
"kenapa harus sesakit ini sih? apa sebenarnya yang aku rasakan,kenapa aku marah aku kan belum menjadi siapa pun dalam hidupnya. apa ini yang di namakan cinta?? karna aku tidak suka melihatnya mendekat dengan wanita lain"
...****************...
waktu terus berjalan,Gia berusaha menghindari Rian lagi dengan beberapa kegiatannya. bahkan sudah 2 Minggu ini Gia menginap di tempat sang kakak yang masih seperti pengantin baru bahkan hampir tiap malam Gia mendengar suara erangan dari kamar sang kakak. "kalau bukan karna menghindari seseorang pasti dia akan memilih ga disitu"
sepertinya malam ini saat Gia keluar dari kamar hendak mengambil minum Gia malah menemukan mas nya sedang mengulum sesuatu bagaikan bayi di ruang tahu depan TV akhirnya Gia mundur lagi lalu membunyikan pintu,agar kakaknya tahu jika dirinya mau lewat.
"hei... belum tidur?" tanya mas nya yang sudah membenarkan posisinya.
"aku haus"
"kamu belum kasih no sama Rian de? kok dia masih tanya sama kakak" kali ini Risa seakan tidak terjadi apapun tadi.
"nanti ya ka... aku belum mau di ganggu siapa siapa! lagian ujian kelulusan paket C Minggu depan jadi aku lagi pengen fokus banget soalnya mau ikut beasiswa yang dari donatur di PKBM." jawab Gia sambil berlalu.
15 menit setelah Gia masuk dia mendengar lagi suara yang biasa dia dengar,Gia hanya mengambil headset nya dan memutar lagu dengan suara kecil yang hanya menempel di satu telinga,bukan karna dia masuk mau dengar drama vulgar sang kakak tapi dia memang tidak bisa dengan suara keras.
Rian mulai merasa Gia makin menghindari nya makanya pagi ini dia sudah ada di kedai, berbincang dan sarapan bersama Risa dan Bagus. mereka memberi tahu kalau Gua lagi fokus banget belajar karna ngejar beasiswa dari sekolah paket yang dia jalani.
Rian menangkap sosok yang dia kenal mengenakan baju putih celana hitam dengan sebuah tas berdiri di depan kedai,Rian bengong melihatnya, selama mengenal Gia baru kali ini melihat Gia dengan baju warna terang.
__ADS_1
"biasa aja dong! sampe ngeces gitu" goda Bagus
Bagus memang tidak suka sahabat nya yang terkenal playboy kelas kakap itu bersama adiknya,tapi karna mendapat ancaman dari sang istri untuk mengurangi jatah nya jadi dia mau tidak mau harus menerimanya.
"aku anter ya..." ucap Rian saat Gia sampai padahal yang Dateng belum bilang apapun.
"iya di anter Rian aja de! soalnya mas juga mau anter kakak ke pasar dulu" ucap Risa bohong.
"ga usah ka.. aku gak apa kok jalan sendiri,waktunya masih keburu"
Rian yang tak mau mendengar penolakan Gia langsung membawa Gia masuk ke dalam mobilnya,tanpa pamit kedua kakaknya,Bagus yang tidak suka adiknya di seret langsung menghampiri ke mobil dan mencengkeram kerah baju Rian sebelum masuk ke mobil.
"gw udah bilang sama loe jangan salah langkah! dia punya trauma!" bentak Bagus
Gia yang melihat itu langsung keluar dari mobil Rian dan Risa langsung keluar menyusul,kali ini Bagus tidak perduli dengan tatapan dari istrinya,dia tidak mau trauma Gia terulang lagi,dia terlalu takut jika itu terjadi. Bagus memanggil Derry dan memintanya mengantar Gia berangkat,Rian yang tadinya akan menahan Derry langsung berhenti melihat tatapan membunuh dari sahabat nya itu,Risa pun tak berani melakukan apapun karna memang itu kesalahan Rian, mengingat Gia mempunyai trauma yang luar biasa pada sikap kasar, pertengkaran,suara keras dan ruang gelap gulita karna kejadian pemerkosaan yang di alami Gia 2 tahun yang lalu.
Rian sangat kaget dengan apa yang terjadi hanya diam dengan wajah bingung,dia tidak mengerti apapun. Risa mengajak Rian ke arah out door cafe yang bersebelahan dengan taman, mengobati bibir Rian yang berdarah karna pukulan suaminya lalu meminta Indri salah satu kitchen nya membuatkan air jahe dengan madu untuk Rian.
Risa meminta maaf pada Rian yang terluka akibat suaminya,lalu dia menceritakan inti dari kemarahan Bagus hingga Gia yang di rawat karna depresi berbulan bulan akibat di perkosa seseorang yang ternyata kakak sepupunya,tapi Risa dan Bagus yakin ada sesuatu di masa lalu nya karna sebelum itu Gia pun takut sekali berdekatan dengan pria, walaupun itu Bagus,hanya saja mereka berdua tidak mau mengorek jika itu hanya akan membuat luka yang telah mengering kembali terbuka.
Rian mendengar cerita Risa dengan raut kesal,marah,bahkan dia sempat mengepalkan tangannya hingga tercetak bekas kuku pada telapak tangan nya. tak lama Bagus keluar dan menghampiri istrinya yang sedang berbincang dengan sahabatnya itu.
"sorry man!" ucapnya saat di depan Rian.
__ADS_1
"gak apa-apa man! gw malah makasih loe jagain dia dengan baik"
"itu masih tugas gw! bukan tugas loe! perjalanan loe masih panjang buat dapet dia" jawabnya lagi sambil terkekeh lalu memeluk sang sahabat.
"gini dong di omongin kan enak" ucap Risa di antara mereka.
mereka mendekati Risa mencium pipi kiri kanan nya secara bersamaan.
"kapan nih ada si junior?" tanya Rian tiba tiba
"sabar bro... gw juga lagi tunggu Tuhan kasih kepercayaan ke Gw"
"tapi bikin kan?" canda Rian
"jangan di tanya... tiap malem gw lepas berkali kali" ucapnya sambil memeluk Risa dari belakang
"hadeuh... udah deh... gw jalan dulu! liat loe berdua gw bisa kepengen" ucapnya sambil tertawa.
...****************...
malam itu Rian tidak kembali ke kedai,bukan karna marah melainkan merasa bersalah karna ternyata Gia ternyata selama ini dia dengan hebatnya melawan rasa trauma nya sendirian,dia jadi flashback ke beberapa kali kedekatan nya dengan Gia atau gandengan tangannya bersama Gia dia selalu merasa Gia terlalu berkeringat,kadang dingin,bahkan saat menginap di apartemen Rian dia sempat mendadak pucat.
__ADS_1
jadi Gia berusaha menahan rasa takutnya sendiri. kali ini Rian bertekad untuk membantu Gia melawan rasa takut itu,dia tidak akan di depan tapi dia di samping Gia untuk bersama melawan semua itu.
"aku ingin menjadi seseorang yang mengurangi rasa sakitmu,aku ingin menemanimu menghilangkan rasa takutmu dan aku ingin melangkah bersamamu menuju hari yang indah tanpa bayangan masa lalu mu"