
gia pulang dengan marah yang dia pendam,dia marah pada risa dan bagus yang tidak terbuka,dia juga kesal pada Derry yang membuat nya jadi pusat perhatian di depan kedai tadi dan dia pun marah pada rian yang terus muncul dikedai membuatnya tidak nyaman dan akhirnya tidak ke kedai beberapa hari ini. bahkan gia punya julukan sendiri untuk rian "PENGANGGU"
Tring...tring...tring.... beberapa pesan masuk bersamaan.
"de... kakak gak apa apa kamu jangan khawatir" dari ka Risa
"sejak kapan jadi ga sopan gitu!" dari mas bagus (jangan heran guys... dia memang orang yang keras,lebih tepatnya TEGAS)
"sorry gi! gw ga ada maksud bikin loe malu gw cuma ga mau loe di ganggu orang." dari Derry dan langsung aku balas.
"loe ga perlu sampe segitunya! gue orang yang tahu batas gw sampe dimana. tapi makasih banget buat perhatian loe"
dan satu pesan lagi hanya nomor saja...
"lain kali kalau lagi marah kamu ga boleh pergi sendirian walaupun tempatnya Deket! mending kamu marah atau teriak teriak sampai puas dari pada kamu pergi dengan diam kaya gitu."
-salam sayang Rian-
gia langsung bengong membaca pesan itu kenapa ini orang tahu no gua? pasti salah satu dari mereka...
gia langsung membuka grup kedai dan langsung bertanya di grup itu.
"apa ada yang mau bikin pengakuan dosa sama gua?"
__ADS_1
1menit....
2menit...
3menit...
sampai ke menit 30 tidak ada yang menjawab.
Tring... masuk lagi satu pesan*.
"kamu pahamkan maksud aku?"
"gia..." menit kelima
gia tengelam dalam pikiran nya tentang kakak kakak nya, sejujurnya dia bukan mau ikut campur dia hanya tidak ingin melihat kakak nya bertengkar,gia sadar betul kakaknya sudah menikah,jadi tidak semua gia harus tahu,ada beberapa hal yang bersifat pribadi dalam rumah tangga mereka.
gia tidak sadar jika HPnya terus berbunyi,dia sudah tengelam pada buku buku yang 2 hari lalu dia beli di toko buku,gia tersadar setelah ada yang merangkulnya.
"de..."
"ya mas?" jawabnya sambil tersenyum
"hhhuuufff" Bagus menarik nafas dengan berat, memposisikan duduk di atas ranjang di samping Gia.
__ADS_1
"kamu tau kan mas sayang bgt sama kalian?"
"iya...mas maaf ya,aku bukan maksud untuk ikut campur urusan kalian.."
"gak apa de,mas paham maksud kamu,mas tahu kamu sayang sama Risa,mas bisa sangat paham itu."
"mas... bisa janji satu hal ke aku?"
"apa itu?"
"janji sama aku kalau mas ga akan nyakitin ka Risa ke depannya nanti,jangan sering bikin dia nanggis,karna sejauh yang aku tahu dia sayang banget sama mas."
"de... kamu tahu mas selalu berusaha membahagiakan ka Risa,mas belum bisa janji soal ga bisa bikin Ka Risa nanggis karna mas ga tahu apa yang akan terjadi sama mas kedepannya nanti,mas takut justru sesuatu yang terjadi itu akan buat ka Risa nanggis, tapi... mas janji aka selalu menyayangi ka Risa dan akan berusaha untuk tidak membuatnya menangis." ucapnya sambil mencoba menjelaskan pada gia bahwa dia sangat mencintai Risa dan akan berusaha yang terbaik.
"makasih ya mas" sambil tersenyum
"yaudah mas pulang ya,ka Risa duluan pulang tadi,dia ga mau pulang sama mas ðŸ˜" ucap bagus lalu bangun dari tempat tidur,dia memeluk gia dan mengecup kening Gia sekilas,yang di balas Gia dengan ciuman di tangan Bagus saat mengantar Bagus keluar.
"Tuhan... terima kasih atas setiap nafas yang masih Kau berikan padaku,mas dan kakak. semoga di hari yang melelahkan ini mereka tidak lupa untuk mengucap syukur pada-Mu,terima kasih untuk setiap Rahmat mu dan kesempatan mu yang Kau beri pada ku hingga dapat mengenal mereka. terima kasih Tuhan, AMIN."
Sebelum tidur Gia kembali memeriksa amplop yang sudah dia siapkan untuk kepergiannya besok pagi,dia menatap dua amplop itu sambil tersenyum.
"aku mau sekolah lagi dan lanjut untuk kursus, kemaren ka Risa sempat mendaftarkan ku ke sekolah paket,sebelum jadwal ku masuk,malah terjadi kecelakaan dimana aku bertemu dengan Dendi"
__ADS_1