Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
100. Hamil (LAGI!?!!)


__ADS_3

"sayang... apa ini sudah ada? " ucapnya mengelus perut Gia.


"aku enggak tahu mas"


"boleh aku minta yang kemarin jangan di ulang? "


"mas... aku akan usaha sebisa aku,biar bagaimana pun dia laki laki terhebat dalam hidupku sebelum kamu."


"aku mau kamu tahu satu kenyataan, tapi berjanjilah untuk tidak membencinya." mendengar ucapan suaminya Gia langsung menoleh penuh tanda tanya, "berjanjilah... "


"yeah... aku berjanji."


"dengar baik baik... kakak mu itu jatuh cinta padamu sebelum aku datang dalam hidupmu"


"hah... Gila! jangan ngaco kamu mas"


"dengarlah... " ucap Rian menyodorkan ponselnya, Gia hampir tidak pernah menyentuh ponsel sang suami.


Gia mendengarkan perdebatan antara suaminya dan sang kakak tercinta di sana, bahkan Bagus sempat mengatakan mencintai keduanya dan rasa itu justru ada setelah dia menikah dengan Risa. betapa terkejutnya Gia karena dia hafal sekali dengan suara kakak nya itu, tanpa terasa air matanya jatuh,kecewa dia sangat kecewa karena kakak nya bisa mengatakan hal itu, dia merasa bersalah pada kakak perempuannya karena kakak iparnya bisa jatuh cinta pada dirinya, 'apa karena kami terlalu dekat, hingga aku tak dapan membedakannya?' batin Gia.


"don't cry beb" ucap suaminya menghapus lelehan air mata itu dan menciunm kedua matanya, "dengerin aku... jangan benci dia, seperti yang kamu bilang dia laki laki hebat yang bisa jaga kamu sebelum aku datang dalam hidup kamu, jangan salahkan dia karena rasa sayang memang tidak bisa kita cegah kapan dan pada siapa dia akan datang, yang bisa kita lakukan hanya mencegah agar rasa itu tidak tumbuh lagi sayang,itu sebabnya aku memintamu untuk mengontrol sikapmu, agar rasa itu tidak tumbuh. kamu mengerti kan maksud ku? " ucap Rian sangat lembut pada istrinya.


"yeah... aku mengerti, Terima kasih untuk kepercayaan mu mas"


"no... aku yang berterima kasih karena kau tetap mau bersama ku yang keras kepala ini dan aku mohon... jangan pernah berfikir untuk pergi! tetaplah bersamaku"


Gia tersenyum mendengar penuturan sang suami,dia mendekatkan wajahnya ingin mengecup bibir suaminya, tapi sayang dia kalah cepat karena sang suami sudah menangkap tengkuknya dan memperdalam c**man itu dari lembut hingga menuntut melakukan hal yang lebih lanjut. hal itu membuat malam mereka menjadi sangat panjang yang terisi dengan suara erangan kenikmatan hingga menciptakan berkali kali pelepasan.


...****************...


tak terasa setahun sudah Gia berumah tangga, tepat pukul 00 Rian yang sedang di luar kota menelfon Gia "happy wedding anniversary sayang" mendengar itu Gia langsung tertawa, dia merasa seperti menikah dengan ABG yang selalu menghapal ini itu.


"Terima kasih sayang, kamu juga happy wedding, Terima kasih masih mau bertahan sama aku"


"ngomong apa sih kamu! kita bakal sama sama terus, dalam keadaan apapun! "


"hahahaha... yaudah, istirahat gih! "


"aku mau nya istirahat sama kamu"


"hem hem... mana bisa sih"


"bisa dong... kamu ke pintu sekarang"


"kamu jangan bercanda deh" ucapnya sambil melangkah ke arah pintu,dia memang merindukan pria nya, sudah sepuluh hari dia bertugas di luar kota,hanya berkabar melalui ponsel. Rian sudah mengatakan padanya jika dia ingin menyusul, Rian akan menyediakan tiketnya untuk nya tapi Gia menolaknya dengan alasan tidak ingin menganggu.



Inilah yang ada di depan pintu saat Gia membukanya.




Hanya ada tiga benda itu tanpa kehadiran suaminya.


"wow... surprise yang luar biasa sayang... " Gia menutupi rasa kecewa, karena dia sangat berharap Rian yang datang.


"I'm so sorry Hunny"


"it's okay mas... " ucapnya sambil membawa masuk hadiahnya satu per satu.


saat mengambil barang terakhir, lalu membawanya masuk, Gia terkejut saat hendak akan menutup pintu, ada Rian yang sedang berdiri sambil merentangkan tangannya. tanpa berfikir panjang Gia langsung masuk ke dalam pelukkan sang suami.


"kau merindukan ku? " tanya nya masih sambil menggendong istrinya.

__ADS_1


"tidak"


"tidak??? baiklah, turun sekarang! aku ingin pergi ke orang lain yang merindukan ku"


bukan melepasnya Gia justru mempererat pelukkannya. " I miss you... so... so... so... much"


"aku pun sangat merindukan mu! kalau tidak aku tidak akan meninggalkan pekerjaan dan menemuimu disini.


Rian menc**m b*b*r istrinya dengan lembut, bahkan sangat lembut membuat wanita meleleh, Gia membalasnya dengan sedikit menuntut, menuntut untuk ke sesuatu yang lebih lanjut dan lebih bisa di pertanggung jawabkan.


keesokkan paginya Rian kembali menganggu istrinya, padahal semalam mereka baru menyelesaikan pertempuran itu pukul 3 dini hari yang berarti Gia baru tertidur 3 jam.


"siang ini aku kembali ke Surabaya"


"ya... berangkatlah... "


"ayo kita lakukan lagi, sebelum aku berangkat"


"mas... aku belum tidur, aku kan... "


belum selesai Gia bicara suaminya sudah menyerangnya dan menikmati setiap inci tubuh, setelah itu hanya ada suara hentakkan dan dan erangan kepuasan yang ada di kamar itu.


12.10


Gia terbangun karena bunyi ponselnya, tanpa melihat siapa yang menelpon dia langsung mengangkat.


"kak... ka Gia ke sini ga?"


"hah... ini siapa? aahhh... " Gia terbata karena tangan suaminya dengan nakal memegang sesuatu membuat Gia mengeluarkan des**an nya.


"iihh... kakak ngapain? kan ka Rian di luar kota! " goda Ika.


"apaan sih... " ucap Gia berusaha menetralisir suaranya, "kenapa telfon? "


"mba Risa sakit, kakak engga tahu? "


*de.. kamu ke kedai kan? kakak kurang enak badan. * pesan dari Risa.


*sayang... kakak sakit, aku mau temenin ke dokter tapi dia ga mau, kamu tengok tengok ya! * pesan dari Bagus. membuat Gia langsung menoleh karena dia tahu suaminya ikut membacanya.


"mas... " panggilnya menarik tangan Rian. "mas... Bukan aku yang mulai"


"apa kamu bisa Terima kalau dia aku pukul?"


"jangan dong... kamu tahu ga kalau lagi gini kamu lucu deh, bikin gemes"


"kamu engga usah rayu aku deh!"


"hahaha... mandi yuk,"


rayuan itu pun diterima dengan baik oleh sang suami, tentu saja tidak hanya mandi, begitulah yang diinginkan Rian, sambil menyelam minum air.


Rian menyempatkan diri mengantar Gia ke kedai sebelum dia berangkat, sepanjang jalan Rian berusaha untuk merayu Gia agar ikut dengan nya tapi sangat sia sia, apalagi saat ini Risa sedang sakit, kedai tidak ada yang handle.


Gia minta ijin pada sang suami agar bisa menginap di rumah kakaknya, awal Rian menolak tapi akhirnya dia mengijinkan juga karena dia pun tidak tega membiarkan Gia sendiri di rumah sebesar itu.


"inget... jangan nakal! " ucap Rian saat Gia turun.


"aku?? kamu sayang yg ga boleh nakal! "


"aku engga akan nakal sayang" jawabnya sambil tersenyum.


"hati hati ya mas kabarin aku kalau sudah sampai."


...****************...

__ADS_1


Setelah sampai Gia, langsung tenggelam dengan pekerjaan kedai sampai tak terasa waktu menunjukkan pukul 06.00 sore Waktunya dia untuk pamit karena dia akan melihat Raisa yang sedang sakit,dia menitipkan kedai pada Ika, Ika adalah orang pertama yang bekerja bersama di kedai tersebut dia adalah orang kepercayaan Risa dan Gia.


Iya pulang dijemput sang kakak. awalnya dia akan kembali sendiri tapi karena Bagus mendengar kalau dia makan menginap jadi dia sengaja datang ke kedai untuk menjemput sang adik yang belakangan ini jarang sekali menghubungi dia. sepanjang perjalanan pun hanya diisi dengan kesunyian, beberapa kali dia berusaha mencairkan suasana dengan bertanya tanya kegiatan sang adik tapi sang adik hanya menjawab singkat-singkat saja.


Risa yang melihat kedatangan sama adik langsung ingin menyambutnya dengan gembira karena itu artinya ada yang membantu menjaga anak nya walaupun Bagus sudah menaruh seorang suster untuk membantu mengurus baby tapi Risa tetap lebih suka jika anaknya ada di bawah pengawasan keluarga sendiri.


setelah makan malam dan mengantarkan bisa tidur dia duduk di halaman belakang sambil menatap langit, Bagus menghampiri nya membawa dia cangkir teh hijau.


" Kamu kenapa beberapa hari ini tidak memberi kabar sama sekali sama mas"


" nggak apa-apa cuma lagi sibuk aja!! soalnya aku ada rencana untuk ikut kelas program kehamilan lagi pula kasian juga Rian udah kepingin banget punya baby."


" tapi kenapa aku merasa kamu lagi menghindar dari aku"


"hahahaha perasaan kamu aja! "


"apa aku ada salah? " ucapnya lagi tanpa perduli komen sang adik, "bukan kah kita tidak terbiasa menyelesaikan sesuatu dengan diam? kamu sendiri yang ajarin itu ke aku dan Risa"


"aku cuma... " jawaban Gia terpotong oleh suara ponselnya, "aku angkat telfon"


"*ya mas... "


"aku sudah sampai"


"okey... istirahat gih, aku juga mau istirahat" baru selesai Gia bicara, Bagus sudah bersuara.


"jangan di tinggal lama lama nanti ada yang ambil"


hening...


"mas... aku... "


"dimana Risa? " tanya Rian, tanpa mendengar Gia.


"dikamar, aku di halaman"


Rian menarik napas panjang lalu "aku tidur dulu! kamu istirahat! salam buat Risa dan Bagus.


MATI*...


" mas... ada yang mau aku tanya" ucap Gia setelah Rian menutup teleponnya, Gia bukan tidak percaya dengan apa yang sudah dia dengar dari Rian, dia hanya ingin memastikan hal itu langsung dari mulut orang nya.


"ouh... terdengar serius" ucapnya meneguk teh.


"apa benar mas sempet suka sama aku tapi mas pun menyanyangi Risa? "


"siapa yang bilang sama kamu? "


"enggak penting siapa yang bilang, yang penting kamu jawab"


"iya de! "


"iya??? iyaaaa??? udah gila kamu mas! "


" dulu de... sekarang perasaan itu sudah aku kubur sedikit demi sedikit karena aku engga mau menyakiti kalian berdua,kaya sekarang ini, aku yakin kamu pasti marah karena dengar itu dan kamu dengar dari orang lain."


Gia pamit duluan untuk istirahat, Gia berusaha se netral mungkin, sebenarnya Gia mencoba menasehati Bagus tentang perasaan yang dia rasa dan bagaimana menghilangkan rasa itu, setelah itu dia pergi.


saat Gia akan menaiki tangga ada suara teriakkan dari kamar Risa , Gia dan Rian langsung mengambil posisinya masing masing, mereka berlari masuk ke dalam kamar. Betapa terkejutnya saat melihat Risa sedang menangi,pikiran dia sudah ke mana-mana dia takut jika kakaknya mendengar pembahasan dirinya dengan Bagus.


"kakak kenapa? "


pertanyaan itu dijawab Risa melalui tespek yang dia Perlihatkan kepada dua orang yang ada di depannya, membuat orang di depannya melompat gembira.


HAMIL... ya, Risa hamil lagi, hamil lagi anak keduannya. .

__ADS_1


"Tuhan bisa kah kau titipkan mereka juga ke dalam ku. " batin Gia


__ADS_2