
"hei... abis mandi?" sapa Bagus mencium pipi sangat adik, Gia membalas nya dengan senyuman. "makan ya... udah malem, nanti yang disini bunyi semua cacingnya" Ucapnya lagi sambil menepuk pelan perut sangat adik, yang dibalas dengan anggukkan. orang yang tak mengenal mereka pasti akan mengira mereka layak nya pasangan, terlalu romantis untuk hubungan kakak adik, walaupun hanya seorang kakak angkat dan adik angkat, mereka akrab satu dengan yang lain, begitu pula dengan Risa.
Bagus keluar dengan menggenggam tangan Gia, melihat itu Rian mengenggam gelasnya dengan kencang, Risa orang yang pertama sadar dengan hal itu, langsung meminta Gia duduk dan makan malam segera di mulai dengan sangat hikmat, hanya ada obrolan soal pekerjaan dan beberapa lawakan receh, tanpa ada pembahasan yang terjadi di rumah sakit. saat sedang asyik berbincang Gia yang memang sedari tadi ingin menanyakan wajah Rian yang memar dan ada luka disudut bibir nya yang kembali berdarah saat dia tertawa tadi, Gia menyentuh sudut bibir itu membuat Rian yang sedang Fokus pada Hendri yang ada di paling kanan menoleh ke arah Gia "kenapa?" tanyanya tanpa suara, bukan menjawab dia malah mengambil tangan Gia lalu menciumnya dan mengenggam nya di bawah meja, semua kejadian itu hanya dilihat Risa karena semua fokus pada Hendri yang sedang melempar jokes recehnya.
selesai makan semua berpamitan untuk kembali kecuali Rian, dia masih ingin bersama calon pacarnya yang tadi ada dalam genggaman Bagus, sekarang ada di genggamannya.
"udah kali... kaya orang mau nyebrang aja" ucap Bagus membuat Gia malu dan melepas genggamannya,yang langsung diambil lagi oleh Rian sambil memandang kesal pada Bagus.
"mas.. ka... aku istirahat ya,,," pamitnya pada Bagus, Rian dan Risa "disini aja, aku gak apa apa" sambungnya lagi saat Rian akan bangun.
Risa bangun dan mengantar Gia karena ada obat obat yang harus Gia minum.
"kamu rasa nyaman sama Rian?" tanya Risa yang sedang mengambil obat untuk Gia.
"biasa aja ka"
"yakin biasa aja"
"iya, sama kaya ke yang lain"
__ADS_1
"kamu sadar ga kalau kamu ga sentuh orang lain selain Mas mu sama Rian" ucap Risa yang membuat sedikit perubahan pada raut wajah Gia. "astaga... kenapa aku sampai lupa kalo aku gak sentuh orang lain sama sekali" ucapnya dalam hati.
"minum nih... " Risa menyodorkan obat dan air, "inget jangan banyak pikiran, buang yang ga penting, bikin happy" sambung Risa lagi sambil menatap sang adik langsung ke manik matanya. Risa merasa saat suaminya menggandeng adiknya keluar dari kamar ini, ada senyum yang dipaksa dan ada tanggis yang tertahan.
"ka.... " ucap Gia bergetar menahan tangis, Risa langsung memeluk sang adik dan membiarkannya menangis sepuas puasnya sambil menumpahkan rasa kecewa nya kenapa bisa terjadi pada dirinya, kenapa dirinya bisa kecelakaan seperti ini. "ka... kecelakaan apa sebenarnya yang terjadi,? aku bingung aku dapet kaya gini tapi aku ga tahu penyebabnya ka!" tanyanya yang membuat Risa bingung, setelah kepulangan Gia ke rumah dia terus bertanya apa yang terjadi pada diri nya bahkan sampai tadi pulang bersama Awan dia masih bertanya tapi selalu di alihkan ke pembicaraan lain, karna sejujurnya Risa tidak tahu harus memulainya dari mana.
"ka... ada apa ka? kalian ga ada yang kasih tahu ke aku kenapa aku begini?" ungkap Gia mencoba meminta penjelasan pada Risa, akhirnya dengan sangat terpaksa Risa menceritakan semuanya kenapa terjadi versi Risa dan yang Risa tahu,Gia langsung histeris saat tahu dirinya di perkosa oleh kakak sepupunya dan itu penyebab apa yang dia alami saat ini. Gia histeris tak terkontrol, bahkan Risa tidak dapat menenangkannya.
Bagus dan Rian yang sedang berbincang terkejut mendengar teriakkan Gia dari lantai atas, langsung lompat menyusul mereka.
"ada apa?" teriak Bagus saat masuk, yang terlihat hanya Risa yang sedang berusaha menahan amukkan dari Gia. Rian mengambil alih Gia dari Risa dan langsung mendekapnya, Bagus yang menangkap Risa langsung bertanya pada sang istri apa yang terjadi dan Risa menceritakan dengan singkat, Bagus sedikit menyesal berusaha menyembunyikan ini dari Gia karena dia pikir tidak akan ada dampak kedepannya.
"tenang dulu, tenang... biar aku lanjutin cerita nya" balas Rian berusaha menenangkan nya dalam pelukkan.
Bagus dan Risa keluar dari kamar, membiarkan kedua orang itu menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang akan mereka hadapi ke depannya.
perlahan Gia mulai tenang, Rian mendudukkan Risa disisi tempat tidur dan menarik bangku tidak jauh dari situ agar dia dapat duduk berhadapan dengan Gia, perlahan dia mengangkat tangannya merapikan rambut Gia dan menghapus air matanya,sambil berkata.
"apa yang mau kamu tahu?"
__ADS_1
"kenapa ini bisa terjadi sama aku?"
"sampai mana kakakmu cerita?"
"sampai aku di perkosa kak dendi" ucapnya lesu, Rian mengertakan gigi nya saat mendengar Gia mengatakan itu.
"semua yang Risa bilang, benar terjadi" ucapnya sambil mengenggam lembut tangan sang calon pacar "waktu itu aku dan Bagus ketemu kamu dalam keadaan nyaris tanpa busana dan ada dendi diatasmu, maaf aku ga dateng tepat waktu saat itu dan maaf tidak bisa ngelindungin kamu saat itu" ucap Rian penuh penyesalan, Gia menangis tapi kali ini tidak se histeris tadi, Rian kembali mendekapnya, membiar Gia menanggis sambil memukul dada nya,nanggis sejadi jadinya mengeluarkan semua sesak yang dia rasa, mengeluarkan semua rasa tanya yang dia punya. setengah jam kemudian Rian merasa ada yang mencolek kakinya, ternyata Gia menanggis hingga tertidur, dalam dekapan Rian yang juga akhirnya tertidur. Bagus membantunya merapikan posisi tidur Gia dan merapikan beberapa barang yang terjatuh,menarik Rian bangun dan keluar dari kamar itu.
"dia sudah cukup percaya sama loe!" ucap Bagus sambil menuruni tangga.
"dia masih rapuh banget"
"gw pikir kita ga akan bahas ini ke depan nya tapi ternyata kecelakaan itu bikin dia menderita kaya sekarang." mendengar ucapan Bagus, Rian mencoba menghibur sang sahabat.
"gak apa apa, kita juga ga pernah tahu kalau bakal begini jadinya" waktu itu memang Rian minta agar memberi tahu yang sejujurnya pada Gia agar dia belajar menerimanya nya, tapi Risa dan Bagus bersih kukuh menyembunyikan nya karena melihat mental Gia saat itu,jadi sebenarnya tidak ada yang salah, hanya waktu saja yang kurang begitu tepat.
"gw pulang ya... salam buat Risa" ucap Rian yang tidak melihat keberadaan istri sahabat nya itu.
"iya, nanti gw sampein, tadi dia nunggu tapi kalian gak ada yang keluar, makanya gw suruh istirahat" jawab Bagus sambil mengantar Rian keluar.
__ADS_1
"besok pagi gw kesini buat liat dia, nanti malam tolong ditengok lagi takut badannya panas, atau takut dia nanggis lagi" ucap Rian sebelum pergi .