Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
99. tetap bersama ku


__ADS_3

Demi menghindari sang istri Rian sengaja pulang terlambat tapi saat dia sampai di rumah, kondisi rumah sangat gelap menandakan tidak ada orang di dalamnya. keningnya berkerut mengetahui kondisi rumah kosong, dia masuk lalu membersihkan diri dan mendinginkan kepala nya dengan guyuran air.


Rian mengambil ponselnya dan menghubungi Ika menanyakan keberhasilan Gia, tapi sayangnya Ika mengatakan jika Gia tidak datang dari pagi, saat Rian menanyakan Risa, ternyata Risa pun tidak datang jadi Rian berfikir istrinya disana


Rian menelpon tapi Risa tidak mengangkat nya, pilihan terakhir dia menelpon Bagus.


"apa dia di sana?"


"siapa yang lu maksud"


"Gia"


"ga ada.. kalian bertengkar? "


mendengar kata kata Bagus bahwa istrinya tidak disana langsung membuatnya panik, bahkan dia tidak menjawab pertanyaan Bagus yang terakhir. Rian mencoba menghubungi anak kedai yang lain, bahkan Awan tapi hasilnya sama saja, terakhir dia menghubungi orang tuanya dan ternyata Gia memang dari sana karena tadi Gia ke RS menemani mama tapi Gia sudah kembali dari sore.


"ada apa dengan kalian?"


"tidak ada ma... bukan sesuatu yang besar! "


"ingat nak, jangan pernah menyakiti dirinya, dia mencintaimu bukan karna siapa kamu, dia mencintaimu dengan tulus"


"ya ma.. aku mengerti"


"ya Tuhan... tolong berikan satu petunjuk, biar aku sendiri yang mencarinya" cuman Rian sambil berjalan menuju mobil.


Rian mencari Gia, sang ibu bilang motornya di tinggal di sana berarti dia mengunakan kendaraan umum, yaitu ojek online, harusnya terlihat olehnya jika berpapasan di jalan. Rian berhenti di sebuah lampu merah,disana ada seorang laki laki sedang bersajak seminggu mendapatkan sedikit rejeki.


*jadilah seperti air, yang terus mengalir dan membawa ketenangan bagi orang lain "


saat pria itu mengatakan hal tersebut, Rian sedikit terkejut dan kata kata itu membuat dia tahu harus kemana dia pergi, saat lampu berubah menjadi hijau, Rian mengulurkan selembar uang lima puluh ribu untuk orang tersebut yang langsung di terima dengan senang hati dengan ucapan doa yang begitu panjang untuk Rian.

__ADS_1


Rian membawa mobilnya ke sebuah danau, tempat dimana pertama kali Rian berhasil mengajak Gia pergi berdua, walaupun ada bujuk kan Risa di dalamnya. tidak seperti perempuan lain yang memilih mengunjungi mall, Gia lebih memilih kesini, walau hanya sekedar membaca buku, dia bilang suara air itu membawa ketenangan.


sesampainya di sama, benar saja istrinya ada di sana, berbaring menatap langit "ya Tuhan... tolong biarkan wanita ini tetap di sampingmu" ucapnya dalam hati. Ria mendekat, ternyata dia terpejam tapi menanggis. Rian naik ke tempat Gia dan ikut berbaring tanpa suara, lewat sepuluh menit Gia masih tidak menyadari kalau ada suaminya di sana.


"pulang yuk... udah malem" ucap Rian membuat Gia lompat bangun.


"mas... "


"pulang ya... " ucapnya lagi langsung menggandeng tangan istrinya.


Gia yang masih dalam keterkejutan hanya mengikuti, sepanjang jalan hanya di isi keheningan, tak ada percakapan apapun. "kalau bukan karena dia menaruh perasaan sama kamu, mungkin aku tidak akan sebegininya sama kamu" batin Rian saat sudah tidak jauh lagi akan sampai.


"udah makan? " tanya Rian, karena kata mama seharian temenin papa dia tidak makan.


"sudah mas" bohong Gia


"temenin aku makan! " tandanya tidak ingin di bantah.


"kamu mau makan apa? "


Lima belas menit kemudian Gia sudah bergabung dengan suaminya yang sudah lebih dahulu menyantap makanannya, tanpa sadar dia punya melakukan hal yang sama padahal dia bilang sudah makan. tak banyak yang di bahas saat makan karena keduanya sudah lelah, sangat lelah menahan ego dan perasaan nya masing-masing.


dikamar mereka masih saling diam, saling membelakangi. tak lama ada suara Gia terisak, Rian merasa teriris jika mendengar itu, tapi memang itu yang harus dia rasakan, agar Gia mengerti maksud dan tujuannya. namun sayangnya Gia terisak bukan karena itu, melainkan karena kata kata Gia setelah makan, "udah ya, kita selesai aja... " ucapan itu terngiang terus di telinganya, pernikahan baru menginjak bulan ke delapan dan harus selesai begitu saja.


Gia makin terisak saat dua tangan kokoh memeluknya dari belakang, Rian memutar tubuh istrinya, dia mendekap istrinya erat karena istrinya makin terisak, Rian tidak mengerti apa yang di rasakan istrinya saat itu tapi menurutnya sebuah pelukan akan membawa ketenangan.


"kenapa?" tanya Rian. "jadi cengeng sekarang kamu! " sambungnya lagi.


"kenapa harus udahan? masalah kita tidak sebesar itu, lagi pula aku sudah minta maaf, apa segitu sulitnya bertahan bersamaku? "


"udahan??? maksudnya??? "

__ADS_1


"tadi kamu sendiri yang bilang kalau kita udahan aja, kamu mau pisah kan"


"astaga Gia... jauhin pikiran kamu yang kaya gitu! aku ga pernah ada pikiran untuk itu, jangan aneh aneh kamu!" sebenarnya Rian hampir saja tertawa karena istrinya yang sangat sensitif.


Rian memeluknya lagi, membenamkan wajah Gia di dadanya. "kalaupun Tuhan memisahkan, aku akan minta Tuhan ambil aku juga biar kita sama sama. "


Gia langsung memukul dada suaminya "jangan bilang gitu ah... "


"sayang... apa ini sudah ada? " ucapnya mengelus perut Gia.


"aku enggak tahu mas"


"boleh aku minta yang kemarin jangan di ulang? "


"mas... aku akan usaha sebisa aku,biar bagaimana pun dia laki laki terhebat dalam hidupku sebelum kamu."


"aku mau kamu tahu satu kenyataan, tapi berjanjilah untuk tidak membencinya." mendengar ucapan suaminya Gia langsung menoleh penuh tanda tanya, "berjanjilah... "


"yeah... aku berjanji."


"dengar baik baik... kakak mu itu jatuh cinta padamu sebelum aku datang dalam hidupmu"


"hah... Gila! jangan ngaco kamu mas"


"dengarlah... " ucap Rian menyodorkan ponselnya, Gia hampir tidak pernah menyentuh ponsel sang suami.


Gia mendengarkan perdebatan antara suaminya dan sang kakak tercinta di sana, bahkan Bagus sempat mengatakan mencintai keduanya dan rasa itu justru ada setelah dia menikah dengan Risa. betapa terkejutnya Gia karena dia hafal sekali dengan suara kakak nya itu, tanpa terasa air matanya jatuh,kecewa dia sangat kecewa karena kakak nya bisa mengatakan hal itu, dia merasa bersalah pada kakak perempuannya karena kakak iparnya bisa jatuh cinta pada dirinya, 'apa karena kami terlalu dekat, hingga aku tak dapan membedakannya?' batin Gia.


"don't cry beb" ucap suaminya menghapus lelehan air mata itu dan menciunm kedua matanya, "dengerin aku... jangan benci dia, seperti yang kamu bilang dia laki laki hebat yang bisa jaga kamu sebelum aku datang dalam hidup kamu, jangan salahkan dia karena rasa sayang memang tidak bisa kita cegah kapan dan pada siapa dia akan datang, yang bisa kita lakukan hanya mencegah agar rasa itu tidak tumbuh lagi sayang,itu sebabnya aku memintamu untuk mengontrol sikapmu, agar rasa itu tidak tumbuh. kamu mengerti kan maksud ku? " ucap Rian sangat lembut pada istrinya.


"yeah... aku mengerti, Terima kasih untuk kepercayaan mu mas"

__ADS_1


"no... aku yang berterima kasih karena kau tetap mau bersama ku yang keras kepala ini dan aku mohon... jangan pernah berfikir untuk pergi! tetaplah bersamaku"


Gia tersenyum mendengar penuturan sang suami,dia mendekatkan wajahnya ingin mengecup bibir suaminya, tapi sayang dia kalah cepat karena sang suami sudah menangkap tengkuknya dan memperdalam c**man itu, dari lembut hingga menuntut, melakukan hal yang lebih lanjut. hal itu membuat malam mereka menjadi sangat panjang yang terisi dengan suara erangan kenikmatan hingga menciptakan berkali kali pelepasan.


__ADS_2