Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
58


__ADS_3

akhirnya perdebatan pun terjadi antara dua sahabat itu, tapi Risa tidak perduli, bahkan dia tidak melerai mereka berdua, Risa terlalu keras kepala untuk menegur dua orang itu. perdebatan itu berujung keributan kecil sampai Rian dan Bagus menyenggol si bumil hingga jatuh, bertepatan dengan kejadian itu Gia tiba-tiba duduk di tempat tidurnya.


Risa sampai tidak memperdulikan pan**t nya yang sakit karna jatuh duduk tadi dan langsung menghampiri adiknya, yang sudah sadarkan diri. "hei... how you feel?" tanyanya sambil menekankan tombol di samping tempat tidur. dua pria yang tadi hanya mematung langsung menghampiri, sayangnya tak lama datang dokter Awan datang bersama beberapa suster. Gia mencengkram kuat lengan Risa saat Dr. Awan mendekatinya, Awan yang sadar itu langsung berhenti.


"halo Gia... saya dokter Awan. apa saya boleh periksa keadaan kamu? " tanyanya lembut bukan menjawab Gia malah mengeser tubuhnya seperti ketakutan.


"de... " panggil Risa ragu, Gia menoleh dan langsung mengulurkan tangannya, "de... biar di periksa dulu ya, kakak harus tahu keadaan kamu gimana" ucap Risa lagi sambil merangkuk Gia, "aku temenin" Gia mengangguk.


setelah Awan memeriksa dan melontarkan beberapa pertanyaan kepada Gia,hingga akhirnya Awan mengatakan bahwa Gia baik baik saja hanya ada beberapa part yang mungkin hilang dari kepalanya, tapi Gia masih harus banyak istirahat terutama untuk luka luka di beberapa bagian termasuk organ in**m nya, Awan menjelaskan itu kepada Rian dan Bagus di luar kamar Gia.


"apa dia lupa gw?" tanya Rian.


"kemungkinan besar iya"


"dapet juga belum gw, kok udah lupa aja dia"


"sabar... dia juga belum tentu inget sama gw, kan loe liat sendiri tadi yang bisa pegang dia Risa doang, ga usah sedih" kali Ini Bagus yang menjawab.


serentak mereka tertawa hingga membuat beberapa pengunjung melihat ke arah mereka, "gila emang loe berdua" ucap Awan.


"eh... berapa lama kira kira dia masih harus disini" tanya bagus


"untuk masa pemulihannya sendiri sekitar 4-5 hari, untuk luka dalem dan yang lainnya kayanya 1bulan lebih, gw gak bisa pastikan karna kalau luka luka gitu tergantung dari korban, dia banyak bergerak atau ga" jelas Awan.


"wah... kacau lu, lama banget! gw ga sanggup bayar RS loe" jawab bagus lagi sambil melirik ke arah Rian.


Awan yang sadar kode itu langsung menjawab, "bercanda loe... calon suaminya aja bos gw"


"bang***t lu berdua" ucap Rian kesal.


Bagus dan Rian kembali ke kamar Gia,


"mas... " panggil Gia saat Bagus masuk, panggilan itu membuat Rian dan Bagus menoleh bersamaan.


"ya? " jawab Bagus ragu, salah salah yang dia maksud adalah Rian walaupun dia belum pernah dengar Gia memanggil sahabat nya seperti itu.


"dari mana?" tanyanya lagi dengan senyuman

__ADS_1


"ke tempat dokter lihat perkembangan kamu gimana" Bagus menoleh ke sangat istri dengan tatapan bertanya, sang istri hanya tersenyum.


beberapa waktu sebelumnya.


"ka risa masih pacaran sama mas bagus kan?" pertanyaan itu membuat Risa langsung menoleh dengan wajah yang sangat terkejut, dia sama sekali tidak menyangka kalau Gia akan mengingat Bagus, hanya saja ingatan Gia ingat mereka pacaran, bukan menikah.


"kamu cepet sembuh aja nanti aku ceritain. tapi kamu inget kan sama mas mu itu?"


"inget dong... kan aku yang comblangin kalian kok, masa aku ga inget"


"kalau yang di samping mas Bagus tadi kamu inget ga? "


Gia nampak berfikir cukup lama sampai akhirnya dia mengatakan tidak sama sekali mengenalinya.


"yaudah gak apa, seinget kamu aja, nanti sekalian kakak jelasin pelan pelan."


kembali ke sekarang


"sekarang apa ada yang kamu rasa?" tanya Bagus


"ada yang sakit tapi kata ka Risa gak apa, tadi ka Risa udah tanya dokter"


si manis menganggukkan kepalanya nya menandakan dia baik baik saja.


"yasudah... sekarang kamu... "


"Hai Gia... aku Rian" potong Rian sambil mengulurkan tangannya saat Bagus akan meminta Gia istirahat.


"aku Gia" ucapnya memperkenalkan diri tanpa menerima ukuran tangan Rian,sadar tangannya tak di hiraukan Rian buru buru menurunkannya.


"yaudah kamu istirahat gih... katanya perutnya ga enak" kali ini Risa yang memberi usul.


Rian keluar untuk membeli makan, untuk Risa, karna makanan yang tadi Risa bawa sudah entah dimana keberadaannya, "ya ampun gitu... baru juga membaik hubungan kita, lu udah lupa aja sama gw... gini amat hidup" batin Rian. sambil makan Risa menceritakan yang dialaminya selama Bagus dan Rian berbincang dengan Awan, Risa menceritakan kalau Gia tidak tahu mereka sudah menikah, Gia hanya mengingat kalau mereka bersama, tapi Risa menjelaskan bahwa setelah seminggu dia akan mencoba memberitahu sedikit sedikit tentang statusnya dan calon ponakan Gia.


"gw gimana dong?" tanya Rian ngenes.


"kalau usul aku sih kamu tetap hadir bareng kita disini kaya yang kemaren kita jadwal, kamu mulai memperkenalkan diri kamu kaya tadi, tadi juga aku udah bilang kalau kamu temennya Bagus yang selama ini selalu ada di samping kami, bantu kami jaga dia." jelas Risa.

__ADS_1


"setuju sih... setidaknya lu buka lembar baru, bikin kesan baik ke dia, jangan marah marahan kaya kemaren" sambung Bagus dan membuat mereka serempak tertawa hingga orang yang di tempat tidur terbangun, dengan sigap Rian langsung bangun dan mengulurkan gelas di sampingnya yang memang langsung di sambut karena memang dia tersendak.


"thank you"


"you're welcome" balasnya lalu langsung kembali duduk, dia tidak ingin Gia malah jadi takut padanya.


malam itu Risa dan Bagus pamit pulang, awalnya Gia menolak di tinggal hanya berdua dengan Rian dan meminta Rian pulang saja, tapi permintaan itu di tolak oleh kedua kakaknya karna Rian orang yang akan mengabari mereka jika terjadi sesuatu, setelah perdebatan yang di menangkan oleh Bagus dan Risa.


"gw cuma izinin lu jaga, bukan apa apain dia" ucap Bagus saat Rian mengantarkan ke lobby RS.


"apaan sih! dia juga kan tahu tempat dan kondisi" Protes sang istri.


"kamu tuh istrinya siapa sih? belain dia terus!" balas Bagus.


lalu ketiganya tertawa. awalnya Bagus tidak mau meninggalkan dengan alasan, Gia sudah sadar, nanti butuh apa apa jadi ga bilang ke kita, tapi Risa meminta nya agar meninggalkan Rian dan memberi kesempatan agar Rian bisa menaruh kesan pada Gia.


"maaf ya mas jadi repotin" ucap Gia saat Rian kembali.


panggilan itu membuat Rian menoleh kaget, "gak apa, dari kemaren memang gantian sama Risa dan Bagus"


"iya tadi ka Risa bilang tapi tetap ga enak"


"kasih kucing kalau ga enak" ucapnya santai lalu duduk disofa yang ada di pojok ruangan dan mulai membuka buku nya. sebenarnya dia ingin duduk di samping tempat tidur sambil berbincang dengan Gia tapi peringatan dari Bagus untuk tidak terlalu dekat dulu karna kondisi Gia yang syok, menurut Rian cukup masuk akan.


Gia terus menatap orang yang sedang membaca buku di pojok ruangan, sebenarnya Gua juga sangat suka membaca tapi di sini tidak ada buku satupun, Gia ingin mengobrol tapi Gia bingung harus memulai dari mana dan mas Rian pun cukup fokus dengan bukunya jadi tidak mungkin di ajak ngobrol. Gia menggeser badannya untuk mengambil air di meja yang memang agak berjarak dari tempat tidur, tiba tiba bbbuuukkkk.... disusul dengan suara gelas pecah, Rian yang sedang fokus dengan buku langsung menoleh dan berlari menuju Gia


"kamu ngapain?"


"aku mau minum mas"


" kenapa ga panggil? "


"aku liat mas serius banget tadi makanya gak panggil"


"jangan di pegang" ucapnya saat melihat Gia akan mengambil pecahan kaca tersebut, lalu membersihkan tangan Gia dan mengangkatnya ke atas bed. Rian keluar sebentar dan kembali dengan membawa sapu, dia membersihkan dengan sapu lalu mengangkat serpihan beling mengunakan tissue dan membuangnya ke tempat sampah, tak lama seorang perawatan datang membawa baskom berisi air hangat dan sebuah kotak obat. Rian meminta perawat membantu Gia ganti baju karena bajunya basah, setelah itu Ruang mengobati tangan Gia yang sedikit terluka.


"aku ada di sini buat bantu kamu, aku gantiin Bagus jaga kami, jadi kalau ada apa apa jangan sungkan panggil" ucap Rian sungguh-sungguh

__ADS_1


Gia tak menjawab hanya memberi senyuman, "Tuhan, tinggalkan satu orang buat ku yang seperti dia" ucap Gina dalam hati.


__ADS_2