Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
55


__ADS_3

sayang... aku ga akan pernah memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu" batin Rian.


***


sementara itu di tempat Gia berada.


"udah bagus kehidupannya lu sekarang? setelah lu bunuh bokap gw tanpa rasa bersalah, masih tenang hidup lu?"


"aku membela diri! kakak ada di sana saat itu terjadi"


ccuuuiih... Dendi membuang ludah dan mendekat pada Gia yang saat itu badannya sudah bergetar hebat. "bela diri?? eh... gw bilangin sama lu ya, suatu saat lu juga ngerasain apa yang gw dan bokap lakuin saat itu! lu merasakan dari orang yang paling aman, yang gak penyakitan."


"tapi ga untuk saat itu dan gak dengan cara itu!!!"


"terus gimana? jual diri kaya kakak angkat lu itu? apa jangan jangan lu juga udah diajak jual d**i gimana enak? Udah rasain posisi apa aja? ayo rasain sama gw,tapi gw ga bisa bayar lu cuma gw akan bikin lu rasain surga dunia yang lebih nikmat dari yang mereka kasih" Goda Dendi lalu mendekatkan badannya lalu melu**t bibir mungil Gia, gadis itu berusaha menutup mulutnya, tapi dengan cepat Dendi mencengkram rahangnya yang membuat Gia spontan membuka mulutnya karna nyeri pada rahangnya,kesempatan itu diambil Dendi untuk memperdalam c**mannya,tangan terus menahan Gia yang berusaha melepaskan diri,dengan cepat Gia langsung membalas dengan mengigit bi**rr Dendi agar tautan di bi**rnya terlepas.


" breng***k lu!!!!!" ucapnya sambil mencekik leher Gia, dengan emosi Dendi mengambil kembali syal yang tadi dibuat menutup mulut Gia, lalu diikatkan kembali mulut nya agar dengan bebas dia mengerjai Gia. Emosi bercampur na**su itu membuat Dendi seakan gelap mata,dia menci***mi leher Gia dengan kasar dan meninggal beberapa jejak merah disana,Gia terus memberontak untuk melepaskan diri dari dari sang kakak sepupu. Dendi merobek kemeja Gia dengan mudahnya hingga hanya menyisahkan dalaman yang membungkus aset kembarnya yang masih sangat kencang,tanpa disadari airmata Gia jatuh,tubuhnya makin gemetar hebat,memandang Dendi dengan tatapan memohon agar tidak melakukan apapun,Dendi hanya tersenyum dan mengabaikan tatapan itu. Dengan na**su yang sudah memuncak dia bermain di area si kembar tanpa memperdulikan penolakan dari sang lawan yang terus menghindari setiap sentuhannya, walaupun dengan susah payah karena tangan dan kakinya yang terikat,sampai akhirnya dia kelelahan,kehabisan tenaga dan tidak sadarkan diri.


melihat lawannya sudah tak berdaya,Dendi tanpa rasa kasihan tidak menghentikan permainannya, dia langsung bertindak semaunya selagi tidak ada perlawanan. karna dia ingin bisa bergerak lebih leluasa,dia melepas ikatan Gia dan menggendongnya ke salah satu kamar yang ada di situ, meninggalkan anak buahnya yang sudah ingin melihat adegan itu. dengan na**su yang sudah sangat memuncah Dendi dengan leluasa bermain, seperti seorang anak yang diberikan mainan baru,bahkan pusakanya menuntut untuk keluar dari sarangnya. kali ini tidak ada penolakkan lagi karena Gia sudah terkulai lemah dan tak berdaya, usahanya membebaskan diri sangat sia sia membuatnya kelelahan hingga tidak sadarkan diri. Dendi menanggalkan pakaiannya satu demi satu,tangannya sesekali memegang si kembar,sambil terus melepas pakaian yang tersisa,hingga tubuh polos tanpa sehelai benangpun dan pusaka yang sudah berdiri tegak seakan siap bertempur.


*****


Sementara itu di luar vila sudah ada Bagus dan Rian beserta dua anak buahnya yang sudah berusaha masuk dengan alat seadanya karna mereka hanya berempat jadi harus kerja keras melawannya yang jumlahnya lebih banyak. Bagus dan Rian sangat ingin melihat Gia, apalagi saat kedua sahabat itu sampai,si anak buah melapor mendengar teriakkan Gia beberapa kali, tapi mereka tidak masuk karna mereka kalah jumlah, hal itu membuat Bagus dan Rian gelap mata hingga memukul orang disitu tanpa ampun. Setelah berhasil menghabisi orang diluar vila,menyisahkan dua orang yang sedang di urus anak buahnya,mereka buru buru masuk untuk mencari Gia tapi di dalam yang mereka temukan lagi lagi hanya anak buahnya,dipertengahan pertengkaran Derry datang bersama dua orang teman nya yang lain, melihat sekutunya kesusahan mereka tidak ingin tinggal diam,mereka membantu melawan Bagus dan kawan kawan. sayangnya Derry mendapat lawan yang kurang setimpal,siapa yang tidak tahu,seorang Rian adalah pemegang sabuk hitam di karate, walaupun ukuran tubuh mereka sama tapi tidak dengan keahlian berkelahi mereka, hanya dua kali pukulan Derry sudah jatuh,Sementara Rian membuat perhitungan dengan Derry, Bagus mencari keberadaan sang adik,dia sudah membuka dua kamar tapi tidak ada Gia di sana,saat akan membuka kamar yang ketiga ternyata terkunci, akhirnya Bagus mendobrak kamar itu.


Bbbrrraaakkk....


Betapa terkejutnya Bagus saat melihat sang adik disana,tapi ada seseorang yang menindihnya,terlebih orang tersebut tanpa busana dan sang adik yang nyaris serupa. saking syok nya Bagus sampai mematung melihat itu, dendi pun juga terkejut tiba-tiba pintu kamar terbuka,Rian yang menyusul Bagus langsung terlihat marah saat melihat itu. tanpa basa-basi Rian langsung menghampiri Dendi yang juga terkejut karna seingat dia telah mengunci pintunya,seakan baru sadar Bagus langsung menuju sang adik dan memakaikan kemejanya kepada adiknya,Gia sempat membuka mata,tersenyum lalu benar benar pingsan. hanya dengan kekuatan yang tersisa Bagus berusaha menggendong sang adik yang memang cukup ringan karna tubuhnya yang teramat mungil, Bagus menoleh mencari Rian yang ternyata telah gelut dengan dendi yang sangat bisa di tebak siapa yang menang. "Rian.... woi..." panggil Bagus lalu memberi kode,untuk ikut dengannya.


Rian yang sadar di panggil langsung menoleh dan mengikuti Bagus keluar,melihat paha sang kekasih terekspos Rian membuka kemejanya untuk menutup area yang terekspos itu,Rian menitipkan orang orang itu pada sahabatnya, yang sudah datang membantu mereka.


di perjalanan Bagus berusaha menahan air matanya melihat kondisi adiknya yang nyaris bu**l dengan seseorang berada diatasnya, entah sudah terjadi atau belum tapi yang pasti sudah banyak orang yang melihat tubuh sang adik.


bbuuukkk.... sebuah pukulan mengenai jok penumpang,Bagus yang saat itu memangku sang adik melampiaskan emosinya,Rian hanya memandang dari spion tengah ke arah sahabatnya yang sedang menahan air matanya antara kesal, marah dan emosinya itu. tak lama telepon Rian berbunyi,dia mengangkatnya ternyata Rezky menanyakan laporan untuk polisi yang hanya di balas oleh Rian akan membahasnya besok, yang terpenting semua sudah diamankan tanpa terkecuali. di perjalanan dia menelpon Awan agar bersiap karna saat ini Bagus sangat butuhkan bantuannya, baru Awan bertanya ada apa dengan satu sahabatnya itu tapi Rian tidak menjawab malah mematikannya.


"yang kaya begini nih yang super duper ga jelas" ucap Awan kesal.

__ADS_1


perjalanan yang tadinya mereka tempuh 8 jam,kali ini mereka tempuh hanya dengan 3 jam,Bagus keluar membawa Gia dan menaruhnya di ranjang rumah sakit yang memang sudah di siapkan dokter Awan yang tak lain adalah sahabat mereka. para suster membawanya ke UGD,Rian dan Bagus tahu mereka tidak akan bisa masuk, jadi sebelum sampai mereka sudah berhenti,agar tidak terjadi drama suster yang menahan keluarga pasien yang hendak ingin masuk ke UGD tersebut.


30 menit berlalu Awan belum keluar untuk memberitahukan sahabat sahabat nya itu tentang kondisi Gia. Rian sudah terlihat gelisah karna sang calon kekasih masih berjuang didalam sana,agar bisa melihat wajah merekamereka, tak lama HP Bagus berbunyi.


'my wife' itu yang tertulis disana, dia menoleh ke sahabatnya yang menanggukkan kepala, meminta dia mengangkatnya.


"mas... dari tadi aku telpon kamu"


"iya.. maaf ya baru sempet angkat"


"kamu dimana? kamu tahu ga ade dimana? perasaan aku ga enak dari pagi"


hening... tidak ada jawaban...


"halo... mas... kamu denger aku?" panggil Risa


"eh... iya iya aku denger" jawabnya lalu mengaktifkan mode speker pada handphone nya agar Rian mendengar.


"kamu ada berkabar sama Gia? aku masih belum bisa hubungin dia"


Bagus menoleh pada sahabatnya yang saat itu mengelengkan kepala "sayang kamu dimana? " akhirnya itu yang keluar dari mulutnya untuk mengalihkan pembicaraan.


"sukses... sukses... ini Rian nya masih sama aku"


"ouh... syukurlah... kalian udah makan?"


"udah kok"


"eh mas... Gia kemana sih? kamu tahu ga? ga biasanya dia gak ada kabarnya kaya gini"


Bagus menepuk jidat saat istrinya kembali ke pertanyaan sebelumnya.


"ini aku mau ngasih tahu kamu tapi bingung... " jawab Bagus yang langsung membuat Rian menoleh dan melotot arahnya.


"ada apa? kalian berdua ga sembunyiin apapun dari aku kan? "

__ADS_1


"Ade masuk RS" jawab Bagus singkat.


hening... tidak ada suara...


tiba tibe terdengar suara benda jatuh, lalu Bagus memanggil sang istri tapi tidak ada sahutan sama sekali, disisi lain ada Rian yang mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor yang waktu itu Gia berikan yang ternyata adalah no Ika.


"dimana?"


"di kedai mas"


"bisa tolong ke ruangan mba Risa? saya ga bisa hubungin dia"


"oh... iya mas"


"ga usah di tutup telepon nya"


"iya mas"


terdengar suara keramaian orang makan, sempat ada yang meminta botol kecap pada Ika dan Ika mengambilkannya sebelum akhirnya dia masuk ke ruangan Risa.


"astaga... mba Risa" teriaknya yang membuat Rian sampai menjauhkan ponsel nya. "mas.. mba Risa mas... pingsan" ucap Ika.


Rian menarik napas nya dalam... "kamu panggil yang lain buat bantu kamu angkat mba Risa ke sofa, mas Bagus ke sana sekarang" pintanya pada Ika.


"iya mas"


Rian menghampiri Bagus dan mengatakan kalau Risa pingsan di kerdai,saat mereka sedang bicara Awan muncul setelah berada lebih dari satu jam di dalam sana yang membuat dua sahabatnya dengan cepat menghampirinya.


"apa yang terjadi?" tanya Awan


"panjang kalau mesti kita jelasin sekarang,coba kasih tahu gua bagaimana keadaan dia" jawab Bagus.


"ini agak sulit... dia..." Awan sangat ragu mengatakannya karna dia tahu bagaimana kedua sahabatnya ini sangat menyayangi Gia. "dia koma" lanjutnya lagi.


kedua sahabatnya itu terdiam, antara bingung, sedih dan terluka

__ADS_1


"gus... loe liat Risa dulu,nanti bawa dia kesini" ucap Rian setelah sadar dari kata kata yang baru saja terlontar dari dokter Awan.


Bagus menganggukkan kepala,saat dia akan beranjak, bersamaan dengan Hendra dan hendri muncul,salah satu dari mereka berinisiatif mengantar Bagus yang lainnya tetap bersama Rian di rumah sakit.


__ADS_2