Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
68


__ADS_3

setelah itu mereka pamit untuk kembali ke Jakarta, diperjalanan Gia tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih kepada Awan yang telah membawa nya menemui orang tua Rian, membuat nya mengetahui hal yang dia tidak tahu tentang Rian, membuatnya tahu masa lalu Rian dan membuat Gia merasakan mempunyai orang tua lagi.


"bahagialah bersama orang yang kamu sayang, jangan pernah takut orang lain akan nyakitin kamu, kamu perempuan paling kuat yang pernah saya kenal."


"makasih banyak ya ka!" ucapnya yang membuat Awan melotot sempurna, untuk pertama kalinya Gia memanggilnya seperti itu, dia cukup tersentuh.


"boleh peluk?" tanya nya pada Gia yang di jawab dengan anggukkan dan Awan langsung memeluknya sebentar lalu langsung melepas nya untuk menghargai Gia dan menjaga rasa traumanya.


FLASHBACK OFF


...*****...


"kalau mereka ngomong apa, loe mesti tanya orang yang bersangkutan" jelas Awan pada Rian malam itu.


karna penasaran disinilah Rian sekarang, di depan kamar Gia,sudah hampir 15 menit, tentu dengan ijin kedua kakaknya, walaupun sempat berdebat dengan Bagus. "biarin lah... aku yakin sama Rian, kelakuan nya akan jauh lebih dewasa" ucap Risa saat Bagus terus melarang nya.


tok... tok... tok akhirnya Rian mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban dari sang pemilik kamar, dia mencoba membuka handle pintu yang ternyata tidak di kunci. "oh iya... Gua kan memang dilarang kunci pintu karna, mimpi buruk yang selalu muncul setiap malam." batin Rian.


Rian mendekati tempat tidur itu, melihat Gua yang ternyata sudah tertidur, "maaf... aku ga pernah maksudnya buat bikin kamu marah, aku juga keceplosan bilang begitu, aku tahu kamu ga mau kalau orang orang di dekat kamu ngalamin kematian" ucap Rian kepada Gia yang masih tertidur, Rian menoleh ke samping dan melihat obat Gia yang belum di minum, akhirnya dia membangunkan Gia perlahan.


"sayang... sayang...." panggilnya lembut, Gia yang merasa ada yang menyentuh lengannya, merenggangkan tubuhnya sebentar, membuat kancing bajunya terlepas hingga memperlihatkan bel**an dadanya yang membuatmu Rian menelan ludah, lalu mengulurkan tangannya untuk mengancing baju Gia, setelah lima menit Gia baru benar benar bangun.


"mas... kenapa?"


"obatnya kenapa ga di minum?"

__ADS_1


"oh gak apa, sebenarnya obatnya ga ada gunanya juga kan"


"kok ga ada gunanya,? minum ya... " ucap Rian mengulurkan obatnya.


"ga usah mas, aku udah tahu obat ini ga ada guna nya juga kan untuk rahim atau kandungan aku"


"kenapa bilang gitu? siapa yang bilang?"


"udahlah... " jawab Gia kembali berbaring membelakangi Rian.


Rian mengambil obat itu, menaruh di mulutnya sendiri lalu membalik badan Gia dengan paksa dan langsung menempelkan bi**rnya menekan bi**r Gia memasukkan obat itu kedalam mulut Gia, lalu memperdalam ci**mannya itu hingga obatnya tertelan sempurna di mulut Gia. "cara minum obat terbaru" batin Gia.


"jangan pernah bilang obat nya ga berguna" ucap Rian setelah melepas c****man yang sengaja ia buat lama, Gia tak menjawab apapun hanya diam. "kamu ketemu mama sama papa?" tanya Rian yang di jawab dengan anggukkan, Rian meraih dagu Gia, membuat mata mereka bertemu, Rian menatap nya dengan intens lalu kembali menc***m bi**r Gia singkat dan membiarkan kening mereka bertemu. "papa sama mama bilang apa ke kamu?" tanya nya lagi masih dengan posisi yang sama sehingga wangi mint dari mulutnya tercium ke hidung Gia.


" dan apa?? "


"gak jadi" jawab Gia yang langsung membuang wajahnya kesamping.


"hei... " panggil Rian sambil mengambil dagunya agar Gia menoleh padanya "dan apa? " tanyanya lagi, tapi Gia tidak menjawab, Rian mengambil kesempatan itu untuk kembali menc**um Gia, dia mel***t bi**r gadis itu dan memperdalam ci**mannya. Rian tahu Gia belum pernah berc**man karna badan Gia menegang dan bi**r Gia yang tak membalas, Rian mengigit kecil bi**r Gia hingga mulutnya terbuka dan Riaa langsung memperdalam ci**man itu hingga membuat Gia kembali berbaring, buat Rian mencium Gia seperti candu, rasa manis bi**r hingga li**hnya membuat Rian lupa diri. Rian mengalihkan ci***man itu ke leher Gia, walaupun tak ada balasan dari Gia tapi Rian sangat menyukai bi**r manis Gia, dia membuat tanda kepemilikan di leher Gia membuat sebuah suara yang Gia lolos dari mulut Gia, mendengar erangan itu membuat Rian makin lupa diri, dia kembali menc**m bibir Gia, memainkan li**hnya disana,lalu turun ke leher dan berhenti di dua kancing baju Gia yang sudah terbuka, memperlihatkan bel**han dari dua buah kembar itu. Gia yang merasa Rian sudah terlalu jauh langsung bangun dan mendorong Rian hingga jatuh.


Rian yang sadar kesalahannya langsung bangun dan melihat ke arah Gia yang telah berbaring lagi dan menutup seluruh badannya dengan selimut, ini yang dia takutkan selama ini,dia tidak akan menahan diri tidak menyentuh wanita yang sangat dia cintai ini tapi dia takut, dia takut orang tuanya tidak mau, walaupun mereka sudah bertemu tapi Rian melihat ada air mata di sana dan Rian tidak tahu apa saja yang sudah di bicarakan.


Rian memberanikan menarik selimut itu perlahan, benar saja dia melihat sebuah wajah yang penuh air mata dia langsung menyesal dengan apa yang di lakukannya, dia langsung berbaring dibelakang Gia dan memeluknya dari belakang secara perlahan takut ada penolakan, tapi ternyata Gia tak bergerak sama sekali.


"sorry... " bisiknya di telinga Gia, tak ada jawaban, malah kembali menangis. "sayang plisss jangan nangis, aku minta maaf" ucapnya lirih dan mendapat anggukkan dari Gia.

__ADS_1


Rian memeluknya hingga tidur, saat orang di pelukkan nya sudah nyenyak dia turun dari tempat tidur, tidak lupa dia meninggalkan sebuah kecupan di seluruh wajah kekasih nya itu. saat dia turun dari kamar Gia, tak sengaja bertemu Bagus yang baru kembali dari dapur mengisi air di gelasnya.


"gw kira udah balik"


"baru mau"


"loe gak ngapa ngapain kan?"


"menurut lu?"


"A***g gak usah bikin teka teki"


"kaga! bawel!"


"awas aja kalo sampe besok pagi gw liat dia merah merah! gw abisin 'si boy' gak pake ampun lagi!!"


bukan takut Rian malah tertawa mendengar komentar sahabatnya "tenang.... kaya baru tahu gw aja loe!! lagian kalau bunting juga gw kawinin" jawab Rian akhirnya.


karena Rian punya kunci pagar jadi Bagus tak mengantarkan keluar dan kembali menuju kamarnya.


......*****......


keesokan pagi nya Bagus benar benar melakukan apa yang dia katakan, dia memanggil adik yang paling dia sayangi itu hanya untuk memeriksa leher sangat adik, apakah ada cap yang dibuat oleh sahabatnya itu. ternyata memang bersih, hal itu membuat Bagus bernafas lega, karena dia sangat tahu sepak terjang sangat sahabat setelah kejadian itu makanya dia sangat menjaga sangat adik, dia pun cukup salut dengan sahabat nya itu yang sangat menjaga sangat adik dengan baik.


"ini saat nya kamu bahagia dengan, kamu dapat orang yang sangat tepat. dia akan sangat menghargai kamu" batin Bagus.

__ADS_1


__ADS_2