Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
BAB 3 KEPERGIANNYA MENGHANCURKAN


__ADS_3

Pukul 02.11


ttttuuutttt.......


terdengar suara mesin di samping tempat tidur oma, membuatku dan yang lainnya lompat bangun. tak lama dokter datang bersama beberapa suster dan dokter syaraf.


lalu dokter mengeleng beberapa kali ke arah dokter dan suster lainnya,lalu salah satu dokter mengatakan kabar buruk itu pada om Salman.


pertama kali dalam hidupku melihat om Salman sehisteris itu,dia tidak terkendali,om Alfian sudah ikut menanggis melihat sahabat baiknya yang hancur. mba Ratmi sempat memelukku sebelum akhirnya pingsan,aku menatap kosong ke arah oma.


'oma... aku mohon jangan pergi,aku tidak ingin bersamanya,oma... aku takut oma... aku mohon...' ucapku dalam hati.


"man... jangan gini! kasian Gia" ucap om Alfian setengah membentak pada sahabatnya.


di sudut lain ada tante Emy yang sedang membuat drama dengan air matanya, 'untuk apa kau menanggis bukannya ini mau mu' batinku melihat tante ku sendiri. dia berusaha meraihku tapi aku menolaknya.


om Salman mulai tak terkendali,dia mulai mengamuk,om Alfian bahkan tidak bisa menahannya, aku melangkah ke arahnya dan berdiri di depannya, dia yang sadar keberadaanku langsung memelukku kami menangis ini adalah patah hati terberat untuk kami. om Alfian bergabung memeluk kami,tak jauh dari kami ada mba Ratmi yang setia di sisi kamu bertiga.


oma kami bawa pulang,tetangga sekitar ikut sedih melihat kami,mereka yang melihat perjuangan kami dan kedekatan kami bersama oma ikut menangis melihat kami, bahkan tetangga depan rumah langsung berlari memelukku dengan erat. "kalian kuat nak, kalian pasti kuat" ucapnya lalu beralih pada om Salman.


pemakaman oma di hadiri banyak sekali orang bahkan beberapa diantaranya kami tidak mengenal mereka,setelah pemakaman aku, om Salman,om Alfian dan mba Ratmi masih duduk di samping makan, beberapa orang menghampiri kami mengajak pulang,tapi kami hanya mengeleng.


"oma... maafin Ratmi oma... Ratmi salah oma... maafin Ratmi" raung mba Ratmi membuat aku yang berada di antara om salman dan om alfian bangkit dan duduk di sampingnya.


"udah mba... gak apa apa,mba juga terpaksa kan, oma pasti paham" ucap ku menenangkan walaupun tak membuat mba Ratmi berhenti menangis.


om Salman dan om Alfian sempat menatapku dengan penuh tanda tanya,apalagi mba Ratmi terus meraung dan meracau tentang kejadian itu, aku menghela bagas berat lalu mengambil ponsel mba Ratmi dan memberikan kepada mereka berdua,agar mereka mendengar apa yang terjadi dengan oma sebelum beliau meninggalkan kita.


flashback on


siang itu mba Ratmi di kejutkan dengan gedoran pintu yang cukup keras, ldia langsung buru buru ke pintu dan langsung membuka tanpa melihat siapa yang datang, dia terkejut saat melihat yang berdiri di depa pintu adalah tante Emy.


"mba Emy... masuk mba"


"mana mama? "


"dikamar mba, sedang makan siang"


tanpa permisi dia langsung masuk ke kamar oma,mba Ratmi buru buru mengikuti,om Salman memang berpesan untuk tidak membuka pintu apa lagi untuknya, tapi karena tadi terburu-buru akhirnya mba Ratmi langsung buka, apalagi jam kedatangannya sama dengan jam kedatangan om Alfian.


"mah..." panggil nya.


"hheemm" oma hanya berguman sebentar lalu melanjutkan makannya. mba Ratmi dengan sabar menyuapi oma,merawat dengan sangat baik.


setelah makan tanpa basa basi,tante Emy langsung menyerang oma, seakan oma bukan orang tuanya melainkan musuhnya.


"mama kenapa sih pake bangun lagi! mama kan tahu aku butuh uang itu ma! kenapa mama sembuh? udahlah mama kalau mau pergi pergi aja! mama emanng gak ada sayang sayangnya ya sama aku! mama tuh sayang sama Tina dan Salman aja!" tante Emy mengucapkan itu dengan kurang ajar.


"jangan gitu mba! oma masih dalam pemulihan jangan di kasih beban pikiran,nanti oma sakit lagi! kasian oma." mba Ratmi menegurnya.


"udahlah mi! kamu gak usah ikut ikut! kamu tuh belain banget anak pungut itu! kamu diem aja, saya cuma lagi berusaha minta sesuatu yang menjadi hak saya!" bentak nya pada mba Ratmi.

__ADS_1


"bukan gitu mba caranya! kalau memang belum dapat berarti memang belum waktunya mba punya.


" kamu itu,jawab mulu sekarang ya!"


akhirnya mba Ratmi diam, dia tahu akan percuma bicara dengan orang yang memang pada dasarnya gila harta.


mba Ratmi akhirnya mengambil ponselnya dan merekam suara tante Emy yang memaki maki oma,saat mba Ratmi sedang ke dapur membawa alat makan yang tadi dipakai.


"mama tuh kenapa sih ma! mama jadi berubah kaya begini semenjak Tina ambil itu anak punggut! Aku itu anak mama,kenapa mamah lebih membela dia dari pada aku?apa karena mama emang mau punya anak laki laki? apa karena aku nikah bukan dengan laki laki yang mama pilih? Tina juga melakukan hal yang sama ma,kenapa cuma aku yang mama musuhin?" bentak tante Emy pada mama.


"kamu yang berubah bukan mama atau orang lain! " oma sempat menjawab demikian.


"udahlah! mau gimanapun aku akan tetap salah, gak akan pernah ada benarnya malau di mata mama!" balas tante Emy dengan penuh emosi. "ingat kata kata ku ma... aku gak akan tinggal diam ma! aku akan celakain orang orang yang mama sayang itu,apa lagi kalau mama gak mau ikutin keinginan aku!"


"jangan kamu ganggu adik dan ponakan mu"


"itu tergantung! kalau mama mau tanda tangan kalau waris dan uang tabungan yang mama punya dari Tina untuk aku, aku gak akan pernah ganggu mereka, tapi kalau tidak berarti mama lebih pilih aku hancurin anak pungut dan cucu mama" ancamnya lagi pada oma.


"mba! jangan kaya gitu!" mba Ratmi baru kembali. "mba Emy jangan bikin oma banyak pikiran" sambungnya lagi. "oma istirahat aja ya, nanti aku telpon om Alfian" kali ini mba Ratmi bicara pada oma dengan sangat lembut.


"jangan ikut campur kamu mi! dia itu orang tua saya! "


" oma butuh istirahat mba!" lawan mba Ratmi lagi.


akhirnya terjadilah perdebatan di antara mereka,Emy terus memaksa agar oma menandatangani surat itu,mereka beradu argumen sampat akhirnya oma menyerah.


"sudahlah... kemarika surat itu, yang penting jangan ganggu anak dan cucuku!"


"biarkan Ratmi uang itu bisa habis,oma tidak ingin Gia dan Salman susah nanti nya karena dia! "


oma akhirnya menandatangani surat itu, mba Ratmi sudah berusaha membuat oma berubah pikiran tapi, oma begitu menyayanhi Salman dan Gia jadi dia tidak ingin sesuatu terjadi pada mereka.


"awak kalau kau bilang hal ini pada mereka! aku akan melibatkan keluargamu agar ikut hancur! " ancam Emy pada Ratmi lalu berjalan keluar dengan senyum karena misinya telah selesai.


"oma istirahat ya..." ucap Ratmi tenang seakan tidak terjadi apapun.


Mba Ratmi membiarkan oma istirahat dan menyelimuti oma,saat akan beranjak keluar oma menahan tangan mba Ratmi. "Ratmi... jangan bilang siapapun... kasian nantu keluarga kamu"


"iya oma"


"janji ya..."


"iya oma Ratmi janji"


Akhirnya Ratmi menyembunyikan itu dari siapapun, tapi kesehatan oma semakin menurun,oma seperti tidak ada harapan untuk hidup, sampai akhirnya mba Ratmi memutuskan untuk mengatakan pada om Alfian dan Gia tapi belum sempat menceritakannya Gia sudah menghubunginya dan memberi tahu kalau oma berada di rumah sakit.


flashback off


mendengar rekaman itu dan cerita dariku membuat om Alfian dan om Salman tidak kuat menahan amarahnya. om Salman langsung bangkit berdiri,aku langsung menahannya.


"sebelum ke rumah sakit oma bilang sama aku supaya kita akur akur terutama sama tante Emy, kata oma sebenarnya dia baik, hanya lingkungannya yang membuatnya terpengaruh. aku sudah janji sama oma kalau kita akan akur,jadi kita jangan kecewakan keinginan oma untuk terakhir kali." jelasku pada om Salman.

__ADS_1


dia hanya diam tapi bukan berarti dia terima hanya dia mencari cara agar dapat melepaskan emosinya itu,om Alfian yang paham betul dengan sahabatnya itu langsung merangkul dan berusaha menenangkannya,walaupun sangat jelas terlihat kalau dia juga emosi mendapat ceritaku itu.


kami pulang menjelang sore, beberapa kerabat masih ada di rumah oma termasuk orang yang saat ini tidak ingin kami lihat, ya.. ada tante Emy yang sedang berdrama seakan dia adalah orang yang paling kelihangan dari pada kami yang benar benar menjaga oma. ada juga keluarga mba Ratmi yang membantu proses ibadat di rumah dan menjaga rumah.


ibu mba Ratmi menghampiri kami,membawakan kamu minum salmbi berkata pada om Salman kalau uang duka sudah ada pada tante Emy,beliau yang menyuruh ibu mba Ratmi agar memasukkan kotak amplop itu ke kamarnya karena dia akan menginap beberapa hari ke depan hingga hari ketujuh berdua dengan suaminya.


kami masuk ke kamar untuk ganti baju,kami tetap harus keluar karena ada beberapa kerabat yang berada di rumah, rasanya kurang sopan jika kami tidak menemani. 30 menit kemudian om Salman mengetuk pintu kamarku mba Ratmi dan ibu nya yang berada di kamarku langsung saling menoleh, mereka baru bergerak saat ada suara om Alfian yang memanggil.


"kalian istirahat aja ya,biar om yang temenin saudara,nanti ada keluarganya mba Ratmi yang bantu rapi rapi" ucap om salman saat masuk ke kamar.


"iya mba Gia...nanti ibu aja yang beres beres, mba Gia istirahat sama Ratmi" ucap ibu mba Ratmi.


"ga apa apa? " tanyaku pada om Salman.


"gak apa, nanti aku yang bilang kalau kamu istirahat." ucap om salman.


"minum ini dulu,baru tidur... aku tahu kalau aku suruh makan pasti kalian nolak jadi kalian minum vitamin biar ga sakit" om Alfian memberi vitamin pada kami.


aku merebahkan badanku setelah mereka keluar, aku tidak ingin tidur aku hanya ingin beristirahat merebahkan badanku,yang terasa sangat lelah.


Aku tidak mengerti lagi apa yang akan terjadi nanti kedepannya,airmataku terjatuh, airmata yang sudah kutahan saat berada di tengah keramaian,mba Ratmi yang sama sedihnha langsung memelukku kami menangis bersama hingga tertidur. kami semua sebenarnya hancur hanya saja berusaha terlihat tegar agar tidak ada seorangpun yang menginjak kami.


aku terbangun saat merasa di gin pada keningku aku membuka mata dan mendapati mba Ratmi dan ibunya sedang di sampingku, melihat aku bangun bu ida ibunya mba Ratmi keluar dan kembali bersama kedua om terbaikku.


"makan ya..." om Salman langsung duduk di sampingku.


"nanti ya...aku ngantuk" jawab ku yang memang masih merasa sangat lelah.


"jangan... makan dulu ya, nanti makin sakit" kali ini om Alfian yang meminta,aku tersenyum mendapati rasa khawatir pada nada bicara mereka,aku menganggukan kepalaku.


om Salman langsung memberikan suapannya,mba Ratmi, bu ida dan om Alfian keluar dari kamarku,membiarkan aku dan om Salman melepaskan keakraban kami. tak lama air matanya turun masih sambil menyuapiku.


"sorry..."


"gak apa om, kan om sendiri yang bilang kalau kadang memang ada saat dimana kita menangis, om ingetkan" kata kata ku itu langsung membuatnya memelukku,entah kenapa aku rasa om Salman jauh lebih sedih, tapi aku tidak mengerti karena apa.


setelah itu om Alfian masuk ke kamar dan bergabung memeluk kami,entah kenapa aku lebih merasa kekeluargaan padanya di banding tante Emy.


...****************...


waktu terus berjalan,tak terasa ini sudah memasuki hari ketujuh, pada hari ketiga kemarin akhirnya om Salman tumbang, aku dan om Alfian berada di sisinya merawatnya,om Alfian sama seperti kami tidak memiliki siapa siapa, orang tuanya telah tiada juga jadi dia begitu terlihat akran dengan om Salman.


malam itu setelah sembayang hari ke tujuh kami kedatangan tamu yaitu om Jimmy dan istri, aku dan om Salman sempat membicarakan ini sebelum om Salman sakit, tante Emy pasti sedang menunggu om jimmy.


"Gia... om turut berduka... dimana om Salman?"


"om Salman sedang sakit di kamar"


"boleh om melihatnya?"


"silahkan om"

__ADS_1


om Salman tidak terkejut dengan kehadiran om Jimmy, dia menyambutnya dengan senyum bersama om Alfian disana, om Alfian yang tahu siapa om Jimmy langsung keluar dari kamar itu karena yang akan di bicarakan pasti sesuatu yang intern.


__ADS_2