Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
77


__ADS_3

pukul 03.43


"mas... besok malem ada acara ga? kalau gak ada kita jalan yuk, sekalian ada yang mau aku bicarakan sama mas Rian" Gia mengirim pesan pada Rian, Gia tahu tidak akan ada balasan makanya setelah mengirim pesan itu, dia langsung menaruh HP nya dan berusaha untuk tidur.


Rian yang membaca itu saat masuk arah kantornya,sedikit heran bahkan sampai terbatuk tapi dia berusaha menguasai keadaan agar terlihat biasa, karena dia memang selalu menyalakan hpnya saat memasuki kantor makanya dia baru baca pesan yang disampaikan Gia dan saat menyalakan hp nya pesan pertama yang dia lihat adalah pesan dari sang pujaan hati.


Gia,lalu dengan cepat dia membalas pesan itu.


"pagi sayang,. gimana semalam? *aku nunggu sampe jam 12 kalian gak ada yang kasih kabar"


"aku lupa mas, maaf"


"pagi sayang..."


" ouh.. iya, pagi mas"


"gitu kan enak... yasudah, aku kerja dulu... sampai ketemu nanti malam ya, love you"


"oke deh, bye... "


Gia senyum membaca percakapan itu.


satu harian ini Rian tidak sama sekali ke kedai, dia sengaja menyelesaikan pekerjaan nya agar dia bisa bertemu dengan Gia malam ini, Gia terlihat lain dengan ketidak hadiran Rian hari ini, hal itu di sadari hampir seluruh karyawan.


malam nya Rian benar benar menjemput Gia di kedai, Rian menjemput sedikit lebih cepat karena jalanan yang cukup lengan padahal besok hari sabtu, jalanan seolah ikut gembira dengan pertemuan malam ini. karena ini pertama kali Gia minta bertemu untuk membicarakan tentang hubungan ini dan semoga sesuai dengan yang kita harapkan.


"hei... " sapa Rian saat Gia sudah masuk dalam mobil.


"Hai... kamu sibuk hari ini?" Gia membalas.


" lumayan, kamu gimana? rame hari ini? "


" rame... aku sampe ga inget kamu ga dateng siang ini" jawabnya bohong.


"hari ini aku yang tentuin tempat nya kan? yg penting tempat bisa buat ngobrol." tanya Rian memastikan, dijawab anggukan ole Gia.


sepanjang jalan hanya diisi dengan alunan lagu hingga Gia tertidur, Gia masih memikirkan keputusannya,dia bingung apa keputusan yang dia ambil. Rian yang melihat sang kekasih tertidur hanya tersenyum, dia teringat ijin yang dia lontarkan pada sang sahabat,


"ke villa nya Awan doang" ijin Rian pada Bagus.


"kaga!! dia ngatuk kan, nanti lu apa apain" ucap Bagus melarang, terdengar suara tawa sang sahabat dari sebrang sana. "gw serius ya! jangan lu pikir gw bercanda" sambung Bagus mendengar sahabat nya tertawa."

__ADS_1


"gw ga butuh lu bilang boleh apa enggak, gw cuma mau kasih tahu kalau gw bakal bawa dia ke sana! gw bukan ijin be*o" ucap Rian sambil tertawa.


"sia**n lu!!" omel Bagus. "awas aja kalo dia kenapa kenapa!" sambungnya lagi.


sampai di villa Rian tidak membangunkan Gia, dia menggendong nya kedalam tapi, tidak ada adegan Gia terbangun atau kejedot pintu seperti di film film, Gia tertidur dengan sangat lelap, sampai tidak sadar bahwa dia sudah di kasur dan tertidur dengan seorang pria di tempat tidur yang sama.


02.17


kruk kruk.... Gia terbangun karna perutnya terasa lapar, saat dia membuka matanya keadaan Ruangan cukup gelap tapi dia merasa ada orang di sampingnya, dia langsung menjauh dan berteriak dengan sangat ketakutan.


"aaaahhh.... " teriakan Gia dengan sangat kencang membuat ada pergerakan di tempat tidur, yang artinya orang di sebelah nya bangun.


"kenapa" tanya Rian dengan wajah tidak berdosa.


"mas kenapa disini?"


"ouh... iya kan kamu bilang aku pilih tempat, tadi di perjalanan tidur, aku ga tega banguninnya"


"tapi kenapa mas tidur disini" balas Gia marah.


"ini kamar tidur Gia,jadi ini memang tempat untuk tidur, bukan... "


kruk kruk kruk.... ucapan Rian terpotong denga bunyi perut Gia, mendengar itu spontan dia tertawa dengan sangat keras, Gia yang sadar lasung menunduk malu.


"jangan ketawa" jawab Gia lirih.


"maaf maaf... karna ternyata kamu laper gimana kalau kita makan aja, dari pada berdebat"


Rian mengotak atik HP nya, untuk memesan makanan sambil jalan keluar kamar, melihat itu Gia bertanya, "emang ga ada bahan makanan? "


"kita kesini kan dadakan sayang... aku belum belanja apa apa."


"emang ini dimana sih?" tanya Gia lagi.


"Villa.... puncak"


"hah?? kamu gila ya? ngapain bawa aku kesini? astaga... tas ku mana tas? HP? aku belum bilangbka Risa." ucap Gia dengan nada panik.


"mereka udah aku bilangin katanya oke"


"ka risa, kenapa sih aku jadi rasa di jual! main oke oke aja, kaya tahu aja aku di bawa kemana" omel Gia yang membuat Rian kembali tertawa.

__ADS_1


Tak lama makanan yang di pesan datang, Gia merapikan makanan Itu di piring, sedangkan Rian merapikan meja yang ada di halaman belakang yang ternyata langsung berhadapan dengan lampu lampu di kota.



betapa terkejutnya Gia saat melihat pemandangan itu, Gia sempat berhenti sejenak, Rian yang melihat itu langsung menghampiri dan mengambil makanan dari tangannya. Gia berjalan ke untuk melihat pemandangan itu, sambil tersenyum dia merentangkan tangannya menikmati udara dini hari, sampai ada selimut yang di selempangkan pada pundaknya dan memeluknya dari belakang.


"suka? " tanyanya, yang di jawab anggukan oleh Gia. "lain waktu aku bawa kamu ke tempat ku sendiri" sambungnya lagi lalu mencium pundak Gia dan membawa Gia ke meja untuk makan.


"emang ini punya siapa?" tanya Gia heran.


"Awan"


"hah" Gia terkejut, "ini? villa sebesar ini punya ka Awan?" tanya nya lagi.


"romantis banget" jawab Rian singkat dengan wajah kesal.


"ka Awan hebat banget... " puji Gia tanpa perduli tatapan orang di depannya.


setelah makan, Gia membuat kopi panas dan ingin kembali ke balkon luar yang langsung di cegah oleh Rian, " mau kemana? "


"luar" Jawabnya polos.


"NO!! dingin" larang Rian.


"ada ini" jawabnya menunjuk cangkir kopi.


"kalau kamu keluar berarti kita akan pelukan sampe pagi disana, karena cangkir kopi kamu engga akan bikin badan kamu hangat" ancam Rian yang membuat Gia berhenti, karna kesal Gia meninggalkan kopinya di meja lalu kembali ke kamar. Rian sengaja tidak langsung menyusul, karena dia tahu Gia bukan orang yang mudah di rayu, tapi biarkan ada jeda agar gia sedikit menurunkan emosi nya.


25 MENIT KEMUDIAN.


Rian masuk ke kamar yang sama,naik di kasur yang sama, lalu menarik Gia agar menghadap ke arahnya, "ini itu puncak, aku engga mau kamu sakit gara gara kedinginan di luar, kalau ini masih di jakarta yang dinginnya masih wajar, aku akan biarin ku di luar. paham kan? " tegas Rian, yang di jawab dengan anggukan oleh wanita di depannya, Rian mengecup kening Gia, kedua matanya, kedua pipinya, hidungnya dan bibirnya sekilas. "sekarang kamu tidur, besok pagi kita jalan jalan" sambungnya lagi lalu beranjak dari kasur.


"mau kemana?" tanya Gia melihat Rian bangun.


Rian tertawa melihat respon Gia yg seakan takut dirinya pergi, "enggak kemana mana, aku mau tidur di bawah. biar bagaimana pun aku laki laki normal, yang enggak mungkin bisa sanggup satu kasur sama seorang wanita tanpa menyentuh" jelas Rian lalu menarik ekstra bed yang ada di samping lemari ke arah depan Gia.


"emang kita berapa hari disini?"


"tiga, minggu sore kita pulang"


"tiga hari?? " tanya Gia terkejut, " lama banget, kita mau ngapain? " sambungnya yang membuat Rian terbahak.

__ADS_1


"kamu mau nya kita ngapain?" tanyanya balik yang langsung membuat wajah Gia memerah, dia langsung berbaring membelakangi Rian yang sudah tersenyum penuh arti. Rian tidur terlentang dan menarik tangan Gia kedalam genggaman nya, yang punya tangan mengikuti tanpa perlawanan, tak lama sudah ada dengkuran halus yang berasal dari Rian, yang artinya dia sudah terlelap.


"Tuhan... apakah keputusan yang aku ambil benar? betapa istimewa nya dia memperlakukan ku, betapa dia sangat menghargai aku, aku takut mengecewakan nya, aku takut menyakiti nya" lirih Gia tanpa terasa air matanya mengalir dan merasa tidak pantas untuk bersama Rian, Gia menangis tanpa suara hingga lelah dengan air matanya dan akhirnya terlelap dengan air mata juga.


__ADS_2