
Rian menatap Gia tajam, semalam wanita ini baik baik saja, sekarang kenapa seolah mengacuhkan dirinya. "kenapa Gia?" ucapnya dalam hati. seolah tahu Rian bertanya Gia hanya menunduk, dia bukan takut tapi dia bingung, bingung menjelaskannya namun dia kecewa dengan apa yang sempat dia lihat tadi, sebuah foto dan video dimana Rian sedang bersama wanita lain.
...*****...
FLASHBACK ON
saat Gia hendak kembali ke ruangannya setelah menaruh piring kotor, sebuah tangan menariknya menuju samping kedai Gia yang memang punya trauma jika ada orang yang memegang tangannya langsung berusaha melepaskan diri, tapi suaranya selalu tidak bisa keluar di saat seperti ini.
"apaan sih!! " bentak Gia pada seseorang yang menarik tangannya.
"liat nih... " ucap wanita itu menyodorkan beberapa foto dan memperlihatkan beberpa video yang berisi seseorang yang mengisi pikiran dan hati nya belakangan ini. Gia sedikit terkejut melihat itu, "ga perlu kaget! dia emang kaya gitu, jadi jangan lu pikir kedekatan kalian itu menjadikan loe satu satunya." sambung wanita itu.
"mau loe apa?" tanya Gia.
"loe yakin tanya mau gw?" wanita itu balik bertanya, "gw cuma mau bilangin ke loe, Rian itu dari dulu memang selalu main perempuan dan dekat dengan banyak perempuan jadi gw harap loe ga kepedean dulu berfikir kalau Rian serius sama loe! kalau loe masih gak percaya juga, gw video call orang gw yang ada di sana" wanita itu mengambil handphone nya dan melakukan panggilan video pada orang yang dia maksud.
"*apa kalian masih di sana?" tanya Wanita itu pada orang yang di sebrang.
"masih bos, target juga masih di tempat yang sama." jawab orang di sebrang terdengar Gia karna di loudspeaker.
"arahin ke mereka, saya mau liat apa yang mereka lakukan*"
betapa syok nya Gia melihat video call yang dilakukan wanita itu, agak jauh dari orang yang di telpon itu ada Rian bersama salah satu wanita yang tadi sempat di lihat fotonya oleh Gia. Gia berusaha menahan rasa sakitnya melihat itu, dia berusaha memasang wajah datar seakan tidak terjadi apapun dan tidak berpengaruh apapun terhadap dirinya.
"kenapa? kaget? kecewa? marah? jangan di bawa emosi, itu cuma bakal bikin lu tambah sakit. seperti yang bilang tadi, dia memang dekat sama baaanyaaak perempuan dan mungkin adalah loe salah satu dari mereka" ucapnya sambil memutari Gia dan senyuman yang sangat sinis. "dia belum pernah menyatakan perasaan ke loe kan? karna dia memang ga sayang sama loe! SADAR! dlihat dari manapun kita ga sebanding" sambungnya lagi mendorong Gia lalu pergi.
Gia diam terpaku cukup lama sampai akhirnya ada air mata yang menetes, tapi itu tidak berlangsung lama dia langsung menghapus air matanya dan kembali. tanpa Gia sadari ada sepasang mata yang menyaksikan kejadian itu, lalu melihat wanita itu kembali kedalam dengan senyum manis seakan tak terjadi apapun "ya Tuhan, jangan biarkan aku menyukainya, jngan biarkan aku menyukai gadis manis itu, dia milik sahabatku." batinnya.
__ADS_1
Awan. dia adalah orang yang menyaksikan itu, tanpa dia sadari dia menaruh rasa kagum pada kekasih sahabat nya itu, semenjak kepergian mereka mengunjungi orangtua Rian,dia tahu itu salah makanya setelah acara surprise itu Awan tidak hampir tidak pernah mengunjungi Risa ataupun Bagus sebagai basecamp mereka.
FLASHBACK OFF
...*****...
Bagus, Risa, Rian, Gia dan Awan berbincang di salah satu meja sambil memperhatikan karyawannya yang sedang bekerja.
"kalau menurut gw bulan depan lu udah mesti istirahat Ris" usul Awan melihat perut Risa yang cukup besar.
"ga bisa. udah pernah di coba soalnya" jawab Risa.
"gara gara dia coba itu, dia ga berenti telpon gw dan ganggu gw kerja." sambung Bagus.
"tapi paling gak kurangin kegiatan, kedai ini cukup rame! gw ga yakin dia banyak istirahat disini, lagian kayanya dia sama kaya Gia ga bisa diem" sambung Awan lagi yang langsung menaruh tangannya di pundak Gia.
Rian langsung menatapnya dengan tajam, bukan hanya ke Awan tapi ke Gia juga, Risa dan Bagus yang merasakan hal itu mencoba mencairkan suasana dengan candaan,hanya saja Rian sudah cukup menahan amarah nya dengan sikap Awan yang seenaknya dan Gia yang terus menutup mulut.
"kamu juga masih harus banyak istirahat, minggu depan check up kan?" sambung Awan, sebelum Risa menjawab.
"hahahaha... iya dok, biar kakak saya pulang duluan, kedai tutup saya langsung pulang" jawab Gia sambil tertawa.
"yaudah kalau gitu mas bawa pulang kakak ya, nanti kamu kabarin kalau udah tutup biar mas jemput" jawab Bagus sambil mengelus adenya.
"biar gw nanti yang antar dia pulang" potong Awan sebelum Rian menjawab
Buuuggghhh.... akhirnya Rian memukul Awan,dia sudah cukup menahan emosinya sedari tadi. "Gue diam aja bukan gue takut,gue menghargai Bagus dan Risa sebagai kakaknya." bentak Rian akhirnya.
__ADS_1
Awan langsung bangkit dan menantang Rian, "emang lu siapa nya? kakaknya aja ga marah dengan apa yang gw lakukan! bahkan Gua sendiri ga marah!! " balas Awan membentak.
"jangan memancing di air keruh!"
"jawab aja pertanyaan gue! loe siapanya?"
"semua tahu gw siapanya"
"yakin loe?" Awan maju menarik kerahnya. "pernah loe bilang kalau lu sayang sama dia?" tanyanya.
"bisa kalian berhenti? gue mau balik!" Bagus menengahi, "atau ga Gia biar balik sama gw sekarang" ucap Bagus lagi menarik tangan adiknya.
"mas pulang duluan saja, nanti buat aku pulang sendiri, atau nanti aku ke kontrakan aja sama Ika" jawab Gia agar kakaknya tidak terlalu khawatir.
Bagus dan Risa pulang, Gia menghandle kedai sampai tutup, setelah kepulangan kakaknya Gia langsung tengelam dengan pekerjaan di kedai tanpa perduli dua orang yang sedang berseteru. setelah semua rapi dan kedai tutup ternyata baik Awan maupun Rian masih ada di parkiran kedai, Ika langsung pamit duluan saat dua orang itu mendekati mereka berdua.
"mas antar.... kakak antar.... " ucap Rian dan Awan bersamaan.
Rian langsung menarik tangan Gia tanpa mendengar jawaban Gia terlebih dahulu, sayangnya tangan satunya di tahan Awan.
"kurang jelas yang gue bilang tadi?" ucap Awan tegas.
"itu bukan urusan lu"
"itu jadi urusan gue karna gue akan menyatakan perasaan gue ke dia"
"jangan mancing gue"
__ADS_1
"dan Gia sudah tahu perasaan gue gimana" jawab Awan walaupun dia belum bilang apa apa sama Gia.
Rian memukul Awan meluapkan kemarahannya pada sahabat nya itu, Gia yang tidak tega melihatnya langsung masuk diantara dua orang itu dan bbuugghhhtt.... satu pukulan mendarat tepat di pipi Gia membuat dua orang itu terkejut dan pukulan itu berasal dari Rian.