Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
Bab 2 PERUBAHAN DALAM HIDUP


__ADS_3

Kalian paham kan anak kelas 4 SD menuju kelas 5 dengan keadaan pincang,memikul beban yang seperti ini, berusaha menjadi jauh lebih dewasa,berusaha membuat orang sekitarku bahagia melihatku. semua airmata ku tahan, semua kecewa ku telan sendiri,karena aku tahu mereka memikul beban yang sama,bahkan kadang makanan yang ku makan terasa hambar karena menelan semua rasa pahit dan tidak ingin membuat orang sekitar khawatir.


...****************...


hari demi hari kulewati,meskipun berat tapi aku bertahan untuk mereka dan untuk masa depan ku nantinya. tak terasa saat ini aku sudah kelas 6 SD berarti sebentar lagi aku akan ada di bangku SMP, mulai menjejakki sebuah kedewasaan,apalagi sebentar lagi aki ujian akhir yang artinya aku akan lulus dari SD.


om Salman selalu bangga padaku dengan prestasiku,dia dan oma selalu menduku seluruh kegiatan sekolahku,bahkan yang tidak ada kadang dibikin ada sama mereka, itu yang membuatku bangga bersama mereka.


suatu hari om Salman membawa kabar buruk untuk kami,dia di tugaskan ke Negara I untuk 3 tahun ke depan,sejujurnya aku dan oma cukup terkejut tapi itu adalah sebuah tugas yang mau tidak mau harus om Salman jalankan,kami tahu om Salman berat meninggalkan kami dan kami berusaha seakan kami biasa saja walaupun dalah hati aku dan oma pun takut.


"kalian yakin bisa?? mumpung belum aku tanda tangan..." tanyanya lagi setelah selesai mendaftarkan ku ke salah satu sekolah SMP di kota M.


"iya om... kamu akan baik baik saja" jawab ku santai.


"pergilah nak, itu kan tanggung jawabmu! kamu tidak boleh melepasnya begitu saja. mama dan keponakan mu akan baik baik saja,kalau perlu nanti aku minta Ratmi untuk menemani kami di sini." ucap oma meyakinkan om Salman dengan membawa nama mba Ratmi, dia adalah salah satu tetangga kami yang diminta om Salman untuk membantu oma belakangan ini yang lebih sering sakit.


"baiklah ma... tapi biarkan aku membelikan ponsel untuk Gia agar dia dapat memberi kabar padaku jika terjadi sesuatu" tegas om Salman dengan nada tidak ingin di bantah.


"iya... belikanlah..." oma menyerah rencana awal oma akan membiarkanku mengunakan ponsel saat SMA nanti,tapi demi tenangnya om Salman akhirnya beliau mengijinkan.


"Gi... abis ini ikut om ke tempat beli ponsel ya...sekalian biar om bisa ajarin kamu dulu cara pake nya." ucapnya sambil menandatangani persetujuan untuk di pindahkan ke Negara I.


"iya om" jawabku singkat tanpa membantah.


setelah hari kelulusan ku,om Salman berangkat ke negara I hanya aku dan om Alfian yang mengantarnya,oma dirumah karena tidak enak badan, tapi menurutku hanya alasan beliau saja karena pagi itu aku masih melihatnya berlalu lalang.


"om jalan ya..." pamitnya padaku.


"om ga jadi naik pesawat emang? kok jalan,kan cape." candaku pada om Salman yang di sambut tawa dari om Alfian.


tapi tidak dengan om Salman, dia terlihat datar, tak menjawab apapun,dia memelukku dan menciun keningku. "jaga oma ya, kabarin om kalau ada apapun... pengiriman uang om kasih ke om Alfian, nanti om Alfian yang bakal antar uangnya"


"iya om...kenapa sih serius bgt..."


om Salman dan om Alfian berpelukkan sambil mengucapkan perpisahannya, "tolong jaga mereka untuk ku" ucapnya pada sahabat terbaiknya itu.


"pasti brother... jangan pernah lupakan kami jika kau sudah disana."


"terima kasih untuk semuanya,semoga aku punya cukup umur untuk membalasnya"


Om Alfian membalasnya dengan senyuman,kami berdua menunggu hingga om Salman menghilang di pintu keberangkatan. lalu kami kembali,tidak ada pembicaraan sepanjang perjalanan kembali,om Alfian sama seperti om Salman dia begitu menyayangi kami.


"makan dulu ya, udah siang nih,kasian perut kamu nanti teriak teriak" ucapnya memecahkan suasana hening.


"iya"


"makan dimana? "


"bebas dimana aja..."


"inget... jangan berlarut,kasian oma nanti."


aku hanya menanggapinya dengan senyum tanpa ada kata apapun yang keluar,aku paham betul posisi om Alfian saat ini mengantikan sosok om Salman di samping kami,aku menghargai om Alfian sama seperti aku menghargai om Salman apalagi dia adalah orang yang dipercaya om Salman untuk menjaga kami.


...****************...


aku sudah memulai petualanganku di bangku SMP di tahu pertama semua berjalan dengan baik,nilai ku sangat bagus,om Salman terus memberi kabar pada kami dari negara I,setiap hari dia selalu menelpon kami dua kali, saat pagi akan berangkat dan malam saat dia selesai bekerja tapi karena perbedaan waktu 7 jam jadi kadang hanya satu panggilan yang terjawab olehku.


saat ini sudah memasuki tahun kedua aku di SMP, om Salman kembali untuk berlibur. dari awal beliau memang sudah mengatakan padaku dan oma kalau dia akan kembali setahun sekali, makanya dia kembali saat kenaikkanku ke kelas 2 SMP,sekaligus mengajak aku dan oma jalan jalan.


"kita ke pantai aja... nanti nginep disana" ucap om Alfian yang ikut serta di liburan kali ini, tidak hanya om Salma, bahkan mba Ratmi pun ikut serta dengan kami.


"tanya oma aja, kalau oma okey kita ke pantai" jawab om salman.


kalau pergi dengan om Salman memang seperti ini,tujuannya belum jelas tapi semua orang sudah dia kumpulkan,karena om Salman mementingkan oma, jadi liburan kami selalu tergantunh oma.


"iya kita ke pantai aja, udah lama juga ga ke sana" ucap oma saat om Alfian minta ijin.


ucapan oma di sambut gembira oleh kami, cuaca memang sangat baik untuk ke pantai. kami kali inj berlibur ke pantai, bahkan kami membuat plan plan liburan berikutnya,om Salman selalu menjawab cari tempat yang bisa bawa oma. dia memang hampir tidak pernah berlibur sendiri, selalu membawa aku dan oma turut serta dan selalu membawa kami ke tempat dimana oma juga bisa ikut menikmatinya.


Om Salman hanya 2 minggu di kota M setelah itu dia kembali ke negara I melanjutkan aktivitas nya lagi, aku pun sudah mulai kembali ke sekolah dan memulai aktivitas.


suatu malam oma mengeluh sakit kepala,dia membangunkan ku yang tidur di sampingnya, "de... kepala oma sakit..." ucapnya saat aku membuka mata.


"astaga... badan oma panas banget! " ucapku panik, "kita ke rumah sakit ya nek,aku telpon om Salman dulu..."


"jangan... jangan..." kasian om mu lagi kerja, jangan di ganggu, "kamu telfon saja Alfian,lagi pula kayanya oma cuma sakit kepala aja!"


aku menelfon om Alfian beberapa karena saat ini memang dini hari jadi wajar jika om Alfian tidak mengangkatnya,setelah delapan kali akhirnya dia mengangkatnya.


'om... oma sakit' ucapku singkat.


'telfon mba Ratmi om ke sana sekarang' balasnya sedikit panik,terdengar suara khas, orang bangun tidur.


'baik om terima kasih'


'sama sama sayang...'


setelah menelponnya aku lansung menghubungi mba Ratmi,tidak makan waktu lama mba Ratmi langsung ada di depan pintu kami, karena rumahnya yang memang tak jauh dari kami.


"tadi sore juga oma udah ngeluh sakit kepala ka" ucap mba Ratmi saat aku sedang mengkompres oma.


"kenapa ga bilang sama aku?"


"ga boleh sama oma" bisiknya karena oma sedang tidur.


tiga pulu menit kemudian om Alfian sampai dan langsung masuk kamar oma, om Alfian memang memegang kunci rumah ini,kunci itu di berikan om Salman,hanya mba Ratmi yang tidak pegang kunci, bukan karena kami tidak percaya padanya tapi mba Ratmi orang yang teledor,dia suka menaruh barang sembarangan jadi kami memutuskan tidak memberikan kunci padanya.


"gimana keadaannya?"


"panasnya belum turun sama sekali om"


"kalau gitu kita bawa ke dokter ya..."


"ayo..."


dengan sigap om Alfian mengangkat oma keluar,sementara aku mengambil data nenek yang kemungkinan dibutuhkan,mba Ratmi mengambil selimut,air,tissue dan minyak kayu putih.


sampai di rumah sakit yang pertama kami di tolak karena penuh om Alfian sudah mulai kalut,dia mulai mengemudi dengan kecepatan tinggi,reflek aku langsung memegang lengannya. om Alfian yang sadar sedikit mengurangi kecepatan nya setelah itu mengucapkan kata maaf padaku dan aku menjawabnya dengan senyuman.


di rumah sakit yang kedua kami di terima dengan sangat baik,kami bukan seorang CEO atau seorang tuan muda yang bisa dengan gampangnya meminta kosongkan rumah sakit, jadi setelah gagal di satu rumah sakit, kamu pun harus mencari rumah sakit lainnya.


setelah lama menunggu cukup lama di depan UGD akhirnya dokter menyatakan oma mengalami komplikasi penyakit, darah tinggi, asam urat,asam lambung tinggi dan yang paling parah adalah kanker usus besar. kami terdiam,tidak ada yang sanggup berkata kata sampai dokter menanyakan.


"diantara kalian... mana yang anaknya?"

__ADS_1


"saya cucunya dok"


"kami hanya anak angkat dok" om Alfian menunjuk dirinya dan Ratmi.


"lalu anaknya di???"


"anaknya di negara I untuk bekerja" jawab om Alfian lagi.


"apa nama anak nya Tina?"


"bukan dok, Tina itu ibu saya. beliau telah tiada" ucapku.


"baiklah... segera hubungi anaknya di negara I untuku kembali, karena kanker yang beliau derita sudah stadium 3 yang artinya tinggal 2 tingkat menuju akhir."


"tapi bagaimana kondisinya?" tanya Alfian.


"untuk saat ini tidak sadarkan diri"


setelah kepergian dokter kami berembuk memutuskan siapa yang memberi tahu om Salman dan semua aspek mengarah padaku, jangan tanya gimana perasaannya,semua udah di aduk jadi satu,takut.. bingung... khawatir, semua bener bener di aduk jadi satu.


04.00 subuh


berarti di tempat om Salman pukul 9,akhirnya aku memberanikan diri menghubungi nya.


' hallo... ' terdengar suara om salman seperti ada di tempat ramai.


'om... oma sakit'


'sorry sayang om ga denger sebentar ya' ucap om Salman. 'iya... kenapa Gi??'


'oma sakit om, om harus pulang' ucapku cepat, awalnya hening... sampai akhirnya terdengat umpatan dari sebrang sana.


'om akan pulang,om cari penerbangan paling awal' ucapnya lagi lalu menutup telpon.


om Salman mengabariku dapat tiket pada jam 10 pagi,aku hanya mengatakan pada nya untuk hati hati, '10 pagi disana berarti di sini pukul 5 sore' guman ku.


aku memberi kabar pada yang lain,om Alfian bahkan sempat bertanya apakah om Salman tahu tentang penyakit yang di derita nenek, aku hanya menjawabnya dengan gelengan,karena aku tahu itu akan menjadi sesuatu yang bahaya, biarkanlah dia sampai di sini baru kita memberitahu kabar ini.


17.22


"de... ibu harus kita operasi secepatnya sebelum kesadarannya benar benar hilang" ucap dokter yang baru saja memeriksa oma.


"sebentar ya dok, anaknya baru kembali dari negara I sedang di jemput,saya belum berani mengambil keputusan apapun."


"nanti jika sudah ada minta langsung menemui saya,karna ada yang tidak tertanggung asuransi negara."


"baik dok, nanti akan saya sampaikan."


Sementara itu di perjalanan menuju rumah sakit, "mama sakit apa fi?"


"nanti aja kalau sampe sana"


"kalau kau bilang macam kaya gini berarti parah"


"yang penting saat ini kau ada di sampingnya"


lorong rumah sakit cukup sepi saat itu,terdengar decitan sepatu seseorang yang sedang berlari,beberapa kali petugas menegurnya tapi tidak di hiraukan.


"gi..." sapa nya saat ada di depan Gia


"apa kata dokter?"


"kaker usus besar stadium 3" ucap gia pelan lalu kembali menangis.


"boleh dilihat?"


Gia mengangguk lalu mengatakan kalau dokter ingin melakukan operasi tapi menunggu kedatanga dirinya dan memintanya untuk ke ruang dokter,Salman mengiyakan lalu pergi menemui Oma.


...****************...


"apa apaan nih gw ga dikasih tahu!" tiba tiba tante emy muncul depan kami.


"bukan gak di kasih tahu ka,mama yang gak bolehin" jawab om Salman membela diri.


sebenarnya ada yang membuat kami bingung, karena kami sama sekali tidak mengatakan pada siapapun kalau oma di rumah sakit,kenapa orang ini bisa tahu. bukan berarti dia tidak boleh tahu tapi kami tahu jika tante emy tahu pasti akan sangat heboh dan benar saja, om Salman langsung kena semprot.


"gak usah lu panggil gw kakak! gw kan udah bilang kalau gw bukan kakak lu! mama aja aneh mau punya anak kaya lu!" ucapnya dengan enteng, "untung gw ketemu di Ratmi, kalau kaga gimana coba!"


"ahhh... ini ternyata jawabannya, dia neken mba Ratmi" ucap Gia dalam hati. mba Ratmi memang kita suruh pulang tadi pagi untuk istirahat dan mengambil baju buat kami karena operasi oma akan di jalankan pada pukul 9 pagi ini.


"sakit apa dia??? gak keluarin banyak duitkan???" ucap tante Emy dengan kurang ajarnya "kalau mesti keluarin duit gw cabut nih, gw ga ada duit soalnya"


aku benar benar tidak percaya ada seorang anak yang mengatakan itu saat ibunya sedang di operasi,andai saja aku lebih dewasa,aku pasti melawannha saat ini


"Gia... kalau ternyata oma mu nih enggak selamat,kamu tinggal sama tante aja ya..." ucapnya padaku yang langsung membuatku bangun dari bangku dan melotot kearahnya, dengan sigap om Alfian dan om Salman menarikku dan mereka memindahkanku ke bangku lain.


operasi berjalan selama 12 jam,pukul 6 sore dokter keluar dari ruang operasi dan memberi kabar baik pada kami, yang membuat kami senang bukan kepalang. bahkan mba Ratmi sampai pingsan karena itu,lain dengan kami yang senang dan terharu,tante emy justru merasa kesal, bahkan dia pergi begitu saja.


...****************...


setelah sepuluh hari rawat inap,akhirnya oma di ijinkan untuk kembali ke rumah,Gia selalu mengunjunginya setelah pulang sekolah,hari ini Gua ijin menjemput sang nenek di RS karena om Salman sudah kembali ke negara I tiga hari yang lalu.


"gimana oma? apa jauh lebih baik dari sebelumnya?" tanya om Alfian saat mobilnya mulai melaju meninggalkan lobby rumas sakit.


"sudah nak fian, mama malah lebih enteng sekarang badannya."


"Puji Tuhan.... syukurlah nek!"


"mba Emy apa gak dateng ya mama sakit" tanyanya pada mba Ratmi, membuat aku dan om Alfian menoleh.


"eeehhh itu oma... apa dah namanya mas fian?" mba Ratmi melempar jawaban nya pada om Alfian.


om Alfian menghembuskan napasnya berat, "ada kok ma... kemarin ka emy nunggu bareng kami sampai selesai operasi,tapi setelah itu dia langsung pulang,mungkin masih ada keperluan lain"jelas om fian.


oma tak menjawab apapun, dia hanya menghela hafas saja. kabar kepulangan Oma ternyata sampai juga ke telinga tante Emy,saat kami datang dia sudah ada di depan rumah dan karena dia juga seluruh tetangga jadi tahu kalau oma di rumah sakit padahal oma selalu bilang untuk tidak memberi tahu tetangga,bukan sombong tapi oma hanya tidak ingin merepotkan.


"hai mah... gimana? sudah lebih baik?" sapa tante Emy saat oma turun dari mobil,didepan rumah sudah ada beberapa tetangga yang ikut menyambut oma.


"terimakasih... terimakasih... tidak usah repot repot" ucap oma membalas sapaan tetangga melewati tante Emy.


Tante ikut masuk ke dalam rumah dengan cuek nya,tak lama para tetangga kembali ke rumah mereka masing-masing. mba Ratmi langsung membawa oma untuk beristirahat,saat akan masuk kamar tante Emy bertanya dengan suara yang cukup keras.


"kemana si anak kesayangan mama?"


"mas Salman kerja mba" Ratmi yang menjawab, aku dan om Alfian tak menjawab apapun.

__ADS_1


"kerja? kan mama sakit! gak tahu bales budi dasar!" ucapnya.


"tadi baru jalan kok tan!" sahutku berusaha menahan emosiku, "lagi pula waktu oma selesai operasi juga om Salman yang jaga,gak ada yang bantu" sambung ku lagi.


"bagus... emang dia harus tahu balas budi waktu itu kan oma dan mama mu sudah banyak bantu dia,sekarang waktunya dia yang bantu oma." balasnya dengan nada sedikit mengejek.


om alfian sudah memberi kode padaku untuk tidak menjawabnya lagi,tapi apa daya,aku memang mudah emosi jika menyangkut orang-orang yang aku sayang.jika itu terjadi pada om Alfian atau mba Ratmi, akupun akan melakukan hal yang sama.


"om Salman orang nya emang paling sadar kok! kalau soal balas budi mah dia paling paham,nyatanya kaya sekarang dia sadar betul oma tinggal punya dia anaknya,ga ada orang lain! adanya yang statusnya anak tapi udah kaya bukan anak!" ceplosku yang langsung membuat om Alfian menarikku keluar rumah, untung mba Ratmi sudah membawa oma masuk ke kamat.


"apa sih om! " aku kesal dan menarik tanganku.


"Salman gak pernah ajarin kamu sekurang ajar itu sama yang lebih tua!" bentak om Alfian.


yahh,,, om Salman adalah salah satu sahabat terbaik om Salman dari aku kecil,jadi dia juga tahu bagaimana perjuangan om Salman membantu Oma membesarkanku dan dia juga saksi bagaimana om Salman selalu mementingkan kami di banding segala sesuatu nya, bahkan saat dimana aku hadir dalam hidupnya om Salman mempunyai seseorang,tapi karna wanita itu tidak menginginkanku,om Salman lebih memilih melepasnya ketimbang harus melepaskanku.


ini kali pertamanya om Alfian membentakku,sebelum nya aku selalu lari padanya saat om Salman marah dan saat ini dia membentakku, om Alfian yang sadar telah membentakku langsung mengucapkan maaf.


"maaf..."


aku tersenyum mendengar itu, "gak apa apa om, aku tahu kalau aku yang salah, harusnya aku tidak seemosi tadi"


buru buru om Alfian memberi pengertian padaku, "om paham kamu marah,om mengerti kami kesel sama apa yang sudah tante katakan,tapi om harap kamu bisa lebih mengerti apa yang harus kamu keluarkan dan apa yang harus kamu simpan sendiri" ucapnya perlahan.


kalian bisa pahan kan kenapa aku bisa jauh lebih dewasa dari seharusnya?? Ya.... ini adalah salah satunya, aku ada di lingkup orang orang yang selalu punya aura positif, aku besar dengan mereka yang selalu tenang menghadapi segalanya, mereka yang mengajarkan ku untuk jauh lebih kuat. jadi kalian jangan pernah bilang aku hebat karena dibalik aku yang seperti ini,ada mereka yang selalu membimbingku dan menarikku saat aku melewati batas, memelukku saat aku tidak kuat menahan segalanya.


...****************...


sudah seminggu oma kembali ke rumah,dengan kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya,aku dan om Alfian pun sudah kembali lagi beraktivitas. mba Ratmi ikut senang dengan perkembangan oma saat ini,setiap hari dia selalu menceritakan kegiatan oma padaku ataupun om Salman saat om Salman dan om Alfian menelfon.


hanya saja hari ini sedikit berbeda,mba Ratmi tidak begitu banyak bicara,setelah aku kembali dari sekolah tak lama mba Ratmi pamit pada ku untuk pulang, mba Ratmi memang hanya datang menjaga oma selama aku berangkat sekolah setelah itu semua aku yang mengerjakannya.


besok pagi saat aku akan berangkat sekolah oma belum bangun sama sekali,padahal semalam makan masih sambil bercerita kalau siang itu mba Ratmi sempat salah membeli barang yang akhirnya membuatnya bolak balik ke warung,padahal depan warung lagi banyak ojek pangkalan yang suka godain mba Ratmi. mendengar itu aku langsung tertawa, aku bilang pada oma kalau sebenarnya salah satu dari mereka sebenarnya ada yang cocok,tapi mba Ratmi terlalu jual mahal. oma hanya tertawa mendengar candaanku,tapi entah kenapa yang aku lihat tawa itu seperti berbeda.


entah apa yang ternadi setelah hari itu kesehatan oma semakin menurun,karena om Salman selalu minta kabar dari ku jadi aku berusaha mengabarkan yang sebenarnya benarnya pada om Salman, membuatnya mengutus om Alfian untuk lebih sering lagi ke rumah, bahkan dia meminta ijin pada RT setempat agar membiarkan Alfian menginap dengan alasan kesehatan oma,awalnya RT menolak tapi akhirnya memberi ijin 3 hari sekali om Alfian menginap.


sampai suatu pagi aku kaget mendapati kaki oma yang kaku dan dingin saat aku akan mengelap badannya,untung saja saat ini jadwal om Alfian menginap, aku hanya teriak terkejut saja dia langsung ada di kamar kami.


"kenapa?"


"pegang..." ucapku memanggilnya mendekat.


saat dia memegang oma yang badannya sebagian telah dingin, buru buru dia mengangkat oma yang memang kondisinya sudah buruk sekali, di perjalanan aku menghubungi mba Ratmi dan om Salman memberi kabar. sayangnya cuaca ekstrim di sana membuatnya tidak bisa terbang saat itu juga,semua penerbangan ditutup hingga kondisi membaik.


kami langsung mendapatkan penanganan medis untuk Oma,karena ini hari sabtu jadi aku memutuskan untuk ada di rumah sakit bersama om Alfian,mba Ratmi sampai di rumah sakit 30 menit setelah kami sampai. terlihat wajah khawatir dan takut pada wajahnya,hanya saja dia berusaha terlihat biasa saja,mbak Ratmi sempat memelukku hanya aku yang tahu kalau pelukan itu beda dari yang biasanya,pelukkan itu terlalu erat untuk bahasa saling menguatkan.


pukul 14.22 dokter menyatakan oma koma, bagaikan tombak yang menusuk dan menembus jantung,aku langsung terduduk lemas, tidak ada satu orangpun yang sempat menangkap ku, aku masih sadar,hanya saja kakiku seperti sangat lemas hingga membuatku jatuh.


sejujurnya aku belum siap dengan hal ini aku takut kehilangannya,aku sangat takut saat ini,aku bingung apa yang harus aku lakukan kedepannya. Om Alfian beberapa kali memanggilku menawari aku makan dan lainnya,tapi aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala,aku sempat mendengar suara ponselku tapi aku seperti tidak sanggup untuk mengangkatnya.


tak lama aku mendengar suara ponsel om Alfian 'om Salman' batinku.


'ya?'


'kemana Gia?'


'ada.kenapa?kau sudah sampai?'


ternyata mereka melakukan video call, 'sudah.kau bersamanya?'


'ya... dia di sampingku.' om Alfian mengarahkan ponselnya ke arahku, sayangnya aku tidak meresponnya sama sekali,lalu aku mendengarnya mengatakan agar om Alfian tetap disini,dia akan kembali sendiri.


satu jam kemudian ada yang memeluk tubuhku dan mencium kening ku,hal itu membuatku langsung menangis,ya...saat ini memang aku membutuhkan itu,aku butuh untuk menangis.


"jangan kaya gini... kita harus hadapi ini sama sama" om Salman mengatakan itu sambil memelukku,aku diam tak menjawab apapun "denger om,kita harus sama sama kuat supaya oma cepet sembuh, kita harus kasih semangat sama dia."


om Salman terus memberi semangat padaku,begitu pula dengan om Alfian dia merangkulku dan terus mengatakan kalau kami berempat akan melewatkan ini sama sama. sebenarnya dari tadi om Alfian terus mengatakan itu padaku,hanya saja dia memang tidak intens memelukku seperti om Salman karena itu memang larangan dari om Salman.


melihat hancurnya kami bertiga membuat mba Ratmi ikut menangis,kami bahkan lupa keberadaannya padahal dialah yang dari tadi menawariku segala macam,aku memanggilnya untuk duduk bersama kami, tapi bukan diam dia malah makin menangis.


"maafin mba ya mas... ka... maafin mba orangnya jahat" ucapnya diantara isakkannya.


"udahlah... ga ada yang salah,,," om Salman menenangkan,sebenarnya om Salman memang punya sifat yang luar biasa tenang dalam keadaan apapun.


ucapan om Salman malah membuat mba Ratmi makin tersedu sedu,aku dengan spontan langsung memeluknya,berusaha menenangkan,aku melihat om Salman seperti sedang menelpon seseorang.


"ka... maafin mba Ratmi ka..." ucap mba Ratmi padaku.


"mba ga salah apa apa kok! bukan salah mba ini"


"mba punya salah ka" dia mengecilkan suaranya, "ada yang mba sembunyikan,tapi mba mohon jangan libatin keluarga mba nantinya."


"ada apa sih..."


mba Ratmi bercerita sebuah cerita yang sangat mengejutkan mba Ratmi memberi ponselnya padaku, dia hanya berani merekam suaranya, tidak berani mengambil gambar, itupun karena ponselnya dia taruh begitu saja.


suara itu terdengar seperti suara tante Emy,ada suara oma dan sesekali suara mba Ratmi menengahi,aku tidak kaget dengan suara tante Emy,yang membuatku terkejut apa yang dikatakannya pada oma. belum selesai aku mendengar rekaman itu dan mendengar cerita mba Ratmi tiba tiba tante Emy muncul,tanpa aku sadari aku mengepalkan tanganku dan itu terlihat oleh om Alfian yang membuatnya lansung mendekatiku dan mengenggam tanganku.


"kenapa lu baru telpon gw?" tante Emy langsung menyemprot om Salman.


"maaf ka, saya urus yang lain jadi tidak bisa segera menghubungi kakak." jawabnya tetap dengan rasa hormat.


"bohong aja lu! lu gak urus nyokap bener benerkan? lu pergi pergi terus..."


om Salman tak menjawab,dia hanya tersenyum,itulah yang membuatnya special karena dia bukan orang yang perduli denga sesuatu yang menurutnya tidak terlalu penting.


"kenapa?" Om Alfian menanyakan padaku, tangannya masih mengenggam tangan ku, aku hanya mengeleng,om Salman melihat tangan Alfian yang terus mengengam tanganku,hal itu membuatnya langsung melepaskan tanganku.


"kau itu! mengapa mengambil kesempatan saat aku sedang sibuk mengurus hal lainnya!"


om Alfian hanya tertawa mendengar itu, aku tetap memasang wajah datar.


...****************...


pukul 02.11


ttttuuutttt.......


terdengar suara mesin di samping tempat tidur oma, membuatku dan yang lainnya lompat bangun. tak lama dokter datang bersama beberapa suster dan dokter syaraf.


lalu dokter mengeleng beberapa kali ke arah dokter dan suster lainnya,lalu salah satu dokter mengatakan kabar buruk itu pada om Salman.


pertama kali dalam hidupku melihat om Salman sehisteris itu,dia tidak terkendali,om Alfian sudah ikut menanggis melihat sahabat baiknya yang hancur. mba Ratmi sempat memelukku sebelum akhirnya pingsan,aku menatap kosong ke arah oma.


'*oma... aku mohon jangan p*ergi,aku tidak ingin bersamanya,oma... aku takut oma... aku mohon...' ucapku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2