Cahaya Hidupku

Cahaya Hidupku
76


__ADS_3

keesokkan hari nya saat sarapan, suasana nya cukup tidak enak, karna hanya Risa yang bicara, Gia dan Bagus hanya diam saja. Gia tahu Bagus pasti tersinggung dengan kata katanya semalam, bahkan Gia sendiri terkejut dengan apa yang terjadi, makanya dia bahkan tidak berani melihat Bagus. Gia sangat menyadari kesalahannya, tapi dia terlalu emosi semalam sehingga dia tidak mengenali orang yang dia bentak siapa, Gia tetap diam sepanjang sarapan bahkan sampai mau berangkat dan aksi diam itu sampai di telinga Rian.


...****************...


seminggu sudah aksi diam antara Bagus dan Gia, dua manusia keras kepala itu tidak akan ada yang mengalah. sebenarnya pada kasus kemarin tidak ada satu orang pun yang salah, ini hanya karna ego mereka yang terlalu besar. Gua merasa terlalu dipojokkan oleh Bagus, sedangkan Bagus tidak Terima dengan kata kata Gia yang seakan Bagus keberatan dengan keberadaan Gia dia rumahnya, padahal Bagus sendiri yang meminta pada sang adik untuk tinggal satu rumah dengan dirinya,agar ada yang jaga dan tidak lagi terjadi hal hal yang tidak di inginkan seperti kemarin.


"kamu kenapa jadi ga kaya kamu yang aku kenal?" ucap Rian di ruangan Gia yg memang belakangan lebih sering di ruangan belakangan ini.


"apa sih!!? "


"kamu sadar ga kalau ucapan kamu kemaren bisa aja nyakitin hati Bagus ataupun Risa? "


"tahu"


"terus kenapa kamu lakukan? kamu tuh bukan kaya Gia yang sesungguhnya"


"itu karna kamu baru liat wajud ku yang sekarang"


"kamu yang dulu itu mengagumkan, punya rasa hormat"


"udahlah... " jawab Gia berlalu, tapi tangannya langsung di tahan Rian.


"ada apa sebenarnya non? kamu ga mungkin bersitegang dengan kakak mu kaya gini! aku bukan baru tahu kamu."


ada air mata yang terjatuh, tapi Gia berusaha menyembunyikan nya. air mata itu membuat Rian tahu kalau itu sesuatu yang menyakitkan,dia menarik Gia kedalam pelukannya dan membiarkan wanita itu menangis,Rian tahu wanitanya ini sangat pandai menyimpan air mata nya, kalau sampai seperti ini berarti itu sungguh menyakitkan untuknya.


belum sampai jam tutup, Rian sudah membawa Gia pulang agar Gia bisa membicarakan ini dengan kakak nya,bahkan Rian tidak ikut mampir supaya ini menjadi waktu mereka, tanpa Rian.


"kok pulang cepet?" tanya Risa

__ADS_1


"gak apa ka, lagi cape aja" jawab Gia dengan senyum,Gia menoleh ke arah sofa dimana Bagus berasa.


"yaudah istirahat gih" Gia langsung menuju kamarnya,didalam kamar Gia tidak langsung mandi, dia melamun memikirkan pembicaraan dia bersama Rian di mobil perjalanan pulang.


flashback on


"*Gi, aku serius sama hubungan ini, aku ngerti kalau kamu pasti mikir aku main perempuan karna memang aku melakukan itu dulu,tapi aku berani sumpah kalau aku ga lakuin lagi semenjak aku kenal kamu." ucap Rian saat sampai di mobil. "kamu gak perlu jawab sekarang aku akan sabar nunggunya" sambungnya lagi lalu menyalakan mobil dan membawa Gia pulang.


"jujur Gi kemarahan yang aku liat kemaren kaya bukan kamu, aku gak mau semenjak sama aku kamu malah jadi kaya gini, kamu malah jadi ngelawan sama kakak kakak mu. aku tahu Bagus gak mungkin berfikir kaya gitu, tapi gimana sama orang lain yang liat? semenjak bareng aku kamu jadi kaya sekarang."


sepanjang perjalanan Rian menasehati Gia, tanpa ada perlawanan sedikit pun, Gia tidak menjawab karna sejujurnya dia memang sedikit merasa bersalah tapi dia bingung bagaimana acara mengeluarkan rasa salahnya itu. dia sadar, bahkan sangat sadar kalau kata katanya telah menyakiti Bagus hanya dia juga tidak suka terlalu di tekan untuk menikah.


"aku ga mampir, aku mau kamu luangin waktu untuk ngobrol sama kakak kakak mu, aku gak mau hubungan kalian kaya gini. yang harus kamu tahu adalah, aku serius sama kamu dan akan menerima apa adanya kamu, jadi apapun keputusan kalian aku Terima dan aku akan tunggu sampai kamu siap. awal bulan besok mama udah balik ke Malang, aku harap mama pulang dengan membawa kabar baik untuk saudara disana." ucap Rian saat Gia akan keluar dari mobilnya yang dijawab dengan anggukan.


"Mas Rian... " panggil Gia saat Rian sudah akan menjalankan lagi mobilnya, karna kacanya terbuka jadi Rian mendengar panggilan itu dan langsung menghentikan laju mobilnya. Gia kembali ke dalam mobil mengambil tangannya Rian lalu menciumnya sambil "makasih ya mas" dan langsung berlari kedalam.


Gia tersenyum sendiri membayangkan kejadian yang sempat terjadi tadi, Gia mengambil handuknya dan mulai mandi.


Gia sudah bertekad akan menerima lamaran yang Rian tapi dia akan bicara dulu dengan Bagus, serta meminta maaf karna telah menyinggung perasaannya.


setelah rapi Gia langsung menuju kedua kakaknya, sayangnya saat Gia menghampiri Bagus di sofa, sang kakak malah langsung bangun dari sofa dan pindah duduk di meja makan, Gia pun pundak ke meja makan, Bagus pun pindah dari situ, setiap Bagus pindah, Gia pun mengikuti.


"kalian berdua tuh ngapain sih?" bentak Risa.


"dia... " jawab mereka berdua bersamaan.


"udah deh... ga usah saling gengsi, katanya apa apa mau di omongin! aku juga udah cape liat kalian diem dieman."


kata kata itu membuat mereka berdua terdiam karna Risa kalau sudah ngomel jangan pernah di jawab kalau di jawab jadinya bakal panjang, bahkan ngalahin kereta api panjangnya.

__ADS_1


...****************...


akhirnya malam itu ada pembicaraan serius di keluarga kecil itu, bahkan mereka membawa si baby kecil dalam pembicaraan itu.


"aku minta maaf" ucap Gia sungguh sungguh. "aku sama sekali gak ada maksud buat nyinggung mas, aku cuma ga mau di tekan untuk menikah" lanjutnya menatap kedua kakaknya.


"kamu ga bisa egois... kamu masih muda, tapi Rian kan gak, kalau memang kamu ga mau bilang gak sama dia supaya dia bisa cari orang lain yang lebih siap,dia pasti mau juga punya baby, dia juga pasti mau liat baby nya tumbuh besar, semakin tua dia akan semakin sulit punya anak" jawab Bagus.


"tapi mas, aku... " belum selesai Gia menjawab Risa sudah menjawab.


"kakak udah bilang semua sama mas, kalau menurut kita kamu tetap harus bicarakan itu sama Rian" Risa mencoba meyakinkan Gia.


"iya de... kamu harus bicara sama Rian soal itu, mas yakin dia akan bantu kamu menghilangkan rasa takut itu, rasa trauma itu pasti bisa hilang asal ada yang bantu kamu untuk hilangin. sama seperti kamu bawa keluar Risa dari lingkaran malam sampai akhirnya kalian jadi pengusaha kaya sekarang" jawab Bagus lagi.


"iya de... kamu bisa bawa keluar kakak dari sana, masa ga sanggup hilangin trauma itu!" sambung Risa mendukung langkah sang suami.


"apa kalian yakin dia akan Terima aku?" tanya Gia.


"yakin" jawab Risa pasti,yang membuat Gia tersenyum, tapi senyum itu langsung hilang saat Bagus bilang.


"belum tentu. sebagai laki laki normal dia pasti butuh hal itu, dia pasti juga bingung, kaget. makanya dari sekarang kamu harus siap dengan semua jawaban dia, sama seperti dia harus siap dengan jawaban kamu" ucap Bagus menengahi.


malam itu Gia sama sekali tidak bisa tidur setelah pembicaraan panjang dia bersama kedua kakaknya, kata kata terakhir Bagus sangat menganggu pikirannya,ada perasaan ragu dan takut untuk membicarakan hal sebenarnya dia menolak hal itu karena dia takut tidak bisa seperti istri istri yang mereka harapkan. Gia takut tidak bisa 'melayani' mereka dengan baik, banyak hal yang dia pikiran sampai akhirnya dia mengambil keputusan sendiri untuk hubungannya, keputusan itu dia ambil setelah dia hampir tidak tidur semalaman.


...****************...


pukul 03.43


"mas... besok malem ada acara ga? kalau gak ada kita jalan yuk, sekalian ada yang mau aku bicarakan sama mas Rian" Gia mengirim pesan pada Rian, Gia tahu tidak akan ada balasan makanya setelah mengirim pesan itu, dia langsung menaruh HP nya dan berusaha untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2