Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
BAB 7 Hadirnya seorang malaikat


__ADS_3

aku mendorong tubuh itu, aku berlari ke arah kamar untuk mengambil baju, "aku harus pergi! aku harus melarikan diri... aku tidak mungkin disini" batinku berteriak.


saat aku keluar dari kamar ada Dandi yang sedang mencoba menolong ayahnya, dia sempat meneriaki ku tapi dengan sisa kekuatan ku, aku berusaha untuk pergi.


setelah aku rasa cukup jauh, aku mencoba istirahat,aku memasuki sebuah rumah yang terlihat kosong,awalnya aku takut tapi jika aku tidak bersembunyi, aku takut mereka menemukanku, jadi lebih baik aku disini.


mungkin saking terlalu lelah hingga aku tertidur dengan pulas di rumah tersebut,aku terbangun karena banyak nyamuk yang mengigit,aku bergeser mencari sisi yang terkena sinar lampu jalanan karena rumah itu tanpa penerangan, semalaman aku tidak bisa tidur karena perutku terasa lapar, bahkan aku sendiri lupa kapan terakhir aku makan.


...****************...


hari berganti hari hingga minggu berganti minggu,tanpa terasa sebulan sudah aku di rumah itu,aku bertahan dengan caraku di tempat itu, aku keluar pagi pagi sekali, aku lihat ada ibu penjual sayur yang berhenti tidak jauh dari rumah kosong itu, kadang aku membantunya menurunkan sayur dari mobil dan aku di beri makan,kadang aku dapat makan dari warung yang tak jauh juga dari sini,sampai akhirnya aku merasa cukup lama aku bersembunyi dan kali ini saat nya aku mencoba keluar dari rumah tersebut dan mencari jalan untuk menemui siapapun, siapapun yang aku kenal atau mengenaliku.


aku berusaha mendekati orang orang untuk mengetahui dimana keberadaan ku, namun entah kenapa mereka seperti ketakutan dan langsung pergi, "apa aku terlihat seperti orang gila???" ucapku dalam hati. karena tidak ada satu orang pun yang mau aku tanya jadi aku berjalan tak tentu arah dengan perut kosong,menjelang malam aku berhenti di sebuah tempat yang terlihat tidak terlalu buruk, aku mencoba meluruskan badanku.


karena perjalanan jauh dan perut yang lapar aku tidur di tempat itu, tempat itu seperti sebuah warung kopi yang mungkin sudah lama tidak buka,karena beberapa bangkunya yang sudah cukup lapuk. aku terbangun saat mendengar suara aneh, suara yang seperti sering ku dengar terutama pada saat aku membersihkan kamar Dandi, ya... suara itu seperti suara *******.


"siapa itu..." panggil ku,namun tak ada jawaban, aku mencoba memberaniksn diri,bukan nya hilang suara itu makin berisik, karena aku penasaran aku mencari asal suara dan terkejut mendapati sepasang manusia yang nyaris tak berbusana di belakang bangunan itu, aku langsung buru buru berbalik dan bermaksud untuk pergi tapi si perempuan itu memanggilku.


"tunggu" katanya membuatku mematung, "siapa kau? aku tidak pernah melihatmu disini!?" tanyanya.


"aku... aku... aku... rumah ku tak jauh dari sini, aku tinggal bersama tanteku tak jauh dari sini, namun aku ingin pindah dari tempat itu karena aku sudah besar." alasanku pada wanita itu tak lama aku mendengar suara berisik lalu disusul sebuah erangan panjang,ternyata tanpa aku sadari tangan wanita itu masih ada di belakang bangunan itu jadi dia hanya memunculkan badannya saja. pria itu keluar dari belakang bangunan itu bahkan sempat mencium bibir wanita itu sebentar lalu pergi,itu semua mereka lakukan di depan ku, "dasar aji mumpung" ucapnya pada laki laki itu, lalu menyelipkan pemberian laki laki itu ke dalam tasnya.


"siapa kau? aku tidak pernah sama sekali melihatmu! "


"saya kabur dari rumah om dan tante saya, saya pergi tanpa pamit!"


"tidak akan ada asap jika tidak ada api! pasti ada sesuatu yang membuatmu pergi dari tempat tersebut" balasnya lagi seakan tahu jika terjadi sesuatu, namun aku tidak menjawabnya. "baiklah jika kau tak ingin mengatakannya! ikutlah denganku, jangan sendiri disini,nanti kau di tawar orang" sambungnya lagi.


sejenak aku diam terpaku,bimbang antara ikut dengan tidak sampai akhirnya dia sadar jika aku tak mengikutinya. "aku memang bajingan tapi aku tidak akan meminta orang lain untuk mengikuti jejakku." ucapnya lagi saat melihat aku tek bergerak mengikuti nya.


mendengar ucapan itu aku langsung mengikutinya,entah kenapa feeling ku mengatakan kalau aku akan baik baik saja mengikutinya. aku sampai di sebuah kontrakan kecil yang menurutku cukup besar jika dia tinggal sendiri,kontrakan itu terletak di sebuat tempat yang memang isinya para wanita wanita malam.


"kau sudah makan? " aku hanya menggeleng, "mau makan? " tanya nya lagi dan entah seperti manusia yang tidak tahu malu aku malah menganggukkan kepalaku,dia tersenyum saat melihat aku menepuk pelan keningku. "tidak apa... aku pesankan." ucapnya lalu mengambil ponselnya.


sambil menunggu makanan datang kami berbincang sedikit, "siapa namamu?"


"saya??? saya Gia ka"

__ADS_1


"aku Risa..."


"maaf bikin repot"


"gak apa apa! aku tahu hidup numpang seperti apa"


"makasih banyak ya ka"


"iya" balasnya sambil tersenyum, suara pintu di ketuk risa langsung keluar dan mengambil makanannya, "makanlah... jangan tersisa ya! " ucapnya pada Gia.


Risa melihat Gia makan sangat lahap,dia menyembunyikan senyumnya karena dia rindu sang adik, tak terasa air matanya jatuh,buru buru dia mengusap matanya berjalan ke arah dispenser dan mengambilkan minum untuk Gia.


"terima kasih ka!"


"santai saja" balasnya, "bagaimana kalau kamu tinggal disini aja?" sambungnya lagi.


mata Gia langsung membulat sempurna,tadi dia sudah berfikir akan kemana dia setelah ini, tapi ka Risa menawarkan tinggal bersamanya. "emang boleh ka?"


"emang kenapa gak boleh?"


"kakak kan ngontrak, takut ga boleh sama yang punya kontrakan."


"iya ka... makasih ka"


Risa menjawabnya dengan senyum lalu pergi. Gia menatap ke sekeliling,apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikannya,karena ka Risa orang yang cukup rapi, terlihat dari barang barang yang tersusun dengan sangat rapi.


...****************...


tak terasa sudah seminggu ini Gia berada dirumah ka Risa,rumah itu jadi lebih ramai, penuh dengan canda tawa di dalamnya, Risa pun terlihat lebih bersemangat saat berangkat ataupun pulang bekerja,karena selalu ada yang mengantar dan menyambutnya di pintu,dia menganggap Gia sudah seperti adik kandungnya sendiri.


saat tidak berangkat mereka akan pergi jalan jalan bersama,ke pasar malam ataupun ke taman,mereka sama sama tidak menyukai mall atau pusat belanjaan lainnya,jadi mereka hanya bermain kedua tempat itu.


tidak seperti orang lain yang merasa aji mumpung,Gia selalu tidak ingin membeli apapun, padahal Risa selalu menawarkannya,tapi pasti akan di tolak, dia hanya mengajak untuk bermain.


pagi itu,sekitar pukul 2 pagi, saat Risa pulang bekerja dia mendapati Gia sedang tidur meringkuk di atas kasur, sebenarnya dia agak sedikit heran karena biasa Gia telah menyambutnya di depan pintu, dia langsung mendapat jawaban dari pertanyaan nya itu setelah dia masuk di selimut yang sama dengan Gia.


Risa langsung membuka selimut itu dan mengecek suhu tubuh adiknya, buru buru dia mengambil termometer untuk memastikannya. benar saja panasnya mencapai tiga puluh sembilan derajat,Walaupun badannya lelah dia tetap merawat sang adik yang saat itu sakit.

__ADS_1


"gak usah masak" ucap Risa saat melihat Gia bangun dari kasur.


"tapi ka kemarin aku sudah beli..."


"gak pakai bantah ya! " potong Risa.


"iya ka" ucapnya menyerah dan kembali ke kasur.


Hari itu Risa tidak bekerja karena menjaga sang adik yang sakit, sebenarnya Gia sudah jauh lebih baik tapi Risa ingin memastikan Gia tidak melakukan apapun dan hanya beristirahat.


setelah sembuh dari sakit banyak larangan yang ka Risa buat untukku, terutama untuk jam makan,karena aku orang yang selalu lupa makan,ka Risa hanya mengijinkan ku masak 2 hari sekali karena menurutnya masak akan membuatku lelah,rumah selalu di rapikan bersama dan pakaian semua masuk laundry. Gia sangat di manjakan dengan Risa,kebersamaan mereka membuat mereka saling berbagi banyak hal termasuk masa lalu mereka,Gia juga menceritakan bagaimana dia bisa sampai ada di sana malam itu hingga membuat dia bertemu dengan Risa,tapi Gia tidak mengatakan apa yang terjadi,cukup itu dia simpan sendiri,entah kenapa menurutnya itu hanyalah sebuah aib yang menurutnya tidak perlu ada yang tahu.


Risa menceritakan banyak hal pada Gia,tentang keluarganya dan tentang bagaimana ceritanya dia bisa sampai di jakarta,karena seluruh keluarganya ada di Malang,hanya dia sendirilah yang di Jakarta.


flashback on


malam itu ibu dan bapak bertengkar hebat,aku dan Silvia adikku tidak berani keluar dari kamar, kami hanya mendengar ibu yang terus menangis dan bapak yang terus mengatakan 'tidak bisa bu! Kita tidak punya pilihan lain lagi' lalu terdengar suara pintu di banting dan dari situ kami tidak pernah melihat ibu ataupun bapak saling bertegur sapa, sampai akhirnya saat itu tiba,saat aku Lulus sekolah menengah pertama (SMP)


ada seorang penagih hutang yang datang dan ternyata bapak mengorbankan aku untuk dibawa demi membayar hutang, namun ibu ku marah dia tidak mau jika aku di bawa pergi oleh orang itu, ibu takut aku hanya di jadikan pelampiasan nafsu.


esok harinya ibu berusaha menemui temannya untuk meminjam sejumlah uang demi anaknya tidak di bawa oleh rentenir,temannya itu adalah mami Luci.


"memang anakmu lulusan apa?"


"baru selesai SMP dia"


"atau biarkan saja dia ikut saya kerja di kota, nanti sambil sekolah saja. "


"bawa saja jika bisa,dari pada disini aku tidak sanggup menyambungkan sekolah nya lagi"


singkat cerita Risa ternyata tidak di sekolahkan dan sampai di kota,dia malah benar dijadikan budak ****, awal dia ingin memberitahukan ibunya tentang hal ini, tapi Tante Luci teman mama nya selalu mengancamnya. sampai akhirnya Risa sendiri yang menutupi apapun yang terjadi di sini,buatnya orang tuanya tidak perlu tahu apa yang Risa alami disini,dia juga tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir dengan dirinya disini.


flashback off


Dari pertemuan kami yang sangat tidak disengaja itu, kami menjadi sangat dekat dan menjaga satu dengan yang lain. Risa juga menceritakan tentang pekerjaannya yang terkadang mengantar nyawa, apalagi jika klien yang dia temui telah berkeluarga, terkadang istrinya datang menemui atau anaknya yang menghampiri lalu memaki-maki Risa.


pekerjaannya yang seperti itu tidak membuat nya menghasut atau mengajak Gia untuk melakukan pekerjaan yang sama juga, justru dia mengarahkan anak tersebut ke hal-hal yang lebih positif, bahkan dia sempat menawarkan dana untuk membuat rumah makan karena menurutnya masakan Gia sangat enak.

__ADS_1


namun Gia belum berani, dia hanya minta ijin Risa untuk keluar sebari mencari pekerjaan, siapa tahu ada yang membutuhkan. buat Gia Risa bagai malaikat dalam hidupnya yang datang dan memberikan banyak pelajaran dan hal positif.


__ADS_2