Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
BAB 5 pergilah... dan lupakan....


__ADS_3

sementara itu di dalam kamar,Gia berbaring menatap langit langit,dalam pikirannya masih di penuhi ucapan om Salman dan Alfian,kemarahan yang mereka luapkan saat tahu keputusan yang aku ambil. mereka terus menekanku menanyakan keputusan ku yang mereka rasa sepihak dan tanpa melibatkan mereka.


"dua minggu lagi om Salman kembali ke Negara I, secara otomatis om Alfian akan sibuk, seminggu lagi adalah acara 40 oma dan perginya aku dari ini" ucap Gia dalam hatinya.


Gia tahu pasti saat ini om Alfian menginap di kamar om Salman, kedua sahabat sejati itu selalu saling mengerti, saling pengertian, selalu ada disamping di saat yg di butuhkan, bukan dateng pas ada butuhnya aja.


"om.... jangan bikin aku bingung dong" ucap Gia dalam hati.


malam itu mereka masing masing tidak ada yang tidur, semua tengelam akan pikirannya masing masing, mencoba menetralisir perasaan terkejut dengan keputusan ini.


"oma... kenapa kepergianmu malah menghancurkan keberanian ku,aku ingin melawan tapi aku takut kehilangan. " ucap Gia pelan hingga akhirnya menangis....


keesokan pagi Gia dan Ratmi menyiapkan sarapan seperti biasa,setelah siap Ratmi mencoba mengetuk pintu tapi tidak ada juga yang keluar, tak ada dari salah satu laki laki itu yang bergerak untuk sarapan bersama. aku tahu dan aku sangat mengerti, mereka pasti marah dengan keputusan sepihak yang telah ku ambil tapi,ini aku lakukan untuk mereka dan aku yakin suatu saat nanti mereka akan paham dengan yang ku lakukan ini.


"mba Ratmi simpen aja makanan nya,kalau mba Ratmi mau makan gak apa apa mba makan saja duluan" ucap ku dengan sedikit penekanan agar mereka tahu kalau yang lain juga tidak sarapan.


"iya nanti mba simpan."


Mungkin karena mendengar ucapan ku, om Alfian langsung keluar untuk bergabung bersama mba Ratmi,karena om Salman belum keluar, aku pun belum beranjak untuk makan.


"makanlah... jika tidak aku yakin akan ada seseorang yang tidak makan." panggil Alfian pada Salman di depan pintu kamarnya.


tak lama kulihat Salman keluar dari kamar langsung menuju meja makan, tanpa menoleh ke arah lain. suasana meja makan sangat kurang enak saat itu,tapi semua tetap berusaha menikmati makanan masing masing. tak ada pembicaraan antara satu sama lain, hingga selesai sarapan, setelah sarapan mereka kembali ke kamar,hal itu membuatku kembali ke kamar tanpa membantu mba Ratmi terlebih dahulu.


didalam kamar aku mencoba mengingat kembali kemarahan kedua pria itu saat tahu jawabku.


FLASHBACK ON


"kenapa kamu ambil keputusan tanpa menanyakan apa apa pada kami?" tanya Alfian saat kami di kasih waktu untuk berbincang kemarin.


sejujurnya ini kali pertamanya aku melihat om Alfian semarah itu,karna tak dapat jawaban apapun dari ku, Om Alfian meninju tembok yang ada di sampingnya,karena dia tidak mungkin memukulku.


"om bingung Gi... apa kamu sebenarnya anggap kita ada atau tidak" kali ini suara om Salman, ini bukan kali pertamanya aku mendengar kemarahan pada nada suara om Salman karena dulu dia cukup sering memarahiku apalagi di saat aku terus melawannya.


"tidak apa om,ini benar benar keputusan yang aku ambil sendiri"


"kami tidak menggatakan ada orang lain di balik itu semua... kau baru saja membingkar sesuatu nona" om Alfian menjebakku dengan kalimatnya.


"apa dia memaksamu untuk ikut dengannya?" tanya om Salman padaku dengan sangat lembut.


"tidak.... aku sendirilah yang memutuskan ini"


"kamu berusaha meninggalkanku?" Salman membentak lalu memukul dinding yang ada persis di sampingku.


hal itu membuat aku menitikkan air mata,salman yang sadar hampir memukulku langsung menjauh,dia langsung melihat ke arah mba Ratmi yang ketakutan,Salman langsung sadar kalau dia tidak mengkontrol diri, apalagi jika Ratmi sampai ketakutan seperti itu.


"aku tahu kalian marah dengan keputusan yang aku ambil... aku juga minta maaf karena mengambil keputusan sendiri seperti ini,aku tidak pernah menganggap kalian tidak ada seperti apa yang ada di pikiran kalian, aku benar benar ingin mencoba tinggal bersamanya,siapa tahu dengan apa yang dia dapat dari ibuku,dia akan menjadi wanita yang lebih kuat seperti ibu dan aku yakin pasti kelak aku akan menjadi wanita yang seperti itu" ucap Gia berusaha meyakinkan kalau ini adalah keputusannya.


"aaahhh...." teriak om Salman lalu memukul tangannya ke tembok.


om Salman dan om Alfian babak belur saat ini,bukan karena perbuatanku melainkan karena ulah mereka sendiri. mereka marah, kesal bahkan hingga kecewa, tapi mereka sadar kalau mereka tidak bisa melampiaskan itu padaku,akhirnya mereka menyakiti diri mereka sendiri.


"pergilah Gi... lupakan semuanya,semua kebersamaan dan kehidupan kita bersama. lupakan aku,lupakan Alfian dan juga Ratmi. PERGILAH... LUPAKAN KAMI." ucap Salman akhirnya. tidak hanya aku,semua pun menoleh ke arah Salman saat ini,semua mencoba meyakinkan kata yang baru saja Salman ucapkan.


"jangan mas.." mba Ratmi mencoba menyadarkan om Salman tapi malah mendapat tatapan tajam.


setelah merasa cukup puas dengan keputusan om Salman,Gia berjalan ke arah pintu,dengan penuh air mata. "terima kasih sudah menjadi orang orang terbaik dalam hidup aku,suatu saat nanti kalian akan paham kenapa aku melakukan ini,sampai kapanpun aku tetap menyayangi kalian. karena aku menyayangi kalian dengan sangat tulus,jadi rasa sayang itu tidak akan hilang begitu saja, apapun yang terjadi." Gia mengucapkan dengan airmata tertahan,lalu dia langsung keluar dari kamar.


Semua mata menatapku saat aku keluar dan ada tatap tanya dari om Jimmy yang hanya aku balas dengan senyumam,dia pun paham dengan keadaan itu, tante Emu sempat menahanku dan memintaku untuk langsung ikut dengannya, tapi aku menolak dan memintanya menjemputku setelah acara 40 harian oma.


FLASHBACK OFF


...****************...


aku ternyata menangis hingga tertidur sampai aku lupa makan siang, bahkan aku lupa ini hari apa,aku terbangun karena mba Ratmi mengedor pintu dengan sangat keras,tapi aku sama sekali tak ingin membukanya,aku seperti malas untuk bergerak. Hingga tiba tiba ada sebua suara yang membuat aku akhirnya bangun dan membuka pintunya.


"buka!!! gak di buka dirubuhin nih!" om Alfian berteriak dari luar.


"2 laki laki ini memang luar biasa menyeramkan" ucapku dalam hati,lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Gia... gia ga apa apa?" tanya mba Ratmi khawatir, ada nada cemas yang terdengar pada kalimat itu.


aku tersenyum padanya,dia membalasnya dan mengatakan kalau sudah waktunya makan.


"makan lagi? emang sekarang sudah jam berapa?"


"udah jam nya makan malam... kamu lewatin makan siang tadi,jadi jangan sampai sekarang gak makan juga" mba Ratmi menjelaskan.


"makasih ya mba..."


"jangan gitu lagi ya...mba khawatir banget, takut kamu kenapa kenapa"


"iya mba... maaf ya"


"iya gak apa... pokoknya jangan sampai keulang lagi." ucapnya mengelus kepalaku.


aku tersenyum menanggapi mba Ratmi "ya Tuhan..... aku akan merindukan hal ini" ucapku dalam hati.

__ADS_1


"ayo makan"


" iya mba... aku juga udah laper"


seiring berjalannya waktu dua pria itu pun masih tidak ingin mengeluarkan suaranya,mereka masih tidak ingin berbicara dengan ku,keduanya selalu menghindariku,pulang sekolah pun tidak ada satupun dari mereka yang menjemputku.


besok di rumah ada acara 40 hari kepergian oma dua hari ini aku dibantu mba Ratmi merapikan beberapa barang yang akan aku bawa nanti untuk tinggal bersama tante Emy, om Salman dan om Alfian tahu jika aku sudah mulai berkemas. dan sepertinya mereka meminta mba Ratmi untuk merayuku dan jawabanku masih sama seperti sebelumnya,mba Ratmi pun menyerah.


"maaf ya... bukan aku tidak menyayangi kalian,tapi karna aku sangat mencintai kalian dan aku tahu mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkannya." ucap ku dalam hati.


kalian tidak akan mengerti hancurnya aku melakukan ini, ini berat... sangat berat untukku,namun aku tahu aku akan lebih hancur jika melihat mereka, orang orang yang aku cintai menderita karena aku.


tak terasa ini adalah hari terakhir ku di rumah ini,pagi pagi sekali aku sudah menuju kamar om Salman, dimana tempat kedua pria itu terlelap. aku naik ke tempat tidur dan memposisikan diri ditengah keduannya,dari awal aku mengambil keputusan itu mereka sama sekali tidak bicara padaku, hari ini aku ingin bicara dari hati ke hati dengan mereka.


aku memeluk om Salman dengan erat,tanpa terasa air mataku membasahi tangannya,membuatnya terbangun dan menoleh,dia terkejut melihat ku,dia bangun lalu menukar posisi menjadi di tengah dan aku di pinggir.


dia membelakangiku, dia berusaha tidak kontak mata denganku,dia orang yang paling tahu aku,dia tahu aku akan memintanya untuk mengijinkanku pergi,aku sudah mencoba menarik tangannya tapi dia tidak menoleh sama sekali. "om... aku menyayangi kalian... percayalah itu dulu, selebihnya aku akan menjelaskannya pada mu" ucapku di tengah isak tangis.


sepuluh menit berlalu akhirnya om Salman menoleh,itupun sudah ada air mata yang turun,akhirnya aku mengajaknha duduk,aku turun kebawah dan menaruh kepalaku di pangkuannya.


"om... kamu tahu kan,aku menyayangimu, om Alfian dan mba Ratmi."


"kenapa harus dengan cara ini? "


"om...aku tidak mungkin menceritakan ini padamu sekarang,saat ini aku hanya butuh kalian yakin dengan keputusan ku! biar aku pergi dan aku mohon.... jangan memperlihatkan jika keputusanku tidak kalian terima,saat nya nanti aku akan mengatakan pada kalian"


"berarti kamu di paksa kan!!" bentak Salman akhirnya.


bentakanya membuat Alfian juga terbangun,matanya langsung membulat melihat ada aku di kamar itu. "kalian itu ngapain sih... masih pagi! " ucapnya.


"om fian..."


"gak... gak... itu terserah Salman! jangan sama aku! " Ucap om Alfian sebelum aku mengatakan maksudku.


"kamu itu bener bener gi... om kan sudah bilang kalau kamu bilang dari awal kalau kamu di paksa, om Jimmy pasti bisa bantu kamu, jadi ga kaya gini"


"om... aku cuma..." belum selesai aku bicara om Alfian memotong nya.


"tunggu.. Apa tadi? paksa? kamu di paksa?" kali ini om Alfian sudah sepenuhnya sadar.


"iya dia ini di paksa,tapi gak mau bilang dari awal" om Salman yang menjawab.


"aku udah bilang saat ini yang aku butuh ijin dari kalian"


"gak..." dua duanya kompak menjawabnya.


"alasan kamu itu terlalu aneh" om Salman tetap menolak.


"apa jika aku mengatakan sesungguhnya pada kalian,kalian akan mengijinkanku?"


"kami akan memberi ijin jika kepergian itu atas keinginan mu sendiri" om Alfian berusaha meyakinkan kalau yang aku lakukan bukan keinginanku.


"om... jika ini bukan keinginanku, aku pasti sudah akan mengatakannya saat kemarin om Jimmy menanyakan itu, apalagi dia mengatakan akan jika aku bisa melakukan penolakan,biar bagaimanapun dia tante ku, tante kandung,kakak dari ibuku,bukan kah menjadi hal aneh jika aku malah tinggal bersamamu?" aku mengenggam tangan mereka,merekapun tidak menolaknya, aku mencium dua tangan itu. "jika aku tidak kuat menghadapinya,aku akan mencari kalian, karna aku tahu kalian adalah orang yang akan selalu ada di sisiku" ucapku menatap keduanya. "aku mohon... biarkan aku pergi, percayalah aku adalah wanita yang kuat seperti yang kalian tahu, jangan pernah berfikir aku tidak menyayangi kalian karna itu hal yang paling sakit, disaat aku sangat menyayangi kalian tapi kalian mengatakan hal sebaliknya." ucapku mencium pipi mereka dan memeluknya.


mereka membalas pelukkan ku. "inget... kalau ada sesuatu terjadi padamu,beri kabar padaku atau Alfian. aku akan langsung kembali dari sana jika sesuatu terjadi padamu" ucap Salman.


"oke..." ucap ku lalu kembali memeluk mereka,tanpa terasa air mataku mengalir,om Alfian yang sadar langsung dengan sigap menghapusnya.


"jika kepergianmu keinginan mu sendiri, jangan pernah melakukannya dengan air mata." ucapnya dengan senyum,aku membalas senyum itu.


..."terima kasih Tuhan kau mengirimkan untuk ku orang orang luar biasa yang selalu mendukung dan. menyayangi ku" ucapku dalam hati....


mba Ratmi tersenyum saat melihatku jalan beriringan dengan dua pria itu,mba Ratmi menghampiriku dan memelukku, "mba seneng liat nya" ucapnya melihat kami.


hari itu di adakan acara 40 hari oma, jadi di rumah ramai beberapa tetangga yang membantu kami menyiapkan besek untuk di bawa pulang yang sembayang nanti,keluarga mba Ratmi juga di sini bersama kami, keluarga mba Ratmi sudah seperti keluarga kami juga jadi,hanya keluarga mba Ratmi yang bisa keluar masuk kamar ku,entah untuk mengambil barang atau beristirahat.


menjelang sore tante Emy datang bersama suami dan anaknya, dengan gayanya yang merusak mata kami, dengan caranya yang seperti jijik berada di rumah oma, tapi tetangga yang tahu wataknya hanya mengeleng melihat kelakuan tante Emy.


tante Emy terlihat kaget saat melihat om Salman menganggu ku saat aku sedang memotong buah, "sepertinya dia memang ingin membuat hubunganku retak" ucapku dalam hati saat aku menoleh melihat wajah terkejut tante emy.


...****************...


POV tante Emy


"kenapa mereka jadi akur seperti itu? bukan seharusnya mereka tidak saling bertegur sapa,sejak kapan ini terjadi???" ucapnya dalam hati.


aku menghampiri suamiku,"lihat itu!!" ucapku sambil memutar kepalanya agar melihat orang yang ku maksud, "kenapa mereka jadi akur seperti itu?" tanya nya padaku.


"Ini rencanamu! kenapa kau tanyakan padaku? jika kau bertanya padaku, lalu aku harus bertanya pada siapa?" tanyaku balik padanya.


"kau itu selalu menyalahkanku!"


"ini kan rencana mu! lalu aku harus salahkan siapa jika gagal seperti ini!"


"tidak perlu ada yang di salahkan karena kita mengerjakannya berdua" balas suamiku tidak ingin di salahkan.


menjelang sembayangan akan berlangsung datang Alfian yang langsung memeluk wanita itu, "sial... aku pikir rencana ini berhasil" sungut ku, karena kesal melihat itu aku menghampiri anak pertamaku namanya Natasya.

__ADS_1


"itu siapa ma?" tanya tasya padaku.


"Alfian... dia kerabat dari Salman."


"ganteng ma..."


"pakai kacamata mu!"


"mama nih! " balas putriku kesal lalu pergi meninggalkanku.


tamu mulai berdatangan tiba tiba anak laki laki ku datang menghampiri, "ma... itu Gia??" tangannya menunjuk Gia yang di apit Salman dan Alfian.


"iya..."


"kok... kelas berapa?"


"2SMP"


"buset... gede banget"


"apanya?"


"hehehe... gak mah... cantik ya... kaya tante Tina"


"masih lebih cantik kakakmu... jangan yang aneh aneh kamu itu masih kelas 3 SMA sebentar lagi lulus"


"iya ma..."


"jangan iya iya aja kamu... mama serius!"


"iyaaa... bawel ah.."


acara berlangsung dengan sangat khusyuk,sepanjang acara Salman seperti menatap tidak suka ke arah kedua anakku, aku ingin menegurnya tapi aku malas berurusan dengannya.


...****************...


*POV Salman.


Sore itu Salman melihat kedatangan ka Emy dan keluarganya,samar samar dia mendengar pembicaraan suami istri itu. "aku yakin mereka sedang perang dingin saat ini" ucap sang suami, "pokoknya Gia harus ikut kita gimanapun caranya" ucap ka Emy.


"jadi mereka sengaja membuat kami bertengkar..." ucapku dalam hati.


aku sengaja menghampiri keponakan kesayanganku yang sedang menata kue di piring, aku merangkulnya dan membersihkan remahan kue di pipinya,dari sudut mataku ku lihat ka Emy dan suaminya terkejut melihat kami dan seperti ada pertengkaran kecil di ujung sana antara ka Emy dan suaminya. aku tersenyum melihat itu, sesekali aku mengelus puncak kepala ponakan ku agar mereka semakin terbakar melihat keakraban kami.


aku melihat anak laki lakinya terus menatap Gia dari kejauhan,entah kenapa itu membuatku sedikit kesal,bukan karena cemburu tapi... karena aku merasa akan terjadi sesuatu yang buruk pada keponakanku jika tinggal bersama mereka


menjelang acara akan di mulai Alfian datang dan langsung memeluk ponakanku,dari tempat aku berdiri, aku melihat ka Emy menatap terkejut dan anak perempuan ka Emy menatap sahabatku itu dengan penuh minat, seakan ingin menelannya.


acara berlangsung aku dan Alfian mengambil posisi mengapit Gia di kiri kanan, dikiriku ada Gia,lalu Alfian dan entah kenapa Natasya atau biasa di panggil Tasya anak dari ka Emy berada persisi di samping Alfian,bahkan dia selalu menempelkan badannya pada sahabatku itu.


"astaga.... anak kecil ini! bukan kah dia tahu itu sahabatku,kenapa dia malah masih ingin menggoda nya." ucapku dalam hati.


...****************...


acara berlangsung dengan sangat baik, para tamu mulai pulang dan menyisahkan Gia dan keluarga nya beserta om Jimmy dan istri. Gia mulai membawa tas nya keluar, dia tidak membawa semua barang barangnya, agar saat menginap disini dia tidak perlu lagi membawa baju. Gia hanya membawa 2 tas besar satu isi pakaian dan satu isi perlengkapan sekolah dan sebuah tas kecil berisi cash, dompet dan ponsel.


"Gia... kamu yakin dengan keputusan mu sayang? " tanga om Jimmy berharap aku membatalkannya.


"aku yakin om"


"baiklah... jika kamu yakin..." jawabnya mencoba mengikhlaskan.


Gia menghampiri mba Ratmi yang sudah menanggis dari tadi dan berpamitan dengannya.


"main main ke sini ya de" ucqpnya sambil memeluk Gia.


"iya mba... nanti aku main"


Gia pun berpamitan dengan om Salman dan om Alfian,aku tahu berat untuk mereka membiarkanku pergi tapi mereka sungguh memenuhi janji mereka untuk menghargai keputusanku.


"om... aku pergi dulu ya..." ucapku dengan senyum namun ada air mata yang jatuh.


"hati hati ya... jaga diri, jaga kesehatan,jangan lupa gereja, om juga pamit lusa om sudah berangkat! ada om Fian dan mba Ratmi,nanti main aja ke sini" om Salman berusaha dengan kuat melepasku pergi.


om Alfian memberikan pesan yang sama untuk ku setelah kembali dari membawakan barang ku ke mobil,dia memelukku dengan sangat erat. "jangan pernah mau di sentuh mereka" ucap om Alfian pelan saat memelukku dan aku menjawabnya dengan anggukan.


"pergilah Gi... sebelum aku menaham mu nanti" kali ini om Salman bersuara.


aku pergi, bahkan tanpa menoleh lagi ke arah mereka, sepanjang perjalanan ku pun hanya diam. "terima kasih om... terima kasih untuk tidak menahanku, terima kasih mengijinkanku pergi" ucapku dalam hati.


sesampainya di rumah tante Emy aku di tempatkan di kamar belakang bersama mba ima ART di rumah itu, mba ima menyambutku dengan sangat senang,aku pun merespon positif sikap mba ima padaku, di samping kamar kami ada sebuah gudang kecil, aku melihat foto ibuku bersama oma dan tante Emy, ibuku mengandeng erat tangan om Salman.


"pantas tante Emy tidak menyukainya, ternyata karena oma dan ibu ku sangat terlihat menyayangi om Salman. " ucapku dalam hati.


"ya Tuhan.... semoga keputusan ku ini adalah yang terbaik, aku yakin Kau akan menyediakan yang baik baik di balik semua hal yang terjadi padaku" ucapku lalu tidur.


tempat tidur mba Ima bersusun, aku di bagian bawah dan mba Ima di bagian atas, mba ima senang ada temannya dia bilang kadang dia kesepian kalau malam karena para sepupu ku pulang selalu menjelang pagi walaupun anak laki laki tante masih SMA tapi dia selalu pulang pagi, begitu pula dengan kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2