Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
105. Aku akan menjaga kalian


__ADS_3

Gia are you okay? *


*gak apa apa mas*


*Gi.. denger aku... kamu harus bilang gitu sama dia, kalau dia denger dari orang lain dia akan kecewa, apalagi kalau dia tahu kamu dengan segala tidak memberi tahu dia, kamu tidak boleh egois Gi! * Daffa menasehati Gia karena sempat bertukar cerita dengan Daffa di jalan menuju restoran.


*iya mas... makasih ya... bye... *


Gia datang menghampiri Rian,tiba tiba ide jahil dia muncul, dia mengajak suaminya duduk, lalu....


"mas... aku minta maaf sebelumnya sama kamu, aku harus mengatakan ini, aku tahu pasti kamu kecewa sama keputusan ini, tapi aku mohon banget kamu harus ikhlas dan kamu harus rela, rela kalau 'aku harus membagi cintaku' " ucapan itu bagai menusuk pedang di dadanya.


"jadi kamu akhirnya suka juga sama dia"


Gia tidak menjawab, dia berjalan ke arah lemarinya dan mengambil beberapa alat tes kehamilan yang dia gunakan kemarin dan semua menunjukkan hasil 'positif' dia memberikan semua alat itu ke Rian dan kembali berkata. "aku harus membagi cintaku dengannya" sambil memegang perut.


Rian menangis terharu dengan kabar yang di beri istrinya, dia langsung mengelus perut rata istrinya dan mengucapkan doa agar bayi itu sehat hingga nanti bertemu kita di dunia, Rian langsung membaringkan Gia dan memeluknya.


"Terima kasih sayang... Terima kasih" ucapnya sambil menanggis.


kebahagiaan yang tidak dapat di ukur dengan apapun penantian mereka tidak sia sia karena akhirnya Tuhan mempercayakan sesuatu luar biasa pada mereka, ada tanggis-tawa dan rasa hari yang meliputi. Rian memeluknya sepanjang malam tanpa melakukan apapun walau dia ingin, tapi dia tidak mau jika menyakiti sang istri.


besok nya Rian merasa mual,tapi kali ini berbeda dengan mual yang sebelumnya,pagi ini seperti ada yang mau keluar dari dalam perutnya. Rian menelpon Jordan dengan lemas karena rasa mual nya dan mengatakan kalau dia tidak akan ke kantor, jadi dia meminta Jordan untuk datang ke rumah nya sore nanti setelah selesai jam kerja. pagi ini Rian sudah membuat janji dengan Awan di rumah sakit tempat Awan bekerja, Rian ingin memeriksa sang baby dan dirinya sendiri.


"hei... kamu baik baik aja? " tanya Awan pada Gia saat mereka sampai.


"hei hei... kan gw yang bikin janji" Rian mendorong Awan bercanda.


"kamu disiksa dia ya?" Awan merangkul Gia tanpa perduli Rian, "kamu ceraiin aja dia kalau dia siksa kamu! dia emang tempramen" canda Awan.


"jangan sembarangan lu ya... " dia menarik sahabatnya itu menjauh dari istrinya. "cari pacar sana biar gak gatel sama istri orang" sambutnya lagi.


"aku gak apa apa ka... yang apa apa tuh Rian ka... "


Rian kembali menarik Awan kebelakang, entah kenapa dia suka dengan parfum Awan, dia mengendus lengan Awan membuat Awan risih bahkan hingga merinding.


"ngapain sih!"


"gw suka wangi loe... "

__ADS_1


"jangan bikin gw emosi ya, gw masih normal!"


"gw suka wangi nya bukan loe nya! gw udah punya istri yang cantik, gw gaj butuh lu, kecuali kalau lu juga ngerasa cantik"


"sia**n lu!" maki Awan, "eh... ada yang aneh kayanya,,, bentar bentar! pregant??" tanyanya kali ini beralih pada wanita yang sedang dalam rangkulan nya dan di jawab dengan anggukan. "wow... selamat sayang" ucapnya mencium kening Gia, lalu beralih pada sahabatnya "congratulations brother... Lu sayang banget kaya sama dia sampe ngidamnya pindah ke lu" ucapnya memeluk Rian.


"emang iya bisa??" tanya Rian.


"ini bukti nya!" Awan menunjuk ke arah dirinya, Gia hanya tersenyum dengan keterkejutan sang suami.


"aku akan minta dokter obgyn menemui kalian dulu" ucapnya lalu mengeluarkan ponselnya.


jabatan nya sebagai kepala dokter di umurnya yang masih cukup muda membuatnya dengan mudah meminta dokter lain memeriksa Gia terlebih dahulu, tapi itu justru membuat Gia tidak nyaman.


"ka... aku nunggu aja gak apa apa"


"it's okay... mereka masih kosong kok belum ada yang datang" ucapnya menggandeng tangan Gia.


"udah di bilang jangan sembarangan, masih juga!" Rian melepaskan gandengan itu, "gw obrak abrik nanti rumah sakit lu" ucapnya lagi.


"pelit!"


.


Gia masuk hanya ditemani suaminya, tadinya Awan ingin ikut tapi Rian menolak, penolakan Rian cukup tegas yang artinya dia tidak sedang bercanda dan Awan sangat menghargai itu.


"selamat bu...pak... ibu positif hamil" ucap dokter Ririn sambil tersenyum ke arah keduanya, "apa kalian ingin melihatnya?" tanyanya ramah dan keduanya mengangguk. dokter Ririn menarik alat nya dan meminta Gia untuk berbaring, "itu calon anak kalian ya" sang dokter menunjuk titik putih pada monitor, "usianya kurang lebih delapan minggu jadi belum terlalu terlihat" jelasnya lagi, "kalian pasti calon orang tua baru, jaga kesehatan ibu dan buah hati ya pak dan jangan terlalu lelah, kalau dari hasil periksa seperti ibu ini jarang makan, sekarang ibu berdua ya, jadi harus rajin makan" ucap dokter lagi menasehati dan mengakhiri pertemuannya.


"maaf dok... kalau kaya gini apa saya masih bole melakukan" belum selesai Rian bicara Gia sudah memukul lengannya, "bisa bisa nya dia tanya kaya gitu" ucap Gia dalam hati.


dokter tersenyum mendengar pertanyaan itu, "begini pak,sebenarnya itu bukan masalah besar, kalian masih bisa melakukannya tapi pastikan dengan posisi yang nyaman untuk ibu dan pastikan tidak menekan perut, ritme nya pun tidak boleh terlalu keras,jangan juga terlalu sering, anda harus menahan diri dan pastikan bapak membuangnya diluar, tapi saat kandungan sudah bulan ke delapan atau sembilan anda bisa mengeluarkannya di dalam, agar merangsang si bayi mencari jalan keluarnya." dokter menjelaskannya.


Rian terlihat gembira dengan penjelasan itu, hingga senyum itu tak lepas dari wajahnya, mereka keluar dengan membawa resep vitamin, sampai di luar Rian memberikannya pada Awan.


"ambilin nih!"


"kamu ah... jangan gitu, gak usah ka! biar kita ambil sendiri, kakak balik kerja aja" Gia mengambil resep itu dari tangan Awan.


"tapi semuanya okey kan?"

__ADS_1


"oke kok ka!"


"jangan sering kerjain dia!" ucapnya dengan nada mengancam.


"gak usah sok mau takutin gw karena gw udah tahu, gw udah tanya di dalem sama dokter wek... " Rian meledek nya seperti anak kecil.


"ah... keduluan gw!! " Awan kesal saat tahu Sahabatnya itu telah bertanya. "eh... foto lah..." tahannya pada Gia dan Rian.


" jangan lu bocorin ya! gw mau kasih kejutan pas acara makan malem syukuran anak kedua nya Risa dan Bagus"


"siap... eh, bokap nyokap? "


"mereka juga tahu nanti... "


"oke hati hati..." memeluk Gia dan Rian, "baby... sehat sehat ya... " sambil mengelus perut Gia dengan sengaja membuat Rian kesal.


malam harinya Rian mencium istrinya sampai hampir kehabisan nafas. "kamu mau bikin aku dan anakmu ini mati?" ucap Gia saat Rian kembali menciumnya tanpa memberikan waktu Gia mengambil oksigen.


Rian langsung menatapnya dengan tajam "jangan ngawur kalau ngomong! aku akan selalu menjaga kalian berdua" mencium sekilas istrinya lalu merebahkan diri, dia berusaha menahan keinginannya, dia takut terjadi apa apa pada kandungan istrinya. tak lama Rian lari menuju kamar mandi,huek... huek... Gia dengan heran menyusulnya, tak lama dia mencium bau dupa, langsung menepak keningnya, berjalan ke jendela dan menutupnya.


"sayang... " panggilnya memijit tengkuk Rian.


"besok aku tegur ah itu tetangga depan, ngapain sih pasang kaya gituan! "


"ya gak bisa kaya gitulah sayang, kamu tuh yang ada ada aja deh! itukan kepercayaan orang! kamu jangan bikin aku malu! ini emang kamu aja yang lagi sensi! "


"kamu mah belain orang terus terusan"


"bukan bela sayang! tapi itu memang kepercayaan orang masa mau kita larang! toleransi sayang... TOLERANSI!!! "


Gia menuntun Rian kembali ke tempat tidur, dia sebenarnya gak tega melihat Rian yang seperti ini tapi mau gimana lagi. Rian masuk kedalam selimut setelah menenggak air hangat dimeja samping tempat tidur, Rian langsung menarik istrinya dan memeluknya, dia menghirup aroma istrinya dengan sangat dalam dalam, aroma istrinya tidak pernah membuatnya eneg, sampai tertidur wajahnya masih terus berada di leher, dia pun selalu tahu jika Gia bergeser.


...****************...


tak terasa hari yang di tunggu pun tiba, hari dimana mereka berencana memberikan surprise pada semua orang, Rian sudah tidak sabar dengan ekpresi mereka nanti saat mendapatkan kabar ini, hari khusus ini dia meminta sekertaris nya mengosongkan jadwal dan Gia meminta sang asisten pun ikut makan malam disana, karena buat Gia dia pun seperti keluarga.


pukul 18.45


Gia dan Rian sudah rapi, membawa semua hasil tes nya, Rian menyetir sendiri tiap menemui keluarga, untuknya momen itu akan menyita waktu makanya dia tidak pernah di antar saat menemui keluarganya, agar supirnya bisa mengikuti kegiatan lain.

__ADS_1


__ADS_2