokter sambil tersenyum.


"Tapi gak ada masalah kan dok?" tanya oma Yani lagi ingin meyakinkan hatinya.


"Oh, tidak. Nggak ada masalah berat kok, cuma punya riwayat lambung ya?" dokter menatap kembali ke arah pemuda itu, Fatir


"Iya, dok." Fatir mengangguk, membenarkan yang dokter katakan.


"Makanya, kurangi lagi rokok nya, kalau kopi sih, sepertinya gak suka ngopi ya?" ujar lagi dokter.


"Kopi, nggak sih dok! Rokok juga tidak mengganggu loh dok, selama tidak di bakar!" gumam Fatir membuat dokter tertawa kecil.


Kemudian, dokter pun pulang. Diantar oleh bu Asri sampai teras. Di bawah bertemu dengan suami dan anak tirinya yang bernama Rumi, adik Sita. Sita sudah berkeluarga dan punya anak satu laki-laki bernama Aldi. Sementara Rumi belum lama bercerai dari suaminya, gegara sang suami nganggur.


"Viona kenapa Mah?" tanya Rumi menatap bu Asri yang berjalan gontai.


"Itu, cuma kecapekan. Sita ke mana?" bu Asri melihat kanan dan kiri.


"Oh, Sita ke alfamart. ngantar Aldi merengek terus pengan jalan ke sana." Jawab pak Rusadi. "Itu si tukang mie ayam sedang apa di atas?"


"Pah ... gak boleh gitu, Fatir habis periksa kesehatan sekalian dengan Vi," tutur bu Asri lemah lembut.


"Memang seperti itu Mah, emang Papa harus panggil pegawai kantoran?" Jelas pak Rusadi.


"Nggak harus gitu juga, walau kerja kantoran. Tetap aja ada bawahan Pa." Bu Asri langsung ngeloyor ke dapur menemui bi Ijah.


"Bi, bawakan air teh hangat buat Fatir sama kue nya sekalian. Kasian dari tadi di anggurin.


"Aduh, maaf Nyonya. Dari tadi Bibi sibuk, ada aja yang Non Rumi suruh kan. Baik, sekarang Bibi bawakan." Bi Ijah langsung garcep membuat yang sang majikan pinta.


"Iya, gak pa-pa makanya saya suruh sekarang." Bu Asri kembali meninggalkan bi Ijah. Berjalan menuju kamarnya.


Saat ini Fatir sedang berada di kamar tamu, sebelah kamar Viona. Ia numpang salat maghrib pada oma yang masih berada di kamar Viona.


Netra mata Fatir mengitari ruangan tersebut yang tampak luas dan mewah. Kemudian ia bangkit dan melipat sajadah, ia membawa kembali langkahnya keluar dari kamar tersebut.


Fatir berdiri di depan pintu, ia tampak ragu-ragu untuk masuk ke kamar Viona. Pintu itu terbuka setengahnya, Ia tertegun lalu mengayunkan langkah kaki hendak duduk di sofa.


"Nak Fatir, kenapa gak masuk. Itu teh hangat ada di dalam," suara bu Asri mengagetkan Fatir.


Fatir gak jadi duduk, namun mengikuti langkah bu Asri memasuki kamar Viona, dimana sang empu masih tertidur. Terlihat kilatan air keringat yang menghiasi pelipis dan leher Viona.

__ADS_1


Fatir duduk di sofa sambil netra matanya mencari keberadaan oma yang gak ada di sana. "Oma mana Tante?"


"Oh, oma di kamarnya." Balas bu Asri. "Diminum teh nya Nak Fatir!"


"Oh, iya. Makasih?" ucap Fatir, lalu meneguknya, matanya tertuju pada Viona yang belum bangun juga. Hatinya sudah gusar, ingin segera pulang. Rasanya risih lama-lama di sana.


"Tante, saya mau pa--"


"Aduh ... calon pengantin kenapa nih?" suara Alisa memotong perkataan Fatir.


Alisa datang karena mendapat berita dari bu Asri kalau Viona sakit. Lantas Alisa datang dengan sang suami, Darma.


"Nak Al, katanya kecapekan aja." Jawab bu Asri. "Setelah minum obat tidur, biar obatnya bereaksi."


"Oh, apa kabar tante?" Alisa menyalami bu Asri, lalu berpelukan, mencium pipi kanan dan kiri.


"Tante, baik Al. Nak Darma, duduk!" bu Asri menyilakan Darma duduk.


Darma mengangguk. Menoleh ke arah Fatir. "Kau masih di sini?"


"Iya, ini juga mau pulang." Jawab Fatir.


"Sudah. Nanti saja pulangnya bareng, gak bawa motor kan?" Darma kembali menatap sanga sahabat.


"Nggak," sahut Fatir. Kembali meneguk teh nya.


"Aku gak enak lama-lama di sini, risih Dar, apalagi sama om Rusadi. Tatapannya aja gak bersahabat." Bisik Fatir.


"Tak apalah, yang penting, kan yang lainya sudah welcome sama kamu. Jangan banyak pikiran, semua kekayaan ini milik oma Yani dan keturunannya. Mantu seperti om Rusadi juga cuma numpang di sini," suara Darma sangat pelan. Matanya tertuju ke arah bu Asri dan sang istri yang tengah berbincang.


"Ah, kamu sok tahu Dar." Desah Fatir.


Viona pun terbangun, membuka mata indahnya. Terbangun di kejutkan dengan suara Alisa. Kemudian matanya mengitari seluruh ruangan dan langsung bertemu mata Fatir yang kebetulan melihatnya, sebentar menunduk.


"Hadududuh ... ini calon manten kenapa? jangan sakit dong, lusa loh hari H nya. Masa sakit!" ucap Alisa dicampur candaan.


"Dasar. Emangnya kau pikir, sakit itu bilang-bilang dulu apa! kalau biang sih langsung ku tolak lah." jawab Viona dengan suara seraknya.


"Gimana, sekarang sudah agak baikan, kan? Secara di tungguin sama ayang." goda Alisa sambil menunjuk ke arah Fatir dengan dagunya.


Manik mata Viona terbelalak dengan sempurna pada Alisa. "Apaan sih?" lalu mengibaskan selimut tebalnya, turun menapaki lantai.


Bu Asri tersenyum mendengar Alisa yang menggoda Viona. Oma Yani datang dan tersenyum ketika kedua matanya melihat cucu kesayangan sudah bangun.


"Gimana, cucu Oma dah sehat?"

__ADS_1


Viona yang mau masuk kamar mandi pun menoleh. "Iya, Oma. Aku dah baikan kok." Lalu hilang di balik daun pintu.


Fatir berdiri menghampiri bu Asri dan oma. "Oma, Tante. Saya pamit dulu, gak enak ninggalin jualan. Terlalu lama. " Pamit Fatir.


"Aduh, makasih ya Nak Fatir sudah mengantar kami pulang. Nanti aja pulang, kita makan malam dulu," ucap oma Yani.


"Iya, Nak Fatir jangan dulu pulang. Sebelum makan malam. Bi Ijah sudah siapkan makan." Bu Asri bertutur lembut.


"Tapi--"


"Nanti aja bareng kita," timpal Darma.


Tatapan mata Alisa mengarah pada Fatir. "Gimana nih? bukannya temenin ayang, sudah tahu sakit. Malah di tinggal, gimana sih? parah."


Fatir menundukkan pandangan, pada akhirnya mengangkat wajahnya kembali sambil mesem. "Belum halal, Al. Yang ada malah jadi masalah nanti."


Alisa mengangguk pelan seraya berkata. "Em ... iya sih, top." Mengangkat jempolnya. Di arahkan pada Fatir.


Akhirnya. Fatir pulang dan memilih ngojek saja, dari pada nunggu Darma dan Alisa yang kemungkinan masih lama.


Fatir bergegas membawa langkahnya, berjalan keluar dari rumah mewah itu. Namun di ruang tengah bertemu dengan pak Rusadi yang tengah duduk santai, Ia pun menghampiri dan berpamitan pada pak Rusadi. Walaupun sikapnya tidak mengenakan namun sudah sepantasnya ia hormati.


"Pergilah, di sini kamu belum jadi siapa-siapa!" ucap pak Rusadi degan nada yang kurang mengenakan hati.


Deg!


"Ini, calon Vi ya? tampan juga Pa. Imbang lah dengan Mas ku," menatap sinis pada Fatir, dengan tangan di dada dan kaki melangkah. Tampak angkuh.


Fatir hanya mengangguk hormat, lalu berlalu dari tempat itu. Tidak lupa mengucap salam yang di jawab pak Rusadi dengan ketus.


Viona keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Berjalan mendekati tempat tidurnya. Dan Alisa masih betah duduk di sana.


"Lama amat di kamar mandi nya? ayang keburu pulang noh." kata Alisa sambil mesem.


Mata Viona melirik ke tempat asal Fatir duduk yang kini kosong. "Biarlah. Ke rumah nya kok."


"Eh Vi. Nanti setelah menikah, mau tinggal di sini atau di apartemen? secara bokap mu itu kayanya gak suka sama Fatir," ungkap Alisa pelan. Kebetulan di sana cuma bertiga dengan Darma.


"Ngapain di apartemen? di sini juga luas kok banyak kamar kosong juga. Kuat syukur, gak kuat? ya tinggalkan saja, simpel kok." Jawab Viona sambil menggoyangkan bahunya.


"Huus, jangan gitu. Nanti nyesel loh." Alisa menggeleng.


Darma mengangguk. "Jangan salah. Dia itu diam-diam menghanyutkan loh, makanya cewek dia nempel terus. Sampai bertahun-tahun masih awet."


Viona menatap ke arah Darma, rasanya ingin bertanya tentang cewek Fatir. Namun lidahnya terasa kelu tuk bicara, derap langkah kaki yang begitu nyaring terdengar dari luar kamar ....

__ADS_1


****


Hi ... apa kabar semuanya? semoga kabar baik ya terus dukung aku ya🙏


__ADS_2