Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
69


__ADS_3

keesokan pagi nya Bagus benar benar melakukan apa yang dia katakan, dia memanggil adik yang paling dia sayangi itu hanya untuk memeriksa leher sangat adik, apakah ada cap yang dibuat oleh sahabatnya itu. ternyata memang bersih, hal itu membuat Bagus bernafas lega, karena dia sangat tahu sepak terjang sangat sahabat setelah kejadian itu makanya dia sangat menjaga sangat adik, dia pun cukup salut dengan sahabat nya itu yang sangat menjaga sangat adik dengan baik.


"ini saat nya kamu bahagia dengan, kamu dapat orang yang sangat tepat. dia akan sangat menghargai kamu" batin Bagus.


"kamu kenapa liat Gia begitu?" tanya Risa.


"tahu tuh! bikin takut aja" saut Gia.


"aku lagi bangga sama diriku sendiri bisa punya perempuan hebat kaya kalian berdua" ucapnya sambil tersenyum melihat kedua wanita di depan nya. "sampai sampai aku mikir kalau aku bakalan punya istri dua kalau sampai adikku yang satu ini gak punya punya pacar juga" canda Bagus yang ternyata langsung di sambut dengan lemparan kulit pisang yang telah mereka makan, Bagus tertawa keras dengan reaksi kedua wanita itu.


Hari itu Gia dan Risa sibuk di kedai dengan menu baru yang mereka keluarkan, Tiba-tiba mereka mendengar suara benda yang pecah, Risa yang sedang di ruangannya beristirahat karna lelah berdiri langsung bangun untuk melihat, begitu pula dengan Gia yang di dapur.


"Gimana sih... ini tuh asin banget! mana di sup nya ada ekor cicak! saya kira ini beneran rumah makan terbaik, ternyata saya salah" maki seorang perempuan kepada salah satu karyawan kedai, bahkan dia sampai menunjuk nunjuk wajah nya si pegawai.


melihat itu Risa dan Gia berjalan menuju meja itu,


"selamat siang mba kami pemilik kedai" ucap Risa sopan kepada wanita yang membelakangi dia dan Gia, Risa cukup terkejut saat wanita tersebut menghadap ke arah mereka,sampai dia sempat merasa sakit di perutnya dan diabaikan,hanya Gia tetap memandang biasa saja karena memang masih berusahamemutar daya ingat nya untuk tahu siapa orang di depannya.


"selamat siang mba Hana... ada yang bisa saya bantu? kenapa anda membuat keributan di rumah makan kami?"


"sup yang saya santap asin dan ada ekor cicak didalamnya" ucapnya sambil menunjukkan ekor cicak di sendok nya.


"mba jangan menghancurkan usaha orang kaya gitu! ga baik" ucap salah satu pengunjung sebelum Risa menjawab Hana.


"iya mba! sejauh ini kita makan disini aman aman aja kok, ga pernah ada salah apapun." satu dari pengunjung lain.


"jadi kalian tuduh saya bohong?" Hana tidak Terima.


"mba Hana, bisa bicara di ruangan saya?" ucap Risa menengahi


"gak perlu" jawabnya ketus. "liat aja kalian! pasti kalian akan sakit perut makan sup yang ada ekor cicaknya itu!" sambungannya sambil melihat ke arah para pengunjung yang membela Risa dan Gia.


kepergian Hanna mendapat sorakan dari para pengin lain, Risa dan Gia hanya tersenyum dan kembali ke tempatnya, tapi kali ini Gia tidak kembali ke dapur melainkan ke ruangan nya dan Risa.

__ADS_1


"tadi siapa sih ka? "


"yang mana?"


"ga usah pura pura"


"namanya Hanna" jawab Risa sambil menghembuskan nafas berat, "dia salah satu pengunjung yang sangat suka dengan masakan kamu" sambung nya.


"terus kenapa dia kaya gitu?"


"dia..." belum sempat Risa menjawab Bagus muncul tanpa mengetuk.


"Hai dua bidadari ku, kalian sudah makan? "


"belum" jawab kedua wanita itu nyaris bersamaan.


"tunggu aku ya? " ucapnya sambil tertawa.


"aku siapin makanannya ya, makan disini aja" ucap Gia yang di jawab dengan anggukan oleh kedua kakaknya.


mereka makan sambil bertukar cerita tapi tidak sama sekali menyinggung tentang sesuatu yang tadi sempat terjadi tadi, setelah selesai makan Gia merapikan piring dan membawanya kembali. "semoga kamu ga kaya papa mu" ucap Gia sedikit kencang saat melihat Bagus berbincang dengan anaknya yang masih dalam perut ka risa.


saat akan kembali ke ruangan nya Gia bertemu Awan yang baru datang dan hendak menemui Bagus.


"Hai cantik " ucapnya sambil bercipika cipiki dengan Gia.


"Hai Ka"


"ada Rian? " tanya nya


"ga"


"Bagus? "

__ADS_1


"ada"


Awan membuka mulutnya meminta Gia menyuapi buah yang di tangannya, tanpa mereka sadari ada sepasang mata memperhatikan interaksi mereka sedari tadi, ya... RIAN siapa lagi kalau bukan dia, menyukai orang tapi malu untuk mengakuinya


"sejak kapan Awan dan Gia dekat? sedekat apa mereka?" batinnya.


"ehem" suara batuk menghentikan kegiatan kecil mereka yang sedang saling menyuapi.


"mas" terkejut dengan kehadiran Rian, tapi tetap berada di samping Awan.


.


"asyik kayanya suap suapan"


"iyalah..." jawab Awan cuek yang langsung di senggol oleh Gia


"eh... eh.... jangan kasar sama perempuan!" tegur Awan saat melihat Rian menarik tangan Gia,lalu dia menarik Gia ke sampingnya lagi.


Rian langsung memberi tatapan membunuh pada Awan, apalagi dia langsung merangkul pundak Gia setelah itu, Gia sempat ingin melepas rangkulan itu tapi Awan menekannya.


"jangan main main sama gw" ucap Rian tegas.


"apa nya yang main main? dia belum punya lu!" jawab nya menantang Rian, kata kata itu langsung membuat Gia menoleh kearah Awan. "kenapa ka Awan bilang gitu? apa ka Awan sempat melihat sesuatu tadi" batin Gia.


"gw rasa dia free! karena dia belum jadi pasangan loe!" bantah Awan.


"heh heh heh.... ada apa nih?" tegur Bagus dan Risa yang baru keluar dari ruangannya.


"ga ada apa apa kok... lagi ngobrol... " potong Gia sebelum Awan menjawab.


kata kata Gia membuat Awan dan Rian menoleh ke arah nya, Awan langsung menarik Gia ke sisi lain saat Rian akan mengenggam tangannya, Gia yang tidak siap sedikit oleng dan hampir terjatuh,namun kecepatan tangan sang kakak berhasil menangkap pinggang sangat adik dengan sangat baik.


"ngapain sih loe berdua!?!! " bentak Bagus kesal

__ADS_1


"Sorry sorry... " balas Awan,langsung meraih Gia dan bertanya tanpa suara" kamu gak apa apa?" yang di jawab dengan anggukan oleh Gia.Rian tak mengatakan apa pun, tapi sorot matanya menyimpan kemarahan, Gia tahu itu karena dia cukup mengenal Rian, walaupun belum sepenuhnya mengingat apapun tentang Rian tapi kedekatannya beberapa waktu ini membuat dia mengenal laki laki itu.


Rian menatap Gia tajam, semalam wanita ini baik baik saja, sekarang kenapa seolah mengacuhkan dirinya. "kenapa Gia?" ucapnya dalam hati. seolah tahu Rian bertanya Gia hanya menunduk, dia bukan takut tapi dia bingung, bingung menjelaskannya namun dia kecewa dengan apa yang sempat dia lihat tadi, sebuah foto dan video dimana Rian sedang bersama wanita lain.


__ADS_2