Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
107. mencari jodoh untuk Awan


__ADS_3

Setelah kepergian Awan kedua pria itu kembali ke kamar nya masih masih tapi tiba tiba Rian kembali karena tidak mendapati istrinya di kamar, bertemu dengan Bagus yang hendak turun ke bawah.


"dimana Gia? "


"bersama Risa di kamarku"


jawaban itu membuat Rian lemas, dia pun ikut Bagus turun ke bawah dan menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu.


"ini jawaban dari doa Awan" ucap Bagus.


"kita sumpahin dia lama dapet jodohnya" Rian menyumpahi Awan.


...****************...


Suatu pagi di bulan ke empat kehamilan Gia, sebuah telpon misterius ke ponselnya, karena tidak pernah mengangkat telpon jika belum di save maka Gia membiarkannya, ponselnya terus berbunyi terus dan itu menarik perhatian Rian yang baru turun dari kamarnya.


'hallo' sapanya mengangkat telpon Gia, mereka memang tidak saling mengecek ponsel pasangan tapi mereka pun tidak membatasi pasangannya menyentuh ponselnya.


'wow... bisa bicara dengan Gia?' tanya orang di sebrang telepon, tapi Rian seperti mengenal suara itu.


'dengan siapa ini?' tanyanya kembali setelah sadar dari keterkejutannya.


'ENDITA'


'sebentar... ' ucapnya lalu memberi telpon kepada istrinya setelah dia mengatakan siapa yang menelpon.


' endita... hei, kamu ganti no?'


'oh.. tidak ini no kakak sepupu ku! btw siapa yang tadi? '


'dia suamiku'


'really?? oh God.. kamu menikah dan tidak mengundangku? jahat sekali!!'


'hahaha... kau di Belanda!' balasnya sambil mengambilkan sarapan untuk suaminya dan Rian sedang membuat susu hamil untuknya.


'ayo bertemu! aku baru kembali. '

__ADS_1


'bertemu?? sebentar aku bicara dengan suami ku' Gia terdengar meminta izin pada suaminya dan Rian menijinkannya, 'okey... tapi kita bertemu saat lunch ya, aku harus mengantar mertua ku untuk check up'


'okey... nanti kabari ke no ku'


'okey.. bye... '


setelah berbincang Gia langsung sarapan dengan roti lapis telur tanpa mayo dan suaminya makan roti lapis dengan daging plus mayo.


siang itu setelah mengantar mertuanya check up Gia pagi Bertemu dengan Endita untuk makan siang bersama sekaligus reuni kursus komputer dan bahasa Inggris bersama beberapa teman lainnya, saat sedang makan siang bersama teman-temannya tanpa sengaja Awan lewat bersama beberapa orang temannya dan melihatnya disana, dia lansung melambaikan tangan kepada Awan.


"hei... ga bilang mau ke sini, tahu tadi sama aku"


"tadi aku antar mama sama papa dulu ka!!by the way kenalin ini teman teman aku, temen temen kenalin ini temen suami aku alias kakak angkatku" Gia memperkenalkannya, teman teman nya yang lain melambaikan tangan kecuali Endita, karena dia sedang sibuk dengan makanannya.


"hai semuanya... saya Awan, kakaknya Gia! tapi saya ga mau di bilang sahabat suaminya dia,soalnya suaminya udah tua! saya masih muda" mendengar itu Gia langsung menyikut Awan.


"jangan di dengerin! dia emang agak geser otak nya" membuat teman nya yang lain tertawa mendengar lelucon dua kakak adik itu, "oh iya ka.. kakak mau gabung sama aku aja atau gimana? " tanya Gia tapi tak ada jawaban, membuat Gia menoleh dan melihat kakaknya sedang memperhatikan Endita, "ehem.. " Awan langsung menoleh.


"eh, kenapa de?"


"kakak mau gabung?"


setelah berpamitan dan mengecup sang adik kembali duduk, langsung terjadi mengibah soal Awan yang menurut mereka tampan, humoris, dewasa dan kalem. "*hahaha belum tau aja mereka! orang ini jauh lebih gila dari suami gw" batinnya.


Endita dan Gia pulang bersama setelah acara tersebut, sepanjang perjalanan mereka banyak bertukar cerita hingga akhirnya Gia menanyakan apakah Endita sudah punya kekasih atau belum dan ternyata jawaban Endita membuat Gia tersenyun senang. "kita comblangin kali ya sama ka Awan" ucapnya dalam hati.


dalam perjalanan Endita sempet menceritakan kalau dia ternyata mempunyai kakak tiri, jadi ibunya menikah dengan seorang pria beranak satu, anaknya selama ini tinggal bersama ibu dan ayah barunya,entah kenapa tiba tiba dia kembali, padahal dulu dia sangat menolak ayahnya itu. tapi yang namanya seorang ayah mau bagaimanapun pasti akan menerima darah dagingnya juga mau bagaimanapun keadaan anak itu,tapi ayahku hebat, dia sama sekali tidak berubah semenjak anak kandung nya kembali hanya saja anaknya yang menurut Endita agak sedikit aneh.


tanpa terasa mereka telah sampai dirumah Endita, dia menawarkan Gia untuk mampir tapi Gia menolak dengan cara yang sangat halus dan agak sedikit konyol, makanya Endita memberi ijin untuk pergi, apa lagi saat dia bilang 'suaminya tidak akan bisa bernapas jika dirinya tidak ada.


"baiklan istri yang baik! Pergilah... tapi janji lain kali harus dan wajib untuk mampir! ok?"


"okey nona pintar! aku pergi dulu! ingat, hubungi aku terus selama kamu di jakarta."


"siap boss!"


sepanjang perjalanan pulang Gia tak berhenti memikirkan cara agar Endita dan Awan bertemu lagi atau bersama lagi,akhirnya dia memakai cara yang paling extrime yaitu beralasan jika Gia sakit dan harus di periksa, tapi dia berfikirbulang karena akan resiko pada Rian yang sangat mengkhawatirkan dirinya dan anaknya, akhirnya keputusan terakhir dia membicarakannya pada sang suami.

__ADS_1


20.45


selesai makan dan merapikan peralatan yang tadi di pakai Rian mengajak istrinya langsung ke kamar yang terletak di atas, dengan hati hati Rian menuntun istrinya, sebenernya Rian sudah mengajak Gia untuk pindah ke lantai bawah tapi Gia menolak dengan allasan agar dia banyak bergerak, tapi tetap saja rasa khawatir itu selalu ada, makanya Rian hanya mengijinkan Gia naik tangga hanyya 4x tapi biar bagaimanapun Gia tidak di rumah jadi tidak bisa mengkontrol.


"sayang... tadi siang aku ngobrol sama mama dan papa, mereka minta aku taro mba di sini buat bantu kamu kan kamu kerja aku kerja belum lagi pekerjaan rumah, aku juga gak mau kamu kerja terlalu berat." Rian berusaha merayu Gia karena dia merasa dari awal bisa menghandle nya, sebenarnya omongannya terbukti karena memang dia bisa menangani semuanya.


"tapi mas... "


"jangan pake tapi ya, aku bener bener khawatir banget"


"aku gak apa apa mas"


"aku ngerti kamu wanita kuat, aku ngerti kamu wanita mandiri, tapi ini hamil pertama kamu, boleh ya sayang! aku percaya kok, kamu bisa, cuma kalau gak ada orang lain aku jadinya khawatir banget"


'yaudah deh"


"aku ambil dua. ya"


"kok banyak?"


"satunya buat bantu urus baby nantinya"


"aku kan mau urus sendiri!"


"sayang... dia cyma bantu kok"


"terserah kamu deh? " pasrah Gia.


"terima kasih sayang? " mengecup kenin Gia. "oh iya mas... tadi aku ketemu temen kursus ku, dia sempat pindah ke Jerman, lucu tahu anak nya humoris! aku pengen banget ketemu dia setiap hari." Gia berusaha menceritakan sekena mungkin agar suaminya membantu dia.


"kamu gak mau minta aku kawin lagi ka! " ucapnya sambil tersenyum.


"jangan ngaco! ini aja belum keluar" Gia menunjuk perutnya. "aku mau jodohin dia sama ka Awan"


"terserah kamu"


"maksudnya aku kamu bantu aku... ya ya ya? "

__ADS_1


Rian membuat rencana untuk makan siang bersama Awan di sebuah resto, nanti Gia datang bergabung, ketemunya secara tidak sengaja saat Gia hendak makan dengan Endita, Gia tersenyum dengan usul dari suaminya dan dia sudah oke


__ADS_2