
cukup lama dalam diam setelah pembicaraan itu,sampai Rian memejamkan mata dan tertidur, Gia membalikkan badan menghadap Rian yang nafasnya sudah teratur, yang artinya dia sudah tidur, dengan tangan yang masih saling menggenggam Gia berusaha melampiaskan nya dengan genggaman yang sedikit lebih erat dari sebelumnya. "aku juga sayang sama kamu mas, aku cuma takut tidak bisa memberi yang terbaik untuk kamu, kamu jauh lebih baik bahkan terlalu baik untukku." ucap Gia dalam hati, tanpa terasa airmatanya jatuh. Rian yang memang sebenar belum benar benar tidur langsung membuka matanya,bahkan hampir setiap pergerakan Gia dia ketahui.
"hei..." panggil Rian yang membuat Gia terkejut karena ternyata belum tertidur. "kenapa nanggis? aku salah ya?" Rian duduk di kasur yang membuat dirinya sejajar dengan wajah sang wanita yang saat ini sedang dia tutup. "Gi... " panggilnya lagi, "hey... ayo dong, jangan gini" kali ini dia menarik lembut tangan Gia meminta untuk melihat ke arahnya dan kali ini Rian sudah duduk di tempat tidur Gia.
setelah Gia duduk dan menatap Rian tanggisnya malah semakin tidak terkontrol, spontan Rian memeluknya, hanya memeluk tanpa bertanya ada apa? kenapa? atau apapun, hingga Gia tertidur dalam pelukkan nya, Rian berbaring masih sambil memeluk Gia, dia tidak melakukan banyak pergerakan agar Gia tidak terbangun.
ngantuk yang tadi di rasakan Rian seketika apalagi saat kaki Gia mengeliat menyenggol sesuatu yang sudah mulai mengeras karna badannya menempel pada Gia,ha ini membuat pikiran Rian melayang tak tentu arah, dengkuran halus dari Gia yang menyatakan dia sudah cukup nyenyak. 15 menit berlalu Rian masih belum bisa tidur, bagaimana bisa tidur karna sudah dari tiga menit yang lalu sudah bukan kaki yang bersarang di sana melainkan salah satu tangan Gia mengenggam si junior, Rian yang sudah tidak tahan akhirnya berusaha melepaskan diri dari Gia, sepertinya dia akan menuntaskan hasrat nya dikamar mandi.
Rian yang akan kembali ke kasur setelah selesai terkejut melihat Gia yang mandi keringat padahal AC nyala, dia langsung memeriksa suhu tubuh Gia yang memang menghangat dan tubuhnya yang memerah. "non..." panggil Rian lembut, Gia yang dibangunkan terkejut karena Rian hanya memakai handuk menutupi pinggangnya, reflek Gia melihat badannya sendiri yan masih berbalut lengkap. "kamu kenapa? " tanya Rian menunjuk tangan Gia yang merah, sambil menghubungi Awan. " telepon siapa? " tanya Gia tidak menjawab pertanyaan Rian.
"gw ga suka di video call laki" jawab Awan setelah mengangkat video call itu, "sial... lu mau pamer? abis berapa ronde kalian?" mendengar pernyataan Awan membuat Rian sadar belum memakai apapun, Ruang mengarahkan kameranya ke Gia. "kok kamu pake baju lengkap de? " tanya Awan heran.
"gw ga akan kasih liat ke lu kalau dia ga pake apa apa! gw mau tanya ini badannya kenapa?" tanya nya pada Awan, lalu meminta Gia memegang HP nya karna dia ingin berpakaian.
"kamu alergi sesuatu? " tanya Awan, yang di jawab anggukkan. "apa?" tanya nya lagi dengan senyuman.
"udang"
"hem... nanti minta pacar mu yang ga bertanggung jawab itu beli obat alergi ya,untuk sementara kamu bisa minum air kelapa"
"okey"
"gimana? " tanya Rian yang bergabung setelah memakai baju lengkap.
__ADS_1
"lu kasih makan apa tadi?"
"banyak... to the point aja kenapa! jangan tebak tebakan sama gw" jawabnya sambil merangkul Gia.
"dia alergi seafood, sebaiknya lu hindari"
Rian langsung menoleh ke Gia, " kamu kenapa gak bilang?" tanyanya lembut.
"berhenti deh! gw pengen muntah liat nya" ucap Awan melihat sikap manis Rian.
"minum susu ya... " tanya Rian lagi tanpa perduli pada Awan.
"dia ga suka susu" Awan yang menjawab, Rian sempat melirik ke arah HP nya. "banyak juga yang di tahu anak setan ini" batin Rian, saat Awan akan menjawab lagi HP nya langsung dimatikan.
"jalan pak" tegas Rian
"ga usah pak" balas Gia tidak kalah tegas tapi sambil mendekat ke arah Rian dan menggandeng tangannya,membuat Rian mati kutu,melihat itu penjaga villa pergi dan kembali beristirahat.
Gia membawa Rian masuk kembali ke kamar, Gua sudah bertekad akan menceritakan hal itu pada Rian, entah kenapa dia merasa aman seperti saat bersama Bagus. sampai di kamar Rian langsung berbaring di tempat nya dan membuka HP nya, Gia pun melakukan hal yang sama dia kembali ke tempat tidur, bedanya Gia langsung meminta hpnya yang di pegang Rian.
"mas liat ga ini jam berapa?"
"liat"
__ADS_1
"jam berapa?"
"jam 4"
"SUBUH jam 4 subuh, orang masih istirahat mas, apotik yang deket juga pasti udah tutup" jelasnya pada Ruang yang menoleh ke arah lain. "liat sini deh mas, " panggil Gia lagi untuk ke beberapa kalinya akhirnya Rian menoleh, "kasian kan mamang nya lagi istirahat, besok kalau udah pagi aja suruh nya ya, jangan jam segini, nanti kalau dia kenapa kenapa kamu akan lebih merasa bersalah, iya ga? " Rian menjawabnya dengan senyuman, dia senang dengan sikap dewasa yang dimiliki Gia.
"non... aku boleh ga tanya sesuatu?"
"hemm?"
"apa aku boleh tahu kenapa kamu nolak lamaran aku?" tanya Rian penasaran, karna Gia diam, Rian malah tak enak hati karena menanyakan hal itu. "gak apa apa kalau kamu belum ingin menjawabnya, tidur lagi gih.." balas Rian lagi.
baru Rian membalikkan badannya membelakanginya, Gia memanggil,memintanya untuk duduk dan kemudian Gia menceritakan semua ketakutan nya dengan harapan Rian bisa menerima dirinya, dengan semua kekurangannya. dia menceritakan semua ketakutan nya dan mengapa sampai ada ketakutan ketakutan tersebut, berawal cerita dengan tatapan kosong, pertengahan cerita yang penuh emosi, sampai akhir cerita yang berurai air mata.
akhirnya mereka menghabiskan subuh dengan saling bercengkrama, bahkan tangan nya sambil merangkul Gia, di bawah tangannya Rian masih merasakan bagaimana Gia agak gemetar dengan rangkulan yang dia lakukan makanya Rian meminta ijin untuk memegang tangannya dan semua yang di lakukan Rian atas ijin dari Gia.
Gia merasa sangat bersyukur memiliki Rian yang benar benar menerima dia apa adanya, bahkan setelah Gia menceritakan trauma yang dia derita Rian malah mengatakan.
"aku engga bisa menjanjikan kamu akan sembuh, aku enggak bisa menjanjikan kamu akan normal seperti wanita lain pada umumnya karna yang kamu alami memang terlalu keras dan terlalu menyakitkan untuk kamu. tapi aku punya satu janji yang bisa kamu pegang yaitu aku akan ada buat kamu, untuk melewati masa masa itu, yang sekarang harus kamu lakukan hanya percaya kalau kita bisa lewati itu bersama. "
untuk sebagian orang mungkin kata itu biasa saja tapi untuk Gia itu sebuah tanda untuk menghancurkan dinding yang selama ini dia bangun.
setelah terang Rian langsung meminta Gia berbenah untuk jalan jalan sekaligus kembali ke jakarta, tidak lupa dia membeli obat untuk alergi yang di alami Gia. ada momen mengharukan saat akan masuk ke mobil untuk kembali, Gia meminta maaf untuk semua yang dia lakukan dengan tiba tiba dan tak beralasan dan Gia menerima lamaran yang di minta Rian di hari sebelumnya, Rian yang sangat terharu masih sempat menanyakan pada Gia 'apakah dirinya di perbolehkan memeluk' yang di jawab Gia dengan anggukan.
__ADS_1