Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
64


__ADS_3

Rian sadar masalah nya dengan Hana memang belum benar benar selesai,walaupun untuk dirinya masalah itu telah selesai,selesai di saat Rian tahu bahwa seseorang yang dia perjuangkan malah mengkhianati dirinya. Rian sangat menghargai keberadaan Hana sebelum ini,tapi Hana sendirilah yang menghancurkan itu semua,menghancurkan kepercayaan yang diberikan oleh Rian,menghancurkan pandangan Rian yang sangat menghargai keberadaan nya dengan diam diam menjalin kasih dengan temannya sendiri, bahkan di saat Tian menahan diri tidak menyentuhnya,Hana malah terbuai dengan sentuhan orang lain yang tidak tahu apakah akan bersama dia kedepannya atau hanya sekedar iseng saja.


Bagus meminta Rian keluar dari ruangan itu setelah Risa terbaring di ruangannya, "selesaikan dulu masalah loe! baru kembali lagi ke kami" ucap Bagus,pada sahabatnya itu, Rian sempat menoleh ke arah Gia yang mengacuhkannya sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.


"jangan lari dari masalah,selesaikan... boleh istirahat tapi jangan lari" ucap Awan yang bertemu dengan nya di depan pintu.


Rian berjalan menuju Hana yang sedang berbincang dengan Hendra dan Hendri,Ria melihat Ika dan Yuni yang sedang menetralisir suasana.


"ikut gw sebenar" ucapnya pada Hana.


"oh oke... bentar ya.." pamitnya pada Hendra dan Hendri.


"sekalian pulang aja" ucap Rian singkat, langsung menarik Hana.


saat akan keluar,mereka tidak sengaja bertemu dengan Rezky yang langsung menyapanya dengan heran,bagaimana dia tidak heran, yang mereka tahu hubungan dua orang itu telah berakhir lalu tiba-tiba berjalan bersama.


"yang mana dari kalimat gw yang ga lu mengerti?" tanya Rian saat mereka sudah dijalan.


"maksudnya?"


"hubungan kita udah selesai... selesai... pahamkan?"


"kita itu mau tunangan,gak bisa dong main dibatalin gitu aja"


"terus? apa menurut loe gw harus Terima gitu aja? Terima apa yang sudah loe lakukan ke gw, dengan harapan lu tidak akan mengulangi lagi?"


bentak Rian pada Hana.


"ini tuh gak kaya apa yang kamu pikir! aku tuh gak ngapa ngapain"


"gak ngapa ngapain loe bilang?? jadi menurut lawan jenis, diatas tempat tidur dengan posisi tanpa busana,dengan tubuh yang menem**l rapat,bahkan bisa dibilang menya**u itu menurut loe gak sampai ngapa ngapain hem?" kali ini Rian seakan tidak menyaring ucapannya sama sekali.


Hana tidak bisa menjawab itu,dia sangat menyadari kalau semua yang dilontarkan Rian benar adanya, tapi dia tidak mau tinggal diam, dia akan mengunjungi orang tua Rian di Malang agar Rian tidak membatalkan pertunangan ini.

__ADS_1


malam itu setelah meninggalkan Hana dipinggir jalan Rian melaju kan mobilnya ke arah rumah Bagus, dia sempat menelpon Ika menanyakan Gia, Ika bilang sang kakak sudah membawanya pulang.


"Gus... ada yang mau gw bicarakan sama Gia" panggil Rian saat melihat mereka baru sampai.


"dia gak mau ngobrol sama loe"


"Gus tolonglah, biar gw bicara, sebentar" paksa Rian lagi.


"baliklah... loe punya kunci rumah ini kan,gw ga akan ambil itu dari loe karena gw tahu sahabat gw yang satu ini bisa mikir dan sanggup menyelesaikannya" ucap Bagus lagi memintanya pulang.


Rian tak menjawab, dia sadar dari semua sahabatnya Bagus memang yang paling dekat, dia tahu persis seperti apa Rian akan menyelesaikan masak itu.


esok paginya Bagus melihat Risa membawa baskom kompres masuk ke kamar Gia, gara-gara kejadian semalam Bagus pun jadi ikut dicuekin Risa, katanya Bagus gak pernah kasih tahu Risa kalau Rian sudah punya tunangan.


"de... " panggil Bagus memasuki kamar sang adik, Risa tetap cuek tak bergeming. " kok sampe sakit gini sih de" ucap Bagus.


"siapa sih yang ngga bakal sakit kena PHP" sindir Risa.


"de... mas berangkat ya" ucap Bagus mencium kening sang adik.


semarah marahnya Risa, dia pun masih meladeni Bagus yang hendak pamit berangkat kerja, walaupun seperti acuh tak acuh.


hari itu Risa menitipkan kedai pada Ika dan Yuni padahal opening menu baru tapi apa boleh buat, buat Risa adiknya ini segalanya. Gia bangun menjelang tengah hari, itupun karena Risa yang melakukannya agar Gia makan lalu minum obat.


"kakak gak ke kedai?" tanyanya


"kamu lebih penting dari pada kedai"


"aku gak apa apa ka"


"iya kakak tahu kamu gak apa apa" jawabnya menahan tanggal.


Risa sebenarnya lebih takut kalau Gia diam seperti ini, ketimbang Gia marah, atau bahkan sampai ngamuk, karena dalam diam nya ini dia menyimpan seribu tangis dan seribu sikap yang akan membuat dirinya seperti orang lain.

__ADS_1


(di kedai, dijam yang sama)


Bagus yang tahu kalau hari ini dua wanita kesayangannya sedang libur, sengaja mampir untuk melihat keadaan kedai yang ternyata cukup ramai,disana ternyata ada Rian yang sedang membantu mengantikan Ika dan Yuni menjadi kasir. Bagus menoleh Yuni yang barusan lewat depannya.


"dari jam berapa tuh kasih disini"


"jam sepuluh pak"


"hem.. yaudah, makasih ya"


Rian melihat kedatangan Bagus dari ujung matanya, memasuki ruangan Risa.


"loe harus bantu gw bicara sama dia" ucap Bagus saat sudah berada di ruangan.


"gimana caranya? salah loe main api"


"loe kan bukan gak tahu hubungan gw sama Hana, loe tahu sendiri dia kaya apa., dia kan maunya kehendaknya aja yang terjadi" ucapnya.


"sebagai temen gw paham dengan kelakuan cewek aneh loe itu, tapi sebagai kakak gw harus pukul loe karena bikin adik gw menangis," jawab Bagus tegas.


"gw mohon sama loe, gw Terima semua pukulan dan kemarahan, tapi tolong biarkan gw menjelaskan sejelas jelasnya."


"gw ga bisa menjanjikan, tapi gw yakin kalau lu usaha pelan pelan pasti merek mau bicara"


ini sudah hari ketiga Risa dan Gia berdiam diri dirumah, selama itu pula dia mendapat kabar dari karyawan lain kalau Rian selalu datang sebesar makan siang dan menjelang tutup untuk membuat pembukaan harian mereka. sore itu suaminya pulang agak telat karna ada pekerjaan yang harus selesaikan.Risa menatap Gia dengan bingung karna sudah tiga hari ini Gia hanya diam,tidak menangis, tidak tertawa, bahkan ditanya hanya menjawab seadanya saja,Gia hanya mengangguk dan bergeleng.


"ade... kakak minta maaf, karena udah nyakitin perasaan kamu" Ucap Risa melihat adiknya yang membisu.


"... Gia gak apa apa kok"


"seandainya aku tahu dia ada pasangan nya, aku pasti ga akan kasih kesempatan untuk dekat sama kamu"


"iya ka Gia tahu"

__ADS_1


__ADS_2