
bukannya diam Gia malah beranjak dari tempat itu menuju pintu, sebelum sampai pintu dia berhenti, "aku harap abang bisa lebih berfikir lagi! bukan cuma tentang perasaan abang aja, tapi pikirin juga tentang perasaan aku! aku juga ga pernah minta abang deket sama aku, abang dateng gitu aja ke kehidupan aku, deket sama aku, bawa aku naik tinggi,bahkan sangat tinggi,saking tingginya aku sampe lupa. lupa kalau aku bukan siapa siapa" ucap Gia menahan air mata lalu membanting pintu dan pergi.
flashback off
...****...
sudah hampir sebulan Gia berusaha menjauhi Rian, walaupun dia selalu hadir di kedai,tapi tidak saling tegur sapa,tidak ada obrolan , tidak ada saling mengantar dan membentengi diri. beberapa kali Rian mengajak nya bicara tapi Gua hanya menjawab seperlunya dan terus menghindar, Awan yang tahu keadaan itu selalu berusaha mengingatkan Rian agar tidak terlalu menekan Gia agar dia tidak terlalu stres,karena kejadian kemarin kondisi Gia sedikit melemah dan mudah lelah,apalagi Gia sekarang bekerja sendiri karena usia kandungan Risa yang sudah memasuki bukan kesembilan di minggu pertama, di minggu kedua akhir Bagus sudah mulai libur menjadi suami siaga. alhasil membuat Gia meng-handle semua sendiri, jadi Awan sangan meminta pada sahabatnya agar memberi waktu untuk Gia.
siang itu setelah mengantar pesanan ke meja Gia merasa pusing hingga kunang kunang, dia berusaha berjalan kearah ruangannya untuk beristirahat,Rian yang baru datang melihat cara jalan Gia yang aneh langsung sadar kalo ada yang sangat janggal,tak lama....benar saja! Rian melihat tubuh Gua yang akan tubuh ke bawah. tubuh itu hampir jatuh menyentuh lantai kalau saja tidak ada sang kekasih tidak segera menangkap nya,beberapa karyawan yang melihat itu langsung membantu Rian untuk membawa Gia ke dalam ruanganya, sisanya kembali ke pekerjaan masing-masing.
"kaya nya jarang makan nih anak! kecapean juga, terlalu di forsir. coba lu tanyain sama yang lain. " ucap Awan setelah memeriksa Gua yang sedang terbaring di sofa ruangan nya.
Rian memanggil Ika untuk memastikannya, setelah menanyakan yang di tanya Awan tadi Rian sedikit kesal dengan jawaban yang di dapat dari Ika. "mba Gia emang jarang nyentuh makanan pak,kita selalu ingatkan mba Rina kok untuk makan tapi kadang beliau hanya bilang tanggung" ucap Ika mencoba membela diri.
"yaudah gak apa, kamu kerja lagi gih" Awan ya g menjawab karna Rian yang manggil Ika malah diem aja.
"baik dok, saya permisi... mari pak.. " pamit Ika yang di jawab anggukan oleh Rian dan senyum dari Awan.
"loe udah kasih tahu Tisa sama Bagus?"
"belum"
"yaudah biar gw yang bilangin"
"jangan... " tahan Rian, "biarin aja, kasian mereka juga lagu 'siaga' jangan di bebanin sama ini, gua yakin Gua juga pasti ga mau mereka tahu" balas Ria lagi.
"yakin ya... pokoknya kalau terjadi apa apa jangan salahin gua"
"emang seserius itu sakit nya?" tanya Rian balik, "lu jangan bikin gua khawatir lah... " sambungnya lagi sambil memukul lengan Awan.
"ya lumayan... ini liver soalnya"
"serius? " tanya Rian dengan raut sedih, "ini serius ga Wan? kalau gitu bikinin resep obatnya biar gw tebus."
Awan menyerahkan resep pada sahabatnya, tanpa membacanya lagi Rian memanggil vicky, salah satu karyawan kedai untuk membeli obat yang sudah di catat oleh Awan beserta uangnya. Vicky langsung pergi karena itu demi kepentingan sang bos yang sangat baik dan murah hati, *ya... itulah gambaran karyawan tentang Risa dan Gua, mereka meresa beruntung punya bos seperti mereka berdua*
Awan pamit pulang, sebelumnya dia sudah meminta Rian agar membawa Gia untuk beristirahat lebih banyak dan mengkonsumsi obat yang sudah dia resep kan.
Vicky kembali setelah setengah jam dokter Awan pamit, Rian menunggu Gia sadar dengan hati yang sangat berkecambuk, hingga tiba tiba dia mendengar Gia memanggil nya, dengan cepat Rian menghampiri tapi ternyata Gia meracau memanggil Rian.
"bangun sayang... aku nungguin kamu" ucap Rian sambil mengelus wanita nya ini, tak lama Gia meracau lagi mengatakan kalau Rian jahat dan tidak mengganggap keberadaannya, Gia sambil menangis mengatakan itu. menggambarkan kesedihannya tidak di akui atau di anggap tidak ada oleh Rian.
"eeehhhmmmm... " Gia tersadar.
"kenapa separah ini? kamu udah tahu lama sakit kamu ini? " tanya Rian langsung tanpa memberi kesempatan Gia untuk berfikir apa yang telah terjadi, bukan menjawab Gia hanya diam tapi diam nya Gia membuat Rian berfikir kalau 'penyakit liver' yang di bilang dokter Awan benar adanya.
Rian langsung mengajak nya pulang dan menitipkan kedai pada Ika dan Yuni lalu meminta mereka membawa pembukuan ke rumah, dua orang kepercayaan Gia dan Risa menyanggupi itu. sebenarnya Rian dan Bagus sudah meminta Gia dan Risa untuk tidak terjun langsung untuk kesehatan mereka tapi duo wonder woman itu menolak dengan alasan 'sudah biasa bergerak, kalau ga bergerak malah lemes'
*****
setibanya di rumah Bagus,Rian langsung meminta nya untuk istirahat sementara Rian mengambil air untuk Gia minum obat, Gia minum obat yang biasa dia minum sambilan menunggu Rian mengeluarkan obat yang baru, Rian bingung saat melihat obat obat yang ada di dalam plastik karena semua isinya vitamin, tidak ada satupun obat dengan penyakit yang serius. Rian kembali mendekat dengan beberapa vitamin di tangannya dengan wajah bingung,tapi setelah itu dia sadar dan langsung tersenyum mengerti maksud kata kata yang Awan ucapkan, "dasar anak kambing! gw udah serius bgt! "
ternyata yang di maksud sakit 'LIVER PARAH/ KRONIS' Gia sakit hati, bukan sakit dalam arti yang sebenarnya, dalam hati Rian sangat bersyukur dengan itu, tadinya ada perasaan takut yang sangat dalam.
"kamu gak balik? " Gia membuyarkan lamunannya, Rian mendekati Gia dan duduk di kasur samping nya.
__ADS_1
"mau kan jadi istri aku?" ucapnya tiba tiba sambil menggenggam gunting di meja samping tempat tidur Gia.
"itu ngapain?" tanya Gia menunjuk gunting itu.
"aku belum selesai ngomong" jawab Rian "kamu mau kan jadi istri aku? kalau kamu jawab gak aku tusuk gunting perut aku!" ancam nya lantang.
"eh... jangan" tahan Gia, "kok gitu sih minta nya? ga romantis kaya orang lain"
"kamu kan tahu aku gak bisa romantis"
Gua tertawa melihat sikap Rian yang terkesan kekanak kanakan.
*****
setelah kejadian itu Gia dan Rian semakin lengket, terkadang Rian terlihat membantu Gia di dapur kedai saat Rian libur, di saat dia bekerja dia hanya membantu di bagian kasir atau waiters agar pakaian nya tidak terkena noda.
Bagus dan Risa sudah memiliki seorang jagoan yang melengkapi keluarga kecilnya,yang di beri nama "NATANAEL BADARI KURNIANTO" yang sangat tampan perpaduan kedua wajah orang tuanya. bukan hanya Bagus dan Risa, Rian dan Gia pun ikut bergembira dengan kehadiran NATANAEL di tengah keluarga mereka, melihat kebahagiaan itu Rian beberapa kali mengajak Gia untuk menikah tapi Gia menganggap Rian seperti sedang bercanda, jadi setiap diajak Gia hanya menjawabnya dengan senyum.
"kami belum Terima juga lamarannya dia? " tanya Risa sambil membantu Gia merapihkan meja makan, sedangkan Bagus sudah berada di Ruang TV bersama Rian.
"aku bingung kan"
"bingung kenapa?"
"aku bingung mesti bersikap gimana nanti"
"maksudnya?"
"ka... kalau aku menikah, aku pasti melakukan hubungan itu nanti, tapi... kakak tahu sendiri kan kalau aku takut? kakak inget kan gimana histeris nya aku liat mas buka baju? kakak tahu kan kalau laki laki itu terlalu dekat aku akan refleks melakukan sesuatu? aku bakal gemeter ketakutan."
Risa mendengar itu jadi serba salah, bingung dan ga tahu harus gimana, karna dia juga tahu bagaimana trauma yang di derita Gia, dia juga tahu kalau ada yang terlalu dekat dia pasti akan gemetar ketakutan.
"iya ka Gia tahu, aku cuma lagi berusaha menghilangkan semua rasa itu,rasa itu terlalu melekat, terlalu nempel, entah kenapa itu kaya ga hilang dari kepalaku, aku udah usaha ngeluarinnya."
"kakak yakin kamu pasti bisa, yaudah yuk... nanti keburu mereka bosen nunggu kita"
"potong buah dulu ka"
sementaranya itu di ruang tamu.
"gimana? udah di Terima? "
"belum nih! gimana ya? gw pusing banget sama dia, dia selalu anggap ajakan gw itu bercandaan aja"
"sabarlah... ada waktu nya, mungkin dia belum yakin kalau lu bukan buaya"
"bang***t lu!! emang ade lu aja yang ga bisa melihat kharisma dan ke gantengan gw"
"warteg kali!"
"tapi kalian setuju kankan? "
"setujulah, yang penting Terima dia apa adanya, bimbing dia, sayang sama dia dan keluarga nya"
"pastilah... emang gw keliatan ga sayang sama lu" jawab Rian sambil mengedipkan matanya ke arah Bagus.
__ADS_1
"najis... "
tak lama kedua wanita hebat mereka hadir membawa teh hangat dan buah, bergabung untuk berbincang dengan mereka.
"kapan kalian mau seriusin hubungan kalian?" pancing Bagus.
"mas... " ucap Gia dan Risa bersamaan
"gw sih selalu ajak bro! tapi dia yang belum siap" ucap Rian santai.
"gimana de? kenapa ga di Terima?"
"bukan ga di Terima mas, aku cuma butuh waktu untuk Terima"
"sampai kapan Gi? apalagi yang kamu pikirin?"
"nanti ya mas" jawab Gia masih sabar, Risa yang sudah menanyakan itu langsung menginjak kaki Bagus.
"aduh... kenapa sih? maksud aku kan bener ris! kasianlah Rian, emang nunggu apalagi sih? Rian kan udah buktiin kalau dia ga mainin Gia, mau alasan apalagi?"
Gia yang mendengar kalimat terakhir Bagus langsung bangun dari duduknya dan pergi.
"non... " panggil Rian.
"de... " panggil Risa dan Bagus.
Gia berusaha menetralisir emosinya dengan susu coklat hangat dan kembali bergabung dengan mereka.
"Gia cuma minta waktu mas!"
"sampe kapan de?" tanya Bagus
"kenapa sih mas? kamu bosen liat aku disini? kamu udah keberatan dengan keberadaan aku? bilang aja mas, gak apa kok! bilang aja, aku bisa keluar dari rumah ini! " ucap Gia dengan emosi.
"non.... de.... " ucap kedua pria itu sambil bangkit dari duduknya hampir bersamaan.
"kalau mas sama kakak udah keberatan aku disini, aku bisa keluar kok, ga usah selalu tanyain gitu terus sama aku, aku cuma butuh waktu bukan nolak, ada sesuatu yang harus aku hilang dan itu mesti aku kerjakan sendiri." bentak Gia balik dan kali ini langsung kembali ke kamarnya, membanting pintu.
Rian dan Bagus terkejut dengan sikap Gia. Rian sangat terkejut karna Gia yang dia kenal sangat menghormati kedua kakaknya ini, Bagus terkejut karna ini kali pertamanya Gia membentak nya dengan semarah itu. Risa yang sadar apa yang dipikirkan kedua pria itu, Risa mencoba menjelaskan ke mereka agar nanti mereka tidak salah tanggap dengan sikap Gia barusan.
...****************...
"Gi... seberat apa sebenarnya yang harus kamun lewatin? kenapa kamu seperti takut bila aku tahu hal itu? apa segitu serius sehingga kamu menghilangkan rasa hormat mu sama kakak kakak mu?" ucap Rian sambil menyetir mobil arah kembali ke rumahnya.
"non kamu kenapa sebenarnya? aku kaget kamu semarah itu. "
Rian mencoba mengirim pesan pada wanita kesayangan nya.
cukup lama sampai akhirnya dia mendapat balasan.
"maaf bikin kamu kaget. kalau karna tadi kamu mau cari pendamping yang lain gak apa"
Rian cukup kaget mendapat balasan seperti itu.
"bukan itu maksud aku non, aku cuma kaget liat kemarahan kamu yang seperti itu, karna aku tahu gimana kamu sangat menghormati kakak kakak mu"
__ADS_1
balas Rian lagi tapi tak ada balasan hingga pagi dan Rian tertidur.
keesokkan hari nya saat sarapan, suasana nya cukup tidak enak, karna hanya Risa yang bicara, Gia dan Bagus hanya diam saja. Gia tahu Bagus pasti tersinggung dengan kata katanya semalam, bahkan Gia sendiri terkejut dengan apa yang terjadi, makanya dia bahkan tidak berani melihat Bagus. Gia sangat menyadari kesalahannya, tapi dia terlalu emosi semalam sehingga dia tidak mengenali orang yang dia bentak siapa, Gia tetap diam sepanjang sarapan bahkan sampai mau berangkat dan aksi diam itu sampai di telinga Rian.