
Gia menutup bukunya,menghapus air matanya dan tersenyum. dia kembali ke kasur sambil memegang sebuah gelang hitam dengan bandul R disana,itu gelang saat Rian menjemputnya di sekolah dan mereka mampir di sebuah pasar malam,mereka masing-masing memegang 1 gelang dengan inisial mereka. Gia memegang yang R dan Rian sendiri memegang yang
...****************...
"bisakah aku menganti pakaianku?" tanya Gia pada Risa.
"jangan sayang... kita bertiga hanya memonitor makanan yang harus di tambah,pelayanan serahkan pada yang lain." balas Risa tegas
semalam Risa dan Bagus menginap di kontrakan yang tak jauh dari kedai dan hari ini kedai tutup karna hari ini adalah acara ulang tahun 'tafarloza corp' semua sudah siap,semua ada di posisinya masing masing,tinggal Risa,Gia dan Bagus yang belum di Gedung tersebut tapi semua sudah ready 98%
"ka... kakak yakin ini pakaian yang harus kita pakai? " tanya Gia lagi, "apa kau tahu ini membuatku tidak bisa bergerak?" sambungnya.
"Halim yang meminta nya,kata Halim kita tamu sekaligus tim komsumsi jadi kita ikuti saja" jawabnya.
"kenapa kita harus di rias?"
"Halim yang mengirim mereka Gia,mungkin dia mau kita membaur dengan para tamu karna biar bagaimanapun kita teman dari pemilik perusahaan tersebut"
10 menit kemudian Risa dan Gia selesai didandani oleh orang suruhan Halim,Gia melihat dirinya sendiri di kaca, sangat terkejut dengan apa yang dia lihat... "benarkah ini aku?" ucapnya dalam hati. setelah itu dia menoleh ke arah ka Risa yang jauh lebih cantik dari biasanya,Gia sangat setuju jika Risa dandan malam ini karna dia istri dari Bagus pemilik 'Bari corp' yang malam ini menjadi tamu spesial karna akan menjalin kerja sama yang cukup besar ke depannya.
"ayo kita..." Bagus langsung kehilangan kata kata saat melihat dua wanita yang sangat dia sayangi itu berpenampilan lain, "wow... kalian sangat cantik" sambungnya mendekati dua wanita itu.
Risa dengan gaun yang telah dia pilih bersama sang suami
dan Gia yang di bawakan beberapa baju terbuka yang sangat tidak di setujui oleh Bagus dan akhirnya Bagus membawakan baju yang menurut nya akan cocok untuk sang adik.
"aku adalah pria paling beruntung yang bisa datang bersama dua wanita cantik" ucapnya mencium sekilas bibir sang istri dan mencium pipi sang adik,lalu memeluknya bersamaan, "aku berdoa agar malam ini tidak banyak pria yang menggoda dua wanita yang ku sayangi ini" sambungnya lagi sambil tertawa lalu membawa sang istri dan adik menuju pesta.
sesampai di pesta Gia dan Risa mengenakan pita biru yang artinya dia adalah panitia acara,mereka berdua mulai mengelilingi meja prasmanan untuk memantau makanan yang sudah tersaji.
__ADS_1
semua makanan sudah tersusun dengan rapi,piring,bahkan Snack sudah rapi semuanya.
ini ketiga kalinya untuk kami menangani catering seperti ini tapi ini pertama kalinya aku tidak terjun langsung bolak balik,pertama kalinya di Bekerja sama dengan perusahaan yang sangat terkenal dan pertama kalinya catering sebesar ini. selain menambah orang untuk masak,Gia dan Risa juga menambah orang yang melayani dari sekolah Gia,dari kedai dan beberapa dari EO tempat mereka bekerja sama.
Gia sibuk mengarahkan beberapa anak buahnya ke beberapa sudut, menambahkan makanan dan merapikan beberapa tempat. di tempat lain ada seseorang menatap rindu orang yang sedang sibuk itu "kau tahu... sebesar apapun aku menghindar darimu sebesar itu pula rasa sakit yang kurasakan,bahkan aku rasanya sangat ingin menariknya kedalam pelukkanku saat melihat senyummu kemarin,sayangnya ada Derry di sana dengan senyum liciknya" batin Rian menatap lekat Gia dari kejauhan.
...****************...
acara sudah di mulai,orang sudah berlalu lalang saling menyapa satu sama lain untuk bertukar kartu nama,beberapa orang sempat memberikan kartu nama pada Gia tapi Gia dengan sopan menolaknya. pandangan Rian terus mengikuti wanita yang sangat dia rindukan itu,beberapa karyawan sempat menggodanya tapi wanita itu hanya tersenyum manis menanggapi.
Gia sempat melihat Rian diawal acara tadi,saat Rian memotong tumpeng dan memperkenalkan pengembangan proyek nya yang akan bekerja sama dengan perusahaan Bagus,setelah itu Gia tidak sama sekali melihat keberadaan Rian bahkan Rian sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Gia keluar sebentar dari acara, kesibukannya beberapa waktu ini membuatnya kurang tidur,Gia memegang kepalanya yang sedikit pusing.
"kenapa kepalaku makin pusing..." gumannya
sebenarnya Gia memang akan merasa sangat pusing jika ada di tempat yang terlalu ramai,tapi biasa itu akan hilang begitu saja tapi yang kali ini sepertinya tidak karna Gia sudah berusaha menahan nya malah semakin sakit,makanya dia memilih keluar dari acara.
"ladies... are you oke?" sapa seseorang.
"hmmm... aku baik baik saja" jawabnya singkat.
Gia menggeleng lalu berusaha melihat kearah pria itu,dari dandanan nya dia pasti salah satu yang menghadiri pesta itu terlihat dari cara berpakaian nya,dia terlihat lebih tua dari Rian ataupun Bagus,tapi mungkin tidak terlalu jauh,mungkin karna dia agak bule.
pria itu mendekat ke arah Gia dan memperkenalkan diri.
"aku Philips" mengulurkan tangannya.
"Gia" balasnya tapi tidak mengulurkan tangannya,tapi dia mundur.
"sepertinya kamu sakit,apa kamu datang bersama seseorang?" tanyanya lagi berusaha menempel pada Gia.
belum sempat Gia menjawab sudah ada suara yang menjawabnya dari belakang Gia.
"Dia bersama ku Mr Philips"
__ADS_1
"ouh... Sir..." sapa Mr Philips langsung masuk ke tempat acara.
sebenarnya Rian sudah melihat kalau Philips terus memperhatikan Gia makanya saat Gia keluar Rian pun mengikuti dan tak jauh dari tempat Gia berada untuk memastikan Gia baik baik saja,tapi kemunculan Philips yang tiba tiba seperti sangat disengaja. tadinya Rian hanya ingin memantaunya dari jauh tapi Gia terlihat sangat pucat makanya Rian keluar.
"Gi... are you oke?" tanyanya tapi dia tidak mendekat karna dia tahu dari Bagus bahwa Gia punya pengalaman buruk dengan pria.
"mau ku ambilkan air?? kau terlihat sangat pucat" tanyanya lagi karna tidak di jawab Gia.
bukannya menjawab Gia malah mengerakkan tangannya seperti ingi menggapai sesuatu,bahkan belum sempat tergapai Gia sudah merasa pandanganya gelap dan akhirnya dia pingsan. dengan sigap Rian menangkap tubuh itu,dia merasakan hawa panas dari badan Gia,Rian langsung membawa tubuh itu masuk ke dalam mobil yang di kendarai Halim dan membawa Gia ke apartemennya dengan wajah khawatir sambil menghubungi temannya sekaligus dokternya yang bernama 'Awan'
setelah membaringkan di tempat tidur,Rian mengambil kompres dan mulai mengompresnya,20 menit kemudian Awan datang dengan sangat tergesa-gesa.
"apa yang terjadi?" tanyanya pada Halim yang menyambutnya di pintu.
"Silahkan masuk dokter! pak Rian menunggu" jawabnya tanpa menjawab pertanyaan Awan yang tadi.
"Kau itu... terlalu kaku!" jawab dokter Awan sekenanya, sambil masuk ke dalam kamar Rian. "heh... apa yang kau lakukan padanya??" tanya Awan melihat seorang perempuan di tempat tidur sahabatnya.
"Tugasmu memeriksanya bukan berkomentar" ucap Rian.
"kalian berdua kenapa selalu kaku!" balasnya lagi sambil melirik kearah dua orang itu.
setelah memeriksa Gia dan menyuntikkan Nutrisi,Awan keluar dari kamar itu menuju Rian, sebelumnya dia menuliskan resep obat dan vitamin yang harus di beli lalu menatap Gia cukup lama. "sepertinya aku pernah melihatmu... tapi dimana??" batin Awan berusaha mengingatnya, "aahhh... aku ingat !! kau ada diacara pernikahan Bagus bukan? tapi kenapa kau bersama Rian" batin Awan sambil merapikan barang barang nya.
"beli vitamin dan obat ini untuknya" ucapnya setelah berada di depan Rian sambil mengulurkan resep itu.
"kenapa lama? kau tidak memanfaatkan dia bukan?" bukan mengambil resep yang di ulurkan dokter dia malah bertanya dengan penuh curiga.
"dia adik ipar Bagus bukan? apa yang kau lakukan padanya? kau sudah mengatakan pada Bagus kalau dia disini?" sambarnya lagi
"Halim... tebus obat dan vitaminnya,aku akan bicara pada Bagus,bawa dokter kepo ini pergi." sergahnya pada Halim yang di jawab dengan senyuman oleh Halim.
"dia terlalu lelah... tidak ada asupan, dehidrasi. sepertinya dia jarang makan tapi kegiatannya cukup banyak,karna imun nya turun sekali." ucap Awan lagi sebelum pergi menyusul Halim.
Rian menelpon Bagus dan terlibat perdebatan panjang bersama sahabatnya itu yang di tengahi oleh Risa sebagai istri,karna hari sudah cukup malam dan ruangan acara belum rapi sepenuhnya yang seharusnya menjadi tanggung jawab Gia tapi yang bersangkutan malah tergeletak di tempat Rian, meski berdebat akhirnya Bagus membiarkan sang adik di sana dengan banyak syarat yang dia layangkan pada sahabatnya itu.
__ADS_1
setelah sedikit berbincang dengan Risa akhirnya Rian kembali ke kamar,ini pertama kalinya dia melihat wajah Gia dari dekat,wajah seseorang yang dia kagumi dari awal melihatnya. "*hei strong! kamu bisa sakit?" ucapnya sambil mengusap lembut wajah Gia,Rian naik ke atas kasur mengusap lembut rambut Gia, merapatkan tubuh nya lalu memeluk tubuh kecil itu "aku merindukan mu" ucapnya ,lalu membiarkan posisinya beberapa menit, "jadilah milikku Gi... mungkin aku bukan orang baik tapi aku akan berusaha memberi yang terbaik untukku" ucapnya lalu mencium kening Gia dan beranjak turun menuju sofa untuk tidur.
"Tuhan... ijinkan anakmu ini membahagiakan seseorang yang saat ini bersama ku,ijinkan kami bersama dan biarlah semua yang terjadi antara kami berdua terjadi atas kehendak Mu. kuatkan ku jika Kau tidak mengijinkannya dan tuntun langkah ku jika Kau menijinkan aku bersamanya." ucap Rian lalu memejamkan matanya dengan harapan besok Gia akan disampingnya dan memeluknya*.