Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
menemanimu #2


__ADS_3

malam itu Rian tidak kembali ke kedai,bukan karna marah melainkan merasa bersalah karna ternyata Gia selama ini dengan hebatnya melawan rasa trauma nya sendirian,dia jadi flashback ke beberapa kali kedekatan nya dengan Gia atau gandengan tangannya bersama Gia dia selalu merasa Gia terlalu berkeringat,kadang dingin,bahkan saat menginap di apartemen Rian dia sempat mendadak pucat.


jadi Gia berusaha menahan rasa takutnya sendiri. kali ini Rian bertekad untuk membantu Gia melawan rasa takut itu,dia tidak akan di depan tapi dia di samping Gia untuk bersama melawan semua itu.


"aku ingin menjadi seseorang yang mengurangi rasa sakitmu,aku ingin menemanimu menghilangkan rasa takutmu dan aku ingin melangkah bersamamu menuju hari yang indah tanpa bayangan masa lalu mu"


...****************...


dua minggu berlalu,kini Gia sedang libur menunggu hasil kelulusan,liburan kali ini dia habiskan dengan membuat resep Baru untuk kedai, beberapa hari ini Gia terus berkutat di dapur dengan segala macam resep,hari dengan bahan Tahu,hari ini dia membuat tiga makanan



Tahu sayur kukus



telur gulung isi tahu



tahu telur


yang terakhir ini makanan khas Jawa Timur tahu putih tang di goreng dengan telur seperti dadar lalu di taruh rebusan sayur di atasnya dan di siram dengan bumbu kacang.


Gia masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu karna mau membawa makanannya untuk di cicipi kakak kakak nya, ternyata disana pun ada Rian,lama tak bertemu dengannya membuat Gia sedikit canggung dengan keberadaan Rian.

__ADS_1


"ada tamu" Gia berusaha tersenyum, walaupun dalam hati terkejut.


"iya nih... tamu ga di undang! tahu aja orang lagi nyoba resep" sambung Bagus.


"sialan loe! gw mau liat bidadari gw" katanya sambil mendekati Gia,yang membuat Gia reflek mundur dan kata kata itu membuat wajah Gia memerah.


"eh... eh... dia masih bidadari gw! loe jangan terlalu kepedean" jawab Bagus memisahkan.


"mulai deh... kita ga jadi makan nih?" kali ini Risa yang menengahi.


tak lama ada suara ketukkan pintu,Derry masuk membawa 4 buah piring,lalu dia sempat mengelus lembut kepala Gia saat Gia mengucapkan terima kasih,dibalik kejadian itu ada sepasang mata yang menatapnya tidak suka.


setelah keempat orang bercengkrama,tiba saatnya kembali karna waktunya kedai tutup,Risa meminta Rian untuk mengantar sang adik kembali dan pastinya di sambut dengan senang hati oleh Rian.


"sejujurnya aku sangat senang melihat senyummu" ucap Rian saat melihat Gia tersenyum menatap ponselnya.


"Gi... bukan kah kita sudah sepakat untuk tidak terlalu formal?"


"maaf pak... sepertinya kurang sopan"


"apanya yang kurang sopan? ini sudah seizinku"


"maaf pak!"


"gi... listen to me... izinkan aku untuk berbagi cerita dengan mu,begitu pula sebaliknya. mungkin kita memang baru kenal,tapi aku akan berusaha selalu ada untukmu dan memberikan tawa untuk harimu"

__ADS_1


"maaf pak... Gia belum memikirkan sampe sana,saya juga blm mau pacar pacaran"


"gi... aku minta kita jadi seorang sahabat yang saling berbagi dan saling membantu,aku paham kalau kamu belum ingin lebih dari itu... bagaimana?"


Gia cukup lama memikirkan nya, sampai akhirnya dia mengangguk kan kepala dan membuat itu membuat Rian hampir kehilangan napasnya karena dia menahan napas saat menunggu jawaban dari Gia. saking senangnya mendapat jawaban dari Gia,dia langsung memeluk wanita itu sambil mengucapkan terimakasih.


"terimakasih untuk kesempatan ini Tuhan,ku mohon... izinkan aku menemaninya dan menjaganya" Rian memohon dalam hati.


"mari kita mulai sesuatu yang baik ini dengan mengubah panggilan nya. oke?"


"oke... " jawabnya sambil tersenyum " mau di panggil apa?" tanyanya balik


"mas?" tanyanya sambil tersenyum dengan harapan jawab nya ya, sayang nya Gia mengeleng. "ka?" tanya nya lagi,Gia kembali menggeleng. "oke... nama aj"


"nice.. good idea" jawab Gia


"kalau akhirnya manggil nama ga usah di tanya dong... tahu gitu gw tawarin manggil sayang aja dari awal" batin Rian.


perjalanan kembali ke kontrakan yang sebenarnya sangat dekat,menjadi terasa sangat jauh karna pembicaraan yang sangat serius ini,setelah pembicaraan menjadi cukup akrab Rian berusaha meminta no telpon Gia,tapi sayang Gia belum sepenuhnya percaya padanya maka dia sama sekali tidak mendapat no telpon Gia.


"hah...kapan *Gi? kapan? Tuhan... izinkan aku menjaganya, menemani dan berbagi bersama nya. izinkan aku menyembuhkan luka nya,menghapus air matanya dan memberikan kebahagiaan disisa hidupnya." batin Rian sambil melihat Gia memasuki kontrakan nya.


#############


Temen temen... kasih masukan yuk...

__ADS_1


aku abis berduka jadi pikiran nya buntu banget,kasih masukan buat aku ya temen temen aku pengen terusin nih*...


__ADS_2