Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
90. SAKIT


__ADS_3

Gia malas berdebat, makanya dia pergi bersih bersih badan lalu beranjak ke dapur meninggal Rian yang menunggunya di kamar, dengan setengah kesal Rian beranjak membersihkan diri, dia mendinginkan kepala nya dengan kucuran shower, cukup lama dia menetralisir emosinya dengan cara mandi.


Rian sudah rapi dengan pakaian santai nya, hingga dia menangkap bau gosong dan langsung lari ke dapur, sang istri pingsan di lantai, sedangkan masakannya sudah gosong.


Rian sangat terkejut melihat istrinya pingsan, dia langsung menggendong tubuh istrinya masuk ke kamar dan menelpon Awan agar segera datang,Rian keluar untuk membersihkan dapur dan langsung kembali dengan membawa air minum. tak lama Awan datang dan langsung masuk ke kamar Rian.


"hamil?" tanya nya saat sampai.


"ya ga mungkin dong!" jawab Rian kesal.


"kenapa ga mungkin, dia kan ada suaminya! gimana sih lu.. "


" ya iyala... tapi kan... udah deh lu periksa aja, ga usah banyak tanya."


Awan mengangkat baju Gia dan itulangsung mendapat cengkraman di pundak nya, beberapa kali itu terjadi setiap Awan mulai menyentuh Gia. "ini istri loe mau gw periksa ga sih sebenarnya?" tanya nya kesal karena sedari tadi Rian meremas pundaknya.


"emang harus periksa ke situ? "


"semua bakal gw periksa ga disitu aja! "


"jangan kalau gitu... panggil dokter lain yang perempuan."


Awan bangkit berdiri, tapi bukan untuk menghubungi dokter lain,Awan mendorong Rian keluar dari kamar lalu menguncinya. Rian mengetuk terus pintu tapi Awan tidak memperdulikan, dia fokus memeriksa Gia dan terakhir dia mengecup kening adik angkatnya itu.


15 menit kemudian Awan membuka pintu, yang langsung di dorong keras oleh Rian yang terus mengomel karena Awan membiarkannya di luar, terlebih saat dia melihat kancing baju Gia terbuka dan bajunya sedikit terangkat, membuat Rian makin panas.


"loe apain sih wan!?!!"


"bawel loe ah... mending beli obat nih" ucapnya sambil menyerahkan resep.


"dia sakit apa?"

__ADS_1


"kecapean... kurang tidur tuh, pasti loe kerjain mulu ya! asam lambung nya naik kayanya dia belum makan jadi nanti kasih dia obat lambung sebelum makan dan pastikan dia makan sebelum minum obat yang lain karena obat yang lain itu lebih keras."


Rian langsung menepuk keningnya mendengar Gia belum makan, dia sampai lupa kalau tujuan Gia tadi datang untuk makan siang, tapi malah di ajak debat dan Pulang tanpa makan apapun.


" gue kira dia bunting " ucap Awan duduk di sofa kamar itu.


"engga mungkin dong!" ucapnya sambil terus mengusap pipi istrinya.


"hahahaha belum di kasih loe?"


"tapi ini dia gak apa apa" dia tidak mau menjawab Awan.


Awan menoleh ke arah jam, "ntar lagi juga melek"


sembari menunggu, mereka berbincang sebentar, hingga ada suara bel berbunyi menghentikan perbincangan mereka. Rian membuka pintu. asisten nya masuk dengan menenteng bubur dan obat yang resep nya sudah dia foto dan berikan pada asisten nya.


"ibu sakit pak?"


"iya" jawab Rian mengambil bubur dan menaruhnya di mangkok, sang asisten dan Awan saling menoleh, karena biasa si asisten yang melakukan itu tapi belakangan banyak tugas yang dilakukan sendiri oleh Rian semenjak dia menikah.


"enggak kayanya, tinggal aja! lagian ada Awan nanti gw minta dia keluar kalau ada yang gw butuh"


"kenapa jadi gw?" tanya awan.


"baik Pak,kalau begitu saya permisi. mari dokter"


kedua sahabat itu hanya menjawab nya dengan anggukkan dikepalanya,tak lama ada suara "eeehhhh...." yang berasal dari Gia. "kakak..." sapa nya langsung melihat Awan yang membalas dengan senyum manis.


Rian langsung memutar bola matanya, " bisa bisa nya ada suami mu disini, baru yang kamu sapa orang lain " keluh Rian.


"aku kenapa?" tanyanya masih kepada Awan.

__ADS_1


"kamu belum makan, sekarang makan dulu ya... " jawab Awan mengambil mangkok bubur yang ada di Rian, satu suap... dua suap... tiga suap... handphone Awan berbunyi, Awan lang memberi kode mengangkat telpon dan menyerahkan bubur itu pada Rian.


saat Rian yang memberi suapan itu Gua justru menghindar, dia masih kesal dengan Rian karna menuduhnya berselingkuh, padahal dia yang jelas jelas berselingkuh.


"kayanya aku harus pergi" ucap Awan setelah mengangkat telpon.


"oke" jawab Gia dan Rian bersamaan.


"cie... sweet bgt!! jangan lupa obatnya di minum" ucapnya mengecup pipi kiri Gia, lalu beralih merangkul sang sahabat " jagain! jangan di kerjain " pesannya.


setelah Awan pergi, Gia langsung mengambil mangkok di tangan Rian dan memakannya sendiri. "aku engga selingkuh! sama siapa pun!" ucap Rian tegas. "kamu jangan muter balik fakta, kamu yang selingkuh baru bilang aku"


"kalau aku sih ga ada kontak fisik yang intens gitu ya, sampe gandeng segala. lagi pula kalau Daffa kan kamu udah aku kenalin.


"justru karena udah dikenalin makanya aku tahu yang... " belum selesai Rian ngomel dia melihat Gia memegang kepala nya. "sayang kamu gak apa apa?"


"kepala aku sakit" jawabnya lirih


"abisin dulu buburnya setengah yuk, abis itu minum obat. " ucap nya melembut.


setelah minum obat Gia kembali beristirahat, Rian menjaga disisinya sambil terus memeluk Gia. "Tuhan... aku mohon... sembuhkan istriku, kalau tidak bisa ganti saja dengan aku" Rian melantunkan doa.


keesokan paginya Rian tidak berangkat kerja dan dia melarang keras Gia pergi ke kedai, dia meminta istrinya untuk istirahat dan menelpon Risa untuk memberi tahu.


"ya ampun... sakit apa? kok engga ada bilang apa apa" tanya Risa saat Rian menelpon.


"kata Awan kecapean, terus kemarin ternyata seharian belum makan sama sekali"


"lho... bukan katanya mau makan sama kamu? "


"panjang deh ceritanya, jangan di bahas sekarang"

__ADS_1


"yaudah suruh istirahat deh... bye bye... "


Rian mengerjakan pekerjaan nya di rumah, karena harus menjaga Gia yang hari ini bedrest, Rian melarang nya melakukan apapun, bahkan mencuci piring pun tidak boleh.


__ADS_2