
Setelah sampai Gia, langsung tenggelam dengan pekerjaan kedai sampai tak terasa waktu menunjukkan pukul 06.00 sore Waktunya dia untuk pamit karena dia akan melihat Raisa yang sedang sakit,dia menitipkan kedai pada Ika, Ika adalah orang pertama yang bekerja bersama di kedai tersebut dia adalah orang kepercayaan Risa dan Gia.
Iya pulang dijemput sang kakak. awalnya dia akan kembali sendiri tapi karena Bagus mendengar kalau dia makan menginap jadi dia sengaja datang ke kedai untuk menjemput sang adik yang belakangan ini jarang sekali menghubungi dia. sepanjang perjalanan pun hanya diisi dengan kesunyian, beberapa kali dia berusaha mencairkan suasana dengan bertanya tanya kegiatan sang adik tapi sang adik hanya menjawab singkat-singkat saja.
Risa yang melihat kedatangan sama adik langsung ingin menyambutnya dengan gembira karena itu artinya ada yang membantu menjaga anak nya walaupun Bagus sudah menaruh seorang suster untuk membantu mengurus baby tapi Risa tetap lebih suka jika anaknya ada di bawah pengawasan keluarga sendiri.
setelah makan malam dan mengantarkan bisa tidur dia duduk di halaman belakang sambil menatap langit, Bagus menghampiri nya membawa dia cangkir teh hijau.
" Kamu kenapa beberapa hari ini tidak memberi kabar sama sekali sama mas"
" nggak apa-apa cuma lagi sibuk aja!! soalnya aku ada rencana untuk ikut kelas program kehamilan lagi pula kasian juga Rian udah kepingin banget punya baby."
" tapi kenapa aku merasa kamu lagi menghindar dari aku"
"hahahaha perasaan kamu aja! "
"apa aku ada salah? " ucapnya lagi tanpa perduli komen sang adik, "bukan kah kita tidak terbiasa menyelesaikan sesuatu dengan diam? kamu sendiri yang ajarin itu ke aku dan Risa"
"aku cuma... " jawaban Gia terpotong oleh suara ponselnya, "aku angkat telfon"
"ya mas... "
"aku sudah sampai"
"okey... istirahat gih, aku juga mau istirahat" baru selesai Gia bicara, Bagus sudah bersuara.
"jangan di tinggal lama lama nanti ada yang ambil"
hening...
"mas... aku... "
"dimana Risa? " tanya Rian, tanpa mendengar Gia.
"dikamar, aku di halaman"
__ADS_1
Rian menarik napas panjang lalu "aku tidur dulu! kamu istirahat! salam buat Risa dan Bagus.
MATI...
" mas... ada yang mau aku tanya" ucap Gia setelah Rian menutup teleponnya, Gia bukan tidak percaya dengan apa yang sudah dia dengar dari Rian, dia hanya ingin memastikan hal itu langsung dari mulut orang nya.
"ouh... terdengar serius" ucapnya meneguk teh.
"apa benar mas sempet suka sama aku tapi mas pun menyanyangi Risa? "
"siapa yang bilang sama kamu? "
"enggak penting siapa yang bilang, yang penting kamu jawab"
"iya de! "
"iya??? iyaaaa??? udah gila kamu mas! "
" dulu de... sekarang perasaan itu sudah aku kubur sedikit demi sedikit karena aku engga mau menyakiti kalian berdua,kaya sekarang ini, aku yakin kamu pasti marah karena dengar itu dan kamu dengar dari orang lain."
saat Gia akan menaiki tangga ada suara teriakkan dari kamar Risa , Gia dan Rian langsung mengambil posisinya masing masing, mereka berlari masuk ke dalam kamar. Betapa terkejutnya saat melihat Risa sedang menangi,pikiran dia sudah ke mana-mana dia takut jika kakaknya mendengar pembahasan dirinya dengan Bagus.
"kakak kenapa? "
pertanyaan itu dijawab Risa melalui tespek yang dia Perlihatkan kepada dua orang yang ada di depannya, membuat orang di depannya melompat gembira.
HAMIL... ya, Risa hamil lagi, hamil lagi anak keduannya. .
"Tuhan bisa kah kau titipkan mereka juga ke dalam ku. " batin Gia
...****************...
sementara itu Rian di surabaya dengan perasaan kesal dan marah bercampur aduk jadi satu, sebenarnya dia tidak mau Gia menginap di rumah Bagus tapi karena Risa sedang sakit, mau tidak mau dia setuju, karna biar bagaimanapun Risalah orang yang menemani Gia sampai bisa seperti sekarang.
*Rian... aku hamil*
__ADS_1
pesan singkat dari Risa membuatnya mengembangkan senyum, dia langsung mengalihkan panggilannya ke video call. "Tuhan... bisakah kau titipkan yang sama pada rahim istriku? aku ingin punya juga" batinnya sebelum Risa mengangkat telponnya.
*Hai... *
*hei... selamat... *
*makasih om yang tampan*
*hahaha... jadi.. dia akan segera punya adik? *
*iya.. ini ada istrimu disini* ucapnya sambil mengarahkan ponsel itu pada Gia, membuat Rian tersenyum walaupun sedikit terpaksa. lalu dia mengarahkan kameranya ke arah Bagus suaminnya spontan keduanya malah membuang muka tanpa di sadari Risa. setelah itu Rian mengakhiri panggilannya.
"dari tadi aku telpon engga dia angkat!" batinnya saat Rian menghubungi kakaknya. cemburu??? tentu, tentu tidak! dia tahu suaminya sedang marah tapi kenapa harus tidak angkat telpon.
Rian kembali menenggelamkan diri dalam lamunan, hingga akhirnya dia tertidur tanpa makan malam terlebih dahulu. besok paginya dia bangun dengan perut lapar, bagaimana tidak! pagi dia sudah bermain dengan istrinya dan langsung kembali mengunakan pesawat ke Surabaya, lalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
sudah dua hari Rian kembali tengelam dengan aktivitasnya, dia tidak menghubungi istrinya tapi tidak dengan istrinya, dia selalu mengirimkan pesan mengingatkan makan, pamit saat akan pulang ataupun pergi dan sekedar mengucapkan selamat tidur. di hari ketiga Rian ada jadwal makan malam dengan salah satu klien yang paling dia tunggu tunggu, Rian dan asistennya sampai lebih dulu di sana.
"selamat malam Pak Rian" sapa seorang wanita membuat kedua pria itu menoleh.
"mau apa kau disini?" dia langsung menoleh ke arah asistennya meminta penjelasan, tapi sangat asisten tidak tahu menahu soal ini.
"oh... selamat malam Pak Rian maaf kamu terlambat" ucap seorang pria bernama Mark, "perkenalkan ini ibu Hanna carter, beliau pewaris tunggal perusahaan yang saya pegang" sambungnya lagi.
Rian langsung menoleh ke asistennya yang sedang menepuk keningnya, memberi tatapan permohonan maaf pada boss nya.
"selamat malam Mr. mark, maaf sebelumnya, saya tidak tahu ibu Hanna adalah pewaris dari pemilik, jika saya tahu dari awal saya tidak akan setuju dengan kerja sama ini." ucapnya tegas tapi terkesan bercanda.
Mark menanggapi kata kata itu sebagai candaan, dia tidak tahu sebenarnya Rian serius dengan hal itu, tapi Hanna dan Jordan tahu kalau yang di katakan Rian bukan bercanda. "maksudmu kau tidak ingin kontrak kerja tapi kau ingin pernikahan bukan... " ucap Mark bergurau.
Mark menjelaskan terlebih dahulu kalau kedepannya perusahaan akan di kelola oleh Hanna selaku pewaris tunggalnya, yang artinya Rian dan Hanna akan lebih sering bertemu kedepannya. Rian menoleh pada Jordan memberi kode,Jordan langsung mengambil ponselnya dan menghubungi orang orang nya untuk mencari tahu hubungan Mark dengan Hanna.
setelah membicarakan pekerjaan Mark dan Hanna undur diri dari pertemuan ini, Rian menyalami Mark tapi tidak dengan Hanna dan berlalu pergi. Rian kembali ke kamarnya membersihkan diri di bawah pancuran air, sebenarnya dia masih heran kenapa Hanna bisa menjadi ahli waris Mark Carter bukan kah dia anaknya Harry fruszo.
Rian menyelesaikan mandi nya karena mendengar suara bel,di kamarnnya"siapa yang datang malam malam begini" guman Rian heran. dengan cuek dia hanya mengunakan lilitan handuk di pinggangnya membuka pintu, Rian sempat terkejut karena yang datang Hanna yang langsung melihatnya dengan liur ingin menetes, bagaimana tidak tubuh Rian makin atletis setelah menikah.
__ADS_1
"ada apa? " tanya Rian membuyarkan lamunan Hanna, bukannya menjawab Hanna malah menghambur ke pelukkan Rian dan tanpa Rian sadari ada yang memotret nya dari kejauhan.