Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
103. masih gangguan


__ADS_3

Tiinngg...


*aku sudah di restoran, ingat janjimu!*


sebuah pesan masuk ke ponsel Rian.


Rian mendesah membaca pesan itu, dia mengkhawatirkan Gia saat ini, terakhir Gia bicara padanya saat makan siang tadi, setelah itu dia menghilang, tidak angkat telpon atau menghubunginya kembali,bahkan Rian menghubungi kakak nya pun dia tidak ada disana, begitu pula menghubungi rumahnya. bi'inah dan teh tuti memang di minta berbohong pada bu boss nya dengan alasan dia ingin membuat surprise untuk suaminya.


*aku makan malam bersama klien, kamu jangan lupa makan malam dan jangan dulu tidur karena aku ingin menghubungi*


pesan itu dari Rian, Gia membacanya tapi tidak membalasnya, Gia juga tidak tahu kenapa dirinya uring uringan seperti ini, bahkan dia lebih mudah meledak tidak seperti biasanya, dia sudah mencoba mengkontrol nya tapi tidak berhasil.


...****************...


Rian sampai di restoran, dia menepis saat Hanna akan memeluknya, "jaga sikapmu atau aku akan pergi! " ucap Rian datar.


"makanlah, aku sudah memesankannya untukmu"


"jangan bodoh Hanna! kau pikir aku anak kemarin sore?" Rian menyingkirkan makanan itu, "aku tahu kau memasukan sesuatu kedalamnya! cepat katakan apa yang ingin kau katakan! jika kau tidak mengatakannya aku ingin pulang dan menyelesaikan pekerjaan ku" sambungnya lagi.


"bukankah aku bilang kalau aku akan membicarakannya sambil makan malam? kau saja tidak makan bagaimana aku mengatakannya."


bukannya luluh Rian malah bangkit dari kursinya, dengan cepat Hanna menahanya, "kenapa sulit sekali membuatnya berpaling" batin Hanna.


"baiklah aku akan mengatakannya, duduklah..." Hanna memintanya untuk duduk agar pembicaraan nya lebih relaks. "aku masih sangat menyayangi mu Rian, aku tidak bisa melupakan mu sayang... aku sudah mencoba tapi aku tidak berhasil, maafkan kesalahanku dan kembalilah padaku Rian, aku mohon padamu... aku mohon... " Hanna berlutut di samping Rian.


"bangun Hanna! aku tidak ingin menjadi pusat perhatian"


"aku tidak akan bangun sebelum kau memaafkan kesalahanku"


"aku maafkanmu... bangunlah... " Rian tidak bohong, dia memang memaafkan Hanna, tapi tidak untuk percaya kembali padanya.


Hanna langsung berdiri dan memeluknya, lalu mencium pipinya, jauh dari situ ada seseorang yang memotret kebersamaan mereka dan dari sisi itu Hanna bukan terlihat mencium pipi tapi mencium bibirnya.


"aku baru memaafkanmu, jangan membuatku menariknya kembali" ucapnya pada Hanna, sambil melepaskan pelukkan nya. "dengar.. aku sudah memenuhi janji ku jadi ku mohon jangan menganggu ku lagi!" ucap Rian tanpa makan sedikit pun dan pergi.


Hanna tersenyum licik, "aku sudah mendapatkan beberapa gambar yang ku mau Rian! siap siaplah berpisah dengan istrimu dan kembali padaku" guman Hanna, lalu tersenyum.


malam itu Rian menghubungi Jordan dan memintanya ke kamar lalu menghubungi Nick, menanyakan keadaan istrinya. Nick melaporkan kalau bu boss nya hati ini memasak menghabiskan bahan di kulkas lalu dibagi bagi, setelah itu dia di kamar dan tidak keluar hingga malam.


"proyek ini ku serahkan padamu! aku tidak ingin mengurusnya jika ada dia di dalamnya, jadi kau tinggal disini mengurusnya, itu tinggal sedikit lagi. aku ingin pulang menemui istriku" ucapnya saat Jordan datang.


"baik Pak, apa anda mau saya pesan kan tiket besok pagi? "


"kau gila?? aku bilang aku ingin menemui istriku! aku minta tiket malam ini, bukan besok"


"ba.. baik Pak"


malam itu Rian kembali, dia pusing dengan mode diam istrinya, dia kesal di acuhkan, dia lebih memilih istrinya mengomel sepanjang hari dari pada harus diam. "*sayang... aku kembali... ku mohon nanti bicaralah... apapun"

__ADS_1


ttiinngg...


sebuah pesan masuk ke ponsel Gia*


ternyata beberapa buah foto kebersamaan suaminya dan Hanna mantan tunangannya, Gua memejamkan matanya nya, mengepalkan tangannya hingga kuku kukunya membuat goresan luka pada tangannya. dia berusaha meredam marahnya tapi itu membuat menitikkan air mata, "itulah makan malam dengan klien yang dia katakan!?!?? "


Gua mengeser ponselnya mengirimkan foto itu pada Jordan, salah satu foto saat Hanna mencium bibir Rian, yang sebenarnya mencium pipi. **Jordan... ini klien kalian? *


*noona... itu benar klien kami tapi tidak seperti yang Anda lihat*


*tidak apa apa Jordan, aku hanya ingin menanyakan itu, kau tidak perlu menjelaskan apapun"


*tapi noona... ku beri tahu padamu! wanita itu licik, anda jangan terpengaruh oleh nya! *


*baiklah Jordan... terimakasih... selamat bersenang senang*


"bersenang senang?? apa maksudnya? apa anda pikir saya seperti suami anda yang suka ganti ganti perempuan? " gumamnya*.


Jordan langsung menghubungi Rian tapi sayang ponselnya tidak aktif, tapi Jordan mengirimkan beberapa screenshot sang nona dan memberitahu jika Hanna menjebaknya. Rian tidak menyalakan ponselnya hingga tiba di rumah.


Dia masuk ke kamarnya tanpa mengeluarkan suara karena dia tahu istrinya pasti telah terlelap, setelah membersihkan diri dia menyusul istrinya kedalam selimut dan memeluknya dari belakang.


Gua terbangun saat ada yang terus mencium leher hingga ke arah dadanya, dia langsung menyingkir dan memperbaiki bajunya, Rian menarik diri saat tahu istrinya menolaknya, dia beralih ke balkon dan menyalakan rokoknya untuk meredam kekesalannya, Rian memang bukan perokok tapi di saat dia frustasi dia akan melakukan itu.


Gia tahu suaminya menginginkannya tapi Gia tidak ingin untuk sementara ini, dia hanya butuh menenangkan dirinya, Gia diam hingga kembali tertidur. keesokkan paginya dia bangun tanpa mengunakan baju, dia tahu itu pasti pekerjaan suaminya karena saat ini suaminya masih memeluk pinggangnya dengan wajah menempel di lehernya,Gia sebenarnya sedikit pusing tapi dia tetap bangun tanpa suara,membersihkan diri lalu keluar, untuk memasak sarapan.


" kamu belum makan dari kemarin? masuk angin deh!" ucap Rian, tapi istrinya tidak menjawab, dia terbayang kembali foto yang dia dapat semalam. "makan ya... nanti kamu malah makin sakit kalau gak makan" sambungnya lagi, Gua masih tidak menjawab.


Rian tadinya mau menyuapi istrinya tapi Gia menolak, saat sedang makan ponsel Gia berbunyi 'mas daffa caling... ' Rian yang di sampingnya langsung mengangkat telfon itu mengunakan mode speaker.


*halo... morning cinta...* sapanya, Rian memejamkan mata.


*halo mas... pagi... *


*apa kamu baik baik aja? aku tidak bisa menghubungi mu setelah mengantarmu kemarin* ucapnya membuat Rian menarik nafas panjang mengontrol emosinya.


*aku gak apa apa mas... *


*okelah... jangan terlalu lelah*


setelah pembicaraan berakhir gantian Rian yang bicara,menanyakan hal yang baru saja dia dengar.


"iya di anter mas daffa, ketemu di jalan... "


"dia masuk ke rumah?"


"nggak"


"apa dia nggak ajak kamu makan, sampai kamu masuk angin? "

__ADS_1


"ajak... aku yang engga mau"


"kenapa? bukan dia teman mu?"


"aku bukan orang lain yang bisa makan tenang walaupun bukan dengan pasangannya! berhentilah mencurigai sesuatu padaku! " ucapnya beranjak dari meja makan tanpa menghabiskan sarapannya.


Rian tak langsung menyusul karena dia tahu istrinya sedang emosi, dia sengaja menghabiskan sarapannya terlebih dahulu,membersihkan piring dan alat dapur yang tadi di pakai memasak lalu menyusul istrinya membawa sarapannya yang belum habis serta ponselnya.


Rian ke kamar, tapi tak ada istrinya di sana, dia menuju kamar mandi kosong, dia beralih ke ruang baca kosong juga, dia beralih ke balkon belakang, benar saja... istrinya disana dengan wajah pucat, Rian menghampiri nya.


"kamu kenapa sensitif? datang bulan?" tanyanya tapi istrinya tak menjawab "makan..." ucapnya lagi mengulurkan suapan pada istrinya, Rian bingung karna istrinya uring uringan seperti ini, padahal dia sangat ingin membuat junior tapi istrinya sakit di tambah uring uringan,m hal itu pasti hanya akan menjadi wacananya saja.


"kamu kerja aja kalau mau kerja" ucap Gia melihat Rian gelisah.


"tidak... kamu sakit aku tidak mungkin pergi kecuali kau mengijinkan salah satu dari ART itu menginap disini, agar aku tahu apa yang dilakukan istriku" tandanya, dia tahu Gia tidak akan setuju dengan itu karena menurutnya dia masih bisa mengerjakannya sendiri, dia mau lebih mandiri. "mau kemana?" tanya Rian saat istrinya beranjak.


"pipis"


"biar ku antar"


"tidak usah, aku akan segeran kembali"


Rian yang tidak ingin berdebat mengangukkan kepalanya dan membiarkan istrinya pergi, Rian menoleh saat ponsel Gia bunyi sekali... bunyi dua kali... akhirnya bunyi beberapa kali. Rian mengambil ponsel itu dan membukanya, mereka saling terbuka jadi Rian tahu sandi ponsel Gia begitupun sebaliknya tapi keduanya memang hampir tidak pernah saling mengecek ponsel dan ini kali pertama nya Rian melakukan.


*cinta... *


*cinta apa kau baik baik saja? *


*cinta... dia tak menyakitimu bukan?*


ketiga pesan itu dari Daffa, membuat Rian sedikit geramgeram, dia hampir saja membanting ponsel milik istrinya.


*kembalilah padaku jika dia menyakiti mu! kita pernah punya mimpi untuk bersama*


hilang sudah kesabaran yang dimiliki Rian, ponsel itu berbunyi saat Rian akan membantingnya.


'mas daffa calling'


*hallo... * Rian mengangkatnya.


*Rian? selamat pagi...bagaimana Gia, apa dia Baik baik saja?* tanya Daffa


*istriku baik baik saja Daffa* ucapnya sedikit menekankan kata istriku dan langsung mematikan ponsel istrinya.


"penganggu!" guman Rian kesal.


sementara itu di kamar mandi Gia menatap benda di tangannya penuh dengan rasa hari, tapi pikirannya kembali ke foto foto yang dia terima semalam. "Tuhan... apa yang harus aku lakukan... " gumamnya. "bukan tidak ingin menerima berkat yang Kau beri, hanya saja aku takut ini bukan waktu yang tepat. jika dia akan meninggalkan ku, apakah aku kuat menjalaninya" ucapnya lirih.


Gia mendengar ponselnya bunyi dia buru buru keluar untuk melihat ponselnya, sebenarnya dia tidak takut jika Rian mengangkat telfon di ponselnya karena Gia tidak pernah menyembunyikan apapun dari suaminya, dia hanya tidak ingin suaminya membantingbponselnya karena terus berbunyi.

__ADS_1


__ADS_2