Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
91. HAMPIR TERJADI!!


__ADS_3

"ya ampun... sakit apa? kok engga ada bilang apa apa" tanya Risa kaget saat Rian menelpon mengabari kalau Gia tidak akan berangkat ke kedai.


"kata Awan kecapean, terus kemarin ternyata seharian belum makan sama sekali"


"lho... bukan katanya mau makan sama kamu? "


"panjang deh ceritanya, jangan di bahas sekarang"


"yaudah suruh istirahat deh,dia kalau udah males makan bakal males terus tuh! di jagain ya... bye bye... "


Rian mengerjakan pekerjaan nya di rumah, karena harus menjaga Gia yang hari ini di wajibkan untuk istirahat, Rian melarang nya melakukan apapun, bahkan mencuci piring pun tidak boleh, semua di kerjakan Rian. Asistennya nyang mengantarkan makanan pun cukup terkejut dengan bis nya yang sedang mengerjakan perkerjaan rumah, "ini bukti bahwa seorang singa sekalipun akan jinak di tangan orang yang tepat. " ucap sang asisten dalam hatinya.


seorang Rian yang terkenal sangat galak pada siapapun semenjak kepergian sang kekasih beberapa tahun yang lalu, tiba tiba bisa jinak bagaikan seekor burung dengan satu wanita yang sebenarnya biasa saja tapi memang sulit untuk di taklukkan, wanita dengan kemandirian dan sifat yang hampir sama kerasnya dengan Rian.


...****************...


memasuki bulan keempat pernikahan nya Rian belum merasakan malam pertamanya,hasrat itu dia pendam hanya sampai di batas saling berci**man hingga kesulitan bernafas dan berakhir dengan memeluk hingga tertidur.


sama seperti malam malam sebelumnya,malam ini setelah makan Gia mengajak suaminya berbincang mengenai beberapa hal termasuk rencananya untuk membuka cabang yang sangat tidak di setujui oleh Rian, menurut Rian akan lebih baik tetap begitu apalagi beberapa waktu lalu baru saja di renovasi bikin besar, menurut Rian juga agar langganan mereka akan kembali lagi.


mereka membiasakan olah raga kecil, istirahat kembali lalu ke kamar untuk beristirahat, saat Rian sedang di kamar mandi Gia segera menukar baju kaos nya dengan baju tidur hadiah dari Risa, baju tidur dengan kancing full di tengah, yang hanya menutup sampai paha. Gia langsung lari ke balik selimut karna malu dengan piyama nya yang sangat minim,saat mendengar pintu kamar mandi terbuka,terlihat suaminya telah memakai kaos yang biasa dia kenakan untuk tidut, kemudian menyusul ke balik selimut.


setelah berdoa bersama Rian langsung menarik Gia karena sadar dia memakai piyama,tidak biasanya istrinya tidur mengunakan piyama, tanpa basa basi Rian langsung ******* b*b*r istrinya, lalu beralih ke leher, bahkan sampai pundak,hingga beberapa kali suara de***han meluncur dari mulut Gia membuat suaminya semakin bersemangat.


Rian meninggalkan jejak kepemilikan disana, na*su yang sudah di atas kepala membuat Rian lepas kontrol,dia pun sudah membuka kancing Gia sampai hampir terlepas semua baru Rian tersadar,dia langsung bangkit berdiri,agar istrinya tidak takut,menyadari itu Gia langsung memeluknya dan memberi anggukan dengan maksud mengizinkan Rian melakukannya.


"sayang" panggilnya dengan suara parau.


"hhheemm"


"sayang... kamu yakin? "


"kalau engga di coba,engga akan pernah tahu, cuma akan bertahan dengan rasa takut itu"


Rian memeluk istrinya dengan erat, mengecup kening nya berulang kali, ada perasaan takut dalam hati nya karena hal yang sudah cukup lama dia tahan, tapi dia juga takut menyakiti istrinya, betapa dia tidak bisa melihat air mata Gia.

__ADS_1


"kita coba ya! tapi janji, kalau kamu rasa sakit kamu harus bilang"


"apa akan sesakit itu"


"entahlah... mau coba? kalau kamu masih takut, jangan! "


Gia menganggukkan kepala tanda setuju,dengan sangat perlahan Rian mulai membuka piyama Gia,untuk pertama kalinya melihat si kembar yang sudah sangat mencuri perhatian nya sejak pertama kali melihat Gia di pernikahan sahabatnya. Gia yang sadar diperhatikan langsung tersipu malu,dia berusaha menutupi asetnya, walaupun dia tahu itu hal yang sangat sia sia.


Setelah puas bermain dengan si kembar, Rian mecoba membimbing Gia untuk merasakannya tapi dengan cara Rian sendiri,dia bermain dengan jarinya untuk melihat respon sang istri.


"aahhh.. mas..." Gia tidak sadar dan langsung menutup mulutnya, Rian tersenyum saat merasa istrinya sudah melakukan pelepasannya.


Rian menjatuhkan badannya disamping Gia, membuat Gia menoleh heran, *bukannya belum selesai?" ucap Gia dalam hati.


"sakit ya?" tanyanya lembut, "maaf ya" sambungnya lalu memeluk sang istri.


"engga kok" jawabnya bohong.


"kalau engga sakit,kamu engga mungkin nanggis" ucapnya mencubit hidung istrinya.


" aku udah pernah bilang kan, kalau aku akan tunggu, mungkin belum waktunya sekarang, kita ikuti saja seiring berjalannya waktu. "


Gia bingung tapi dia juga terharu dengan apa yang dilakukan suaminya harus dia juga bisa bersikap lebih dewasa,dalam hal ini karena suaminya pun tidak memaksakan hal itu terjadi.


"sekarang aku punya penawaran yang lebih menarik" ucap suaminya


"apa?"


"bagaimana kalau kamu membersihkan diri,atau perlu aku membantu?" godanya pada Gia.


"no... thanks... sepertinya aku bisa sendiri yang itu"


sebelum istrinya masuk ke dalam kamar mandi Rian mengingat untuk tidak menggunakan air hangat dan tidak membasuh sabun pada area int*m nya,Gia mengangguk paham dan langsung menuju kamar mandi.


selagi istrinya mandi Rian ke dapur membuat dua teh hijau hangat,tanpa menunggu lama dia langsung menuju kamar lagi, Gia sudah segar dengan wangi semerbak memenuhi kamar.

__ADS_1


"minum teh dulu abis itu aku punya sesuatu"


"cie... kejutan ya? "


"kayanya engga akan terkejut sih, tapi kita coba aja.."


mereka duduk di sofa menghadap ke TV, tadinya Gia ingin duduk di balkon tapi tatapan suaminya yang tidak setuju membuat nya tidak jadi kesana,sembari menyesap teh nya Rian memeluk pinggang istrinya.


"kita mau bulan madu" ucap Rian sambil tersenyum.


"ahh... bukan kejutan itu mah... aku udah tahu"


"tapi tahu gak kemana tujuan kita?"


"manado atau raja ampat" kemarin itu keputusan kamu.


"tetot... salah"


"terus?"


"malang" jawabnya singkat membuat istrinya bersorak kegirangan,membuat Rian tertawa.


"naik kereta ya... plis plis plis..."


"nah... kalau yang itu TIDAK"


"ah... mas mah"


"aku gak mau kamu cape"


"tapi aku engga bisa naik pesawat mas, aku takut ketinggian"


Rian langsung menepuk kening nya, dia lupa kalau Gia tidak bisa berada di ketinggian,


"yasudah kamu atur aja gimana, tapi aku yang pesen penginapan, tempat makan dan lainnya, kamu cuma akomodasi" Rian menyerah, dia memang mengutamakan kenyamanan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2