Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
78


__ADS_3

"Tuhan... apakah keputusan yang aku ambil benar? betapa istimewa nya dia memperlakukan ku, betapa dia sangat menghargai aku, aku takut mengecewakan nya, aku takut menyakiti nya" lirih Gia tanpa terasa air matanya mengalir dan merasa tidak pantas untuk bersama Rian, Gia menangis tanpa suara hingga lelah dengan air mata juga.


Rian yang bangun lebih dulu sedikit terkejut karena dia merasa ada tangan di perutnya, setelah melihatnya dia langsung duduk melihat si pemilik tangan yang ternyata masih tidur, tapi dengan mata sembab. Rian bangkit berdiri, lalu pindah ke samping Gia, dikasur yang sama. Rian menarik Gia perlahan dalam pelukkan nya, mengambil tangan Gia agar melingkar di pinggang nya dan menyandarkan Gia di dada nya, seakan tempat itu adalah tempat ternyaman Gia mempererat pelukkannya member Rian tersenyum senang dan kembali tertidur dengan Gia dalam pelukkan nya.


saking nyamannya posisi itu bahkan Rian sampai tidak terasa jika wanita dalam pelukkan nya sudah beranjak dari sampingnya, Rian lansung duduk saat tak menggeliat dan tak menemukan siapapun di sampingnya. Rian melihat jam pukul 10.38 "ternyata posisi paling nyaman akan membuat lu tidur dengan nyaman juga" ucapnya dalam hati.


setelah mandi Rian keluar mencari Gia tapi dia tidak menemukannya dimana pun, Tian bahkan mencarinya hingga halaman belakang yang terdapat kolam renang,Rian panik dan pikiran Rian mulai kemana mana, dia takut Gia diculik kakak sepupunya, dia juga takut Gia marah karna tidur sambil memeluk dirinya. sudah dua kali Rian memutari villa tapi Gia tidak ada, terakhir seorang penjaga villa yang di tanya tentang Gia mengatakan kalau Gia keluar, Rian masuk kembali kedalam untuk mengambil kunci mobil dan segerakan keluar, saat akan mencapai gerbang Rian melihat sang kekasih masuk dengan membawa belanjaan.


"mau kemana? katanya tiga hari" tanya nya bingung


"lain kali kalau keluar bilang" jawabnya singkat lalu mengambil belanjaan itu.


"mas cari aku? " tanya nya sambil tertawa, Rian yangbkesal di tertawakan langsung manyun. "maaf ya mas, tadi kamu nyenyak banget, aku ga enak bangunin nya" sambungnya lagi.


mereka kembali ke dalam Villa dan membawa semua belanjaan ke dapur.


"jangan gitu lagi gi... aku kaget" ucap Rian bersungguh sungguh, "lagian kamu tahu aja tempat beli beli gini" sambungnya lagi.


"aku tanya istri nya yang jaga villa terus di anter jalan kaki, tapi aku belinya buat kita sehari aja, besok pulang kan?"

__ADS_1


"iya besok pulang" jawabnya, "aku yang masak ya?" izinnya pada Gia.


" bisa? " tanya nya balik.


"bisa dong."


"aku ga bawa obat sakit perut lho... "


"awas kamu ya, nanti pasti ketagihan."


siang itu Rian masak dan Gia hanya membantu, lalu di minta duduk di meja makan, tanpa di perbolehkan membantu apapun lagi. tak lama makanan siap dan mereka makan siang bersama, sepanjang makan Gia terus memuji masakan Rian yang tiada duanya, rasa nya sangat pas untuk lidah Gia. setelah makan Gia membaca buku di pinggir kolam Renang, bersama Rian yang memang hobi membaca, selama mereka kenal, terkadang mereka hanya keluar untuk mencari tempat sunyi dan membaca,walaupun akhirnya keduannya hanya membaca tanpa bicara tapi kadang mereka berdua tidak perlu ada suara, hanya saling ada satu sama lain, mereka sudah merasa senang.


semua yang Rian siapkan telah datang, di bantu teh Narti dan dan kang roy penjaga villa milik dokter Awan,Rian menyiapkan semua nya sendiri, bukan karena tidak ada dana nya melainkan dia tahu wanitanya ini bukan orang yang suka dengan kemewahan,makanya Rian menyiapkan sesederhana mungkin dengan tangannya sendiri. akhirnya jadilah suasana yang diinginkan Rian,yang dia yakin Gia suka dengan semua yang dia siapkan, ini akan menjadi kejutan untuknya, kejutan yang tidak akan dia lupakan.



19.30


Rian yang sudah rapi di ruang tamu menoleh saat mendengar suara pintu kamar terbuka,mulut nya terbuka saat wanita yang dia tunggu keluar, walau dengan pakaian casual tapi sangat cantik dengan make up tipis yang di berikan anak buahnya yang dia khusus kan untuk memanjakan Gia hari ini.

__ADS_1



makan malam berjalan dengan sangat sukses, sampai akhirnya di puncak acara Rian menggenggam tangan Gia dengan sangat erat dan kembali melamar Gia dan mengungkapkan kesungguhannya. "aku mungkin tidak sesabar kakakmu, sebaik kakakmu, tapi aku akan berusaha menjadikan kamu yang terbaik dalam hidupku. Gia mau kah kamu menjadi istriku? " ucap Rian tanpa terpatah.



"mas... aku... " Gia bimbang, bingung, heran. "aku gak bisa mas... maaf" ucapnya bangun dari duduk dan pergi. Rian terpaku, hening, masih terkejut dengan penolakan itu, Rian mengeluarkan HP nya, "ga jadi... di tolak," send. dia mengirim pesan itu kepada Bagus. "tenang... itu bukan sebuah penolakan, dia cuma belum siap, bikin dia senyaman mungkin untuk menceritakan itu. dia punya trauma yang enggak bisa gue ataupun Risa ceritakan, yang menceritakan itu harus dia sendiri, karena dia yang alami dan bener bener tahu seperti apa kejadiannya." balas Bagus.


Rian mencoba mengkontrol dirinya, dia berusaha tenang, setelah dia rasa cukup tenang dia menyusul Gia ke kamar, kamar yang malam sebelum nya mereka tempati berdua. "non... buka non" panggil nya sambil mengetuk, "aku mau ganti baju, aku juga cape" panggil nya lagi, cukup lama prosesnya sampai akhirnya pintu terbuka. Rian masuk tanpa bicara apapun dia masuk kamar mandi, mandi untuk mendinginkan kepalanya.


sementara itu di luar Gia yang merasa bersalah malah makin tidak enak melihat sikap Rian yang malah jadi sangat acuh,Gia berbaring menghindari bertatap dengan Rian. dua puluh menit kemudian Rian selesai mandi dan langsung membentang ekstra bed dan langsung masuk ke selimut,lalu mereka tengelam dalam pikiran mereka masing masing sampai akhirnya.


"Non... "


"hheemm"


"kamu tahu ga? aku menerima kamu apa adanya? " tanya Rian, Gia diam saja tak menjawab. " kamu boleh tanya sama Bagus,aku bukan orang yang mudah serius lsama orang dan aku kalau udah sayang akan aku perjuangkan." sambung nya lagi lalu menarik tangan Gia dan menggandengnya.


cukup lama dalam diam setelah pembicaraan itu,sampai Rian memejamkan mata dan tertidur, Gia membalikkan badan menghadap Rian yang nafasnya sudah teratur, yang artinya dia sudah tidur, dengan tangan yang masih saling menggenggam Gia berusaha melampiaskan nya dengan genggaman yang sedikit lebih erat dari sebelumnya. "aku juga sayang sama kamu mas, aku cuma takut tidak bisa memberi yang terbaik untuk kamu, kamu jauh lebih baik bahkan terlalu baik untukku." ucap Gia dalam hati, tanpa terasa airmatanya jatuh. Rian yang memang sebenar belum benar benar tidur langsung membuka matanya,bahkan hampir setiap pergerakan Gia dia ketahui.

__ADS_1


__ADS_2